Adisa 13

1284 Kata
Seminggu setelah Haga tak sengaja melihat Zaki dengan seorang stranger di dekat toko milik keluarga Adisa, ia langsung berusaha melupakan semua kejadian tersebut dan berusaha bersikap normal kepada Adisa dan yang lainnya. Seperti saat ini, keluarga Adisa dan keluarga Haga sedang makan bersama disalah satu restaurant terkenal di Jogja. Disana sudah ada Adisa, Haga, Stacy, Alex, Chandra, Intan, Harsa dan juga Benjamin Kinderweild selaku ayah dari Haga. "Kalau bisnis kita sih ya sudah lumayan maju dari pertama kali kita pindah ke Indonesia," jelas Benjamin sambil memakan spaghetti nya. "Bagus itu, kita bisa jadi partner bisnis kali ya? Nanti kalau udah berumur biar Adisa dan Haga yang jalanin," jawab Harsa dan mereka terkekeh. "Wow that's a good idea, gimana Adisa sama Haga berniat nggak?" tanya Stacy dan kemudian mereka semua menatap kedua sejoli itu. "Kita mah ikutin alur aja ya Ca," jawab Haga sambil menyenggol pundak Adisa yang sedang meminum lemon tea nya. "Uhuk-uhuk—Iya Dica mah ngikutin alurnya aja biar nggak ribet," "Oh iya by the way, Chandra saya nggak pernah lihat istri kamu," celetuk Stacy dengan tiba-tiba yang membuat beberapa orang terbatuk dan langsung menatap kearah Chandra. "Ah itu," jawab Chandra lalu meminum coffee latte dan melanjutkan omongannya. "Ada kok, anak saya seumuran sama Adisa." "Oh gitu, tapi saya jarang lihat. Tinggal dimana emang?" "New Zealand, dia tinggal sama Ibu nya," jawab Chandra dengan sangat sopan. "Oh okay, kapan-kapan boleh dong kita makan bareng sama istri dan anak kamu. Siapa tau Haga tertarik kan," celetuk Stacy lagi dan mereka semua langsung menatap Stacy dengan penuh tanda tanya. "Why? Am I wrong?" tanya Stacy lagi dan mereka semua menggeleng. "Dica ya jelas sama Haga lah Mom," bisik Benjamin di telinga Stacy. "Loh ya nggak tau, kan mereka bilang ikutin alurnya. Siapa tau alurnya nggak sama Dica," jawab Stacy dan keadaan pun menjadi sangat hening. * "Ca, mau nonton konser nggak sama aku?" tanya Haga keesokkan harinya. "Dimana?" "Singapura, Larry. Kamu suka Larry kan?" tanya Haga sambil memasangkan helm di kepala Adisa. "Kamu yang bayarin kan?" "Of course," "Mau deh, udah pesen tiketnya emang?" "Udah Ca, karena aku tau, kamu kalau yang gratis pasti nggak akan nolak. Iya kan?" tanya Haga dan Adisa tertawa. "Haha tau aja! Emang lo Ga! My dearest friend banget!" seru Adisa sambil mencubit pipi Haga. "Jangan dicubit, nanti pipi gue kendor sebelum waktunya lagi!" seru Haga dan Adisa terkekeh. "Halah gaya lo!" Dan kemudian Haga langsung menjalankan motornya menuju sekolahnya. * Saat Haga dan Adisa baru saja sampai di parkiran sekolah mereka, tiba-tiba saja perempuan dengan mata sipit seperti orang China mendatangi mereka. "Ga, nanti kerkom ya, pulang sekolah langsung aja biar nggak habisin waktu lama." "Harus langsung banget?" tanya Haga sambil membukakan helm yang dipakai oleh Adisa. "Iya, lo mau nganterin Adisa dulu ya?" "Nggak usah, nanti gue naik ojek aja," sergah Adisa. "Oh oke. Tapi nanti gue nungguin dia dulu ya, Ci?" tanya Haga kepada Xia Lian. "Bucin banget lo!" celetuk Xia lalu pergi meninggalkan Adisa dan Haga di parkiran. "Emang kenapa ya kalo kita bucin, kan itu hak semua warga negara," bisik Haga sambil berjalan bersama Adisa. "Cemburu kali si Cici," balas Adisa kemudian Haga tertawa. "Ah nggak mungkin! Lo kan tau Ca, kalau Chinese tuh harus sama Chinese," "Oh berarti lo suka ya sama dia?" tanya Adisa. Haga terdiam, dengan wajah yang mulai memerah. "Ngapain sih, disgusting!" seru Adisa. "Disgusting disgusting, suka lo sama gue!" celetuk Haga lalu ia berlari memasuki kelasnya. "Ckck dasar payah!" Adisa lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke kelasnya yang berada tak jauh dari sana. Sambil melihat kearah lapangan, Adisa melihat seorang laki-laki yang sangat tampan sedang bermain bola basket di lapangan. Fattah. 'Bisa-bisanya lo seganteng itu, tapi malah milih gue. Nggak waras nih Fattah,' batin Adisa sambil tersenyum tipis. "Oi!" Adisa yang sedikit terkejut langsung mencari-cari siapa yang memanggilnya. "Dis!" "Apaan sih?" balas Adisa dengan tak kalah kencang. "Jangan senyum-senyum ah, nanti orang lain bisa diabetes lihat senyum lo!" seru Fattah lagi dan semua siswa-siswi yang mendengar hal tersebut langsung mengejek mereka berdua. "Ah apaan sih lo, nggak jelas!" seru Adisa kemudian ia berjalan dengan langkah cepat untuk memasuki kelasnya. "Cantik, kan?" celetuk Fattah dengan suara lantang. "Siapa?" "Adisa," jawab Fattah lagi. "YEUUU!!!" * "Ca, nanti kan Haga mau kerkom. Lo balik sama gue ya?" ucap Fattah yang dengan tiba-tiba duduk disamping Adisa. "Hah? Kok lo tau?" "Mata-mata gue banyak kali Ca," jawab Fattah dengan percaya dirinya. "Btw lo panggil gue Ca, nanti kalau Haga ngamuk jangan marahin gue ya," bisik Adisa. "Kan sekarang Haga nggak ada, jadi panggil Dica boleh kan?" "Haha dasar! Emang lo mau anterin gue?" tanya Adisa sambil menatap mata Fattah. "Siapa yang nolak? Gue disuruh anterin lo keliling dunia juga mau Ca!" celetuk Fattah lagi yang membuat Adisa menggelengkan kepalanya. "Okey, nanti gue minta helmnya dulu di Haga ya," "Jangan!" seru Fattah dan Adisa sedikit terkejut karenanya. "Eh? Kenapa?" "Nanti kalau lo minta helmnya, Haga nggak akan ngizinin. Lo kan tau Haga kalau lihat gue langsung kayak darah tinggi, maunya marah-marah terus," jelas Fattah. "Haha Haga mah emang begitu, terlalu posesif," "Lo pasti tertekan kan sama Haga? Sabar ya Ca, sebentar lagi gue bakal selametin lo dari si Badboy Haga!" "Ngapain di selametin? Dia seneng nanti, punya makanan banyak gratis pula," "Terus gue harus apa dong?" tanya Fattah dengan nada sedih. "Nggak usah ngapa-ngapain," jawab Adisa dengan senyum manis dibibirnya. Kemudian Reina dari belakang tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari Adisa. "Tuh denger, lo nggak usah ngapa-ngapain. Itu tandanya lo di tolak sama Adisa, Tah!" seru Reina dengan tawa yang belum berhenti. "Anjir lo ya, lihat aja!" balas Fattah kemudian ia pergi meninggalkan Adisa dan Reina disana. "Cowok apaan digituin kok ngambek, mental tempe!" ejek Reina lalu mereka berdua tertawa mendengar ejekan dari Reina. Setengah jam kemudian kelas Adisa diberitahukan bahwa gurunya sedang sakit dan sekarang mereka free class. Akhirnya mereka semua mulai melakukan hal-hal seperti bermain game bersama temannya, ke lapangan untuk bermain sepakbola, ke kantin untuk mengisi perut mereka dan lainnya. "Dis, Buna lo penulis ya?" tanya Reina yang masih fokus membaca tulisan di ponselnya. "Hah? Nggak!" "Tapi disini ditulis Adhista Sarwapalaka kerjanya penulis, wah ngaco nih biodata sekolah lo," "Coba mana lihat!" seru Adisa dan Reina langsung memberikan ponselnya. Adisa kemudian membaca informasi tersebut dengan fokus dan memperhatikan detail-detail kecil lainnya. "Iya sih dulu, tapi dulu banget waktu jaman kuliah Rei. Terus abis itu buka usaha sama Ayah gue," jelas Adisa dan mengembalikan ponsel Reina. "Usaha? Cafe kan? Sweetcake by Adhista? Kalo iya, gue sering kesitu sama keluarga gue, enak banget Dis makanannya. Hebat orang tua lo," "Haha thanks. By the way, kantin yuk?" ajak Adisa. "Tumben," jawab Reina lalu berdiri. "Tumben kenapa?" "Kan lo anak teladan, jarang ngajak ke kantin," "Apaan sih, gue mau ke kantin biar lewat kelasnya Haga. Mau lihat dia free class juga nggak," balas Adisa lalu mendorong bahu Reina. "Anjir modus!" Kemudian mereka berdua berjalan menuju kantin yang melewati kelas Haga. Saat sampai didepan kelas Haga, Adisa sengaja berhenti dan melihat kearah jendela. Mencari-cari keberadaan sahabat laki-lakinya tersebut. "Udah ketemu belum? Gue malu dilihatin," bisik Reina tepat di telinga Adisa. "Belum, kok nggak ada ya," gumam Adisa lalu salah satu teman kelas Haga keluar untuk menemui Adisa. "Cari Haga?" tanya laki-laki tersebut dan Adisa mengangguk. "Haga lagi keluar tadi sama Cici," "Cici? Xia?" tanya Adisa untuk memastikan. "Nah iya itu, paling ke taman belakang," "Oh okey, thanks ya," ucap Adisa dan ia langsung menarik tangan Reina untuk melanjutkan perjalanannya ke kantin. "Kak Xia ya? Beberapa bulan lalu emang ada kabar sih kalau dia suka sama Haga, tapi gue nggak tau," jelas Reina. "Bagus deh, kasian Haga soalnya. Nanti kalau gue sama Fattah, masa dia masih jomblo?" celetuk Adisa dan Reina hanya memasang wajah dungunya sambil melihat ke segala arah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN