Adisa 38

1173 Kata
Saat di perjalanan menuju ke Optus Stadium, Adisa tidak mengajak Haga berbicara sedikitpun, dirinya merasa kesal kenapa laki-laki itu tidak mengangkat sebentar panggilan telepon dari kekasihnya. Walaupun dia dan Haga sudah sepakat akan hal tersebut, tapi Haga tak seharusnya bersikap seperti itu pada perempuan, hal tersebut membuat Adisa merasa tidak enak hati kepada Xia, kekasih dari Haga. Dan kini mereka sedang berada di tempat duduk konser yang akan ia tonton satu setengah jam dari sekarang, mereka berdua duduk di seat atas paling depan yang langsung menghadap ke panggung tempat Harry Styles melakukan aksinya tersebut. "Ca," "Telpon Ci Xia dulu sana, baru aku maafin,"  "Ih! Rame Ca, nggak kedengeran," "Yaudah chat aja, cepetan ihhhh!" rengek Adisa yang membuat Haga tak bisa menahan kegemasannya kepada sahabatnya tersebut. Haga kemudian langsung meminta ponselnya yang berada di dalam tas Adisa dan langsung menyalakan telepon genggam tersebut. Laki-laki itu lalu membuka aplikasi chat dan langsung membuka obrolannya dengan kekasihnya. "Tuh kan ada banyak pesan yang belum kamu baca," gumam Adisa yang terus memperhatikan Haga di sebelahnya. "What?! Dari seminggu yang lalu belum kamu bales?! Haga ih lo jahat banget,"  "Kan kamu tau aku jarang megang hp Ca, aku aja jarang kan chatan sama kamu?" Adisa pun terdiam mendengar jawaban dari sahabatnya itu. "Itu dia ngirim foto tuh, coba buka Ga," ucap Adisa dan Haga langsung membuka pesan yang baru saja masuk di ponselnya tersebut. Cici Xia. Haga, aku lagi di Australia juga, dan aku lihat kamu lagi sama Adisa. Itu kamu kan? Haga dan Adisa refleks langsung menatap satu sama lain, mereka berdua kaget bukan main saat membaca pesan dari perempuan keturunan Chinesse tersebut. "Haga dia ada dimana?" tanya Adisa sambil mencari-cari perempuan tersebut di sekitarnya. "Halo Ci? Lo di seat mana emang?" tanya Haga yang langsung menghubungi Xia. "Aku ada di seat atas, tepat di atas kamu sama Adisa, Ga," jawab Xia dan Haga langsung menolehkan kepalanya ke seat atas untuk mencari keberadaan kekasihnya itu. "Hai," ucap Xia melalui panggilan teleponnya saat matanya dan Haga bertemu di satu titik. Haga yang merasa bersalah itu langsung mematikan sambungan teleponnya dan bertingkah seakan-akan tak ada Xia disana. "Ca, Xia bohong ternyata, itu yang ngirim saudaranya," "Oh begitu, yaudah deh, padahal kita kan bisa foto bareng ya. Walaupun jujur aku cemburu sedikit haha," gumam Adisa dan ia kembali duduk seperti sebelumnya. "Aku udah di maafin kan?" goda Haga sambil menatap ke mata Adisa. "Okey, lagi pula aku nggak bakal kesini kalo nggak kamu yang ajak haha,"  "Kan aku mah kaum Miss Queen," sambung Adisa sambil berbisik di telinga laki-laki itu yang membuat Haga semakin gemas dan gemas setiap harinya kepada Adisa. "Merendah untuk meroket ya kamu Ca?" goda Haga lalu ia mencium pipi sahabatnya tersebut. Sedangkan Xia yang memperhatikan kelakuan kekasihnya dan Adisa itu hanya bisa diam dengan rasa sakit hati yang terus bertambah setiap harinya, dirinya lalu berusaha tetap tersenyum walaupun hatinya terasa sangat tersakiti. "Ci, jangan jadi pelangi untuk orang yang buta warna, dan jangan berusaha memeluk sesuatu yang lo aja tau kalo dia ada durinya. Ci, lo deserve to be happy, and let Haga go. Lo cuman menyakiti diri lo terus kalo lo masih memaksakan untuk jadi pacar nya," ucap seseorang yang terlihat beberapa tahun lebih tua dari Xia. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja lampu di stadium tersebut meredup, berubah menjadi sangat sunyi dan gelap. "YEAH!" dan musik langsung dimulai dengan Harry Styles yang sudah berada di atas panggung dengan pakaian khasnya. Ia memulai penampilan pertamanya dengan menyanyikan lagu Lights Up miliknya yang berasal dari album Fine Line, dan seketika stadium tersebut berubah menjadi sangat ramai dengan teriakan para penonton dan musik menggebu yang membuat para penonton semangat. Shine. Step into the light. Shine. So bright sometimes. Shine. I'm not ever going back. Adisa dan Haga menyanyikan lagu itu sambil mengayunkan tangannya ke kanan dan kiri, namun tangan sebelah kanan milik Haga masih setia merangkul badan kecil milik Adisa. Saat yang lain fokus menyanyikan lagu dari penyanyi kelahiran tahun 1994 tersebut, Haga justru fokus melihat Adisa yang sangat bahagia di sampingnya tersebut, laki-laki itu kemudian mengembangkan senyumnya sambil mengeratkan rangkulannya di badan Adisa. 'Ca, jujur gue sayang banget sama lo, gue nggak mau kehilangan lo Ca,' batin laki-laki itu yang masih memperhatikan Adisa dengan senyum manisnya. "Ah Haga ini seru banget! Big thanks for you, semoga lo panjang umur Ga!" teriak Adisa dengan air mata yang menetes di pipinya sambil melanjutkan lagu tersebut. Haga lagi-lagi di buat tersenyum oleh tingkah sahabatnya itu. "I will do anything for you Ca,"  "Hello, nice to meet you all, after for a long way, and finally I've been here agains. And I hope you all likes my sang, and this is Kiwi!" ucap lelaki yang berada di atas panggung tersebut menggunakan microphone nya dan musik dari lagu tersebut langsung mengeluarkan suaranya. She worked her way through a cheap pack of cigarettes. Hard liquor mixed with a bit of intellect. And all the boys, they were saying they were into it. Such a pretty face, on a pretty neck. Dan lagi-lagi penonton-penonton yang ada di stadium tersebut dibuat gila oleh seorang Harry Styles, mereka semua menyanyikan lagu berjudul Kiwi dari album pertama artis senior tersebut. "HARRY JADI PASANGAN HIDUP AKU YUK!" teriak Adisa yang membuat Haga langsung menutup mulut perempuan tersebut. "IHHH!" seru Adisa dan langsung melepaskan tangan Haga dari mulutnya. "Nggak boleh ngomong gitu," ucap Haga dengan suara keras agar Adisa mendengarnya. "Kenapa?" "Nanti di aamiin in malaikat, terus kamu beneran sama Harry nanti aku sama siapa?" jawab Haga dan Adisa tertawa mendengar itu. "HARRY JADI PACAR AKU YUK!" teriak Adisa lagi dengan sengaja agar Haga cemburu. "Haha sorry aku cuman bercanda, tapi kalo misalkan jodoh aku beneran Harry Styles, aku lebih pilih dia daripada kamu haha," ucap Adisa di telinga Haga dan laki-laki memalingkan wajahnya dari Adisa. Sedangkan diatas sana, perempuan itu tidak sama sekali menikmati konser tersebut. Dirinya fokus memperhatikan kedua laki-laki dan perempuan yang terus saja bermesraan yang membuat hatinya sangat sakit dan kacau. Perempuan itu hanya duduk di kursinya dengan air mata yang terus menerus keluar tak mau berhenti. Napasnya sesak, pikirannya berantakan, dan hatinya yang terus menerus terasa seperti di iris-iris saat ia melihat ke tempat duduk Haga dan Adisa. "Cece, apa gue jelek banget ya sampe Haga perlakuin kayak gini ke gue?" gumam Xia meratapi nasibnya yang kurang beruntung dalam mencintai teman sekolahnya itu. "Apa gue kurang menarik Ga di mata lo? Padahal gue udah kasih apapun yang lo mau dan apapun yang lo minta, tapi kenapa lo jahat banget sama gue? Kenapa apa-apa harus Adisa, ada apa sama cewek itu Ga?" lirih Xia dengan napas yang semakin sesak di dadanya. Haga mencium pipi perempuan itu lagi untuk kesekian kalinya, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Adisa dan berbisik. "Ca, if you knew, I love you more than anything and I love you like a fat kid loves cake."  'Ga, bahkan lo tega ngelakuin itu di depan gue, padahal lo tau ada gue di belakang lo,' batin perempuan bermata sipit tersebut lalu ia mengambil tasnya dan pergi meninggalkan konser yang baru berjalan satu setengah jam itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN