Tubuh Julian membeku melihat sosok wanita cantik berambut pirang yang selama ini dia cari. Aura wajahnya memancarkan jelas keterkejutan nyata. Berkali-kali dia meyakinkan apa yang dia lihat ini salah, tapi apa yang dia lihat ini benar. Tidak salah sama sekali.
‘Wanita itu?’ batin Julian dengan wajah penuh terkejut. Detik itu juga, dia berjalan pergi meninggalkan Clara yang sibuk menyapa tamu undangan. Yang dilakukannya adalah menemui sang asisten.
“Mark!” panggil Julian cepat.
“Iya, Tuan?” jawab Mark seraya menatap Julian.
“Mark, lihat wanita itu. Dia—” Julian menunjuk wanita yang dia maksud, tapi sayangnya wanita itu sudah langsung pergi begitu saja.
“Kenapa, Tuan?” Kening Mark mengerut dalam, menatap bingung Julian.
“s**t! Dia pergi!” Julian mengumpat kesal, dan berlari mencoba mengejar wanita yang selama ini dia cari, tapi sialnya wanita itu bagaikan angin yang begitu cepat pergi.
Mark menyusul Julian. “Tuan, ada apa?”
Julian terus meloloskan umpatan kesal. “Mark, wanita itu sudah pergi.”
Mark semakin dibuat bingung oleh Julian. “Tuan, apa maksud Anda? Siapa wanita yang Anda maksud?”
Julian menatap serius Mark. “Kau tadi tidak lihat wanita berambut pirang yang pergi?”
Mark tak mengerti. “Tuan, banyak wanita berambut pirang di sini. Wanita mana yang Anda maksud?”
Julian berdecak kesal. “Kau bodoh sekali!”
Mark menggaruk tengkuk lehernya tak gatal. “Maafkan saya, Tuan.”
Julian mengembuskan napas kasar seraya memejamkan mata singkat. “Aku melihat wanita itu, Mark!”
“Wanita mana yang Anda maksud, Tuan?” tanya Mark hati-hati.
Julian menatap serius Mark. “Wanita yang aku minta kau cari, tapi kau tidak kunjung menemukannya!”
Mata Mark membelalak terkejut. “Anda melihat wanita itu, Tuan? Di mana?”
Julian kembali berdecak. “Bodoh! Tadi dia ada di sini, dan sekarang dia pergi!”
Mark menoleh ke sana kemari mencoba mencari wanita yang dimaksud oleh Julian. “Tuan, maafkan saya, tapi apa Anda tidak salah lihat? Di sini banyak sekali wanita berambut pirang. Mungkin saja Anda salah, Tuan.”
“Aku tidak mungkin salah, Mark! Mataku melihat dengan jelas wanita itu!” geram Julian kesal.
“Maaf, Tuan, bukan maksud saya—”
Julian mendesah kesal. “Sudahlah, nanti saja kita bicarakan. Pesta masih berlangsung, aku tidak boleh terganggu oleh hal lain.” Pria tampan itu memilih untuk masuk ke dalam lagi.
Mark kebingungan dengan sikap Julian. Dia terus menoleh ke sana sini, tapi tak kunjung menemukan keberadaan wanita yang dimaksud oleh tuannya itu, tapi sayangnya dia tak menemukan. Jika yang dicari rambut berambut pirang, maka sangat banyak wanita cantik berambut pirang di pesta itu.
Di sisi lain, tepatnya di dekat pintu keluar, Amber merasa napasnya sesak. Dia mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ya, dia berhasil melarikan diri dari pria yang sudah bertahun-tahun tak pernah dia temui.
“Amber, apa yang terjadi?” Jessie menatap Amber dengan cemas. “Kenapa kita harus buru-buru keluar begini?”
Amber menelan ludah, mencoba mencari kata-kata yang tepat. “Tadi ... itu tadi aku melihat—” Kata-katanya menggantung, akibat otaknya tiba-tiba menjadi blank.
“Siapa?” tanya Jessie dengan rasa penasaran yang jelas terpancar dari matanya.
“A-aku melihat pria itu, Jessie,” ucap Amber gugup dengan nada sangat pelan.
Kening Jessie mengerut dalam. “Pria mana yang maksud, Amber?”
“Ayah Victor dan Violet,” jawab Amber perlahan, matanya terpaku pada pintu keluar.
Jessie terperanjat terkejut. “Bagaimana mungkin? Apa kebetulan dia bosmu? Atau satu perusahaan denganmu?”
Amber menggeleng, ekspresinya kaku bercampur dengan kebingungan. “Jessie, a-aku—”
Sebelum Amber bisa melanjutkan, Victor dan Violet tiba-tiba berlarian menuju mereka dengan riang, membuatnya terkejut. “Mommy! Bibi Jessie, kami ingin makan burger!" seru Victor dengan antusias, tangannya tergenggam erat oleh tangan mungil Violet.
Amber tersenyum lemah, mencoba menahan gelombang emosi yang membanjiri dirinya. “Ya, Sayang. Mari kita pergi makan.”
Jessie mengangguk setuju sependapat dengan Amber. Akan tetapi, sebelum mereka bisa melangkah lebih jauh, Victor tiba-tiba terpeleset, menumpahkan minuman yang dipegangnya ke gaun seorang wanita elegan yang baru saja muncul di depan mereka. Suara gelas pecah mengejutkan semua orang di sekitar. Sontak membuat Amber dan Jessie terkejut dan panik.
“Maafkan kami, Nyonya,” ucap Amber cepat sambil membungkukkan badan dengan canggung.
“Ya, Nyonya, kami benar-benar minta maaf,” tambah Jessie, mencoba menahan Victor dan Violet, agar tidak berlarian lebih jauh.
Wanita paruh baya itu tersenyum lembut, menggulirkan matanya ke arah Victor dan Violet, yang berdiri di hadapannya dengan wajah polos. “Tidak apa-apa. Ini hanya kecelakaan kecil. Kalian tidak ada yang terluka, kan?”
Amber merasa lega mendengar kata-kata penyambutan yang ramah dari wanita paruh baya itu. Dia meraih dompetnya dan membuka kantong belakang, mencari sesuatu. “Nyonya, saya akan segera membayar biaya laundry untuk gaun Anda. Dan ini—”
Wanita paruh baya itu menggeleng dan menolak tawaran Amber dengan lembut, “Tidak perlu, Sayang. Seperti yang aku katakan, ini hanya noda kecil, tidak masalah. Anak-anak hanya bermain, mereka tidak menyakiti siapa pun.”
Amber mengangguk, rasa bersalah masih menghantui pikirannya. “Terima kasih, Nyonya. Kami sungguh berterima kasih atas pengertian Anda.”
Wanita paruh baya itu tersenyum, dan mengulurkan tangannya membelai rambut Victor dan Violet. “Kalian menggemaskan sekali. Tampan dan cantik. Apa kalian kembar?”
Victor dan Violet mengangguk sopan merespon ucapan wanita paruh baya itu.
“Maafkan aku, Nyonya. Aku tidak sengaja,” ucap Victor sopan pada wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu tersenyum lembut sambil membelai pipi bulat Victor, dan Violet. “Tidak masalah. Siapa nama kalian?”
“Aku Victor,” ucap Victor memperkenalkan diri.
“Aku Violet,” tambah Violet lembut.
Wanita paruh baya itu tersenyum. “Kalian memiliki nama yang indah. Aku Gracey Kingston. Senang bertemu dengan kalian.”
Victor dan Violet tersenyum sopan.
Amber dan Jessie saling bertatapan sebentar, kemudian mereka mengulurkan tangan mereka untuk berjabat dengan Gracey. “Saya Amber, dan ini Jessie. Kami juga senang bertemu dengan Anda, Nyonya Kingston.”
Amber terdiam sejenak, menimbulkan rasa penasaran tinggi di kala wanita paruh baya itu memiliki nama keluarga Kingston. Namun, karena pikirannya sekarang berkecamuk, membuatnya memutuskan untuk menepis segala pikirannya.
Gracey tersenyum. “Baiklah, aku harus pergi. Semoga kalian memiliki malam yang menyenangkan. Jangan khawatir, gaun ini bisa dicuci.”
Setelah berhasil melewati pintu keluar hotel, Amber merasakan keringat dingin membasahi telapak tangannya. Dia tidak bisa mencegah pikirannya melayang kembali ke pria yang dulu menjadi one night stand-nya. Kejadian empat tahun yang lalu, dan ke rasa takutnya yang tiba-tiba muncul kembali. Akan tetapi, Amber berusaha untuk tenang di hadapan anak kembarnya.
“Amber, ayo kita pulang,” ajak Jessie—dan Amber mengangguk merespon ucapan Jessie. Mereka pulang menggunakan taksi. Tampak Victor dan Violet sudah sangat kelelahan. Jessie menggendong Victor, dan Amber menggendong Violet.