Attention, ceritanya di part ini bicaranya make bahasa Inggris ya. Happy reading <3
"Oh jadi itu yang kamu ceritain terus menerus Ken?" ejek sepupu perempuan Haga yang bernama Selena Noura Tyaga.
"Shut, kamu diem-diem aja ya, pokoknya jangan keceplosan rahasia apapun yang aku ceritain," jelas Haga lalu ia melirik sekilas ke ruang tamu dimana Adisa sedang duduk disana berbincang dengan keluarga besarnya.
"Sejujurnya, Adisa cantik banget dan pinter banget, bahasa Inggris dia bagus dan lancar banget. Kamu nggak salah pilih sahabat Ga,"
"Ngomong-ngomong Nou, dulu dia cemburu sama kamu,"
"Hah? Iya? Kenapa deh?"
"Kalaupun aku ceritain juga pasti lupa yang mana," balas Haga lalu ia meninggalkan Noura sendirian di dapur.
"Hey guys! I'm back, who miss me?" seru Haga yang langsung duduk di samping neneknya tersebut.
"Ca, kamu udah kenal nenek aku?" Adisa mengangguk.
"Ini Mama Thisya dan sebelahnya Papa Joan," jawab Adisa kemudian memeluk nenek dari Haga yang duduk diantara Adisa dan Haga.
"Kalau yang itu?" tanya Haga menunjuk saudara kembar dari Noura yang duduk tak di sofa depan mereka.
"Ini Jelena Naura Tyaga, dan yang lagi jalan kesini Selena Noura Tyaga, bener kan?" tanya Adisa yang membuat Haga dan Stacy tercengang.
"Oke bener, kalo mereka siapa?" tanya Haga sambil menunjuk sepasang kekasih yang sedang menggendong anaknya di sofa yang berada di sebelah mereka.
"Kakaknya Mommy Stacy, Barbara dan Dylan, anak perempuannya Olivia Hudson Tyaga. Bener kan?"
"Oke nanti malem aku traktir semau kamu di Yorkdalle Shopping Centre," balas Haga sambil mengacungkan kedua ibu jarinya kepada Adisa.
"Haga, can I join with you?" tanya Noura dan Naura secara bersamaan.
Haga memutarkan matanya malas.
"I dont have money for you two, sorry,"
"Huft," lirih si kembar dan mereka semua kembali melanjutkan perbincangan itu dan sesekali Haga menceritakan kelebihan dari sahabatnya, Adisa.
***
Saat ini Adisa, Haga, Noura dan Naura sedang berada di dalam kamar Haga yang berada di lantai tiga dengan pemandangan langsung ke danau yang ada di belakang rumahnya. Mereka berdua sedang asik menceritakan kehidupannya masing-masing, dan sesekali mengejek Haga yang membuat laki-laki itu sedikit jengkel.
"Adisa, kamu itu umurnya berapa?" tanya Naura yang sedang memainkan rambut lurus Adisa.
"17 tahun,"
"Hmm aku tahun ini masuk 19 satu bulan lagi, jangan lupa yah Adisa,"
"By the way follow i********: aku dong Adisa," celetuk Noura.
"Please deh kalian ganggu aku sama Adisa aja deh, kita kan mau istirahat!" seru haga dengan wajah yang sudah sangat kesal kepada saudara sepupunya itu.
"Kenapa? Kan kita cuman mau kenal lebih deket sama Adisa, masa nggak boleh,"
"Tapi sekarang udah jam setengah dua malam, dan kita belum istirahat dari saat kita sampai di Toronto,"
Noura dan Naura terdiam seketika mendengar ucapan dari Haga, lalu kedua perempuan kembar itu turun dari atas kasur milik Haga dan berjalan meninggalkan Haga dan Adisa disana. "Besok kita cerita-cerita lagi ya Adisa, have a good night, love you!" seru keduanya dan langsung menutup pintu kamar Haga.
"Hehe padahal aku mau gantian ngobrol sama kamu," ucap Haga lalu ia berjalan menaiki kasur king size dengan sprei warna abu-abu tua itu.
"Kamu udah bilang daniel Ca, kalau kita mau ke sana?" tanya Haga lalu laki-laki itu merebahkan tubuhnya di samping Adisa yang masih setia menatap kaca di langit-langit kamar Haga.
"Haga, kenapa sih nggak tinggal disini aja? Rumah kamu yang ini kayak istana, yang di Jogja kecil,"
"Ih jawab dulu, udah bilang belum?" ulang Haga dan tiba-tiba ponsel Adisa berdering.
Adisa kemudian mengambil ponselnya. "Tuh kan nelpon," gumam Adisa yang langsung mengangkat panggilan telepon dari kakak angkatnya tersebut.
"Hey Ca, kamu kapan mau ke California?"
"Sekarang aku lagi di rumah Haga yang di Toronto selama lima hari, habis itu ke Spanyol tempat Mama Marie, terus lanjut ke California,"
"Spanyol? Mau apa? Mau cari Buna sama Ayah lagi?" tanya Daniel dengan suara ngebass yang membuatnya terdengar sangat dewasa sekarang.
Adisa terdiam, dirinya bingung ingein menjawab apa pertanyaan dari kakak angkatnya tersebut.
"Halo Kak, how are you? Good?" ucap Haga yang mengambil alih telepon genggam itu.
"Hey Ga, long time no see you. Gue baik nih, lo juga kan?"
"Pasti, selama beberapa tahun lo di Amerika, udah ada gandengan belum nih?" ejek Haga dan laki-laki yang di seberang sana terkekeh dengan suara bass nya.
"Ada dong, tapi belum berani gue kenalin ke orang rumah. Kalo udah lulus kuliah aja nanti haha,"
"Oh iya, lo pada mau ngapain ke Spanyol?" tanya Daniel lagi.
"Mau liburan aja sih, sekalian berkunjung ke rumah Mama Marie, katanya sih Mama nya Ayah Tama," jelas Haga.
"Iya Mama Marie emang neneknya Dica kok, by the way kalo kesana jangan tanya aneh-aneh ya ke Mama Marie. Takutnya dia jadi inget kejadian waktu Buna dan Ayah kecelakaan pesawat, kasihan udah tua takut sedih lagi inget anaknya," jelas Daniel sedangkan Adisa hanya mendengarkan perkataan dari kakaknya tersebut.
"Ca, aku bawa keluar ya?" tanya Haga dan Adisa mengangguk, kemudian laki-laki itu berjalan menuju ke balkon kamarnya dengan pemandangan danau yang sangat gelap tanpa adanya penerangan sedikitpun.
"Kak, masih disana kan?"
"Masih Ga, kenapa?"
"Sebenernya selain ke rumah Mama Marie, Adisa ngajak ke Pantai Playa De Maspalomas. Dia masih mau cari tanda-tanda Buna Adhista dan Ayah Tama disana," jelas Haga sambil berbisik sedangkan daniel hanya bisa membuang napasnya pasrah.
"Its been a long time ago, kalaupun mereka masih hidup, nggak mungkin mereka stay disana. Haga, gue minta tolong banget nih sama lo, jangan bolehin Adisa kesana, gue cuman takut dia berhalusinasi seakan-akan Buna sama Ayah masih ada. Lagipula kecelakaan pesawat yang jatuh ke laut itu jarang ada yang selamat, Buna sama Ayah itu udah nggak ada disini. Mereka udah meninggal," jelas Daniel dengan nada putus asa.
"Lagian kalau Buna sama Ayah masih hidup, mereka pasti langsung pulang ke rumah dan ketemu sama keluarganya. Kecelakaan itu udah lima belas tahun lalu Ga, mustahil mereka selamat dari kecelakaan sebesar itu,"
"Tapi Kak, lo kalo gue ceritain pasti nggak percaya,"
"Apa?"
"Kayaknya enak secara langsung deh ya? Sekalian gue kasih lihat juga bukti-buktinya,"
"Bukti apa? Lo lagi ngomongin apa sih?"
"Buna Adhis sama Ayah Tama masih hidup," jawab Haga lalu Daniel tertawa sangat kencang yang membuat Haga heran.
"Kenapa kak?"
"Haha ya nggak mungkin aja, kan tadi gue udah bilang, mereka kecelakaan lima belas tahun lalu dan nggak mungkin masih hidup, apalagi itu kecelakaan pesawat. Walaupun suratnya ditemuin, belum tentu Buna dan Ayah masih hidup di dunia ini sama kita, kalian jangan berhalusinasi ya," balas Daniel yang masih tertawa melalui ponselnya.
"Emang kalo di pikir sih nggak masuk akal, tapi kalo lo denger cerita dari gue, lo bakal berpikir dua kali buat bilang mereka udah meninggal," jelas Haga yang membuat Daniel langsung terdiam dan membelalakkan matanya.
"Haga, omongan lo nggak bercanda kan?"
"Buat apa gue bercanda? Gue sama Adisa lagi cari bukti yang kuat, buat bilang ke Om Zaki kalo mereka masih hidup. Soalnya Om Zaki aneh akhir-akhir ini, dia kayak menutupi sesuatu dari kita berdua dan juga yang lainnya," jelas Haga sedangkan Daniel terus berpikir dari apartemennya disana.
"Lo kapan ke Spanyol? Nanti gue nyusul,"
"Hah? Buat apa?"
"Gue baru inget, kalo beberapa bulan ke belakang ini ada cafe yang namanya sama persis sama cafe nya Ayah. Dan itu udah tersebar di banyak negara di Eropa," gumam Daniel dan Haga hanya terdiam dengan mulut menganga.
"Itu fotonya gue kirimin," ucap Daniel lagi kemudian Haga langsung membuka pesan dari laki-laki yang berbeda sepuluh tahun darinya itu.
Haga tak bisa berkata-kata, dirinya tercengang saat melihat beberapa alamat cabang cafe tersebut, dan salah satunya ada yang berlokasi tak jauh dari rumahnya itu.
"Apa iya mereka masih hidup?" gumam Haga dan Daniel secara bersamaan dengan pikiran yang sudah bercabang kemana-mana.