Adisa 46

1339 Kata
"Eyang, Opa, Alex pergi ke Spanyol dulu ya buat beberpa hari ke depan. Nanti pulangnya bareng Kak Dica sama Kak Daniel," "Hati-hati, kalo udah sampai disana langsung telepon kita atau Om Chandra," "Iya Eyang, Alex masuk dulu ya," ucap Alex lalu ia berpamitan kepada Intan, Harsa dan Chandra yang mengantar ia jauh-jauh ke Tangerang. Remaja berumur enam belas tahun itu kemudian berjalan memasuki terminal satu yang akan membawa ia ke pesawat yang membawanya ke Spanyol. Sedangkan di kediaman rumah Haga yang di Toronto, mereka sedang memecahkan teka-teki tentang Adhista dan Diratama yang sukses membuat pikiran mereka bertiga hampir pecah. "Tapi kalo nggak kenapa-napa kayaknya mereka nggak akan berpakaian kayak gitu deh, dari penglihatan gue yang Haga kasih foto waktu di Jepang itu ya, kayak ada sesuatu yang mereka tutupin. Nah, tapi apa?" "Mafia?" Daniel dan Haga menggeleng. "Bandar obat-obat terlarang?" "Ayah Tama agamanya bagus, nggak mungkin dia jual kayak gitu,"  "Kasus pembunuhan?" celetuk Haga dan Adisa langsung melembar sebuah bantal ke kepala Haga. "Atau mereka ikut sekte sesat dan oleh karena itu mereka berpakaian kayak gitu?" "Itu juga bukan. Atau kita lapor ke polisi seluruh dunia aja ya, atas kasus orang hilang," gumam Daniel. "Soalnya kan Ayah sama Buna emang hilang, tapi kalo kita ceritain detail emang polisinya bakal percaya?" sambungnya lagi dan Adisa langsung membuang napasnya kasar. "Lagipula kalo kita laporin, semua orang bakal mikir kita gila. Karena mana ada sih kecelakaan pesawat yang selamat?" ucap Adisa. "Ada, waktu itu aku baca di berita, dua orang kembar kakak beradik selamat dari kecelakaan pesawat, terus badan dia kena luka bakar sembilan puluh persen, tapi sekarang udah sembuh dan beda banget sama sebelum kecelakaan," "Guys," ucap Luna yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka bertiga diskusi tanpa memperdulikannya yang tak mengerti bahasa Indonesia. "Please speak English, I dont understand what you said," Kemudian Adisa berjalan mendekati kekasih dari Daniel dan duduk di sampingnya. "Berarti kita saudaraan dong ya?"  Daniel dan Haga bertatap-tatapan. "Iya juga ya," gumam Haga dan laki-laki itu menyusul Adisa untuk duduk disampingnya. "Luna, did you have your stepsister picture?"  "Sure, she is younger than me. We are seven years apart," jawab Luna kemudian ia membuka galeri di ponselnya dan mencari foto dari adik tirinya tersebut. "Ga, berarti gini ya, Tante Bunga kan bawa anak dari Om Chandra, dan Ayah nya Luna juga bawa dari mantan istrinya gitu ya? Terus mereka nikah, iya kan?"  Haga mengangguk. "Oh aman berarti, nanti Om Chandra sama Tante Bunga jadi besanan haha. Flashback nggak ya?" bisik Adisa lalu terkekeh. "This is my stepsister her name is Eleena Chalondra, and this is my Mom Bunga Citra Kinderweild. They are so pretty, right?" ucap Luna sambil memberikan ponselnya kepada Adisa. "Udah besar ya, dia itu seumuran sama Alex. Aku nggak tau kenapa Om Chandra sama Tante Bunga bisa berpisah, padahal kalo lihat foto mereka pas SMA itu lucu banget dan gemesin," "So beautiful, I hope we can meet someday," "Guys, Alex udah take off dari Jakarta dan kira-kira besok dia sampe duluan di Spanyol. Langsung kita telepon Mama Marie atau kita pesenin hotel aja?" tanya Daniel lalu ia berjalan dan duduk di samping kekasihnya. "Kalo langsung ke rumah Mama Marie, emang ada yang jemput?" "Ada, Tante Eliana kan tinggal bareng Mama Marie sekarang," "Yaudah telepon Tante Eliana aja, jadi biar besok kita langsung kesana juga. Tapi Mommy sama Daddy mau nggak nginep di rumah nenek aku?" "I dunno, mungkin Mommy sama Daddy tidur di hotel berdua. Nanti aku tidur di rumah Mama Marie aja, siapa tau dia juga suka sama aku kan ya, sama kayak Mama Thisya suka kamu haha," "Haga lo modusnya diajarin siapa? Gue mau berguru juga," ejek Daniel lalu kedua laki-laki itu terkekeh. *** Malam ini pukul setengah dua belas, Haga dan Daniel sedang berjalan-jalan di pinggir jalan kota Toronto mencari udara malam untuk menenangkan pikiran mereka. Dengan jaket hoodie dan celana panjang membuat kedua laki-laki tersebut terlihat sangat tampan. "Lo nggak pernah suka gitu Ga sama adek gue?" celetuk Daniel membuang jauh-jauh keheningan diantara mereka. "Kenapa?" "Aneh aja gitu kalo salah satu dari kalian nggak ada yang suka, soalnya kan sahabat cowok cewek jarang ada yang berhasil. Gue aja sama Luna dulunya sahabatan dari SMA, terus gue nyaman karena dia perhatian banget, dan akhirnya gue confess ke Luna, eh ternyata dia suka juga sama gue haha," "Kalo gue cerita nanti di spill nggak nih ke Adisa?" "Nggak, sok cerita, sama gue mah aman," "Gue sebenernya udah suka sama Adisa dari lama, lo bayangin aja Kak, gue temenan sama Adisa dari umur empat tahun sampe segede gini. Gue udah beberapa kali kode atau to the point gitu, tapi Adisa kayak yang bodoamatan gitu loh, apalagi Adisa kan punya trust issue yang bikin dia susah percaya sama orang," jelas Haga lalu Daniel terkekeh mendengar ucapan dari laki-laki di sampingnya ini. "Lo sama dia udah kenal bertahun-tahun, yakin Adisa nggak percaya sama lo?" Haga terdiam, kemudian laki-laki bermata hijau gelap itu menatap Daniel. "Tapi dia udah punya pacar sekarang," "Lo juga kan?" tanya Daniel dan laki-laki itu kembali tak bisa menjawab. "Asal lo tau Ga, Adisa sering cerita ke gue. Walaupun dia gengsi dan ngak mau mengakui itu, tapi Adisa sering video call gue tengah malem cuman mau cerita tentang lo. Waktu itu dia cerita, lo ngasih dia gelas yang ada tulisan apa gitu gue lupa, terus dia ceritain lo banyak kasih hadiah ke dia, tapi dia jarang ngasih lo balik. Terus waktu itu pernah juga Adisa pulang sekolah nelpon gue, dia nangis katanya habis liat lo gandengan sama Sia, Xia atau Cia gue lupa pokoknya Xia gitu. Nah ini nih, Adisa pernah cerita juga katanya lo nggak mau pacaran sama dia, Adisa itu suka overthinking, terus dia nanya ke gue 'Kak Aniel, emang Dica jelek banget ya sampe Haga nggak mau pacaran sama Dica' sebenernya niat lo bagus, cuman lo salah orang buat bilang kayak gitunya. Tapi gue tau, endingnya pasti sama, semangat gue udah percaya sama lo Ga!" jelas Daniel kemudian menepuk-nepuk pelan pundak laki-laki itu. "Cewe tuh aneh ya, dia yang nyuruh jadian, dia juga yang marah-marah karena cemburu," "Haha emang begitu kok, cowok juga aneh di mata cewek," balas Daniel dan mereka berdua tertawa di tengah sepinya kota Toronto. "By the way soal tadi pas di cafe, emang bener Adisa pernah di bully?" "Iya, waktu TK dan SD, Adisa sering di bully karena yang ambil rapot selalu Om Chandra, yang nganterin dia sekolah selalu Om Chandra. Mereka ngejekin Dica, karena katanya nggak punya orang tua, Dica sering pulang duluan karena nangis di kamar mandi dan nggak berani masuk kelas. Dan Eyang sama Opa, katanya Dica sih mereka pilih kasih, tapi gue nggak membenarkan itu loh ya, itu cuman kata Adisa aja. Terus setiap Adisa ikut lomba atau olimpiade kayak kemarin, nggak ada yang dateng sama sekali, akhirnya gue sama orang tua gue nyusul kesana buat bikin Dica happy dan semangat lagi, tapi untung ada Om Zaki dan dua orang stranger yang kita kira Buna sama Ayah. Tapi so far, Adisa nggak pernah mengecewakan orang-orang terdekatnya sih," "Eyang sama Opa emang sikapnya berubah sejak Buna dan Ayah dinyatakan jatuh dari pesawat, kayaknya mereka punya trauma. Adisa itu bener-bener salinan dari Buna sih, lo Ga kalo lihat Buna Adhista sama Dica di jejerin, mereka nggak ada bedanya. Paling bedanya Buna mukanya sedikit keriput dan Dica mukanya masih fresh," Mereka berdua kemudian duduk di trotoar pinggir jalan. "Kak, lo kenal Arjuna?" tanya Haga lalu Daniel terkekeh. "Itu kakak gue, Arjuna meninggalkan karena orang tua gue yang sangat egois. Orang tua gue terlalu memikirkan kepuasannya sendiri sampai lupa kalo mereka punya anak yang harus diurusin," "Emang iya gue mirip dia? Hari ulang tahun gue, sama dengan hari pas Arjuna meninggal, delapan Desember," Daniel dengan cepat langsung memperhatikan wajah Haga dengan sangat fokus.  "Lah iya, baru ngeh gue. Cuman bedanya lo lebih cakep dan lebih ke bulean aja sih, Arjuna mah kurus krempeng, putih pucet lagi, udah kayak zombie haha," "Parah banget lo Kak haha," "Asal lo tau Ga, kisah cinta Buna Adhista sama Arjuna belum selesai. Mungkin lo yang bakal ngelanjutin kisah mereka haha,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN