Adisa 45

1187 Kata
“Hey, welcome back to Zest Coffee, you can choosee some menu that you want for free,” ujar salah satu pelayan cafe tersebut saat Adisa menampakkan tubuhnya. “Cappucino ice with rainbow and one noodle chicken with cheese mozarella,” “Okey noted Mrs. Adisa, next what do you want dude?” “Same like her,” jawab Daniel sambil menunjuk Adisa. “Me too and her,” sambung Haga dan pelayan tersebut menganggukkan kepalanya. “Okey, please wait for it and I’ll be bring this food for you at least twenty minutes from now,” “Thanks,” balas Adisa sambil mengacungkan ibu jarinya kepada kedua pekerja di cafe itu. Adisa, Haga, Daniel dan Luna kemudian berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua yang terlihat sepi itu. “Wait!” seru seseorang yang membuat mereka berempat berhenti dan langsung membalikkan tubuhnya menghadap seseorang yang menghentikan mereka barusan. “Dont go at the second floor for now,” ucap laki-laki itu dengan nada gemetar dan wajah yang mulai memucat. “Why? I think rooftop is good place to drink our cappucino and chill,” “Oke wait for a second, I will check it for you,” jawab pelayan laki-laki tersebut dan ia langsung berjalan mendului Adisa dan yang lainnya. “Dia mau ngapain?” gumam Adisa dan Luna hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban. Namun dengan tiba-tiba Daniel dan Haga diam-diam mengikuti laki-laki tadi menaiki lantai dua, berjalan perlahan-lahan dan mereka tak menemukan apapun diatas sana. “Dia kemana?” tanya Haga. “I dont know, coba lo ke kamar mandi gue ke ruangan yang ada di pojok sana,” jawab Daniel dan mereka berdua langsung berpencar seperti apa yang dikatakan oleh laki-laki yang berumur dua puluh tujuh tahun itu. Daniel kemudian berjalan mendekati sebuah ruangan dengan sebuah peringatan di depannya, ia kemudian mendekatkan telinganya ke pintu tersebut, berharap mendapatkan sedikit informasi tentang orang tua angkatnya disana. “They here, dont come out until I come back to this room. Keep careful if you want this mission succeed,” bisik pelayan tersebut kepada dua orang yang sedang duduk santai mendengarkannya berbicara. “How can? Adisa? With who?” “Her bestfriend, and one couple I think. He have a brown hair and I think he is twenty five years old? And one girl who have a blue eyes,” Mereka berdua terdiam mencari tahu siapa yang datang bersama Adisa kali ini, terus bertatap-tatapan antara satu sama lain hingga mereka berdua menemukan jawabannya. “Daniel, dia udah punya pacar sekarang. Kamu penasaran wajah perempuan itu nggak?” tanya sang lelaki yang membuat perempuan di sampingnya itu berkaca-kaca. “I wanna hug her, I miss her. I cant life like this at the rest of my life, I miss they. They are in near of me, I should go there and hug my kids,” ucap sang perempuan yang bersiap untuk membuka pintu ruangan tersebut. “No honey no. Tenangin diri kamu, aku yakin kita bisa hidup seperti ini, and someday we will meet our kids again. So be patient honey,” jelas lelaki yang memakai kacamata hitam kemudian memeluk perempuan itu dengan sangat erat, berusaha menenangkan pasangannya tersebut. “Okey Joe, you can back at your job. I will waiting for you to comeback,” perintah laki-laki itu dan sang pelayan langsung pergi kedua pasangan itu. Saat laki-laki yang dipanggil Joe itu keluar dari dalam ruangan tersebut, betapa kagetnya ia melihat Adisa, Haga, Daniel dan Luna sudah menunggunya di depan sana. “Can I join with them?” tanya Daniel dengan sangat lantang sambil berusaha menahan pintu tersebut. “Sorry, you can not come in to this room. This room is only for employee,” Sedangkan kedua pasangan tersebut langsung berlari ke tangga yang menghubungkan ruangan tersebut ke ruangan lantai satu yang berisi barang-barang tak terpakai. “Can I check this room?” tanya Daniel lagi dengan emosi yang sudah tak bisa ia tahan. Pelayan itu kemudian memegang badan Daniel, ia berusaha menenangkan anak dari pemilik cafe tersebut, namun usahanya gagal karena… “I’m the son of the owner of this cafe, I know my Mom and my Dad is in this room. So let me come in, Joe!” bentak Daniel yang membuat Joe ketakukan dengan keringat dingin yang mulai keluar dari dalam tubuhnya. “Joe, let him in and looking what ever they want,” ucap seseorang dari belakang mereka sambil memberi tanda bahwa yang mereka cari-cari sudah aman di tempat lain. Kemudian Joe menggeser tubuhnya dan mempersilahkan keempat orang itu masuk ke ruang karyawan yang lumayan besar. “Pokoknya kalian harus telusurin bener-bener tempat ini, karena gue yakin banget Ayah sama Buna ada disini tadi sama si Joe itu,” jelas Daniel yang masih melihat secara detail ruangan tersebut. Adisa, Haga dan Daniel terus mencari-cari sesuatu disana, sedangkan Luna hanya diam memperhatikan mereka bertiga dengan eajah bertanya-tanya. “Guys, what are you looking for?” celetuk Luna yang membuat mereka bertiga menepuk jidatnya. Sedangkan di bawah sana, mereka berdua sedang terkekeh mendengar percakapan kecil dari Adisa, Haga dan Daniel. “Pacar Daniel nggak bisa bahasa Indonesia, how cute they are,” “Kalo Adisa sama siapa ya? Apakah sama Haga atau yang lain?” tanya sang lelaki yang masih merangkul perut wanitanya. “I think, they still be bestfriend. Tapi kalo dilihat-lihat, Haga mirip Kak Juna ya,” gumam wanita itu sambil menunjuk ke cctv yang memperlihatkan wajah Haga dengan sangat dekat. Setelah beberapa menit mereka bertiga mencari-cari Adhista dan Diratama, akhirnya mereka semua mengaku kalah dan menyerah untuk mencari keberadaan Adhista dan Diratama. “Jangan keluar dulu,” celetuk Adisa kemudian memanggil Haga, Daniel dan Luna yang sudah keluar dari ruangan tersebut. “Kenapa Ca?” “I wanna say something, dan Kak Daniel kalo mau bilang sesuatu, bilang aja. Because I feel, they here,” gumam Adisa kemudian mereka bertiga menundukkan kepalanya. “Ayah dan Buna, if you here and hear me, I just wanna say. I miss you, I have bullied at school because I dont have parent, I have trust issue because my grandma and grandpa. I miss your hug, I miss your voice, I wanna tell a lot story of my life that has been missed without you. I wanna tell that I have a bestfriend who always care of me, his Mom and his Dad treat me like a princess in his house. I wanna tell you that I’m so confused why you do it for your kids. I have everything to buy a bag, buy a clothes, buy a hat, but all I need is you, Mom and Dad,” ucap Adisa dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipi perempuan itu dan Haga dengan sigap langsung memeluk sahabatnya. “Buna, Ayah, Daniel cuma mau bilang, kalian bukan penjahat dan kita bukan polisi. Jadi jangan takut buat nemuin kita kapanpun dan dimanapun, karena anak-anak kalian nggak akan membenci kalian. Daniel sebagai kakak yang paling tua mewakilkan Adisa dan Alex cuman mau bilang, kita kangen kalian, tolong kembali ya ke hidup kita, udah lima belas tahun lebih kalian ninggalin kita bertiga, apa kalian nggak kangen kita?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN