Adisa kemudian memasuki kamarnya dan bersiap-siap karena ia akan pergi mengelilingi kota dengan sahabat laki-lakinya.
Beberapa menit kemudian Haga sudah rapih dengan helm dan jaket kulit yang melekat ditubuhnya.
Tak lama kemudian Adisa datang dengan menggunakan celana levis hitam dengan jaket kulit yang sewarna dengan Haga.
"Dih, ikut-ikut aja lo!" celetuk Adisa yang baru saja sampai di hadapan Haga.
"Apaan sih, yaudah ayo buru naik. Mau kemana?" tanya Haga sambil menaiki motornya.
"Jalan-jalan doang kan? Keliling aja, biar kayak orang-orang yang lain,"
"Okey, udah?" tanya Haga.
"Udah, yuk!" seru Adisa lalu memeluk Haga dari belakang.
Haga tersenyum tipis dibalik helm full facenya.
"Meluknya kenceng banget, kapan lagi ya kan Ca," celetuk Haga lalu terkekeh.
"Biasanya juga gue kayak gini, kan?" jawab Adisa dengan cuek dan mengeratkan lagi pelukannya.
"Dasar gengsi!" seru Haga lalu laki-laki itu menambah laju kecepatan motor Ducatinya.
***
Setelah hampir satu jam, mereka hanya berkeliling tak tau arah tujuan. "Ini sebenernya mau kemana sih Ca?"
"Hah? Jalan-jalan doang sih, mau kemana emang?"
"Yaudah kita ke angkringan aja, kita keliling nggak jelas gini udah di Magelang loh Ca," jelas Haga dan Adisa membelalakkan matanya.
"Hah? Demi apa? Untung nggak kebablasan, nanti tau-tau kita udah di Jakarta lagi haha," celetuk Adisa sambil terkekeh.
"Lo enak tinggal duduk doang, gue daritadi bingung mau kemana. Duh enaknya jadi cewek,"
"Yaudah jalan aja lagi, didepan juga ada angkringan nanti," ujar Adisa dan Haga menurutinya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka berdua menemukan angkringan yang ramai walaupun sudah jam setengah sepuluh malam.
"Duh gue dimarahin sama Om Chandra nggak nih, lo belum pulang," gumam Haga sambil melepas helmnya.
"Dia lagi keluar kota, gue dirumah cuman sama Alex doang,"
"Oh iya, Alex gimana kabarnya? Udah lama nggak lihat dia," ucap Haga lalu memasuki angkringan tersebut sambil menggandeng tangan Adisa.
"Nggak keliatan? Perasaan setiap kita berangkat sekolah dia ada deh, dia kan berangkat bareng kita," jawab Adisa dan Haga menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Oh itu lagi cosplay jadi ibu-ibu komplek Ca, kamu mah gitu aja nggak paham,"
"Halah, dasar gengsi!" seru Adisa kemudian mereka berdua duduk disalah satu kursi yang masih kosong disana.
"Mau pesen apa?" tanya Haga sambil melihat daftar menu.
"Nasi kucing aja deh, lauknya ayam ya. Minumnya es teh biasa,"
"Oke, tunggu sini dulu ya,"
Adisa kemudian membuka ponsel milik Haga yang ia titipkan kepadanya.
"Haga nih jahat banget," gumam Adisa saat membaca pesan dari Xia, teman sekelas Haga.
Ga, kapan mau ngerjain lagi?
Haga, mau temenin gue ke bookstore nggak lusa? Gue mau beli buku buat kelompok kita.
Oh iya Ga, tugas kelompok yang bagian lo udah selesai, udah gue kerjain.
Haga, lo sibuk banget apa sampai nggak bisa ikut kerja kelompok?
Don't leave me on read Ga.
"Berasa artis kali ya," gumam Adisa.
"Siapa?"
"Lo! Ada tugas kelompok bukannya dikerjain,"
"Tugas apa? Dari Cici Xia ya?" tanya Haga dan Adisa mengangguk.
"Iya,"
"Baca tanggalnya dong Ca, itu udah bulan lalu," ucap Haga.
"Terus ini yang minta temenin ke toko buku?"
"Ya kenapa harus aku? Kana da yang lain, ada Rey, Leo, sama Adam yang sekelompok sama aku. Kenapa nggak ajak mereka aja? Toh aku juga sibuk, kan aku ketua OSIS," ucap Haga dengan sombongnya sambil mengangkat kedua alisnya.
"Dih! Baru ketua Osis aja udah sombong!" seru Adisa.
"Tau nggak dia kayak gitu kenapa?" tanya Haga dan Adisa menggeleng.
"Dia itu suka sama aku," bisik Haga dan Adisa langsung menepuk pipi Haga dengan sedikit kencang.
"HAHA pede banget lo Ga! Masa iya ada cewek yang suka sama lo!" seru Adisa sambil terus tertawa.
"Dih nggak percaya,"
"Sebenernya percaya, cuman kayak, yang bisa disukai dari diri lo tuh apa gitu?" tanya Adisa dan Haga langsung menutup mulut wanita tersebut.
"Please Ca, jangan dilanjutin. Gue takut nanti lo nyesel sama kata-kata lo, siapa tau lima tahun kedepan kita jadian kan?" ucap Haga dan Adisa membelakkan matanya.
"Fix ini sih cuman kemauan lo doang! Gue sih ogah ya pacaran sama lo. Harry Styles aja mau sama gue, kenapa harus sama lo?" celetuk Adisa dan Haga hanya memutarkan matanya malas.
"Tadi Alex gimana?"
"Gimana apanya sih? Lo kangen sama dia? Mau gue teleponin?" tanya Adisa.
"Boleh," jawab Haga dengan polosnya.
"Nggak deh, dia sibuk. Lagi mau masuk SMA, lagi belajar mati-matian katanya biar masuk yang favorit,"
"Halah bohong, bilang aja lo nggak mau telepon gue kan,"
"Daripada ngomongin Alex, mending ganti yang lain deh, yang berbobot dikit gitu Ga," ketus Adisa.
"Gini aja,"
"Kalau gue ditembak sama Fattah diterima nggak ya kira-kira?" tanya Adisa secara tiba-tiba dan Haga membulatkan matanya.
"Jangan!" seru Haga dengan cepat dan kencang yang membuat orang-orang disekitar mereka menatap kearahnya.
"Hah? Kenapa?" tanya Adisa melongo.
"Ih jangan dulu Ca, nanti kalau lo pacaran, gue jomblo, kalau mau jalan-jalan berdua kayak gini gimana? Nanti pacar lo cemburu,"
"Terus gimana? Gue bantu cari cewek buat lo ya?" tanya Adisa.
"Nah boleh tuh, tapi gue maunya sama anak yang punya Sweetcake by Adhista," jawab Haga dengan mata genit.
Plak!
"Halu lo Malih!" seru Adisa.
"Yaudah deh ganti,"
"Cepet bilang ke gue kriterianya,"
"Oke, denger baik-baik ya! Kulitnya tuh yang bersih, rambutnya lurus, cuek kalo sama cowok lain kalau sama gue kayak orang gila, kenal sama kedua orang tua gue, mancung tapi nggak banget, ada lesungnya tipis, matanya nggak sipit tapi nggak belo juga, pinter, kurus,"
"Udah?"
"Udah, kayak gitu kriteria gue,"
"Oke, tunggu ya. Nanti gue cariin dulu, terus kita double date gitu, jalan-jalan keluar kota bareng pasangan masing-masing kan lucu, terus foto-foto berempat gitu. Ih Haga gue nggak bisa bayangin kalau kita brdua punya pacar, pasti bakal cute banget nggak sih?" tanya Adisa dengan sangat excited dan Haga hanya diam memperhatikan sahabatnya itu menghayal.
"Tapi lebih enak kalau kita berdua doang kayak gini, nggak harus perkenalan lagi, nggak harus adaptasi lagi. Enak kan Ca kayak gini?"
"Bener sih, kayak sama Fattah harus kenal dulu sifat aslinya dia kayak gimana, sifat dia sama orang tuanya gimana, sama temennya gimana, kalau marah kayak gimana. Kan kalo sama lo mah gue udah tau luar dalem nya hahaha,"
"Nah, gue juga nggak perlu kenalan lagi. Lo kenal keluarga gue, gue kenal keluarga lo, itu lebih dari baik. Tapi kenapa lo masih focus ke Fattah? Kalau di depan lo ada gue, yang mau serius sama lo?" tanya Haga sambil menatap dalam ke mata Adisa.
"Hah? Lo apaan sih Ga!" seru Adisa.
"Lo mau nggak jadi pacar gue?"
"Dih apaan sih lo ga, nggak jelas banget deh!" seru Adisa yang sudah salah tingkah.