Bab 8. Mengapa Dia di Sini?

1128 Kata
Amber duduk di depan meja rias di kamarnya, memandang dirinya sendiri di cermin dengan gaun malam yang elegan. Rambutnya dikepang indah, dan make up dipoles di wajah cantiknya. Entah kenapa di dalam hatinya merasa gelisah. Padahal seharusnya dia menampilkan wajah semeringah bahagia. Hari ini adalah hari di mana dirinya menghadiri pesta pernikahan dari bos besarnya. Amber yang merupakan karyawan dari Mouren Inc, mendapatkan undangan dari bos besarnya pemilik Mouren Inc, bertunangan dengan pemilik Kingston Corporation. “Jessie, aku rasa aku tidak bisa pergi,” kata Amber dengan cemas seraya menatap sahabatnya itu. “Amber, ini kesempatan bagus untukmu bersosialisasi di perusahaan baru. Biarkan si kembar aku yang jaga,” ucap Jessie sambil menyentuh tangan Amber. Amber menggigit bibirnya, merasa bersalah karena harus merepotkan Jessie lagi. “Tapi aku tidak ingin merepotkanmu terus menerus, Jessie.” Jessie menarik napas panjang. “Tenang saja, Amber. Aku bisa menjaga si kembar. Kau tahu sendiri, ini kesempatan bagus untukmu agar terhubung dengan rekan kerja baru. Jangan sia-siakan.” Amber mengangguk ragu-ragu. Dia tahu Jessie memiliki banyak hal untuk diurus, dan dia merasa tidak enak terus merepotkannya. Namun, dia juga merasa tidak enak dengan desakan dari teman-teman barunya di Mouren Inc yang mengharapkan kehadirannya di pesta tersebut. “Begini saja, ayo kita pergi ke sana bersama-sama.” Amber akhirnya memutuskan. “Kalian bisa makan di restoran hotel, sementara aku akan hadir sebentar dan pulang.” “Tidak perlu, kami bisa makan di rumah saja.” Jessie menolak lembut, “Simpan uangmu untuk kebutuhan Victor dan Violet.” “Anggap saja ini traktiranku, karena terus saja merepotkanmu, Jessie.” Amber menatap dengan penuh harap, agar Jessie menerima tawarannya. “Jangan ditolak, aku akan sangat sedih kalau kau bahkan tidak mau menerima traktiranku.” Setelah memikirkan sejenak, Jessie akhirnya mengangguk setuju. “Baiklah, Ayo makan enak hari ini!” Dia segera memanggil si kembar, “Violet, Victor, ayo kita pergi ke restoran mahal dan makan enak!” Victor dan Violet berseru bahagia sambil melompat-lompat kegirangan mendengar apa yang dikatakan oleh Jessie. Tampak Amber melukiskan senyumannya, melihat Victor dan Violet berseru bahagia. *** Pesta pertunangan Clara Mouren pemilik Mouren Inc digelar megah di salah satu hall hotel bintang lima yang mewah di pusat kota Los Angeles, California. Ribuan tamu dari berbagai kalangan bisnis dan sosial hadir untuk merayakan persatuan antara Kingston Corporation dan Mouren Inc. Sesampainya di lokasi pesta, Amber disambut oleh pemandangan yang mewah dan gemerlap. Ruangan hall hotel dipenuhi dengan dekorasi megah dan cahaya sorot yang memesona. Tamu-tamu berpakaian rapi dan mengenakan perhiasan mewah berbaur dalam percakapan ramai. Amber memperhatikan sekitarnya dengan wajah canggung. Dia tidak tahu harus bertindak seperti apa di tengah kerumunan tamu yang tampak begitu akrab dan percaya diri. Namun, teman-teman barunya segera mendekat dan menyambutnya dengan hangat. “Amber, kau datang! Kau terlihat luar biasa,” kata salah satu teman kerja Amber dengan senyum cerah. Dia adalah Charlotte, yang kemarin menyelamatkannya dari Alan Parker. “Charlotte, senang melihatmu di sini.” Amber tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kecemasannya. “Terima kasih. Aku sedikit gugup.” Teman-teman Amber yang lain tertawa. Mereka segera mengajak Amber bergabung dengan percakapan dan menunjukkan kehangatan kepada karyawan baru mereka. Amber mencoba bersikap ramah meskipun hatinya masih berdebar-debar. Sementara itu, di bagian lain hall, Clara berdiri di atas panggung bersama dengan seorang pria tampan. Clara tersenyum pada tamu-tamu mereka yang bergembira. Sementara sang pria tampak dengan aura arogan, dingin, dan penuh wibawa. Tentunya mereka menjadi pusat perhatian dalam pesta gemerlap ini. Amber melirik punggung dari pria yang merupakan tunangan dari Clara, bosnya. Dia melihat kebahagiaan begitu melingkupi bosnya. Ada rasa penasaran dalam diri Amber ingin melihat dari dekat pria yang menjadi tunangan bosnya itu. Namun, sayangnya sangat sulit terlihat karena posisinya pria itu memunggungi Amber. Sementara itu, di restoran hotel, Jessie menggenggam tangan Victor dan Violet menuju meja tempat makan. Mereka berdua tampak bersemangat dan tidak sabar untuk menikmati menu buffet yang tersedia di sana. “Sudah siap untuk makan, Sayang-sayangku?” tanya Jessie sambil tersenyum pada si kembar. Victor dan Violet mengangguk riang merespon ucapan Jessie. Detik selanjutnya, Jessie menjelaskan beberapa pilihan menu kepada mereka, dan Victor dan Violet terlihat sangat antusias untuk mencicipi semuanya. Mereka melompat-lompat gembira di kala mereka akan makan enak. “Violet, kau akan semakin gemuk jika makan banyak,” ledek Victor bercanda. Violet berkacak pinggang tak terima. “Aku tidak gemuk, Victor!” Victor menjulurkan lidahnya, meledek saudara kembarnya. Violet tak terima hendak memukul Victor, tapi bocah laki-laki itu berlari meninggalkan tempat itu. Sontak, Violet berlari menyusul Victor. “Victor! Jangan lari kau!” seru Violet berlari mengejar Victor. Victor menjulurkan lidahnya, meledek saudara kembarnya itu. Dia terus berlari, dan Violet mengejar Victor. Sontak, Jessie terkejut melihat Victor dan Violet berlari, meninggalkannya. “Victor, Violet, kalian harus kembali ke resto!” panggil Jessie sambil berusaha mengejar mereka. Amber, yang sedang berdiri di tengah hall, terkejut melihat Victor dan Violet saling mengejar di depannya. Dia mencoba untuk tetap tenang, tapi perasaan cemasnya mulai memuncak. “Victor! Violet!” panggil Amber dengan panik, berusaha menarik perhatian si kembar yang terus berlarian. Di tengah keramaian, Victor dan Violet berlari semakin jauh, menarik perhatian beberapa tamu yang sedang berdiri di sekitar. Beberapa mata tertuju pada mereka, termasuk mata Julian yang tiba-tiba teralihkan. Julian yang sedang berbicara dengan beberapa tamu penting, melihat Victor dan Violet berlarian di hall dengan kebingungan. Dia memicingkan mata, mencoba memahami apa yang terjadi. Sebelah alisnya terangkat, menatap dua bocah itu dengan tatapan tak asing. Jessie akhirnya berhasil mengejar Victor dan Violet, berhenti di tengah hall dengan napas terengah-engah. “Kalian berdua harus duduk tenang di meja makan restoran. Tidak boleh lari-larian sampai ke sini karena Mommy sedang bekerja,” ucapnya dengan suara lembut, dan tegas. Amber segera mendekati Jessie dan si kembar dengan wajah penuh cemas. “Maaf, Jessie. Mereka kabur darimu, ya?” “Mommy, Victor menyebalkan!” seru Violet jengkel. Victor menjulurkan lidahnya, meledek Violet. Amber menghela napas dalam, berusaha bersabar. Jessie tersenyum lembut. “Amber, kau tidak perlu memikirkan Victor dan Violet. Aku akan menjaga mereka. Kau lanjut saja.” Amber menyentuh tangan Jessie. “Terima kasih. Maaf menyusahkanmu.” “Jangan berterima kasih. Kau tahu aku sangat menyayangi si kembar,” jawab Jessie hangat, lalu dia keluar dari hall sambil menggandeng kedua bocah itu. Beruntung Victor dan Violet menurut, tak membantah di kala diajak Jessie keluar. Di sisi lain, Julian yang sebelumnya teralihkan oleh kejadian tersebut, memandang Amber dengan tatapan heran. Dia memperhatikan mereka dari kejauhan, sedikit penasaran tentang apa yang terjadi. Amber merasa canggung dengan perhatian yang tiba-tiba dialamatkan padanya. Dia mencoba untuk tetap tenang, meskipun hatinya berdebar hebat. Namun, saat matanya melihat sosok pria tampan yang berdiri di samping Clara dengan jelas, seketika itu juga membuat rahangnya seakan terjun bebas. ‘Ya Tuhan! P-pria itu?’ batin Amber dengan wajah yang amat panik, dan terselimuti ketakutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN