Adisa 42

1161 Kata
"Nou, kamu tau alamat cafe ini nggak?" tanya Haga saat ia sedang duduk santai di ayunan belakang rumahnya kemudian Haga memperlihatkan layar ponselnya kepada sepupunya itu. "Ah ini mau deket situ, aku sama Naura sering kesana. Kenapa?"  "Yuk," Perempuan itu memasang bingungnya. "Kemana?" "Ke cafe itu, sama Adisa sekalian," "Yuk! Aku ganti baju dulu ya," seru Noura dan perempuan itu langsung pergi meninggalkan Haga sendirian yang sedang duduk di ayunan. Laki-laki itu kemudian berdiri dari ayunan, mengambil ponsel yang ada di kantongnya lalu menghubungi seseorang disana. "Kak, aku mau kesana sekarang." "Oke Ga, pantau terus ya. Mungkin gue lusa berangkat ke Canada sama cewek gue, sekalian gue pengen denger cerita lengkap dari lo tentang yang semalem," "Oke Kak, semoga aja duit lo nggak terbuang sia-sia ya dan kita dapet hasil," "Aamiin, semoga aja. Soalnya mereka pinter dan pasti rencananya udah di rencanain matang-matang sama mereka," jelas Daniel. "Iya Kak, yaudah gue matiin ya, mau ganti baju dulu," "Sip, pokoknya selalu hati-hati aja Ga. See you!" balas Daniel dan ia langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Haga. Haga lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya, saat sedang dalam perjalanan menuju ke kamarnya, Haga melihat Adisa sedang bercanda bersama Thisya dan Joan di ruang keluarga. Senyumnya perlahan-lahan mengembang melihat pemandangan yang sangat langka itu. "Jadi begitu ya, Haga udah dilupain disini dan digantiin sama Adisa. Males," lirih Haga yang tiba-tiba duduk di sofa ruang keluarga. Sontak mereka bertiga langsung menengok ke arah Haga yang memasang wajah sedih. "Mama cuman mau kenal Adisa lebih dekat, anaknya lucu dan pinter banget. Mama setuju kamu sama Adisa, ya Pah?" celetuk Thisya sambil menatap mata Joan dan laki-laki itu mengacungkan kedua ibu jarinya. "Haha kita cuman sahabatan kok,"  "Bagus, karena kalo sahabatan nggak bakal ada kata putus dan berantem," jelas laki-laki yang berumur tujuh puluh lima tahun itu. "Haga ih katanya mau ke cafe yang tadi?" celetuk Noura yang sudah rapih dengan Naura yang ada di belakangnya. Adisa yang melihat itu hanya diam dan bingung. "Mau kemana? Kok aku nggak diajak?" "Ayo Adisa, kita mau di traktir Haga. Ayo sini-sini, nggak usah ganti baju juga kamu udah cantik kok," ucap Naura kemudian ia berjalan masuk ke dalam ruang keluarga dan menarik kedua tangan Adisa dengan dibantu oleh Noura. "Mama, Papa kita pinjem Adisa sebentar ya," ucap si kembar kemudian mereka berempat pergi meninggalkan Thisya dan Joan di ruang keluarga berdua. Sedangkan di lain tempat, Adisa, Haga, Noura dan juga Naura sedang berjalan menuju ke cafe yang Daniel perkirakan milik Adhista dan Diratama. Mereka berempat hanya berjalan kurang lebih sepuluh menitan menuju ke Zest Coffee 141. "Kita mau kemana?" tanya Adisa yang sedari tadi terus bertanya di otaknya. "Kita sekarang mau ke cafe yang sering aku kunjungi sama Naura, namanya Zest Coffee,"  Adisa terdiam sambil menatap mata Noura kaget. "Zest Coffee?" "Iya, Zest Coffee 141. Itu didepan," jawab Noura lalu perempuan itu menunjuk sebuah plang bertuliskan nama caffe tersebut. Adisa seketika langsung membelalakkan matanya kaget dan tak percaya. "Loh cafe Buna sama Ayah udah sampe sini?" gumam Adisa yang membuat Noura kebingungan. Haga lalu menarik tangan Adisa dan langsung memasuki coffee shop tersebut. Saat memasuki cafe tersebut Adisa dan Haga sangat tertegun melihat banyak foto-fotonya dan keluarganya di pajang di bingkai kecil disana. "Welcome to Zest Coffee 141, you can order the menu that you want here--" ucap pekerja disana sambil melihat wajah Adisa yang berada di depannya. "Hmm what do you want Mrs?" "Two Hot cappucino and two sandwich chessee," ucap Noura dan Naura secara bersamaan sedangkan Haga dan Adisa masih membeku melihat bayangan seseorang yang ada di belakangnya. "Ca? Did you see what I see?" bisik Haga yang masih membeku di sebelah perempuan itu. "WHAT THE?!" teriak Noura dan Naura secara bersaam saat melihat foto Adisa terpampang disana. "Adisa, is that you?" tanya mereka berdua dengan suara gemetar. "Bro, can I ask you something?" tanya Haga sambil berbisik kepada pelayan tersebut. Sedangkan pelayan tersebut ikut gemetar karena melihat bos mereka yang terus mengawasinya dari belakang. Mereka berdua menggelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan cafe tersebut melalui pintu rahasia. "Sure, you can ask something what you want, Dude," "Did you know Adhista and Diratama?" tanya Haga yang masih berbisik kepada pelayan tersebut. Laki-laki yang berumur sekitar dua puluh tahunan itu kemudian mendorong bahu Haga agar ia sedikit menjauh darinya. "Bagaimana bisa aku tidak mengenalnya, sedangkan dia yang punya cafe ini? Tapi mereka berdua mengalami kecelakaan pesawat beberapa tahun yang lalu," Adisa kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Haga dan membisikkan sesuatu.  "Kalau Zaki, apakah kalian mengenalnya?" tanya Haga kemudian kedua pelayan tersebut saling bertatap-tatapan. "Hmm sorry, I dont know him. So, what do you want Mrs. Adisa?" "Haha I think you dont know me, nice to meet you. I'm Adisa Fyneen Sarwapalaka, I'm a daughter of the owner of this coffee shop," balas Adisa lalu mengajak kedua pelayan tersebut berjabat tangan. "I want one greentea latte, one roasted chicken and one mango juice, please," ucap Adisa dengan senyum manis yang terpampang jelas di bibirnya. "Hmm I want the menu same like Adisa," "Okey, you can wait in any seat you want," ucap pelayan tersebut sambil mencatat menu yang di pesan oleh Adisa dan Haga.  Mereka berempat kemudian berjalan ke arah kursi paling pojok dengan view yang langsung mengarah ke jalanan kota Toronto tersebut. "Aku kira cuman ada di Indonesia," "they still alive," bisik Haga tepat di telinga Adisa. "I know, mereka bersembunyi di belakang kita waktu kita baru dateng tadi,"  "Why they are still hiding from us?" tanya Haga lagi dan Adisa hanya menjawabnya dengan mengangkat kedua bahunya. "Ca, sebentar ya aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Haga lalu laki-laki kembali berjalan menuju ke meja yang ada di depan tadi. "Maaf, saya ingin ke toilet. Dimana ya?" tanya Haga dan pelayan tersebut langsung memberi arahan kepadanya. "Thanks," balas Haga kemudian ia langsung berjalan ke kamar mandi yang berada di dekat dapur cafe tersebut. Saat Haga sedang berada di dalam bilik kamar mandi, tiba-tiba ia mendengar perbincangan antara pelayan tersebut. "Maaf Pak, tapi saya takut mereka tanya yang aneh-aneh ke saya," ucap pelayan tersebut dengan suara gemetar. "Yang penting kamu tutup rapat-rapat tentang saya dan istri saya, jangan sampai mereka tau sedikitpun. Dan akan saya naikkan gaji kalian berdua dua kali lipat kalau kalian janji bakal tutup mulut dan nggak akan keceplosan," jelas laki-laki itu melalui sambungan teleponnya. 'Itu suara Ayah Tama bukan sih?' batin Haga yang terus mendengarkan percakapan antara kedua laki-laki itu. "Oke Pak Nicol, saya izin matikan sambungan teleponnya. Takut ada yang denger, terimakasih Pak," ucap pelayan tersebut dan langsung berjalan meninggalkan kamar mandi. 'Pak Nicol?' batin Haga yang terus bertanya-tanya itu, kemudian ia berjalan keluar dari kamar mandi dan kembali ke kursi yang ia tempati bersama Adisa dan sepupunya tersebut. "Ca," panggil Haga kepada Adisa yang sedang memainkan game melalui ponselnya. "Nama panjang Ayah Tama siapa?" "Nicolau Diratama Sarwapalaka," jawab Adisa. "HAH?!" seru Haga dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya dan bibir yang perlahan-lahan berubah menjadi sangat pucat itu dengan tangan gemetar yang sangat luar biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN