Adisa 15

1024 Kata
"Balapan!" celetuk Fattah dan Haga langsung menatapnya. "What? Lo jadiin sahabat gue taruhan?!" seru Haga sambil menarik kerah baju Fattah. "Gue belum selesai ngomong bro," "Oke next," ujar Haga lalu ia melepas tangannya dari kerah baju Fattah. "Nanti siapa yang menang, boleh kasih pertanyaan atau ujian praktek lah istilahnya biar lebih yakin kalau lo tuh bener-bener bisa lindungi Adisa," jelas Fattah. "Hmm, gue keberatan sama balapan. But, gue pikirin lagi nanti. Bentar, Adisa nelpon," ucap Haga dan ia langsung mengangkat teleponnya. "Ya Ca?" "Nggak ada orang dirumah, aku otw ke rumah kamu ya Ga. Baru selesai bersih-bersih," "Hah? Oke, kerumah aja. Aku lagi beli jajan di luar, nanti ada Mommy aku masuk aja," "Iya," jawab Adisa dan ia mematikan teleponnya. "Nanti malem gue telepon lagi, gue balik dulu," ucap Haga dan langsung meninggalkan Fattah dengan segala pikiran dan kekhawatirannya. Rumah Haga... Adisa langsung membuka pintu rumah Haga karena sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. "Haga nya ada Mom?" tanya Adisa saat melihat Stacy sedang menonton televisi. "Belum pulang tuh daritadi, sini duduk dulu Ca. Kamu udah makan belum? Itu Mommy bikin Spaghetti," "Wah iya kah? Spaghetti buatan Mommy enak, nanti Dica minta yah!" "Iya ambil aja," Adisa kemudian berjalan menuju sofa yang diduduki oleh Stacy dan ikut duduk disana. "Kamu dirumah sendiri?" "Iya, nggak enak badan. Tadi kepeleset," "Dimana sayang? Mana yang sakit? Mau ke rumah sakit?" ucap Stacy dengan anda khawatir sambil memeriksa tubuh Adisa. Adisa terkekeh. "Udah nggak sakit kok, tadi udah dikasih obat sama Haga." "Oh God, nanti kalau sakit bilang ya, kita ke rumah sakit," ucap Stacy dan Adisa mengangguk sambil tersenyum. "I'm home, anyone miss me?" seru Haga sambil memegang helmnya. "I'm not," jawab Stacy. "Not you Mom, Dica miss me. Right?" tanya Haga lalu duduk disamping Adisa. "Nggak sih," "Pembohongan publik sih kalau kamu bilang nggak," "Mom, harusnya sekarang Haga ngerjain tugas sama temen-temennya. Tapi dia bolos," ucap Adisa mengadu kepada Stacy. "Bener-bener ya, jelas-jelas aku nggak jadi ngerjain tugas karena kamu sakit," "Kan aku bisa pulang sama Fattah," "Ya aku nggak bolehin kamu pulang sama Fattah," "Ya lagian kenapa nggak boleh? Harusnya kamu kerja kelompok aja sama Cici Xia," "Ya karena kamu sakit, Ca. Kamu manja, kamu bandel, kamu ngeyel, kamu kayak anak kecil, Fattah nggak akan bisa jagain kamu." Adisa terdiam. "Haga good boy, be a gentle boy. Apalagi buat Dica, tugas kamu kerjain sendiri bisa, kan?" "Bisa," "Jadi masalah clear ya, jangan berantem terus. Mommy sekarang mau pergi dulu ya, kalian berdua jaga rumah. Bye honey," "See you Mom," jawab Haga dan Adisa secara bersamaan. "Emangnya enak, niatnya biar aku dimarahin tapi malah dibelain," celetuk Haga lalu terkekeh. "Dasar! Kalau diginiin terus, aku kapan dewasanya? Aku bakal terus ketergantungan sama kamu terus nanti," "Loh bagus dong? Kan emang Mommy maunya begitu, aku juga maunya begitu kok. Aku nggak merasa dibebankan dengan sikap manja kamu atau ketergantungan sama aku, I'm happy with that," "Bener ya," "Iya Dica sayang," balas Haga lalu meletakkan kepalanya dipaha Adisa. "Abis darimana?" tanya Adisa sambil memainkan rambut jambul Haga. "Kepo," "Dih," Mereka berdua kemudian sama diam-diam, Adisa yang menonton televisi sambil memainkan rambut Haga, dan Haga yang setia memandangi wajah cantik Adisa dari bawah. Tiba-tiba saja nada dering telepon Haga berbunyi memecahkan segala keheningan mereka berdua. "Who's that?" tanya Adisa dan Haga langsung bangkit dan berjalan meninggalkan Adisa dengan segala pertanyaan-pertanyaan di kepalanya. "Kan gue bilang nanti malem gue telepon lagi, nggak denger lo?!" seru Haga dengan sedikit nada tinggi. "Ya gue butuh jawaban secepatnya, jadi gimana?" "Nanti malem," "Kenapa sih emang kalau sekarang?" tanya Fattah dengan nada memaksa. "Ada Adisa," jawab Haga dengan berbisik. "Emang kenapa kalau ada aku?" celetuk Adisa dengan tiba-tiba yang sudah berada dibelakang Haga. "Eh Ca," "Lagi teleponan sama siapa sih?" tanya Adisa dan berjalan mendekati Haga berusaha untuk mengambil ponsel milik lelaki itu. "Hah? Nih lihat aja, cowok cemen yang berani-beraninya deketin kamu," jawab Haga ketus sambil memberikan ponselnya kepada Adisa. "Siapa?" tanya Adisa lagi saat melihat ponsel Haga tak menunjukkan apapun. "Iya dia cemen, si Fattah cemen. Udahlah, mending kamu sama aku aja," goda Haga dan Adisa langsung bergidik ngeri. "Nggak deh, Louis Partridge aja mau sama gue, kenapa harus sama lo?" balas Adisa dan kemudian ia langsung berlari meninggalkan Haga. *** "Aku pulang dulu ya!" "Iya bawel, jangan kangen. Bye Dica jueelekkk!" balas Haga dan Adisa langsung menatap tajam Haga. "Jangan bilang good bye. Terakhir kali aku denger kata good bye, Buna sama Ayah nggak balik lagi kesini," jelas Adisa dan Haga langsung terdiam. "Aku nggak mau ada kejadian kayak gitu lagi," sambung Adisa dan Haga mengangguk. "Okey see you Dica jeyekkk! Kalau nggak bisa tidur telepon aku aja ya," "Okey!" balas Adisa dan ia langsung memasuki rumah mewah miliknya tersebut. "Kalau gue terima tantangan dari lo, apa konsekuensinya?" tanya Haga sambil berjalan memasuki rumah. "Kalau gue menang, gue jadian sama Adisa. Kalau gue kalah, terserah lo mau gimana," "Babak pertama kalau balapan menang lo boleh deketin Adisa, inget ya deketin bukan jadian. Babak kedua, nanti gue kasih challenge lagi buat lo, baru lo boleh jadian sama Adisa. Tapi Adisa tetep dalam pengawasan gue," jelas Haga. "Gue pacaran sama Adisa dapet bonus lo dong?" sindir Fattah. "Ya kalau lo nggak mau lebih baik," "Haha sorry, nggak nolak!" seru Fattah dan Haga langsung mematikan sambungan teleponnya. "Baru kali ini ketemu sama cowok kayak Fattah," gumam Haga lalu ia beranjak menuju ke kasurnya. Beberapa menit kemudian, telepon Haga berdering untuk yang kedua kalinya. "Xia? Tumben," gumam Haga dan ia langsung mengangkatnya. "Ga, tugas lo udah gue kirim via email ya. Kalau ada yang nggak ngerti, chat gue terbuka lebar buat lo. Bu the way, good night ya," ujar Xia. "Hah? Okey," jawab Haga dan langsung mematikan sambungan teleponnya dengan wanita tersebut. Dan lagi-lagi, telepon Haga berdering untuk yang kedua kalinya. Dan nama Adisa terpampang jelas disana. "Hayo nggak bisa tidur ya?" tanya Haga dan ia langsung berjalan menuju balkon kamarnya. "Iya, jalan-jalan yuk? Bosen banget, beli makan apa gitu," jawab Adisa. "Boleh yuk, aku ganti baju dulu ya. Nanti aku kesana lima menit lagi," ucap Haga dan Adisa mengacungkan jari telunjuknya. "Kok telunjuk?" "Karena kamu number one," "Anjir gue digombalin," gumam Haga dan mereka berdua terkekeh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN