Adisa 44

1100 Kata
Saat Adisa dan Haga sudah sampai di bandara, mereka langsung buru-buru turun dan mencari-cari dimana keberadaan kakaknya tersebut. "Aku udah di lobby, Kak Daniel dimana?" "Oh iya, aku udah lihat kamu. Tunggu disitu ya," balas Daniel yang langsung mematikan sambungan teleponnya. "Kita disuruh tunggu disini," Kemudian dari jauh Adisa dan Haga samar-samar mendengar seseorang memanggil namanya. "DICA!" teriak Daniel sambil berlari menggeret koper mini miliknya. Adisa yang mendengar itu pun langsung membalikkan tubuhnya mencari-cari keberadaan kakak angkatnya tersebut. "Dica kangen," rengek Daniel saat ia berada tepat di hadapan Adisa. Adisa yang melihat Daniel berada tepat di depannya itu sedikit terpaku, kemudian ia melihat ke samping Daniel, disana ada seorang wanita dengan mata biru muda dan rambut blonde yang membuat Adisa tambah membeku. "Hai Dica, hello? Its me Daniel, and this is my girlfriend Luna," ucap Daniel sambil melambaikan tanganya di depan mata Adisa. "E-eh, sorry Kak. Kaget lihat Kak Daniel jauh lebih dewasa dan sekarang udah punya pacar, by the way, hug?" tanya Adisa dan laki-laki yang ada di hadapan Adisa langsung memeluk tubuh kurusnya dengan sangat erat. "Banyakin ya makannya, biar Haga lebih enak meluknya," bisik Daniel kemudian ia melepaskan pelukannya dengan Adisa dan beralih menatap laki-laki dengan mata hijau yang sangat tenang. "Hey Ga, ganteng juga lo sekarang. Lo jagain adek gue dengan baik kan?" tanya Daniel sambil melalukan bro hug dengan Haga. "Ya gue jadi cakep karena bantuan Adisa juga Kak, tapi duitnya tetep dari Momyy dan Daddy sih. Baik dong, cuman dianya aja yang kadang nyebelin," "Nggak papa, cewek emang susah di mengerti. Yaudah lanjut ke hotel aja yuk langsung, sekalian kita omongin rencana selanjutnya," ajak Daniel kemudian ia berjalan lebih dulu sambil menggandeng tangan kekasihnya. "By the way Kak, di rumah gue aja. Masih ada beberapa kamar yang kosong, jadi biar nggak bolak-balik," "Nggak papa? Gue satu kamar aja sama Luna," ucap Daniel dan Haga langsung menatapnya genit lalu mengangkat kedua alisnya. "Ya biar nggak ngerepotin keluar lo Ga," balas Daniel lagi lalu ia melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti. Didalam mobil, Adisa sudah duduk di depan menemani Haga, sedangkan Daniel dan kekasihnya duduk di kursi penumpang bagian belakang. "By the way ini kalian sengaja keliling dunia atau ada something that you looking for?" "Jadi Adisa kan menang olimpiade juara satu, nah terus Eyang sama Opa nggak hadir karena ada suatu urusan yang harus mereka kerjakan. Nah karena Mommy Stacy terlalu sayang sama Adisa, jadi Mommy ngajak Adisa ke Toronto buat ketemu sama saudara-saudara gue Kak. Tapi Daddy bilang, kita sekalian keliling Eropa aja, liburan, karena Daddy bilang gitu, Adisa bilang request ke Spanyol dan besok kita otw ke Spanyol berkunjung ke Mama Marie," "Ya ampun, Ca kamu harus bersyukur tuh punya temen kayak Haga. Jarang-jarang loh dapet temen kayak gitu, apalagi tiket pesawatnya aja mahal banget perorang. How lucky to be Adisa," gumam Daniel dan Haga terkekeh. "Tapi kayaknya Adisa nggak merasa begitu deh Kak haha," "Emang kenapa tuh?" "Adisa diem aja," "Heh terus aku suruh ngapain? Suruh salto di depan kamu, Mommy sama Daddy? Atau di suruh teriak-teriak bilang 'I'm lucky to be Haga's bestfriend' gitu?" omel Adisa yang membuat Haga dan Daniel terkekeh. *** Mereka berempat kini sudah sampai di kediaman rumah Haga, mereka sudah di sambut oleh Stacy, Benjamin, Thisya, Joan, Naura dan Noura. Dan mereka juga sudah membuatkan makan malam spesial untuk Daniel dan kekasihnya. "Kamu jauh-jauh dateng kesini, mau ngapain? Kangen ya sama Adisa," ucap Stacy lalu memeluk tubuh Daniel yang tinggi besar itu. "Nggak Tante, ada acara yang mau aku kerjain bareng sama Adisa dan Haga. Sekalian liburan juga," "Heyy pretty, what your name? This is your girlfriend?" ejek Stacy yang beralih menatap wajah Luna. "Thanks, my name is Luna Kinderweild, you can call me Luna. Nice to meet you," jawab Luna yang sentak membuat keluarga besar itu kaget. "Loh? Satu marga ya sama Daddy," gumam Haga. "Did you know her?" tanya Stacy sambil menarik tangan laki-laki itu. "No, I think. Lagian yang marga Kindrweild kan banyak," gumam Benjamin. "Kalian mau minum apa?" tanya si kembar. "Orange juice for all," jawab Stacy kemudian ia membawa Daniel dan Luna duduk di ruang tamu yang super besar dan mewah. "How long Daniel your relationship with Luna?" "Three years at 27 next month,"  "Udah lama juga ya," gumam Adisa kepada Haga. "Kamu nggak kangen sama Eyang sama Opa? Udah berapa lama coba kamu nggak pulang?" Daniel terkekeh. "Sebenernya udah rencana mau pulang ke Jogja, tapi karena tugas yang sangat banyak dan bingung cara ngatur waktunya gimana, jadi belum bisa pulang juga sampai sekarang. Tapi aku sering telepon mereka sih," jelas Daniel. "Kalau Luna, orang tuanya asli mana? California kah?" "My mother is from Indonesia, but my father from New Zealand. I'm life in California at least five years and finally I meet him," ucap Luna lalu mengusap wajah kekasihnya. "Indonesia? What's her name?"  "Bunga, Bunga Citra Kinderweild," "Ah exactly same what I think. Do you have stepsister?" tanya Adisa lagi untuk memastikan dan kekasih dari Daniel itu mengangguk dengan ragu. Seketika wajah Daniel, Adisa, Haga, Stacy dan Benjamin berubah dengan sangat cepat. "Daniel, how can you dont know whom her mother? Her mother is your aunty, Bunga is Chandra ex-wife," ucap Stacy yang membuat Luna kebingungan dari obrolan tersebut. Daniel menggeleng. "I didnt ask, and I've never meet her mother. And the, how about this? Is this relationship is vain?" "Nope, but I dont know how Chandra feeling. And Chandra is still single until now, you know what I mean buddy," ucap Benjamin lalu menaikkan kedua alisnya. *** "So, where we going now?"  "Zest Coffee 141, and search any information, dan kalo bisa kita hipnotis pekerja yang ada disana," jelas Adisa yang sudah geram dengan semua teka-teki ini. "Nggak, jangan terlalu gegabah. Buna sama Ayah lebih pinter dari kita Ca. Kita harus cari cara lain, yang nggak akan terpikirkan di kepala Buna sama Ayah, dan mereka juga pasti punya banyak mata-mata," jelas Daniel. "Mereka tuh kenapa jadi kayak orang jahat sih, masa iya sama anaknya sendiri sembunyi-sembunyi," ketus Adisa. "Kita nggak tau apa yang mau mereka lakukan buat kita, tapi Kak Daniel yakin pasti mereka melakukan yang terbaik buat kita Ca. Mereka nggak sejahat itu buat ninggalin anak-anaknya sendirian,"  "So?" "Kita siap-siap dan langsung pergi ke Zest Coffe, jangan sampai ada yang keceplosan pokoknya we do like we do every day. So c'mon c'mon, I know we can do it, fighting!" seru Daniel dan mereka semua langsung bergegas keluar dari kamar Haga untuk mengganti bajunya. "Next time, speak English please. I dont undrstand what you said," jelas Luna. "Haha sorry hunny," balas Daniel sambil mengusap puncak rambut Luna kemudian mencium keningnya sekilas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN