Blake mematung dengan rahang tegasnya yang mengeras . Sorot mata birunya menahan api amarah. Urat urat tercetak jelas dibalik kemeja putihnya yang terlihat acak. Wajah tampannya seolah memerah. Bagaiman tidak, Baru beberapa jam lalu ia bernafas lega. Sekarang emosinya seolah kembali meluap. Sherrin membawa Avan kembali kehadapannya. jari lentiknya memegang erat pundak kokoh Avan yang hanya memberi wajah yang tertunduk takut. " Please Blake, maafkan dia!". Pinta Sherrin menahan tangis. " Berani sekali kau membawanya kemari !". Tegas Blake. " Blake please, aku tidak bisa membiarkannya begini." Sherrin meneteskan Air matanya. Entah kenapa emosi Blake meluap seketika melihat Sherrin begitu membela musuhnya itu. Dalam sekejab pemuda itu berada di depan wajahnya dan memegang dagu Avan kas

