bc

Ibu s**u Untuk Nona Muda

book_age18+
165
IKUTI
2.7K
BACA
family
HE
friends to lovers
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
drama
bxg
serious
city
office/work place
addiction
assistant
selfish
like
intro-logo
Uraian

Diusir oleh mertua sesaat setelah pemakaman sang suami, tidak pernah terbayangkan dalam benak Emely. Apalagi sang mertua tak mengizinkannya untuk membawa serta putrinya yang baru berusia 1 bulan.Saat Emely diganggu oleh dua berandalan, Leonardi menyelamatkan Emely serta membawa wanita itu ke rumahnya. Setelah mengalami kesalahpahaman Leonardo meminta Emily untuk menjadi Ibu s**u untuk Aluna-anaknya.Seiring dengan pertemuan yang intens antara Leonard dan Emely akhirnya menimbulkan percikan rasa di antara keduanya.Apakah pada akhirnya Leonardi dan Emely akan bersama, mengingat keduanya ternyata memiliki luka yang sama?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Diusir Oleh Mertua
Emely menatap gundukan tanah tempat jasad sang suami dikuburkan dengan tatapan kosong. Tak percaya jika pria yang menjadi separuh jiwanya meninggalkan dunia ini terlebih dahulu. Rintik hujan yang membasahi bumi, membuat perasaan Emely memburuk. Air matanya menetes deras, seharusnya Emely bisa mencegah Aji untuk pergi ke kantor apapun caranya. "Mbak Lyly," panggilan itu membuat Emely tersadar dari lamunannya. Dia melihat salah satu sepupu perempuan perempuan Aji, memandangnya dengan khawatir. "Ayo pulang, Mbak. Hujannya semakin deras," ajak wanita itu. "Aku mau di sini sebentar lagi. Kasihan Mas Aji sendirian di sini," sahut Emely dengan lirih. "Lebih kasihan Carmen, Mbak. Dia di rumah sedang menunggu ibunya." Mendengar nama anaknya disebut, membuat Emely mendongak. "Kamu benar, masih ada Carmen yang membutuhkanku," ucap Emely yang kini mengikuti sepupu Aji. Namun alangkah terkejutnya Emely saat tiba di rumah, Amira-mertuanya sedang menarik sebuah koper berukuran besar. Bahkan sepupu Aji hanya dapat memandang sang tante dengan tatapan bingung. "Cepat pergi dari rumah ini!" ucap Amira sembari menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Sementara Emely yang wajahnya masih sembab, menatap mertuanya dengan tatapan tak percaya. Air mata yang belum sempat mengering, kini menetes kembali. "Tapi kenapa Ibu mengusirku? Ini rumah Mas Aji, di rumah ini juga ada Carmen, anak Mas Aji," tanya Emely dengan nada tak percaya. "Justru karena ini rumah Aji, aku berhak untuk mengusirmu. Rumah ini adalah milikku setelah Aji meninggal dan kau wanita rendahan ..." Amira menghentikan ucapannya, telunjuknya lalu mengacung pada Amira. "Kau tidak punya hak atas rumah ini." Dada Emely terasa sesak saat mendengarnya. Dia masih tak mengerti mengapa Amira tega mengusirnya dari rumah mendiang suaminya. Sedetik kemudian, otaknya berpikir cepat. Bagaimana dengan Carmen jika mereka diusir dari rumah ini? Mau berlindung di mana mereka nantinya? "Ibu tidak bisa mengusir kami. Aku memang hanya orang luar, tapi Carmen adalah anak Mas Aji. Dia berhak atas rumah ayahnya," ucap Emely dengan lantang. "Aku tahu itu. Karena itu biar aku yang mengurus Carmen, jadi kau bisa keluar dari rumah ini. Bukankah ini menguntungkanmu? Kamu akan menjalani hidup bebas tanpa terbebani oleh anak." "Bu! Bagaimana mungkin Ibu bicara seperti itu? Kemana hati nurani ibu? Ibu manapun tidak akan mau berpisah dengan anak sendiri!" ucap Emely dengan d**a mengembang kempis. "Jangan banyak omong kau! Cepat pergi dari rumah ini!" teriak Amira dengan mata menyalahg. "Aku tidak akan pergi dari rumah ini tanpa Carmen." Setelah mengatakan itu, Emely beranjak menuju kamarnya untuk mengambil Carmen, namun langkahnya harus terhenti karena Amira menahan tangan serta menarik rambut panjangnya. Setelahnya Amira menampar Emely dengan sekuat tenaga, sampai membuat ujung bibirnya sobek dan mengeluarkan darah. Rasa sakit seketika menjalari kepala Emely, tapi itu tak sebanding dengan sakit pada hatinya saat mendapatkan kekerasan dari sosok wanita yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri. Sekuat tenaga Emely menahan diri agar tidak berteriak, setidaknya dia tidak boleh terlihat lemah saat ini. "Lepaskan aku, Bu," ucap Emely pelan namun penuh tekanan. Namun Amira justru menarik rambut Emely lebih kuat, membuat tubuh wanita itu terdorong ke belakang dan terjungkal ke lantai. Mata Amira menyala, penuh amarah dan kebencian. Emely mengatupkan bibir, menahan rasa pedih yang mencabik-cabik harga dirinya. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang hendak tumpah. "Aku memang bukan siapa-siapa, Bu. Tapi Mas Aji mencintaiku ... dan Carmen adalah darah dagingnya. Sekalipun Ibu ingin membuangku, jangan pisahkan aku dari Carmen!" Emely bangkit berdiri, berusaha tegar meskipun tubuhnya bergetar. Amira memutar mata lalu menunjuk ke arah pintu depan rumah. "Karena Carmen adalah darah daging Aji, maka aku yang berhak mengurusnya. Sekarang cepat pergi dari rumah ini!" "Bu ... aku mohon jangan pisahkan aku dengan Carmen," pinta Emely dengan nada memelas, bahkan dia tak sungkan bersimpuh sembari memeluk kaki Amira. "Heh! Apa kau tak punya telinga? Segera tinggalkan rumah ini sekarang juga!" teriak Amira yang bersahutan dengan bunyi guntur di luar rumah. "Tapi Bu ...." "Apa kau tidak mendengarkan ucapanku atau kau lebih memilih kuseret untuk keluar dari rumah ini," ucap Amira dengan tanpa perasaan. Tubuh Emely semakin gemetar hebat, bukan karena dinginnya hujan yang masih mengguyur di luar, melainkan karena hati dan tubuhnya yang sama-sama terluka. Dengan langkah gontai, dia berjalan menuju pintu sembari menggeret kopernya, meninggalkan rumah yang selama 3 tahun ini dia sebut sebagai tempat pulang. Sebelum benar-benar keluar, Emely menoleh ke arah tangga, berharap bisa melihat Carmen untuk terakhir kali. Tapi bayangan anaknya tak tampak. Antara masih terlelap di dalam kamar, atau memang sengaja disembunyikan oleh Amira. Air matanya kembali jatuh, lebih deras dari sebelumnya. Bagaimana mungkin dia keluar dari rumah ini tanpa membawa buah hatinya sendiri? “Ibu janji akan menjaga Carmen, 'kan?” tanyanya lirih, nyaris tak terdengar, lebih seperti bisikan untuk dirinya sendiri daripada pertanyaan untuk Amira. Namun Amira hanya diam, bersedekap dengan wajah kaku, seolah tak tersentuh sedikit pun oleh penderitaan menantunya itu. Akhirnya Emely melangkah keluar rumah, menembus hujan dengan tubuh basah kuyup dan hati yang lebih basah lagi oleh luka. Langkahnya gontai, sendirian, tanpa arah dan tanpa tujuan. Yang dia tahu, dia harus pergi ... karena dia sudah tidak punya rumah lagi, dan lebih menyakitkan, tidak bisa membawa Carmen bersamanya. Saat melihat sebuah halte kosong, Emely berhenti sejenak untuk berteduh sekaligus menenangkan hatinya. Rasa nyeri pada kedua payudaranya membuat Emely meringis, seketika dia teringat jika belum mengASIhi Carmen selama 6 jam. "Sekarang sudah waktunya Carmen untuk minum s**u," gumam Emely sembari menggigit bibirnya untuk meredakan rasa nyeri. Emely memeluk tubuh sendiri. Sesekali dia menatap jalanan yang basah karena hujan, tapi pikirannya terus kembali ke dalam rumah Aji. Di mana putri kecilnya berada sekarang. Air matanya kembali menetes, mengalir deras bersama perasaan bersalah yang menghimpit dadanya. "Maafin Mama yang terpaksa ninggalin kamu, Nak ...," bisiknya lirih. Emely memegang dadanya yang masih terasa nyeri karena produksi ASI yang terhambat. Setiap detik yang berlalu terasa seperti pisau yang menancap—membayangkan Carmen menangis kelaparan dan mencari ibunya membuat hatinya terasa tersayat-sayat. Lambat laun, langit mulai meredup seiring sore menjelang malam. Emely masih duduk di halte itu, tak tahu harus ke mana. Tak ada tempat tujuan. Suara klakson motor mengalihkan perhatian Emely, dia tersentak saat melihat sebuah motor yang ditumpangi oleh dua orang pria berhenti di depannya. Alarm kewaspadaan seketika menyala di dalam otak Emely, dilihat sekilas saja dia tahu jika kedua pria ini memiliki niat buruk kepada dirinya. Salah satu pria turun dari motor, menghampiri Emely dengan senyum menyeringai yang langsung membuat bulu kuduknya merinding. Sementara pria satunya masih duduk di atas motor, memantau keadaan sekitar. "Sendirian aja, Mbak? Hujan-hujan begini, bahaya loh di sini," ucap pria itu dengan nada meremehkan, matanya mengamati tubuh Emely dari atas ke bawah. Terutama pada bagian d**a Emely yang penuh akan ASI. Emely langsung berdiri sambil menggenggam kuat kopernya. “Saya nggak butuh bantuan,” ucapnya dengan suara bergetar, namun matanya menatap tegas, berusaha terlihat berani meskipun tubuhnya menggigil. Pria itu justru tertawa kecil. "Ih, galak amat. Kami cuma mau bantu, kok. Kasihan cewek secantik Mbak kedinginan sendirian begini..." Tangannya mulai bergerak seolah ingin menyentuh bahu Emely. Refleks, Emely mundur satu langkah dan mengangkat koper sebagai perlindungan. "Pergi! Saya bisa jaga diri sendiri!" bentaknya, kali ini lebih keras meskipun suaranya nyaris patah di akhir. Emely kembali menangis dan berdoa semoga ada orang yang akan membantunya. Meskipun dia tahu itu adalah hal yang mustahil.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
1K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.8K
bc

Revenge

read
36.6K
bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.5K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
7.7K
bc

Dendam Dan Cinta Sang Putri Sah

read
1.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook