Adisa 39

1130 Kata
Setelah kurang lebih empat setengah jam Adisa dan Haga menonton konser dari artis kelahiran Februari tahun 1994 tersebut, kini mereka berdua sedang berjalan untuk keluar dari Stadium dan kembali pulang ke hotel untuk mengistirahatkan tubuhnya dan keesokkan harinya mereka akan langsung terbang ke Toronto untuk mengunjungi keluarga Haga yang ada disana. "Janji aku udah ditepatin ya, tinggal ke Jakarta doang yang belum," "Oh iya ke Jakarta ya, habis dari Canada aja yuk? Kan kita masih ada waktu seminggu lagi sebelum masuk sekolah, aku pengen ke makam Arjuna itu," "Okey kita lihat kondisi ya, by the way Mommy telepon," jawab Haga dan laki-laki itu kemudian mengangkat teleponnya. "Ya Mom?" "Hey Son, Im at Optus Stadium. Im waiting in the first gate with you Dad," "Okey Mom, I will coming with your lovely princess," ejek Haga sambil melirik kearah Adisa. "I'm waiting honey, see you," balas Stacy dari sambungan teleponnya dan ia langsung mematikan teleponnya. "Kenapa?" "Mommy sama Daddy udah di depan,"  "Ih harusnya kita jalan aja, kasihan capek-capek jemput, apalagi kita masih antri gini buat keluar gate," "It's okey, mereka yang mau kok," jawab Haga lalu laki-laki itu meletakkan tangannya di pundak Adisa. "Eh Ga kita jadi keliling Eropa dalam dua minggu ke depan?" "Hmm, I dont know. But I hear My Dad last night, he say yes and Mommy has been buyed the ticket for us," "Can I request one country to visited?" "Which country?" "Spanyol, aku mau kesana karena Buna sama Ayah kecelakaan pesawatnya di sana dan ada saudara aku di Spanyol," jawab Adisa dan Haga sedikit membelalakkan matanya. "Baru inget aku kalo kamu ada turunan Spanyol nya, yaudah nanti aku coba tanya sama Daddy ya. Mungkin aja dia udah beli tiketnya, karena Daddy dulu punya temen disana," "Thanks, semoga aja boleh ya," Setelah perbincangan kecil tadi, akhirnya Adisa dan Haga sudah berhasil keluar dari dalam stadium besar tersebut dan mereka langsung berjalan menuju ke pintu utama untuk menyusul Stacy yang sudah menunggu di sana bersama Benjamin sejak beberapa menit lalu. "Nanti kalo boleh ke Spanyol, tujuan utama kamu mau kemana?" tanya Haga saat mereka berjalan menuju ke mobil milik Benjamin. "Yang jelas ke laut atau lebih tepatnya di pesisir pantai tempat surat Buna di temuin," "Dimana tuh Ca?" "Dulu sih kata Om Chandra di pantai Playa De Maspalomas, terus sekalian mampir ke rumah Mama Marie di Burgos," "Hmm sorry Ca, Mama Marie tuh siapa?"  "Loh nggak kenal toh?" tanya Adisa kaget dan Haga menggelengkan kepalanya dengan menggigit bibirnya. "Jadi Mama Marie itu Mamanya Ayah Tama atau nenek aku Ga, cuman emang nggak pernah ke Indonesia karena semenjak Ayah dan Buna meninggal, Mama Marie sakit so aku cuman lihat wajahnya dari foto atau pas video call aja," jelas Adisa. "Terus kamu gimana mau kesana? Emang tau alamat detailnya?" "Aku telepon Om Zaki atau Tante Inez," "Tante Inez siapa lagi tuh?" tanya Haga lagi dan membuat Adisa kaget untuk yang kesekian kalinya. "Ga aku kira kita udah deket banget loh ya, ternyata kamu nggak kenal sama saudara-saudara aku," "Ih emang kamu kenal saudara aku?" balas Haga dan Adisa langsung mengalihkan pandangannya. "Yaudah nanti aku ceritain, by the way kita ke Callifornia nggak ya?" "Itu nggak usah ditanya, karena Mommy selalu kesana kalau kita lagi ke Canada," "Bagus deh, sekalian ketemu Kak Daniel," gumam Adisa lalu mereka berdua sampai di depan hitam milik Benjamin tersebut. "Lets come in, and take a rest because tomorrow we coming to Toronto for five days," seru Stacy dan mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil lalu Benjamin langsung menjalankan mobilnya kembali ke Crown Towers Perth untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah. "Gimana Ga konsernya? Harry still handsome like his twenty years old, right?" tanya Stacy saat Haga dan Adisa berhasil duduk di kursi penumpang. "Still handsome Mom, the real definition more older more handsome," balas Adisa. "Haha I like your answer honey,"  "Mom, ternyata Haga pesen tiket backstage juga loh," celetuk Adisa. "Guys? You are not kidding me, right?" tanya Stacy terheran-heran sambil membalikkan tubuhnya ke belakang. "Nope, ini foto Adisa sama Harry. Adisa bener-bener tau spot foto kayak gimana yang Harry suka," ucap Haga lalu ia memperlihatkan sebuah foto saat Adisa sedang memeluk Harry dengan sangat erat. Stacy membelalakkan matanya tak percaya. "Harusnya kamu tanya, kenal Stacy Tyaga nggak." Adisa dan Haga saling bertatap-tatapan lalu mereka berdua tertawa dengan sangat kencang. "Mom, cmon you are not sleep right now. Why are you still dreaming?" ejek Haga lalu ia melanjutkan tawanya. Stacy kemudian mengotak atik ponselnya, mencari sesuatu di balik benda kecil tersebut. "Okey buddy, look at this now," ucap Stacy lalu memperlihatkan foto pernikahannya dengan Benjamin dengan Harry Styles yang berada di tengah-tengah mereka. Adisa dan Haga yang tadinya tertawa mengejek Stacy, kini hanya bisa melongo dengan mulut yang terbuka lebar.  "No Mom, its edit," tolak Haga dan memberikan ponsel Stacy kembali. Stacy kemudian menggeser layarnya dan memperlihatkan sebuah video dimana Harry Styles sedang mengambil video dengan Stacy dan Benjamin disana. "Mom, why can Harry Styles come to your wedding?" tanya Haga dengan rasa ragu yang ada di benak hatinya. "He is my friend Son," celetuk Benjamin yang masih fokus mengendarai mobilnya. Adisa dan haga sentak langsung berteriak dengan mata yang hampir keluar, sedangkan Stacy hanya tertawa melihat reaksi kedua anaknya tersebut. "No Dad, you are kidding me, right?" Benjamin terkekeh. "Kamu mau Daddy telepon dia? I have his number phone." Adisa dan Haga semakin dibuat melongo dengan jawaban dari laki-laki yang sudah berkepala empat tersebut. "Tell me your story, Dad." "Hmm, Daddy kelahiran tahun 1996 dan dia tahun 1994. He is my senior in junior high school, and he is my neighbor when I was teenage and we be friends until now," "Sebenernya Daddy bilang kalau kamu mau nonton konser dia, tapi Daddy lupa nggak kasih tau nama dan foto kalian. Poor Haga and Adisa, I'm so sorry for you guys," "Daddy keren ya relasinya bisa sampai ke artis internasional," gumam Adisa sedangkan yang di puji hanya tersenyum. "Tapi Daddy bilang kalau lagi di Australia?"  Benjamin mengangguk. "Tadi pas kamu sama Adisa lagi on the way ke stadium, Daddy dan Mommy udah ada di backstage."  "WHAT?! KENAPA NGGAK BILANG?" teriak Adisa dan Haga yang membuat Stacy dan Benjamin menutup telingannya. "Loh kalian nggak mau Daddy anterin, yaudah jadi kita langsung berangkat aja kesana karena udah hampir sepuluh tahun kita nggak ketemu," jawab Benjamin yang membuat Haga menahan kekesalannya di dalam hatinya. "Daddy, Haga marah sama Daddy atas nama Adisa, karena nggak kasih tau kalo ternyata Harry temen Daddy," celetuk Haga lalu ia memalingkan wajahnya melihat ke luar jendela mobil yang memperlihatkan langit malam dengan di temani oleh bulan purnama yang menerangi kota Perth tersebut. "Kalian kalau Daddy ceritain semua teman Daddy pasti bakalan kaget," gumam Benjamin yang membuat Stacy terkekeh sedangkan Haga dan Adisa terus melihat ke luar jendela, tak memperdulikan ucapannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN