Adisa 14

1121 Kata
Masih di hari yang sama, kemudian Adisa dan Reina melanjutkan perjalanannya menuju ke kantin dan duduk di salah satu kursi disana. "Rei, lo pesen minum gue mau ke belakang dulu ya," ucap Adisa yang tiba-tiba saja berdiri. "Hah? Oke, kayak biasa kan?" "Iya sayang," "Sip, sana cepet pergi!" seru Reina dan Adisa langsung berjalan meninggalkan perempuan tersebut. Adisa berjalan menuju ke kamar mandi yang letaknya dekat dengan taman belakang sekolahnya. Tidak. Adisa tidak benar-benar ingin pergi ke kamar mandi. Jauh didalam hatinya, Adisa pergi ke belakang sekolahnya karena ia ingin memastikan Haga benar ada disana atau tidak. "Rambut lo bagus, sering perawatan ya?" Adisa yang mendengar suara seorang laki-laki langsung cepat-cepat bersembunyi dibalik tembok kamar mandi. Adisa kemudian mendekatkan telinganya ke tembok agar bisa mendengar suara laki-laki tersebut dengan jelas. "Hah? Nggak, cuman kemarin dibeliin obat rambut sama Daddy," "Bagus," Adisa kemudian berniat mengintip siapa laki-laki dan perempuan tersebut. "Eh? Ada guru katanya, yuk ke kelas?" Adisa yang kepanikan langsung buru-buru berjalan meninggalkan mereka berdua, tapi-- "Aduh!" lirih Adisa saat ia tak sengaja terpeleset di lantai yang licin. "Siapa tuh?" tanya mereka berdua dan langsung berlari menuju sumber suara tersebut. "Loh? Ca? Kamu ngapain disini?" tanya Haga saat melihat Adisa tergeletak disana. Adisa yang masih kesakitan itu hanya bisa diam sambil memperhatikan Haga dan juga Xia berdiri dibelakangnya. "Haga?" gumam Adisa dengan perasaan yang campur aduk. Haga kemudian langsung berjalan dengan cepat menuju Adisa dan langsung membopong sahabatnya tersebut. "Ci, lo duluan aja. Gue mau urus Adisa dulu," kata Haga kepada Xia yang masih memperhatikan Adisa dan Haga itu. "Eum, okay. Nanti gue bilangin kalau lo izin jam pelajaran ini," jawab Xia dengan pasrah dan ia berjalan meninggalkan Adisa dan Haga. "Kenapa?" tanya Adisa yang sedang berada di gendongan Haga. "Nggak, harusnya aku yang tanya. Kenapa bisa sampai jatuh?" tanya Haga sambil berjalan menuju ke ruang UKS. "Mau pipis," "Oh, jauh banget sampai ke belakang. Kan deket kelas kamu ada," "Ih kenapa sih, namanya juga bosen. Kamu juga ngapain jauh banget sampai belakang sekolah, mana berduaan lagi. Nggak aneh-aneh kan?!" "Aneh-aneh apa?" tanya Haga sambil melihat lurus ke depan. "Nggak jadi," "Mana yang sakit?" tanya Haga dengan sangat lembut. "Hah?" "Mana yang sakit?" "Kaki, siku juga sakit. Jangan diturunin, aku nggak bisa jalan," ucap Adisa dengan sedikit niat modus didalam hatinya. "Halah bilang aja mau di gendong!" ejek Haga. "Nah betul!" Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah sampai di UKS dan Haga langsung meletakkan Adisa di salah satu kasur disana. "Coba sini aku lihat kakinya." "Lihat nggak boleh pegang! Pokoknya nggak boleh pegang!" "Iya bawel!" seru Haga kemudian ia melihat luka-luka yang ada di tubuh Adisa. Sedikit parah, tapi itu bisa sembuh dengan menggunakan obat merah, pikir Haga. "Aku bersihin dulu, abis itu aku kasih obat merah," ucap Haga dan ia kemudian mengambil peralatannya di kotak P3K. "Tumben perhatian, suka ya sama gue?" goda Adisa lalu Haga menatapnya tajam. "Gila kali ya! Biasanya juga aku perhatian terus sama kamu, dari kecil. Kamu aja yang sombong sekarang," "Kok curhat?" "Nggak sih, mana sini cepet aku bersihin." Haga kemudian memegang kaki Adisa yang terluka dan langsung membersihkannya dengan air yang baru saja ia ambil. "Ih pelan-pelan sakit," "Ini udah pelan-pelan," "Oh iya Ga," "Apa?" "Nanti kamu jadi kerja kelompok?" "Heem," jawab Haga yang masih fokus pada luka di kaki Adisa. "Yaudah nanti aku ambil helmnya ya, aku pulang sama Fattah," ucap Adisa dan Haga langsung menghentikan pekerjaannya lalu menatap mata Adisa. "Nope! Nanti kamu aku anter, kaki kamu kan lagi sakit. Pasti kalau sama Fattah nanti kamu diajak jalan-jalan dulu, percaya deh sama aku," sergah Haga dan Adisa terkekeh. "Kaki aku udah sembuh kok, kan udah kamu kasih obat," balas Adisa. "Kalau aku bilang nggak ya nggak Dicaaa, kamu lagi sakit. Nanti aku izin aja nggak ikut kerja kelompok," "Okey," jawab Adisa lirih dan Haga tersenyum. "Good girl, harus nurut sama aku ya," ucap Haga sambil mengacak-acak rambut Adisa. "Berarti kamu juga harus nurut sama aku," celetuk Adisa. "Apa?" "Jangan mainin rambut Cici Xia lagi," ucap Adisa dan Haga langsung membeku seketika. "Hah?" "Siapa yang mainin rambut dia?" "Tadi pas di taman, kamu bilang rambutnya bagus," "Haduh, jadi lo cemburu Ca?!" seru Haga dan ia tertawa. "Ketauan kan sekarang siapa yang suka sama gue," timpal Haga lagi dan Adisa hanya menatapnya dengan tatapan tajam. * "Halo Ca, lo dimana? Tasnya gue bawain aja atau gimana?" tanya Fattah melalui ponselnya. "Nggak usah, gue aja yang bawa," jawab Haga yang baru saja datang tepat dibelakang Fattah. "Loh? Adisa balik sama gue hari ini. Lo kan mau ngerjain tugas katanya," ucap Fattah dan ia langsung mengambil tas serta jaket Adisa. "Dica sakit, jadi gue izin nggak ikut kerja kelompok. Siniin tasnya," ujar Haga dengan serius. "Nggak bisa gitu dong, Adisa pulang sama gue hari ini. Minggir!" seru Fattah dan ia langsung berjalan keluar kelas tak tahu menuju kearah mana. "Yaudah lo bawain tas Adisa, lumayan beban motor gue berkurang dikit. Makasih ya!" ucap Haga lalu ia berlari meninggalkan Fattah dengan wajah kesalnya. "s**l!" gumam Fattah dan lagi-lagi ia gagal mendekati Adisa. Di ruang UKS, Adisa sudah siap-siap menggunakan sepatu dan mengikat rambutnya. "Yuk," ujar Haga yang baru saja masuk. "Tasnya mana?" "Dibawain Fattah, besok kamu make tas yang lain aja dulu," "Eum, okay," jawab Adisa kemudian mereka berdua berjalan meninggalkan ruang UKS. * "We're home," ucap Haga saat sudah sampai didepan rumah mereka berdua. "Sini aku bukain," ujar Haga dan Adisa menyetujuinya. "Baru sampai?" celetuk seorang laki-laki yang duduk di teras depan rumah Adisa. "Lo ngapain disini?" "Balikin tas," jawab Fattah ketus lalu ia berjalan mendekati Adisa dan memberikan tasnya. "Thanks," "Mana yang sakit?" tanya Fattah sambil melihat Adisa dari atas sampai bawah. "Udah sembuh, udah gue kasih obat," balas Haga dan ia menyuruh Adisa mundur. "Balik sana, Adisa lebih baik sama gue," "Inget kata-kata gue, gue bakal rebut Adisa dari lo motherf--" bisik Fattah di telinga Haga dengan penuh emosi. "Okay, I'll see!" seru Haga dan Fattah langsung menjalankan motornya. "Thanks ya Ga, sana cepet berangkat kerja kelompoknya, nanti Cici Xia marah lagi," ujar Adisa. "Nggak, kan aku udah ambil bagian. Dirumah aku dulu Ca, keluarga kamu belum pada pulang kan?" "Itu ada mobil Om Chandra, dia dirumah kok," "Okay, nanti selesai beres-beres aku kesana ya. See you!" ucap Haga lalu Adisa berjalan memasuki rumahnya. "Temuin gue di taman deket komplek perumahan gue, sekarang!" seru Haga sambil berbicara dengan teleponnya. "Gue udah disini," "Oke!" dan kemudian Haga kembali menyalakan motornya menuju ke taman yang ia maksud. Beberapa saat kemudian... "Apa?" "Lo beneran mau rebut Dica dari gue?" "Why not? Gue suka sama dia, and I will do anything to make her mine!" "Okay, who's scared?" "Balapan!" celetuk Fattah dan Haga langsung menatap. "What? Lo jadiin sahabat gue taruhan?!" seru Haga sambil menarik kerah baju Fattah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN