08. Pemilik Lisa?

1375 Kata
Sebuah mobil berhenti setelah memasuki garasi salah satu rumah mewah di perumahan elite. Martin membuka pintu dengan marah. Sikapnya semakin kasar. Apalagi saat mengeluarkan Lily dari mobilnya. Ia sampai menyeret paksa gadis itu. "Martin!" panggil Lily menarik tangannya sendiri agar tidak terlalu diperlakuan semena-mena. Karena memberontak, Martin melepaskan dasinya. Lalu menggunakan kain itu untuk mengikat kedua pergelangan tangan Lily ke belakang. Kemarahannya cukup besar hingga tega membuat sang tunangan terlihat bak tahanan. "Tidak perlu sekasar ini! Aku bisa jalan sendiri!" bentak Lily merasakan sakit akibat ikatan itu. Martin mengintimidasinya, "Jangan membentak kalau bicara denganku! Aku sudah cukup tenang menghadapimu, Lisa, untuk kali ini hentikan sikap bodohmu ini." Ia segera menarik lengan Lily yang sudah tidak berdaya itu keluar dari garasi. Kemudian memasuki pintu utama rumah megah ini. Ia berjalan melewati ruang-ruang berisi barang mewah, lorong-lorong yang penuh lukisan indah. Lily bingung dengan tempat bak museum itu. Matanya tak dapat berkedip memperhatikan setiap dekorasi bernilai jual tinggi. Ia tidak menyangka kalau kekayaan Martin lebih dari yang ia pikirkan. Ada beberapa wanita dan pria yang kelihatan berseragam pelayan sedang menundukkan kepala saat mereka lewat. Lily sangat ingin meminta tolong, tapi cara para pelayan itu menunduk jelas menunjukkan kalau mereka tidak melihat apapun. "Martin! Apa sih maumu!" rengeknya ingin menangis akan perlakuan itu, "biarkan aku pergi!" "Mulai sekarang kamu akan tinggal disini!" sentak Martin saat berhenti di salah satu pintu kamar modern yang memiliki pinggiran berlapis emas. Ya, pintu itu memiliki pengaman tambahan layaknya brankas. Dia harus memasukkan kombinasi angka pada kenopnya. Lily kaget melihatnya, "Kamu tidak berencana mengurungku'kan? Martin! Ini serius! Martin!" Setelah berhasil membuka pintu itu, Martin mengajak Lily masuk ke dalam. BRAKK.. Pintu ditutup cepat oleh Martin tanpa peduli apapun. Akibatnya beberapa pelayan yang ada di luar kamar itu terloncat kaget. Sebagian dari mereka terlihat biasa saja seolah sudah sudah menjadi rutinitas. Martin mendorong tubuh Lily sampai ia terjungkal ke lantai. "Akhirnya cuma kita berdua saja, sekarang, silakan mau ngomong apa kamu," katanya sambil menggeret sebuah kursi, membaliknya, lalu duduk bak seorang bos besar. Ketika ia marah, ia memiliki kebiasaan memandang rendah siapapun yang ada di depannya. Lily tidak berniat sediktpun untuk bangkit dari atas lantai dingin itu. Dia malah meringkuk disana, menutupi wajahnya dengan kedua lutut. "KATAKAN APA MAUMU!" bentak Martin. Lily hanya menangis. Martin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan luas ini. Ia terlihat kecewa dengan dekorasi serba putih yang dikhususkan untuk kamar pengantin. Bahkan aroma bunga semerbak mampu sedikit menurunkan tensi kemarahannya. "Kamar pengantin kita sudah sempurna padahal," ucapnya seraya mengepalkan tangan, "tapi sikapmu membuatku ingin menghancurkan tempat ini." "Sudah cukup," pinta Lily akhirnya menunjukkan raut wajahnya yang berantakan. Kedua matanya sudah mulai bengkak. Meskipun demikian, dia memang sudah dikaruniai wajah yang cantik. "Karena kamu sok lupa pada perjanjian kita, jadi biar kubacakan sekali lagi ya," kata Martin menahan amarahnya saat menarik laci meja di belakangnya. Dia mengambil secarik kertas yang merupakan salinan dari surat perjanjian yang ia katakan. Lily tidak mau merespon ucapan itu. Martin membacakannya, "Disini tertanda pihak satu, Lisanette Clarice, usia 25 tahun, menyatakan telah menerima uang dari pihak dua, Martin Athaniel, sebesar satu Milyar. Sesuai kesepatakan bersama, apabila pihak satu melanggar perjanjian yang telah ditetapkan maka bersedia dipenjara sesuai hukum yang berlaku sebagai tindakan usaha penipuan ...." "Satu milyar! untuk apa aku uang sebanyak itu! Maksudku ... itu bukan aku, Martin!" bantah Lily melotot tak percaya orang bernama Lisa telah melakukan perjanjian sebesar satu milyar. "Jangan menyela saat aku bicara, aku belum selesai!" sentak Martin melirik tajam gadis itu, "inti dari penjanjian kita adalah, kamu bersedia menikah denganku tanpa ada pembahasan perselingkuhan lagi. Jadi jika kamu menolaknya, ada pilihan sebenarnya ... aku mencintaimu, Lisa, jadi tidak mungkin membawa perkara ini ke ranah hukum, kamu bisa mengembalikan uangku jika tidak mau menikah denganku." "Aku ... Lisa ... untuk apa uang sebanyak itu?" heran Lily terbata-bata. Ia merasa hanya pernah melihat tumpukan uang, tapi itu hanya sebesar seratus juta. Namun kini dia tidak bisa membayangkan berapa tumpuk uang yang dibutuhkan untuk mencapai angka sebesar itu. Martin menjawabnya santai, "Mana kutahu, kamu yang memakainya, Sayang, tolong hentikan sikap pura-puramu ini. Kamu hanya bilang itu kompensasi atas perbuatanku, jadi oke ... aku setuju saja." "Kenapa aku?" tanya Lily memberanikan diri memandang mata Martin, "Kenapa-kamu-sampai-begini ..." Martin berdiri dan menghampiri gadis itu. Lalu melepaskan dasi yang mengikat tangannya sembari menjelaskan dengan nada s*****l, "Berapa kali aku bilang, aku mencintai seluruh bagian dari tubuhmu, Lisa. Lagipula, aku tidak mau diputus karena terkesan aku yang salah. Aku ini egois, aku tidak suka terlihat salah." Lily merangkak ke sembarang arah demi menjauh dari Martin. Dia perlahan mengangkat tubuhnya yang letih. Mata kakinya terlihat bengkak akibat terjungkal tadi. Ia memeluk dirinya sendiri karena takut. Berkali-kali dia berusaha mencari celah kabur dari kamar ini. Akan tetapi seluruh jendelanya sudah terlapisi besi, sehingga terbuka pun, dia tidak mungkin bisa kabur. Martin malah tertawa karena bisa menebak pikirannya, "Kabur? kenapa kamu ini, Sayang? Ini aku, Martin..." ia menuding pintunya, "kalau mau keluar, lewat pintu saja." Lily sontak membuka kenop pintunya. Ia tetap berusaha walaupun akhirnya dia sadar pintu itu telah terkunci otonatis. "Lisa kalau panik kayak gini ya," ejek Martin malah melepaskan jas hitan yang sedari tadi ia pakai. Lalu membuangnya ke atas meja. Ia berkata kembali, "Tidak usah takut, besok, persiapan pernikahan kita akan dimulai. Seminggu lagi, kita akan menikah di halaman belakang. Indah banget loh ...." "Kamu bilang aku bisa menolak pernikahan ini! Bisakah kamu tunggu saja sebentar, Martin!" "Ya, kembalikan dulu uang pemberianku," sahut Martin mendekati Lily yang sudah terpojok di sudut ruangan, "kartu kreditmu dan isi tabunganmu itu saja dariku, kamu punya aset apa untuk mengembalikan uangku? Kamu pikir aku tidak tahu, uang satu milyar itu kamu berikan pada Tristan'kan?" "Maksudmu?" tanya Lily kaget. Dia ingin menghindari Martin, tapi langkah mundurnya sudah sampai tembok. Ia terdiam diapit meja dan almari, kemudian diserang Martin pula. Martin memainkan rambut Lily saat menjelaskann, "Nggak tau deh. Nggak usah dibahas. Aku juga tidak peduli dengan uang itu, entah kamu berikan pada siapapun atau kamu belikan apapun, aku tidak peduli. Sekarang... yang penting aku sudah membelimu." "Aku tidak menjual diri!" "Ya, tapi bagiku itu sudah cukup membelimu." "Berikan aku waktu, aku akan membuktikan padamu, aku akan menyerahkan uang itu!" "Sudah tidak ada waktu, kamu diisolasi disini, tidak akan kuperbolehkan keluar ataupun memakai ponselmu." "Martin ...." "Karena kamu terus-terusan bilang kamu ini bukan Lisa, aku jadi penasaran, masa kamu ini bukan Lisa kesayanganku?" sindir Martin seolah-olah mengetahui kalau tunangannya itu memiliki sikap buruk seperti pintar berakting. Dia malah tertawa terbahak-bahak melihat paras cantik Lily dirundung kecemasan. "Martin, aku berusaha untuk jujur, kamu membuatku ..." "Udah, jangan dibahas, aku maafin perbuatan selingkuh kamu kok." "Aku nggak selingkuh! Aku bukan Lisa!" bantah Lily yang merasa tidak nyaman mengatakan itu. Dia benci dipandang rendah oleh seseorang karena kelakuan yang tidak dia lakukan. Martin menanggapi bantahan itu dengan sebuah ciuman singkat ke bibir gadis itu. Ia berhasil membuat Lily membeku karena terkejut. "Tapi aku belajar darimu, Lisa, maaf itu tidak gratis. Aku pernah melakukan affair, aku membeli maafmu dengan uang. Sekarang giliranmu, apa yang bisa kamu berikan untukku sebagai ganti maafku?" Lily masih syok dengan apa yang barusa terjadi. Seumur hidup dia yakin hanya pernah berciuman dengan Tristan saja. Perlakuan barusan sungguh membuat bibirnya tak sanggup ia gerakkan. Martin menyeringai puas, "Kenapa? Kita sudah beberapa bulan tidak bermesraan karena kejadian itu, mungkin sekarang waktunya kita dekat lagi. Lagipula kita ada di kamar pengantin ...." "Tolong jangan bercanda," gumam Lily merasa ada tekanan pada dadanya. Ia tidak bisa menggerakkan tubuh sama sekali karena efek ketakutan. "Nggak, aku serius," sahut Martin tersenyum lebar. Dia mencubit dagu Lily dengan lembut. Kemudian mengarahkan bibirnya ke telinga kanan gadis itu seraya berbisik, "I love you my s**t, aku ingin kita kembali seperti awal-awal kita berpacaran dulu, ingat'kan, bad bunny?" Ia perlahan menggerayangi tubuh Lily, terutama pada pinggang dan pahanya. Lily hanya bergumam, "Aku bukan Lisa-mu." Sentuhan lembut Martin pada pinggang Lisa berubah menjadi remasan. Dia mendadak benci dengan tatapan mata Lily. "Mau tidak mau, kamu tidak berhak menolakku, Lisa. Kamu milikku. Aku tegaskan padamu, Sayang, seorang pemilik itu bisa melakukan apapun pada miliknya." "Apa--maumu?" "Jelaslah, memangnya apa lagi yang bisa membuatku bahagia darimu ... selain tubuhmu?" sahut Martin mulai menarik tangan Lily agar ikut ke ranjang. Kemudian menghempaskannya kesana. Lily sontak berseru, "Aku punya uang 100 juta, biarkan kubayar semua itu ... ditabunganku ... tabungan Lily." "Seratus juta? Untuk apa aku uang itu? Lagipula, Sayang, bagiku ini bukan masalah uang. Kamu kenapa masih saja membuatku kesal? kenapa seolah-olah selingkuhanmu lebih berharga ketimbang aku!" Martin mulai marah lagi. Dia menahan tangan Lily agar tidak bergerak kemanapun. Ia sampai membentak, "Aku ini benci jadi nomor dua!" Lily benar-benar memberontak. Sekeras apapun usahanya, sekencang apapun suaranya, pada akhirnya tidak bisa membuat ia bebas dari kamar itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN