Setelah dua puluh menit perjalanan, akhirnya bus yang dinaiki oleh teman-teman dan guru dari Adisa sampai di cafe milik kedua orang tua Adisa. Disana sudah ada Zaki yang menyambut kedatangan mereka semua.
"Om, ini temen-temen aku. Aku ajak mereka semua makan gratis semuanya disini, nanti aku yang bayar. Tanya aja menu yang mereka mau, aku masuk duluan ya," ucap Adisa dan ia langsung masuk kedalam cafe tersebut disusul dengan fattah dibelakangnya.
"Lo kalo pesen aja yang lo mau Tah, nanti gue yang bayar. Gue tunggu di rooftop ya." Adisa bersama Reina kemudian berjalan menaiki tangga dan duduk di salah satu kursi yang berada di luar ruangan.
"Lo diem-diem crazy rich juga ya Dis," ucap Reina lalu Adisa terkekeh.
"Orang tua gue yang kaya, karena mereka udah nggak ada jadi sebagian di kasih ke gue sama Alex,"
"Sorry, I feel bad to hear that. By the way lo berdua hebat banget, oh iya gue denger lo punya kakak angkat ya? Boleh dong kenalin ke gue haha,"
"Siapa? Daniel ya? Dia lagi kerja sambil kuliah di Amerika, nggak tau kapan pulangnya,"
"What?! Keluarga lo pinter-pinter ya ternyata, Alex juga pinter dari cara ngomongnya. Daniel kuliah dimana dia?"
"Standford, dia udah di Amerika dari SMA sih, dan pulangnya setahun sekali nggak nentu," jelas Adisa kemudian Fattah datang dengan membawa nampan yang berisi cake dan minuman yang mereka pesan.
"Lo lucky juga ya Dis, jadi pengen deh jadi keluarga lo," gumam Reina.
Adisa hanya terdiam mendengar ucapan dari Reina. Perempuan itu tak tahu bahwa setiap malam dirinya menangis berharap orang tuanya kembali datang ke kehidupannya dan mereka berempat menjadi keluarga yang bahagia. Tapi sepertinya itu takkan pernah terjadi lagi di kehidupan Adisa, batinnya.
"Ngomongin apa sih?"
"Kepo lo laki, sana ikut sama Reyhan dan yang lainnya. Masa cowok ikut kita terus," sindir Reina.
"Gue kan mau jagain calon pacar gue, syirik aja lo Re!"
"Hey guys, can i join with you all?" ucap Christie.
"Yaudah sana ajak Reina pergi dari sini," celetuk Fattah.
"Fattah lo bener-bener mau gue tendang ya?"
"Yaudah yuk Re kita didalem aja," ajak Christie sambil menarik tangan Reina sedangkan Fattah mengembangkan senyumnya.
"Gue denger Haga mau nyusul? Kapan?" tanya Fattah.
"Katanya besok sih, tapi kurang tau juga. Dia kan tukang ngaret,"
"Oh oke,"
Adisa kemudian memakan cake nya sambil sesekali membalas pesan dari Haga, dan Fattah memperhatikan Adisa yang terus menerus fokus terhadap ponselnya.
"Ca?"
"Ya?" jawab Adisa yang langsung meletakkan Ponselnya.
"Jangan diambil pusing ya omongan gue yang di mobil tadi, gue emang suka ngelantur nggak jelas gitu,"
"Tapi tadi gue sempet mikirin itu haha,"
"Oh iya Ca, lo suka nonton film bioskop nggak sih?"
"Suka sih, tapi cuman beberapa genre aja. Kaya action, comedy, horror, fantasi, jangan ajak gue romance pokoknya jangan,"
"Haha kenapa tuh? Padahal hidup lo tuh udah bisa dijadiin film deh kayaknya haha,"
"Gue nggak terlalu suka film romance," jawab Adisa.
"Gue masih kepo deh," gumam Fattah.
"Sama?"
"Kepo aja sama lo dan Haga,"
"Jangan bahas Haga dulu deh, gue nggak mau jadi orang jahat buat lo Tah," jelas Adisa.
"Ca, gue janji kalo lo menang nanti gue kasih hadiah," ucap Fattah yang terus mencari-cari topik obrolan agar bisa terus bicara dengan Adisa.
"Kenapa kalo menang? Kalo misal kalah terus gue nggak dikasih hadiah gitu?" rengek Adisa yang membuat Fattah gemas dengan wanita itu.
"Ca jangan gituuu, gue gemes sama lo, pengen gue uyel-uyel pipi lo!" seru Fattah dengan tangan yang ingin memegang pipi Adisa namun ia tahan.
"Lagian semuanya bilang kalo menang, padahal kan kalo kalah juga seenggaknya gue udah berusaha,"
"Iya itu maksudnya biar lo makin semangat Ca, biar lo usaha lebih maksimal lagi. By the way kepo dong, siapa yang mau kasih lo hadiah lagi?" tanya Fattah.
"Ada deh, jangan kepo lo jadi orang!" seru Adisa lalu mencolek hidung Fattah.
"Haha sorry deh, by the way gue izin sigaret ya Ca, boleh?" tanya Fattah sambil mengeluarkan sebungkus sigaret dan korek api dari kantongnya.
Adisa terdiam sejenak. "Sebenernya gue kurang suka sama cowok sigaret, tapi yaudah. Gue izin pakai masker ya Tah," jawab Adisa kemudian memakai masker yang ia ambil dari dalam tas nya.
"Eh kalo lo nggak suka gue nggak jadi deh, nanti aja. Kenapa emang lo?"
"Gue baca buku dari Buna gue, dia dulu punya pacar yang emang kecanduan sigaret dan ngevape," jawab Adisa dan Fattah mengangguk.
"Terus setahun mereka pacaran, si cowok ini sakit kanker paru-paru yang udah parah gitu, dan nggak lama setelah itu si cowok meninggal. Ceritanya sedih serius, lo mau minjem?" tanya Adisa.
"Bentar, Buna lo? Buna Adhista?" tanya Fattah, Adisa mengangguk.
"Based on true story, jangan lupa dibalikin ya. Kenang-kenangan dari Buna gue dan udah nggak ada yang jual, ini buku lebih tua dari umur kita Tah, keren kan?"
"Iya kah? Wah benda pusaka ini mah haha," jawab Fattah kemudian mengambil sebuah novel yang diberikan Adisa kepadanya.
Fattah lalu membolak-balikkan buku berwarna biru navy yang berjudul Arjuna tersebut, membaca blurb yang berada dibagian belakang novel itu.
Laki-laki bernama Arjuna Sanatana yang memiliki riwayat sakit keras, dan sedang berusaha menyembunyikan semua itu dari sang kekasih dan teman-temannya.
Dan seorang Adisa Chalondra, yang berusaha mencari tahu penyakit apa yang berada di tubuh Arjuna, kekasihnya.
'Always by my side, until I die," ucap Arjuna Sanatana kepada Adhista, kekasihnya.
"Oke gue pinjem dulu ya, nanti pas mau balik ke Jogja gue balikin," ucap Fattah setelah selesai membaca blurb dari novel ibunda Adisa.
"Iya santai, yang penting dibalikin aja. Awas kalo nggak dibalikin gue buunuh lo!" seru Adisa kemudian wanita itu terkekeh.
Fattah kemudian berjalan untuk mengambil sebuah buku yang berada di meja sebelahnya.
"Kalo lo mau baca itu, please jangan tanya apa-apa ke gue," ucap Adisa kepada Fattah yang baru ingin membuka buku yang menceritakan perjalanan dari Adhista dan Diratama.
"Kenapa?"
"Ya pokoknya jangan ngomong apa-apa ke gue tentang buku itu,"
"Yaudah deh nggak jadi gue buka, takut kepo dan tanya ke lo hehe," jawab Fattah dan ia langsung meletakkan kembali buku tersebut ditempat ia mengambilnya.
"By the way, perasaan lo ke gue itu kayak gimana sih Ca?" tanya Fattah sambil menatap wajah Adisa.
Adisa yang mendengarnya sontak langsung terbatuk-batuk dan langsung meminum air putih yang ada dihadapannya.
"Nggak, maksud gue tuh gini. Kadang lo tuh kayak suka sama gue, lo tuh perhatian, tapi kadang lo sama Haga ya begitu. Gue takut baper dengan orang yang salah, dan gue cuman minta kejelasan dari lo, udah itu aja," jelas Fattah lagi yang masih mengusap-usap pundak Adisa.
"Itu," jawab Adisa.
"Iya itu kenapa?"
"Nanti aja deh Tah, belum tepat waktunya," jawab Adisa kemudian ia pergi meninggalkan Fattah dengan segala pertanyaan yang berterbangan di kepalanya.