Malam ini pukul setengah satu malam, Adisa dan Haga sedang melakukan panggilan video call bersama dengan Alex dan juga Daniel. Mereka semua sedang menganalisa lebih lanjut tentang pengalaman yang di ceritakan oleh Haga siang tadi.
"Bentar, tadi kan lo bilang lo sama Adisa ngeliat mereka di cafe itu. Nah lo berdua liat muka mereka nggak?"
Adisa dan Haga sentak menggelengkan kepalanya secara bersamaan. "Mereka tuh pakaiannya kayak mafia gitu Kak, serba hitam, make kacamata dan masker, topi dan juga bawa tongkat buat bantu mereka jalan. Yang biasanya kita temuin waktu di Jogja juga sama persis kayak gitu pakaiannya, sampe pada waktu Adisa olimpiade di Semarang, mereka dateng," jelas Haga lalu laki-laki yang sedang menyelesaikan pendidikannya di California itu menuliskan sesuatu.
"Terus setiap kita ke cafe milik Ayah sama Buna, aku selalu dapet surat dengan inisial nama mereka, dan sering kali di surat itu ada sedikit clue yang buat aku sama Haga penasaran. Dan makannya aku ngajak ke Spanyol, mau cari bukti tentang Ayah dan Buna kenapa mereka melakukan itu,"
"Kamu bawa suratnya?" Adisa mengangguk.
"Mana mau lihat," ucap Daniel lalu Adisa pergi untuk mencari beberapa surat yang sengaja ia bawa dari Jogja.
"Fotoin ya Ca, kirim ke aku via direct message," sambung Daniel lagi.
"Hmm terus kalo Alex, gimana Lex?"
"Nggak gimana-gimana sih, cuman waktu itu Om Zaki suruh aku ke cafe tapi aku belum ada waktu buat pergi kesana. Jadi sampai sekarang belum pergi kesana,"
"Yang udah punya pacar nih, sampe nggak ada waktu, ngapain aja sih emang?" ejek Daniel hingga membuat pipi laki-laki yang berumur enam belas tahun tersebut memerah.
"Kak, udah aku kirim," ucap Adisa dan Daniel langsung mengecek ponselnya.
"Oke aku baca dulu, kalian ngobrol yang lain aja dulu,"
"Haga, kan lo bilang lo lihat mereka di Canada?" celetuk Alex dan Haga mengangguk sebagai jawabannya.
"Kok bisa?" sambung Alex yang membuat kedua sejoli tersebut kebingungan dengan pertanyaannya.
"Maksud lo apa sih Lex?"
"Nih, kan terakhir kali mereka yang lo kira Buna sama Ayah masih ada di Jogja ya, nah kenapa bisa sekarang tiba-tiba ada di Canada? Apa mereka ikutin lo atau gimana?" jelas Alex dan seketika mereka bertiga langsung menatap layar laptopnya masing-masing.
"Iya ya, sumpah gue nggak kepikiran sampai sana," gumam Haga sedangkan Daniel masih mencerna ucapan dari adiknya itu.
"Adisa olimpiade kapan?" tanya Daniel.
"Dua minggu lalu kayaknya, nah setelah Adisa selesai olimpiade, gue sama Adisa memberanikan diri buat nanya ke Om Zaki tentang semua itu, dan dia marah. Terus beberapa hari kemudian, Om Zaki bilang ke Eyang dan kita semua rapat sama keluarganya Haga juga. Terus sejak kejadian itu, kita berdua udah nggak pernah lihat mereka lagi," jelas Haga.
"Besok pagi gue langsung berangkat ke Toronto, kasih alamat rumah lo ya Ga. Nanti kita cari semua kebenaran ini bareng-bareng,"
"Hah? Ca lo sekarang lagi di Toronto?!" seru Alex dengan mata yang hampir melompat dari tempatnya.
"Lo kemana aja? Gue kemarin habis telepon Eyang sama Opa, terus nelpon Om Chandra juga,"
"Ya sorry gue sibuk, pantes aja di rumah kayak sepi banget. Biasanya kan lo sama Haga di kamar mulu berduaan, berisik lagi," ketus Alex dan Adisa memutar matanya malas.
"By the way, kok gue jadi pengen ikut ke Toronto ya," rengek Alex dengan wajah sedih.
"Mau ikut Alex? Tapi sendiri dari Jogja, nanti aku transfer duitnya," ucap Daniel yang berhasil membuat Adisa, Haga dan Alex langsung membelalakkan matanya.
"You're not kidding me, right?" tanya Alex dengan mata yang masih melotot dan wajah tak percaya.
"Buat apa? Aku juga bisa kesini karena orang tua kalian, kirim nomer rekening kamu sekarang, besok pagi langsung berangkat ke Toronto,"
"Waktunya nggak cukup Kak Daniel, kita cuman punya waktu dua hari lagi di Canada habis itu kita langsung take off ke Spanyol, sedangkan dari Indonesia ke Toronto butuh empat puluh lima jam. Kalo mau, Alex langsung ke Spanyol aja, sekalian main ke rumah Mama Marie, lo kangen kan?" jelas Adisa dan Haga menjentikkan jarinya sebaga jawaban bahwa ia setuju dengan perkataan sahabatnya itu.
"Ketemu aja belum pernah Ca, aneh aja lo. Tapi emang boleh apa? Kan gue baru enam belas tahun dan belum ada tanda pengenal, tapi passport ada sih,"
"Yaudah lo nggak usah ikut, ribet. Ngabisin duit Kak Daniel aja lo,"
"Dih," ketus Alex dan ia langsung keluar dari panggilan video tersebut.
"Tuhkan ngambek, yaudah ini aku matiin ya. See you tomorrow , I cant wait to see you both, good night," ucap Daniel kemudian ia langsung keluar dari panggilan video tersebut dan hanya tersisa Adisa dan Haga disana.
"Deg-degan nggak Ca mau ketemu Kak Daniel?" tanya Haga lalu Adisa terkekeh mendengar pertanyaan dari lelaki di sampingnya tersebut.
"Ya lo liat aja muka gue sekarang gimana Ga," jawab Adisa sambil memperliahtkan tangannya yang sedikit gemetar.
"Kayaknya kamu harus konsultasi ke psikiater deh, terkait trust issue dan anxiety yang berlebih. Yuk nanti kalo udah pulang ke Jogja aku anterin,"
"Ngapain? I can handle my self, cuman sekarang gemeteran karena emang udah mau dua tahun nggak ketemu Kak Daniel, apalagi kamu kan tau aku sama Kak Daniel sama Alex nggak begitu deket. Tapi mungkin karena gender kali ya, jadi agak gimana gitu kalo main sama saudara laki-laki," jelas Adisa lalu Haga memanyunkan bibirnya.
"Tapi kamu main sama aku terus Ca," gumam Haga.
"Sorry aku ngantuk, aku mau tidur dulu," ucap Adisa lalu ia berjalan menaiki kasur king size meninggalkan Haga yang masih duduk di meja belajar dengan camera laptopnya yang masih menyala.
***
Keesokan harinya, Adisa dan Haga sedang bersiap untuk pergi mengelilingi kota Toronto sekalian menjemput Daniel yang akan tiba pukul tiga sore nanti. Mereka kini sedang duduk di dalam mobil di pinggir jalan tanpa tau tempat yang ingin mereka tuju.
"Nggak jelas," ketus Adisa dengan wajah badmood.
"Terus mau kemana?" tanya Haga yang membuat emosi perempuan itu semakin menjadi-jadi.
"Haga, aku baru pertama kali kesini. Aku nggak tau mau kemana,"
"Yaudah, aku ajak muter-muter aja," balas Haga lalu ia kembali menjalankan mobilnya memutari sebagian kota kelahirannya itu.
"Nanti kalo Kak Daniel udah kesini, mau ngapain?" celetuk Adisa.
"Ngapain aja boleh, lagian nggak dengerin apa semalem video call sampai jam setengah tiga,"
"Ih kok marah?"
"Lagian sih, yaudah sekarang kita ke Eaton Center yang kemarin aku ajak aja,"
"Yaudah," ketus Adisa kemudian ia memasang headphone di telinganya, membiarkan Haga yang sedang fokus mengendarai mobil sendirian.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Haga dan Adisa sudah sampai di salah satu Mall yang berada di kota tersebut dan mereka langsung memasuki mall tersebut melalui pintu basement.
"Nggak jauh beda sama yang di Jogja, cuman ini jauh lebih mewah aja," gumam Adisa.
"Ada Sephora, Prada, Victoria Secret, eh by the way aku pernah di kasih hadiah sama Mommy Victoria Secret," sambung Adisa yang masih melihat ke sekitar mall tersebut.
"Iya, aku kan yang nemenin Mommy dan milihin warna yang cocok buat kamu," balas Haga dan Adisa membelalakkan matanya.
"Ih! Malu, padahal kan Mommy bisa milih sendiri ngapain ngajak kamu sih," gerutu Adisa yang membuat Haga gemas melihatnya.
"Ya marah sana sama Mommy, aku kan cuman di ajak. By the way kita cari tempat makan dan habis itu langsung ke bandara ya. Perkiraan Kak Daniel sampai sini jam tiga, jadi kita harus memanage waktu dengan baik, ayo ayo," ucap Haga lalu ia berjalan dengan cepat menaiki eskalator ke lantai selanjutnya.
"Makan disitu aja ya," kata laki-laki yang setia menggandeng tangan Adisa sambil menunjuk sebuah restoran yang bertuliskan Joey Eaton Center.
"Yaudah, kamu yang pesen. Kayak biasa ya,"
"Okey," balas Haga kemudian mereka memasuki restoran tersebut untuk mengisi perutnya yang sudah tak sabar minta di isi makanan.
Beberapa saat kemudian setelah mereka berdua selesai makan, Haga dan Adisa langsung bergegas untuk pergi ke bandara International Pearson Toronto untuk menjemput Daniel disana.
"Coba Ca cek hp kamu, Kak Daniel udah ngirim chat belum," ucap Haga dan tanpa babibu Adisa langsung membuka ponselnya dan sudah ada beberapa pesan dari Daniel disana.
"Ih! Kak Daniel udah nyampe dari jam dua, harusnya tadi kita nggak usah mampir ke mall buat makan ya," gumam Adisa sambil memberikan ponselnya kepada Haga.
"Ih iya, yaudah sebentar lagi kita sampe kok. Telepon buruan,"
"Iya ini lagi aku telepon," ucap Adisa.
"Ca, aku udah di bandara nih dari satu jam yang lalu. Kamu dimana?"
"Iya sorry, habis mampir makan tadi dan nggak buka hp, ini aku lagi otw kesana. Tunggu ya dua puluh menit lagi," jelas Adisa dengan nada khawatir.
"Iya, aku tunggu di kursi tunggu pintu selatan ya. Sama pacar aku hehe,"
"Okey, untung Kak Daniel ajak dia, yaudah aku sama Haga otw, see you," ujar Adisa dan langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Daniel.
Sedangkan di lain sisi, Zaki sedang bermain ke rumah milik keluarga Adisa. Dirinya sedang berkunjung kesana sambil membicakan tentang laporan pendapatan cafe milik Adhista dan Diratama.
"Iya Pak, pendapatan naik pesat beberapa bulan belakangan ini," ujar Zaki kepada Intan dan Harsa.
Dan dari lantai dua, Alex berteriak kepada nenek dan kakeknya tersebut. "Eyang, Opa, Alex mau ke Spanyol ya nyusul Adisa sama Haga, Kak Daniel juga ikut ke Spanyol,"
"Mau ngapain kesana?" tanya Harsa saat cucu laki-lakinya itu sampai di ruang tamu.
"Mau liburan, sekalian main ke rumah Mama Marie,"
"Kapan?"
"Lusa mereka berangkat ke Spanyol, tapi aku besok berangkatnya,"
"Emang berani sendiri?"
"Berani dong kan aku--" ucapan Alex terpotong.
"Permisi Pak Bu, saya izin ke toilet dulu ya," ucap Zaki dan laki-laki itu langsung berjalan meninggal Harsa, Intan dan juga Alex di ruang tamu.
Ia berjalan memasuki kamar mandi tamu, kemudian membuka ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Lo sama istri lo jangan ke Spanyol dulu," ucap Zaki sambil berbisik di telepon genggamnya.
"Kenapa?"
"Adisa, Alex, Daniel, Haga dan keluarganya mau berangkat ke Spanyol lusa. Lo nggak bakal aman kalo kesana dalam waktu dekat ini," jelas Zaki yang membuat laki-laki diseberang sana menghembuskan napasnya gusar.
"Dica sama Haga udah lihat gue kemarin di Zest Coffe, tapi kayaknya mereka nggak tau kalo itu gue," gumam laki-laki yang identitasnya tidak di ketahui itu.
"Hah? Lo berdua udah nggak aman! Cari tempat persembunyian yang lain, atau persembunyian lo selama bertahun-tahun bakal sia-sia,"
"Zak, tapi gue kangen mereka," lirih laki-laki itu yang membuat detak jantung Zaki langsung berhenti berdetak selama beberapa detik.