Setelah tiga jam Adisa dan yang lainnya diperjalanan menuju ke Semarang, akhirnya mereka semua sampai di Gumaya Tower Hotel dan mereka langsung diberikan kunci kamar untuk beristirahat selama tiga hari kedepan.
Adisa, Reina dan satu orang temannya mendapat kamar di nomor 612 dengan pemandangan yang memperlihatkan sebagian kota Semarang.
Mereka bertiga langsung membuka kamar tersebut dan merapihkan barang bawaannya. Adisa mendapatkan kasur diantara Reina dan temannnya yang lain, yang langsung menghadap kearah televisi berukuran 32 inchi.
"Kenapa ya kita sekarang kesininya? Padahalkan masih tiga hari lagi," celetuk Adisa yang sedang merapihkan tas dan jajanan yang ia bawa.
"Enak lah Dis, sekalian jalan-jalan dan refreshing," jawab Christie si perempuan bermata biru itu.
"Iya sih, tapi kelamaan. Guys btw mampir yuk sekalian ke cafe gue?" tanya Adisa.
"Cafe lo? Ada di daerah sini emang Ca?" tanya Reina sambil menatap wajah Adisa.
"Ada, lumayan sih, tapi nanti ongkosnya gue deh yang bayarin. Gimana?" tanya Adisa dan mereka berdua langsung excited menatap Adisa.
"Nggak nolak Dis kita, ajak Fattah juga?"
"Kita ada berapa orang sih yang ikut kesini?" tanya Adisa kepada Reina.
"Kalo sama guru dan panitia semuanya kurang lebih ada lima belas orangan," jawab Reina dan Adisa menganggukkan kepalanya.
"Re, lo tau kamar Fattah nggak?"
"Jarak tiga kamar dari kamar kita, nomor 615," jawab Christie lalu Adisa langsung berjalan keluar dari kamarnya.
Adisa berjalan menuju ke kamar nomor 615 dan langsung mengetuk pintu kamar tersebut. Tak lama kemudian, seorang laki-laki membuka kamar tersebut.
"Cari siapa Dis?"
"Fattah, ada?"
"Tadi sih kayaknya keluar Dis, coba aja lo telpon," jelas laki-laki dengan wajah keturunan Chinesse.
"Yaudah, thanks ya Co!" balas Adisa dan ia langsung mencari nama Fattah di ponselnya.
"Halo Tah, lo dimana?"
"Gue lagi di lobby nih Ca, lagi pesen makanan. Sini aja temenin gue,"
"Ya otw," jawab Adisa yang langsung mematikan sambungan teleponnya lalu berjalan menuju lift yang berada tak jauh darinya.
Didalam lift Adisa menghubungi Haga melalui ponselnya dan beberapa detik kemudian wajah laki-laki itu muncul dibalik layar ponselnya.
"Baru sampe?"
"Nggak juga, mungkin setengah jam yang lalu?"
"Sekarang kamu mau kemana?" tanya Haga yang sedang makan bersama dengan Stacy yang berada dibelakangnya.
"Mau ke lobby, aku mau ajak yang lainnya makan di cafe tempat Buna sama Ayah," jelas Adisa.
"Harusnya Mommy ikut ya, Mommy kan juga pengen makan di cafe punya kamu Ca," ejek Stacy dan Adisa terkekeh.
"Yaudah kapan-kapan nanti kita makan bareng ya Mom," balas Adisa.
"Okey Dica,"
"Oh iya Ca, nanti aku telpon lagi ya. Mau ke tempat les nih,"
"Okey, hati-hati Ga,"
"Iya Dicayang," balas Haga dan Adisa tak bisa menyembunyikan senyumannya itu.
"Dasar!" ucap Adisa kemudian ia mematikan panggilan teleponnya.
Ting!
Akhirnya Adisa sudah sampai di lobby, lalu ia berjalan mencari keberadaan Fattah.
"Ci, lo sama Haga gimana?" tanya seorang perempuan yang berada satu meter dibelakangnya.
"Ya masih begitu. Apa yang bisa gue harapin, gimanapun gue berjuang, yang dipilih pasti sahabatnya, Adisa," jelas Xia kemudian terkekeh.
"Aneh tuh cowok, bikin lo baper tapi diajak pacaran nggak mau. Homo kali,"
"Ca!" seru Fattah sambil melambaikan tangannya.
Kedua perempuan tersebut langsung menatap kearah Adisa dengan mata bulat yang hampir melompatdari tempatnya.
"Hey!" balas Adisa kemudian berjalan kearah Fattah.
"Kenapa Ca? By the way, gue lagi pesen makanan di cafe orang tua lo nih," ucap Fattah sambil memperlihatkan totebag bertuliskan Sweet Cake by Adhista.
"Nah! Gue baru mau ngajakin semuanya kesana, boleh nggak sih? Cuman ada 15 orang kan?"
"Serius? Sedikit nyesel sih gue beli duluan," ucapnya sambil memasang wajah sedih.
"Yaudah sana coba konfirmasi dulu sama ketua olimpiade," ucap Adisa.
"Yaudah sebentar," kemudian Fattah menghubungi seseorang melalui ponselnya sedangkan Adisa terdiam dengan tatapan kosong memikirkan perkataan dari Xia Lian tadi.
'Apa bener gue penyebab Haga nggak suka sama cewek lain?' batin Adisa.
Ting!
Haga
Ca, besok gue otw ke Semarang sama Mommy dan Daddy.
Haga
Lo kamar nomor berapa?
Adisa kemudian mengembangkan senyumnya setelah membaca pesan dari sahabatnya tersebut.
Adisa
612 Ga
Haga
Oke, besok gue kabarin kalo udah sampai sana ya. See you Dicayang!
Adisa dibuat seperti orang gila oleh Haga, karena laki-laki itu berhasil membuat senyum Adisa mengembang sangat lama.
"Ca, iya pada mau katanya. Sepuluh menit lagi mereka kumpul disini dan kita langsung berangkat kesana ya," ucap Fattah dan Adisa mengangguk.
Fattah dan Adisa kemudian duduk di salah satu sofa yang tersedia disana, mereka berdua fokus memainkan ponselnya sampai teman-teman dan yang lainnya sudah berkumpul disekitarnya.
Fattah kemudian berdiri, berusaha mengatur mereka semua, lalu mereka semua berjalan menuju ke bus dan langsung menuju ke cafe milik kedua orang tua Adisa.
Fattah kembali duduk disebelah Adisa di kursi panjang paling belakang, mereka berdua berbincang membicarakan segala hal yang terlintas dipikiran mereka.
"Oh iya Ca," panggil Fattah.
"Kenapa?"
"Lo mau nggak jadi pacar gue?" tanya Fattah dan dengan berbarengan ponsel dari Adisa berbunyi karena Haga menelponnya.
"Eh sorry Tah, bentar dulu ya," ucap Adisa lalu ia langsung mengangkat panggilan telepon dari laki-laki yang ia tunggu itu.
"Ca, lo tau nggak sih ternyata les gue libur, dan nggak ada yang kabarin gue sama sekali,"
"Lagian lo cuek sih, oh iya Ga,"
"Apa?"
"Masa Cici Xia," ucap Adisa tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Hah? Apa sih?"
"Nanti aja deh ya, nanti malem gue telpon lagi," ujar Adisa.
"Okey see you Haga," sambung Adisa lagi dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Sedangkan Fattah yang berada tepat disamping Adisa hanya tersenyum miris, hatinya seperti diiris-iris oleh ribuan pisau setiap kali melihat Adisa bersama dengan Haga.
"Oh iya Tah, lo tadi bilang apa?" tanya Adisa sambil memasukkan ponselnya kedalam tas.
Fattah menggeleng kemudian tersenyum. "Lo sama Haga sering kayak begitu ya?"
Adisa memasang wajah bertanya-tanya. "Gitu gimana?"
"Telepon hal random dan nggak penting kayak barusan, you both like a couple," balas Fattah kemudian terkekeh.
Adisa terdiam.
"Ca, if you mine, do you still do that things with Haga?" sambung Fattah lagi dan Adisa masih terdiam mendengarkan ucapan dari teman laki-lakinya tersebut.