bc

Dua Sahabat, Satu Luka

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
HE
arrogant
stepfather
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
kicking
campus
highschool
high-tech world
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Kiara dan Naya adalah dua sahabat yang selalu bersama, berbagi mimpi, tawa, dan rahasia kecil. Namun segalanya mulai goyah ketika Revan hadir di antara mereka. Cinta pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi ujian besar bagi persahabatan mereka.Kiara yang ceria tapi rapuh diam-diam menyimpan perasaan. Naya yang ambisius dan mudah cemburu tak ingin kalah. Revan pun terjebak dalam dilema, antara menjaga persahabatan atau mengikuti suara hatinya.Kisah ini menggambarkan betapa indah sekaligus menyakitkannya masa remaja: sahabat yang berubah jadi pesaing, senyum yang menyembunyikan luka, serta cinta yang tak pernah sederhana. Dengan gaya penulisan emosional, sinematik, dan dekat dengan keseharian Gen Z, cerita ini mengajak pembaca merasakan setiap degup jantung, air mata, dan pilihan yang harus dihadapi.Apakah persahabatan bisa bertahan melawan cinta pertama? Ataukah cinta akan menghancurkan segalanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 – Pertemuan yang Menggetarkan
Bagian 1 – Suasana Baru di SMA Harapan Bangsa Pagi di SMA Harapan Bangsa selalu penuh dengan hiruk pikuk khas anak remaja. Dari jauh, suara deru motor sudah terdengar seperti orkestra tak beraturan. Ada yang menyalakan knalpot keras-keras seakan ingin menunjukkan gaya, ada pula yang malah hampir jatuh karena salah perhitungan saat memarkir. Halaman parkiran sudah penuh dengan celoteh tawa, sapaan berisik, dan sedikit kekacauan yang bagi sebagian besar murid justru terasa menyenangkan. Kiara menurunkan tasnya dari bahu, menatap sekeliling dengan senyum geli. Seperti biasa, selalu ada tontonan gratis setiap pagi. Seorang siswa laki-laki baru saja terpeleset dari motor, dan tasnya jatuh terbuka, menghamburkan isi buku ke aspal. Anak-anak di sekitarnya menahan tawa, ada juga yang ikut membantu, tapi Kiara sudah lebih dulu menyorotinya dengan suara keras. “Ya ampun, Nay, sumpah! Tuh orang jatohnya kayak adegan sinetron Indosiar!” serunya sambil menahan tawa. Naya yang berjalan di sampingnya menoleh dengan wajah setengah heran, setengah kesal. “Lo tuh ya, Ki, fix banget nggak punya filter. Kasian kali orang jatoh, malah diketawain.” “Lah, gue nggak ketawain dia, Nay. Gue ketawain gaya jatohnya. Serius, tinggal kasih backsound lagu mellow, langsung jadi opening sinetron!” Kiara tergelak sendiri, tangannya menepuk-nepuk bahu Naya. Naya menghela napas panjang. “Ya Tuhan, sabar sama sahabat gue satu ini.” Gerbang sekolah sudah ramai dipenuhi siswa-siswi yang datang bergerombol. Ada yang sibuk ngobrol sambil jalan, ada yang asyik memandangi layar ponsel, ada pula yang sekadar berdiri nongkrong sambil menunggu teman. Suasana itu terasa begitu hidup, penuh warna. Bagi Kiara, SMA memang tempat yang penuh cerita—ada gosip, ada canda, ada masalah, tapi selalu ada hal baru untuk ditertawakan. Mereka melewati beberapa teman yang sedang bercanda konyol di depan kelas, lalu menuju ruang XI IPA 2, kelas mereka tahun ini. Kiara mendorong pintu sambil menyeringai lebar. “Selamat pagi dunia!” serunya, membuat beberapa kepala menoleh dan mendengus. “Lo ribut banget, Ki,” komentar seorang teman sekelas, namun Kiara hanya cengar-cengir. Naya menggeleng, memilih duduk di bangku dekat jendela, tempat favorit mereka berdua sejak tahun lalu. Dari posisi itu, cahaya matahari pagi masuk cukup terang, memberi suasana kelas yang hangat. Belum sempat Kiara duduk, wajahnya tiba-tiba berubah panik. “Astaga, Nay! PR matematika! Gue lupa lagi ngerjain!” Naya menoleh perlahan, tatapannya sudah seperti ibu yang lelah menghadapi anak bandel. “Lo lagi. Tiap minggu masalahnya sama aja.” Kiara merapatkan kedua tangannya, memasang ekspresi memelas. “Nay, penyelamat hidup gue. Tolong kasih contekan. Satu soal aja nggak apa-apa, nanti gue improvisasi.” Dengan malas tapi akhirnya luluh, Naya meraih bukunya dari tas. “Cepet, sebelum Bu Sinta masuk. Gue nggak mau ketahuan.” “Gila, sumpah gue berhutang nyawa sama lo, Nay,” bisik Kiara sambil menyalin dengan kecepatan penuh. Pensilnya hampir terlepas dari jari karena terlalu tergesa. Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Suasana kelas sedikit tenang ketika Bu Sinta, guru matematika yang terkenal tegas, masuk membawa setumpuk buku. Kiara buru-buru menyelipkan buku contekan Naya kembali ke meja, wajahnya masih tegang. “Pagi, anak-anak,” sapa Bu Sinta. Suaranya datar, tapi cukup untuk membuat seisi kelas duduk manis. Pelajaran berjalan dengan ketegangan seperti biasa. Ada yang berusaha fokus, ada pula yang diam-diam mencatat contekan di tangan. Kiara sendiri sibuk menunduk, berharap Bu Sinta tidak tiba-tiba menyuruhnya maju ke depan. Sesekali ia melirik Naya yang tampak serius, dan merasa beruntung memiliki sahabat yang begitu rajin dan selalu siap menolong. Saat bel istirahat berbunyi, wajah Kiara langsung cerah. Ia menepuk pundak Naya. “Kantin, let’s go. Perut gue udah konser dari tadi.” Mereka berdua berjalan ke kantin yang sudah penuh sesak. Aroma bakso mengepul di udara, bercampur dengan wangi gorengan panas. Kiara tanpa pikir panjang langsung memesan dua mangkok bakso, satu untuknya dan satu untuk Naya. Mereka menemukan tempat duduk di pojok, meja kayu yang agak tua tapi nyaman untuk nongkrong lama. “Ki, lo udah nonton drakor semalam belum?” tanya Naya sambil meniup kuah bakso. “Belum. Gue masih stuck di episode cowoknya ditinggal nikah. Parah banget itu, Nay. Gue nangis semalaman,” jawab Kiara dramatis, menepuk d**a sendiri. Naya tertawa kecil. “Ya Allah, lo tuh gampang banget baper sama drama.” “Gue manusia berhati lembut,” Kiara menjawab dengan gaya sok puitis, membuat Naya makin ngakak. Mereka makan sambil ngobrol ngalor-ngidul, mulai dari drama Korea, gosip kelas sebelah, sampai bahas cowok-cowok yang lagi populer. Sesekali Kiara bercanda konyol, membuat Naya menutup wajah karena malu. Di tengah canda, Kiara tiba-tiba menatap sahabatnya lebih serius. “Nay, lo tetep sahabatan sama gue kan, meski nanti gue punya pacar?” Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa ia pikirkan dulu. Naya berhenti mengunyah, menatap Kiara heran. “Ya jelas lah. Lo pikir gue gampang digantiin sama cowok?” Jawaban itu membuat Kiara tertawa lega, meski jauh di dalam hatinya ada sedikit rasa aneh yang ia sendiri tak bisa jelaskan. Waktu istirahat berakhir, mereka kembali ke kelas. Saat semua sudah duduk di tempat masing-masing, guru wali masuk dengan ekspresi formal namun sedikit antusias. “Anak-anak, hari ini kalian kedatangan seorang siswa pindahan. Saya harap kalian bisa menerimanya dengan baik.” Seketika kelas riuh rendah. Bisikan-bisikan langsung terdengar di mana-mana. “Cowok apa cewek?” “Katanya ganteng banget.” “Wah, semoga sekelas sama kita.” Kiara hanya menyandarkan kepala ke meja, mencoba menahan rasa penasaran. Naya menatap pintu kelas dengan tenang, tapi Kiara bisa melihat cahaya ingin tahu di matanya. Pintu kelas perlahan terbuka. Suara engsel yang berdecit membuat seluruh murid makin fokus. Sosok itu belum terlihat, tapi semua sudah menunggu dengan napas tertahan. Kiara merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, meski ia sendiri tak mengerti kenapa. Guru tersenyum. “Silakan masuk.” --- Bagian 2 – Senyum Pertama Itu Bahaya Pintu kelas XI IPA 2 terbuka perlahan. Suara decit engsel yang biasanya tak pernah diperhatikan kini seakan bergema ke seluruh ruangan. Semua kepala menoleh bersamaan, rasa penasaran membuncah di udara. Langkah kaki terdengar mantap, tidak terburu-buru, namun cukup tegas untuk membuat suasana hening. Seorang remaja laki-laki masuk dengan seragam rapi. Kemejanya putih bersih tanpa kerutan, dasinya terikat sempurna, dan rambut hitamnya tersisir rapi ke samping, memberi kesan tenang sekaligus dingin. Sejenak kelas menjadi sunyi. Bahkan suara detak jam dinding seakan ikut terdengar. “Perkenalkan, nama saya Revan Aditya,” ucapnya singkat, suaranya dalam dan jernih, membuat beberapa siswi tanpa sadar saling pandang. “Saya pindahan dari Jakarta. Mohon kerja samanya.” Seisi kelas sontak berbisik. “Gila, ganteng banget…” “Kayak idol!” “Fix jadi rebutan, nih!” Kiara yang dari tadi menelungkupkan kepala, refleks mengangkat wajah. Ia mengerjap pelan, menatap sosok baru itu dari ujung kepala sampai sepatu. Ada sesuatu yang berbeda dari cara cowok itu berdiri; sikapnya tenang, tidak seperti anak baru pada umumnya yang biasanya kikuk. “Revan, kamu bisa duduk di bangku belakang, sebelah jendela,” ujar wali kelas. Dengan langkah tenang, Revan berjalan ke arah bangku kosong. Setiap langkahnya diikuti tatapan mata dari berbagai arah. Beberapa cewek sampai menutup mulut menahan teriakan kecil. Kiara ikut menatap, meski pura-pura biasa saja. Ketika Revan lewat di samping bangkunya, Kiara merasakan sesuatu yang aneh. Sekilas, hanya sepersekian detik, tatapan mereka bertemu. Revan menoleh sebentar, dan di bibirnya tersungging senyum tipis. Senyum itu sederhana, bahkan nyaris tidak terlihat jelas. Tapi entah kenapa, d**a Kiara seperti ditusuk pelan. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk merapikan buku di meja. “Nay…” bisiknya lirih pada Naya yang duduk di sampingnya. “Lo liat, nggak?” “Liat apaan?” Naya masih fokus memperhatikan guru yang mulai menjelaskan. “Dia. Senyumnya,” jawab Kiara dengan suara tertahan. Naya menoleh sebentar, lalu mengangkat alis. “Senyum doang, Ki. Biasa aja. Lo aja yang lebay.” Kiara mendengus pelan, tapi pipinya tetap terasa hangat. Ia tidak mau mengakuinya, tapi senyum singkat itu benar-benar berhasil membuatnya salah tingkah. Pelajaran kembali berjalan. Revan duduk tenang di bangku belakang, mencatat setiap materi dengan rapi. Beberapa kali ia mendapat pertanyaan basa-basi dari teman sekelas, tapi jawabannya selalu singkat, jelas, dan sopan. Hal itu justru membuat rasa penasaran semakin besar. Saat jam pelajaran berakhir, kelas kembali ramai. Beberapa siswi mendekati meja Revan, mencoba membuka percakapan. “Hai, Revan. Lo pindah rumahnya di mana?” “Eh, besok ikut ekskul apa?” “Kalau ada yang bingung pelajaran, bisa tanya lo nggak?” Revan hanya menjawab seperlunya. Senyumnya tetap sopan, namun tak lebih dari itu. Seakan ada jarak tak terlihat yang sengaja ia pasang. Justru hal itu membuatnya semakin menarik di mata banyak orang. Kiara memperhatikan dari jauh. Ia menggigit sedotan jus yang baru saja dibelinya di kantin. “Nay, sumpah ya, anak baru itu beneran paket lengkap. Pantes semua cewek langsung pada klepek-klepek.” Naya yang sedang membuka bekalnya mengangkat kepala sebentar. “Kalau lo sendiri gimana? Klepek juga?” “Apaan sih!” Kiara cepat-cepat menyangkal, meski wajahnya memerah. “Gue cuma bilang fakta. Lagian, baru juga sehari kenal. Masa langsung jatuh hati?” Naya terkekeh. “Tapi lo nggak bisa bohong, Ki. Tadi pas dia senyum, lo langsung diem seribu bahasa.” Kiara menutupi wajah dengan buku, mencoba menghindar. “Udahlah, Nay. Jangan bahas itu lagi.” Hari bergulir cepat. Ketika bel pulang berbunyi, halaman sekolah kembali dipenuhi hiruk pikuk siswa yang berebut keluar. Kiara dan Naya berjalan beriringan menuju gerbang. Di sisi lain halaman, Kiara sempat melihat Revan berdiri sambil menerima telepon. Raut wajahnya serius, sama sekali berbeda dari sikapnya di kelas. Sekilas, Kiara merasa penasaran. Ada apa sebenarnya dengan cowok itu? Kenapa auranya terasa… misterius? Pertanyaan itu masih menggantung di kepalanya ketika mereka melangkah keluar sekolah. Kiara tidak tahu, senyum pertama itu diam-diam sudah menanamkan sesuatu yang kelak akan mengubah hidupnya. --- Bagian 3 – Saat Nama Itu Terseret Hari pertama Revan di sekolah baru ternyata tidak berhenti jadi bahan pembicaraan meski bel pulang sudah lama berbunyi. Keesokan paginya, suasana kelas XI IPA 2 lebih ramai dari biasanya. Hampir setiap sudut bangku dipenuhi bisik-bisik, sebagian besar tentu saja tentang sosok siswa pindahan yang kemarin langsung berhasil mencuri perhatian. “Gue yakin banget, dia anak orang kaya.” “Liat deh tasnya, limited edition.” “Pantes cool banget, pasti anak Jakarta Selatan.” Komentar demi komentar terdengar seperti riak ombak. Kiara yang baru masuk kelas bersama Naya hanya bisa menggeleng, meski diam-diam ia ikut memasang telinga. Bagaimanapun, ia tak bisa menepis rasa penasaran yang semalam terus mengusik. Senyum singkat Revan masih terbayang jelas di kepalanya. “Ki, lo kenapa sih?” Naya menepuk pundaknya begitu mereka duduk. “Apaan?” Kiara pura-pura membuka buku. “Dari tadi muka lo kayak orang mikirin hutang. Jangan bilang masih kepikiran anak baru itu?” Kiara buru-buru menutup bukunya. “Lo lebay banget, Nay. Biasa aja kali. Dia cuma anak baru.” Naya mengulum senyum penuh arti, tapi tidak menyela lagi. Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Revan melangkah masuk, kali ini tanpa guru. Ia berjalan dengan tenang menuju bangkunya, tak sedikit pun terganggu dengan puluhan pasang mata yang langsung menatapnya. Gerakannya sederhana, tapi entah bagaimana berhasil membuat suasana kelas mendadak hening. Saat itulah suara salah satu cowok dari barisan depan terdengar cukup keras. “Eh, Van, katanya lo kemarin sempet senyum ke Kiara ya?” Kelas sontak gaduh. Beberapa cewek langsung berteriak kecil, sementara yang lain menoleh ke arah Kiara dengan tatapan usil. “Seriusan? Wah, Kiara, lo cepet banget jadi sorotan.” “Cieee, ada yang udah dilirik anak baru.” “Fix, bakal jadi pasangan hits sekolah nih!” Wajah Kiara langsung memanas. “Apaan sih! Jangan asal ngomong!” protesnya sambil memukul ringan meja. Naya menutup mulut, menahan tawa geli. “Ki, sabar, sabar…” Revan, yang jadi pusat perhatian, hanya menoleh sebentar ke arah sumber suara. Raut wajahnya tenang, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terpojok. Ia bahkan sempat tersenyum tipis sebelum duduk di kursinya seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi justru sikap santainya itu membuat kelas makin heboh. “Gila, dia cool banget!” “Kalau beneran suka Kiara, wah, bisa jadi drama, nih.” “Kiara, lo harus tanggung jawab!” Kiara benar-benar merasa ingin menghilang dari kursi saat itu juga. Ia menunduk, mencoba menutupi wajah dengan rambutnya. Tapi semakin ia berusaha tidak peduli, semakin banyak tatapan jahil yang mengarah padanya. “Udahlah, jangan ribut. Fokus belajar,” ujar wali kelas yang baru saja masuk. Suaranya cukup keras untuk memotong kegaduhan, tapi bisikan-bisikan kecil tetap bertahan sepanjang pelajaran. Kiara berusaha sekuat tenaga menahan rasa jengkel. Ia tidak pernah suka jadi pusat perhatian, apalagi dalam hal seperti ini. Namun yang paling membuatnya tidak tenang adalah kenyataan bahwa Revan tidak sedikit pun terlihat terpengaruh. Seakan-akan nama Kiara disebut bersama namanya bukan masalah besar. Di tengah pelajaran, tanpa sengaja Kiara melirik ke belakang. Revan sedang menulis catatan dengan serius. Ketika tatapan mereka bertemu lagi, cowok itu hanya mengangkat sudut bibirnya sedikit, seperti mengulang senyum tipis yang kemarin. Kiara cepat-cepat menunduk. Dadanya berdebar tak karuan. “Ya ampun…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Naya yang duduk di samping hanya melirik sekilas dan tersenyum penuh arti. Ia tahu, hari-hari Kiara tidak akan lagi sama sejak nama mereka berdua mulai disandingkan. Dan sejak saat itu, gosip tentang “Revan dan Kiara” mulai menjalar pelan di setiap sudut sekolah, tanpa bisa dicegah siapa pun. --- Bagian 4 – Riuh di Balik Jam Istirahat Bel istirahat berbunyi, menandakan setengah hari pertama sudah berhasil dilewati. Suasana kelas langsung berubah riuh. Kursi berderit, meja bergetar, dan suara tawa bercampur jadi satu. Beberapa siswa buru-buru berlari keluar kelas menuju kantin, sementara sebagian lain masih bertahan, sibuk membuka bekal atau sekadar nongkrong sambil ngobrol. Kiara duduk termenung di kursinya. Sejak gosip pagi tadi, ia merasa semua orang jadi punya alasan untuk meliriknya lebih lama dari biasanya. Tatapan jahil, senyum-senyum penuh arti, bahkan bisikan-bisikan samar, semuanya terasa menusuk. Ia mendesah pelan. “Ki, lo gak makan?” suara Naya membuyarkan lamunannya. Kiara menoleh, melihat sahabatnya sudah berdiri sambil menenteng dompet kecil. “Males. Laper sih, tapi kalau ke kantin sekarang pasti rame banget.” Naya menaikkan alis. “Bukan soal rame, kan? Lo takut diliatin orang gara-gara gosip tadi?” Kiara terdiam. Ia ingin menyangkal, tapi sulit membantah kebenaran yang begitu jelas. Akhirnya ia hanya mengangkat bahu. “Apalah, Nay. Cape juga jadi bahan omongan.” Naya terkekeh. “Ya salah sendiri, kemarin lo disenyumin dia. Sekarang tanggung, dong.” “Apaan sih! Dia kan senyum ke semua orang, gak cuma gue!” seru Kiara agak kesal. Ucapan itu justru membuat Naya makin geli. “Kalau ke semua orang, kenapa yang mereka inget cuma lo? Coba lo pikir baik-baik.” Kiara menutup wajahnya dengan tangan. “Astaga, gue nyesel masuk sekolah hari ini.” Sementara itu, dari arah belakang, Revan baru saja menutup bukunya. Cowok itu berdiri tenang, merapikan alat tulis, lalu tanpa banyak kata keluar dari kelas. Gerakannya biasa saja, tapi cukup membuat beberapa pasang mata otomatis mengikuti. Begitu pintu kelas tertutup, obrolan kembali pecah. “Eh, dia ke kantin gak sih?” “Kalau iya, fix gue ikut. Siapa tahu bisa satu meja.” “Lo pikir gampang? Tadi aja dia jalan cuek banget, gak noleh ke siapa-siapa.” Kiara mendengus, menundukkan kepala lebih dalam. Semua ini terasa berlebihan. Seorang siswa baru memang menarik perhatian, tapi tidak seharusnya sampai segaduh ini. Tak ingin terus jadi pusat sorotan, ia akhirnya berdiri. “Nay, ayo deh kita ke kantin. Gue butuh makan biar gak pingsan.” Naya menatapnya penuh minat. “Akhirnya nyerah juga.” Mereka berdua berjalan ke luar kelas. Lorong sekolah sudah penuh dengan siswa-siswi yang bergerak menuju kantin. Bau gorengan, mie rebus, dan es teh manis sudah tercium sejak dari ujung koridor. Kiara menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Begitu tiba di kantin, suasana ternyata jauh lebih kacau dari bayangannya. Semua meja penuh, antrean di setiap warung mengular panjang. Namun perhatian Kiara tidak pada itu. Matanya tanpa sadar menangkap sosok Revan yang duduk di pojok, sendirian dengan nampan berisi nasi goreng dan segelas es jeruk. Cowok itu tampak tenang, tidak terganggu oleh suasana riuh. Ia makan pelan, sesekali meneguk minuman, seakan tidak menyadari puluhan tatapan yang diam-diam mengarah padanya. “Ki, liat tuh.” Naya menyikut lengan Kiara. “Dia sendirian. Moment banget gak sih kalau lo…” “Jangan mulai, Nay.” Kiara langsung memotong. Namun sayangnya, dunia tidak berpihak padanya. Beberapa teman sekelas tiba-tiba muncul dari arah lain. “Eh, Kiara! Sini gabung sama Revan aja. Kasian dia sendirian.” “Iya bener tuh, cocok banget kalian duduk bareng.” “Cieee, pasangan baru sekolah.” Suara mereka cukup keras untuk menarik perhatian beberapa orang di sekitar. Termasuk Revan. Cowok itu menghentikan gerakan sendoknya, lalu menoleh ke arah kerumunan. Tatapan matanya singkat, tapi cukup untuk membuat Kiara membeku di tempat. Dan yang lebih parah, senyum tipis itu kembali muncul. “Udah, Nay. Gue balik aja deh ke kelas,” bisik Kiara panik. Tapi sebelum ia sempat berbalik, Revan menggeser bangkunya sedikit. Tidak banyak, hanya sekadar memberi ruang. Gerakan sederhana itu justru membuat situasi jadi lebih jelas. “Gila, Ki, dia manggil lo tuh!” seru salah satu cewek dengan nada heboh. Kiara benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Semua tatapan menunggu keputusannya. Naya menyikut lagi, kali ini lebih keras. “Kesempatan gak dateng dua kali, bro. Jangan kabur.” Dengan wajah panas menahan malu, Kiara akhirnya melangkah maju. Setiap langkah terasa berat, seakan seluruh kantin menyorotinya. Ia menarik kursi pelan, lalu duduk di seberang Revan tanpa berani mengangkat kepala. Suasana langsung pecah. Sorakan, siulan, bahkan beberapa tepuk tangan menggema. “Wooooo!” “Fix, couple baru sekolah ini.” “Cieee, Kiara dan Revan!” Kiara ingin berteriak, ingin marah, ingin kabur. Tapi suara-suara itu hanya jadi gema samar ketika ia akhirnya memberanikan diri menoleh. Revan menatapnya. Mata itu dalam, tenang, dan sulit dibaca. Senyum tipisnya masih bertahan, tapi tidak mengejek, tidak pula menggoda. Lebih seperti sebuah sapaan tanpa kata. “Lo… gak harus dengerin mereka,” ucap Revan akhirnya, suaranya rendah tapi jelas. Kiara menatap balik, tercengang. Kata-kata itu sederhana, tapi entah kenapa justru menenangkan. Untuk pertama kalinya sejak gosip itu muncul, ia bisa menarik napas sedikit lega. Dan justru saat itulah ia sadar—hari-hari setelah ini tidak akan pernah sama lagi. --- Bagian 5 – Awal dari Segalanya Kantin perlahan kembali riuh seperti semula. Setelah sorakan dan siulan reda, siswa-siswi lain sibuk dengan makanan dan obrolan mereka sendiri. Namun bagi Kiara, dunia seakan menyempit hanya pada meja kecil di pojok itu. Tangannya gemetar saat meraih botol air mineral yang tadi sempat ia beli. Ia berusaha mengalihkan pandangan, tapi entah kenapa matanya terus saja kembali pada sosok di depannya. Revan makan dengan tenang, seakan tidak terusik dengan semua keributan barusan. “Lo beneran santai banget, ya?” gumam Kiara tanpa sadar. Revan mengangkat alis tipis. “Maksud lo?” “Ya… tadi. Semua orang heboh gitu. Gue aja malu setengah mati, tapi lo malah biasa aja.” Cowok itu berhenti sebentar, lalu menaruh sendoknya. Ia menatap Kiara, sorot matanya tenang, nyaris tak tergoyahkan. “Kalau gue ribut juga, makin rame, kan? Mending cuek.” Jawaban itu sederhana, tapi bagi Kiara terasa dalam. Ia tidak bisa menyangkal logika itu. Orang ini memang punya aura berbeda—tenang, dingin, tapi anehnya bikin orang lain jadi salah tingkah. “Hmm, mungkin lo bener…” Kiara akhirnya bergumam. Revan kembali makan, seolah percakapan mereka barusan hanyalah hal kecil. Kiara sendiri justru makin salah tingkah. Ia memalingkan wajah, mencoba fokus pada Naya yang sibuk antre di warung gorengan. Namun sebelum hening itu benar-benar membeku, Revan tiba-tiba membuka mulut. “Nama lo Kiara, kan?” Pertanyaan itu membuat Kiara menoleh cepat. “I-ya. Kok lo tau?” “Dari guru tadi. Sama… bisikan orang-orang di kelas,” jawabnya datar, tapi ada sedikit senyum tipis di bibirnya. Kiara langsung menunduk. “Oh, iya. Pasti pada berisik banget, kan?” Revan hanya mengangkat bahu. “Gue gak peduli. Gue cuma perlu tau nama lo aja.” Jantung Kiara berdebar tak karuan. Kalimat itu sederhana, tapi efeknya luar biasa. Ia hampir kehabisan kata, sementara di kepalanya ribuan pikiran bercampur jadi satu. Untung saja, Naya kembali dengan wajah sumringah sambil menenteng dua piring penuh gorengan. “Wuih, ternyata beneran duduk bareng. Gue gak nyangka lo bener-bener berani, Ki.” “Berani apaan sih…” Kiara buru-buru mengelak, meski wajahnya jelas memerah. Naya malah duduk di samping Kiara dengan santai. “Revan, kan? Gue Naya. Temennya si Kiara ini.” Revan menoleh sekilas, lalu mengangguk singkat. “Hm.” Reaksi dingin itu membuat Naya sedikit terdiam, tapi tidak lama kemudian ia terkekeh. “Cool banget, ya. Pantesan satu sekolah heboh.” Kiara menutup wajah dengan tangan. “Nay, tolong deh jangan tambah parah.” Obrolan kecil itu berjalan seadanya. Tidak banyak kata yang keluar dari Revan, tapi kehadirannya cukup membuat suasana meja kecil itu berbeda dari kantin yang lain. Kiara merasa dirinya terjebak antara malu, senang, dan bingung. Bel masuk kembali berbunyi. Suasana kantin mendadak berkurang riuhnya, siswa-siswi bergegas meninggalkan meja mereka masing-masing. Revan berdiri lebih dulu, merapikan nampan makannya, lalu berjalan menuju tempat pengembalian piring. Gerakannya sederhana, tapi entah kenapa tetap menarik mata banyak orang. Kiara masih duduk terpaku. “Aduh, Nay… ini semua bikin kepala gue pusing.” Naya menepuk bahunya sambil tertawa. “Santai aja, Ki. Itu baru hari pertama dia masuk. Gue yakin ini baru awal. Lo siap-siap aja, sekolah bakal lebih rame gara-gara kalian.” Kiara hanya bisa menghela napas. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Yang jelas, senyum tipis Revan tadi—senyum pertama yang ditujukan langsung padanya—sudah terlanjur menancap kuat di ingatannya. Dan tanpa ia sadari, sejak detik itu hidupnya tidak akan lagi berjalan biasa-biasa saja. ---

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.5K
bc

TERNODA

read
201.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.4K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook