Adisa 40

1125 Kata
Pagi ini pukul sepuluh, Adisa, Haga, Stacy dan juga Benjamin sudah rapih dengan semua barang bawaannya dan mereka berempat akan langsung terbang menuju ke Toronto untuk mengunjungi keluarga Haga selama lima hari ke depan. "Yuk kita langsung ke bawah aja, koper kita sudah ada dibawah. Jangan ada barang yang ketinggalan ya, semuanya sudah di cek kan?" ucap Benjamin yang sudah rapih dengan kemeja putih dengan bawahan celana tartan warna hitam dan di lapisi oleh sweater yang sewarna dengan celana tersebut. "Okey, Haga sama Dica ke bawah duluan ya," balas remaja laki-laki tersebut dan langsung keluar dari kamar dengan diikuti oleh Adisa di belakangnya. "By the way, dari yang kamu ceritain tadi malem Ca, Buna Adhis kenal sama Ayah tama darimana?" "Makannya beli buku Buna dong, nanya mulu!" "Ih serius, emang Buna kamu bikin cerita tentang Ayah Tama juga?" tanya Haga lalu Adisa memberhentikan langkahnya. "Loh? Haha iya ya, aku tau ceritanya dari mana ya," "Yeu dasar, kalo novel Buna kamu yang tentang Arjuna udah khatam aku. Tapi kalo yang tentang Ayah Tama aku nggak tau," jelas Haga sambil memasuki lift dengan tangan yang menggandeng Adisa. "Hmm baru inget, sebenernya ada cerita tentang Ayah, tapi karena Buna nggak sempet nyelesain cerita tersebut, akhirnya cerita itu ngegantung di tengah jalan dan belum tampat sampai sekarang karena nggak ada yang tau gimana kelanjutan kisah mereka berdua," "Oh begitu, terus Buna sama Ayah ketemu dimana?" "Buna kenal sama Ayah di kampus, Ayah kenal Buna udah dari SMA. Buna dulu anak famous di sekolahnya," "Gitu ya, kan kata kamu Ayah Tama keturunan Spanyol ya? Coba liat sini, ada campuran Spanyol nya nggak muka kamu," ucap Haga kemudian memegang wajah Adisa agar ia bisa melihatnya dengan jelas. Haga lalu melihat setiap detail di wajah sahabatnya tersebut, melihat dahi perempuan tersebut lalu beralih ke kedua mata dan alis nya, dan melanjutkannya ke area hidung kemudian ke bibir wanita yang sedang di tatapnya. Dan laki-laki itu tersenyum manis yang membuat Adisa salah tingkah dengan sikap sahabatnya tersebut. "Nggak ada muka Spanyol nya lah gue, orang Ayah Tama juga nggak keliatan banget. Ayah Tama keliatan kalau campuran, tapi nggak keliatan kalau dia orang Spanyol," "Yang keliatan cuman satu," balas Haga yang masih menatap wajah Adisa. "Apa?" "Cantiknya hehehe," jawab Haga dengan cengiran di bibirnya sedangkan Adisa langsung mendorong wajah Haga. "Basi gombalannya," Ting! Akhirnya mereka sampai di lobby hotel dan berjalan menuju ke kursi tunggu untuk menunggu ke datangan Benjamin dan Stacy di sana. "Hmm kenapa Fattah?" ucap Adisa saat ia mengangkat telepon dari Fattah. "Kangen," rengek Fattah melalui ponselnya dan Haga langsung merebut ponsel perempuan itu. "Bilang sekali lagi coba," "Kangen gue sama Adisa, ngapain sih lo," "Adisa sibuk, dan lagi nggak bisa di ganggu," ucap Haga yang langsung mematikan sambungan telepon tersebut. "Ih pokoknya kalo sama aku, Fattah nggak boleh nelpon atau ganggu," "Bawel!" seru Adisa lalu mereka berdua duduk di sofa dengan koper yang sudah rapih berjejer disana. *** Setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka berempat sampai di bandara Perth dan akan langsung terbang menuju ke Toronto selama kurang lebih tiga puluh jam perjalanan. Kini mereka berempat sudah duduk rapih di kursi kabin pesawat sesuai dengan nomor yang tertera di ticket itu. Seperti biasa, Adisa duduk bersama Haga di bagian pinggir dekat jendela. "Tiga puluh jam di perjalanan doang, lama banget ya, kayaknya aku bakal jenuh," gumam Adisa sambil meletakkan kepalanya di bahu lebar milik Haga. "Kan ada aku, tapi sayangnya di pesawat nggak boleh berisik," "By the way Doki mana Ga?" "Dia kayaknya sama Mommy atau di taroh di bagasi. Aku nggak tau Ca," "Ga, dulu waktu Buna sama Ayah kecelakaan pesawat, mereka berada di ketinggian 37000 kaki. Itu setinggi apa ya?" gumam Adisa yang masih meletakkan kepalanya di bahu laki-laki itu. Haga terdiam, dirinya masih mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Adisa. "Aku aja baru di 20000 kaki udah deg-degan, apalagi Buna sama Ayah ya. Pasti mereka takut banget waktu itu, nggak kebayang gimana perasaan mereka berdua, pasti panik apalagi dulu aku, Alex sama Kak Daniel masih kecil. Bahagia ya Buna sama Ayah dimanapun kalian berada," Haga lalu mengangkat tangannya dan meletakkan di puncak kepala Adisa, laki-laki itu sedang berusaha menenangkan sahabatnya. "Mereka bahagia kok Ca, mereka kan orang baik. Kalaupun dulu dua stranger yang kita kira Ayah Tama dan Buna Adhista, yaudah kita doain aja yang terbaik buat mereka. Mungkin ada suatu alasan kenapa dia sembunyi-sembunyi kayak gitu, dan kalaupun itu bukan mereka, berarti Ayah dan Buna kamu udah bahagia di surganya Allah," "Haga, aku kangen mereka," lirih Adisa dan air mata kesedihan itu datang lagi. "Believe me, they're okey. Sekarang yang perlu kamu lakuin itu cuman, mencintai diri kamu sendiri, kamu udah dewasa dan harus jadi perempuan kuat dan pemberani," "Kan ada Haga," balas Adisa. "Yeu dasar! By the way udah bilang Daniel kalo kita mau ke Callifornia?" "Belum, aku nggak punya nomer teleponnya. Mungkin besok kalo udah sampe di Toronto aku chat lewat i********:," "Masa kakak adik nggak saling simpen kontak," ejek Haga. "Sorry ya kita berbeda haha," bisik Adisa lalu Haga menyubit hidung perempuan itu. "Nggak boleh gitu Dicayang, kalian berdua sama-sama anak Ayah Tama dan Buna Adhista," gumam laki-laki itu lalu mengistirahatkan matanya yang sedari dua hari lalu kurang tidur. *** Tiga hari kemudian, akhirnya Adisa, Haga, Stacy dan Benjamin sudah sampai di Bandar Udara Pearson Toronto. Mereka berempat sudah di jemput oleh seseorang suruhan Benjamin yang akan menjadi supir mereka dalam lima hari ke depan. Dan kini mereka berempat sedang dalam perjalanan menuju ke rumah keluarga Haga yang berlokasi di Buckingham Ave, Toronto. Disana semua keluarga Haga sudah berkumpul untuk menyambut kedatangan mereka yang jauh-jauh dari Indonesia. Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di pekarangan rumah Haga yang super mewah sehingga membuat Adisa melongo tak percaya. Rumah dengan desain yang sangat modern itu berhasil membuat Adisa terkagum-kagum dengan kemewahannya. "Ini rumah kamu Ga?" tanya Adisa sebelum ia turun dari mobil Range Rover warna putih tersebut. "Iya, sayang banget kan nggak ditempatin," "Bagus, kayaknya aku bakal betah disini dan nggak mau pulang haha," balas Adisa lalu mereka berdua turun dari mobil dan berjalan untuk memasuki pintu warna hitam yang sangat besar dan tinggi tersebut. "Haga lo kaya banget, gue jadi insecure," gumam Adisa dengan kepala yang terus menerus menoleh ke kanan dan kiri memperhatikan setiap inchi dari rumah tersebut. "Semua sama di mata Tuhan," balas Haga lalu ia membuka gagang pintu rumahnya. "Welcome back!" seru beberapa orang yang berada di balik pintu rumah Haga dengan membawa balon dan kue dengan lilin yang menyala di atasnya. "Hey guys! This is my princess, her name is Adisa," balas Stacy yang tak kalah heboh saat ia berhasil memasuki rumahnya yang sudah hampir setahun tak ia kunjungi. "Hello Adisa, welcome to our familly!" seru mereka semua lalu salah seorang dari mereka mencolekkan sebuah cream ke wajah cantik Adisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN