07. Dimana Lisa?

1464 Kata
Lily menaiki taksi dengan tujuan hotel yang ada di pinggiran kota. Dia berharap bisa menjauh sejenak dari kegilaan sang tunangan. Ia merasa bersyukur karena dompetnya berisi banyak uang tunai. Meskipun banyak kartu kredit, ATM dan lain sebagainya, dia berusaha tidak menggunakannya agar tidak terdeteksi. Lagipula ia juga tidak tahu pin ATM Lisa. Hotel langganannya ini memang tidak terlalu mewah. Namun bangunannya sudah berdesain modern dengan pemandangan sekitar yang menyejukkan. Ketika ia menuju meja resepsionis, dia langsung disapa oleh wanita yang bertugas saat itu, "Mba Lisa? Selamat siang, Mba!" Lily mengenal wanita itu. Masalahnya dia mengenali orang itu sebagai Lily, bukan Lisa. Anehnya sosok Lisa juga dikenal di tempat ini. Bukan tentang kamar hotel, dia buru-buru bertanya serius, "Mba Reni, kenal Lisa? Maksudnya saya?" "Loh, Mba Lisa kenal saya ya? Padahal kita cuma bertemu satu kali dulu," heran wanita itu malah bangga karena dikenali oleh seorang Lisa. Lily mendadak pusing. Ia memegangi kepalanya yang sudah tidak tahan lagi menghadapi semua ini. "Bagaimana mungkin? Siapa Lisa ini!" "Mba Lisa mau menginap disini?" Lily mengangguk. Dia mendadak lemas saat mengurus administrasinya. Setelah mendapatkan kunci kamar 087, ia pergi saja tanpa mempedulikan apapun lagi. Dia tidak paham dengan pengakuan resepsionis tadi. Lily tidak mengalami kesulitan dalam mengenali tempat ini. Sudah sering sekali dia menginap disini kalau sedang ada tugas dadakan dari kantornya. Dia juga yakin ini adalah wilayah terasing dari pusat kota dimana apartemen Lisa berada. Kondisi kamar hotelnya cukup bersih nan wangi. Seluruh perabotan memiliki warna senada yaitu coklat. Ada televisi LCD serta air conditioner di dalam sana. Lily menghempaskan dirinya ke atas ranjang sembari menyalakan televisi. Ia tidak peduli dengan ponselnya yang sudah berdering puluhan kali oleh banyak orang. "Kenapa Lisa ini sangat sibuk sekali!" ia kesal dengan chat pribadinya yang menumpuk. Sebagian besar isi dari pesan di ponsel itu hanya menanyakan keberadaannya. Mereka juga terus saja ingin tahu kabarnya seakan sudah lama tidak mengobrol. "Kalau aku mati, lalu dimana Lisa yang asli berada? Sebentar, nggak mungkin, ini nggak mungkin semacam.. jiwa tertukar'kan? Nggak mungkin, nggak... apa yabg terjadi ini!" oceh Lily menghapus satu per satu chat yang baginya asing. Ia menaruh ponsel itu kembali, lalu memijat keningnya yang sakit. Matanya perlahan terpejam sembari berusaha menggali ingatannya yang mungkin terkubur. "Dimana aku harus mencari Lisa?" tanyanya frustasi, "aku tidak kuat menjadi wanita ini hanya dalam sehari saja! Mengerikan! Tunangannya menyebalkan! Bahkan dia punya kekasih gelap! Apa yang harus kulakukan!" Ia terus mengingat kejadian yang menimpahnya hingga tertidur pulas. Tubuhnya terlalu lelah akibat perlakuan Martin, hatinya pun sakit karena ucapan Tristan. Berjam-jam dia berada dalam gulungan selimut. Meskipun dia sadar hari sudah mulai petang, tapi dia belum ada keinginan untuk bangun. Akhirnya setelah jarum jam menunjukkan pukul 18.20, bunyi pada ponsel itu membuat matanya benar-benar terbuka. Ada banyak orang yang berusaha memanggilnya dalam satu waktu, termasuk orang misterius yang menjadi informan. Lily terbelalak saat ancaman Martin memenuhi pesan masuknya. Apalagi dia tidak sengaja membaca kalimat terakhirnya berbunyi: Kamu di hotel itu'kan? Jangan coba-coba lari lagi. Kita harus bicara. Aku kesana. Isi pesan itu cukup membuat Lily turun dari ranjang dengan buru-buru. Dia berlari masuk ke dalam kamar mandi, lalu membersihkan wajahnya sedikit di wastafel. Dia keluar lagi setelah wajahnya kering dan rambutnya sudah rapi. Karena panik, dia menerima panggilan yang awalnya dia kira dari sang informan. "Halo... tolong aku, Martin terus-terusan ingin menyekapku, aku yakin!" pintanya sambil memakai blazer-nya. Suara di balik sambungan telepon ternyata bukanlah sang informan alias Goat, melainkan Ethan. "Begitu ya, Baby?" "Ethan!" "Iya? Syukurlah kamu belum lupa denganku. Aku ingi bertemu denganmu sekarang, aku tidak peduli alasanmu, harus sekarang, aku tunggu di kafe Chocolate depan hotel yang kamu sewa itu." "Hotel? Bagaimana kamu..." "Sudahlah, Lis, cepat keluar dari sana." "Dengar ya, aku tidak peduli lagi! aku sedang dikejar Martin, aku harus pergi keluar kota sekarang, dia pasti menyekapku kalau menangkapku! Dia sangat marah padaku sekarang!" "Ada apa dengan Lisa kesayanganku ini, kayaknya ada yang aneh denganmu, Sayang. Kamu tidak pernah sekalipun membuat Martin marah loh." "Aku muak dengan kalian! Aku pergi.." "Temuin gua sekarang atau lo bakal mati! Nggak usah becanda ama gua!" "Oke! Oke! Oke! Nggak usah terus-terusan ngancem!" *** Lily sangat ingin menaiki taksi begitu berada di luar hotel. Namun kafe di seberang jalan terlihat sangat gemerlap sehingga ia bisa dengan jelas melihat sosok Ethan. Tidak ada pilihan lain. Dia segera menyebrang jalan, lalu memasuki kafe itu. Langkah kakinya baru berhenti setelah sampai di meja nomor sembilan dimana Ethan sedang bersangai dengan kopinya. Lily tidak nyaman saat duduk di hadapan lelaki ini lagi. Ia bertanya lirih, "Kenapa kamu tidak paham juga situasiku, biarkan aku pergi." "Aku nggak peduli Martin, yang penting kamu disini saja, makan malam dan berikan senyum manismu padaku, hanya untukku," jawab Ethan mengangkat tangannya untuk mengisyaratkan agar seorang waitress datang. Lily merasa dadanya berdebar semakin cepat. Ia takut bertemu Martin lagi. "Apa maumu, Ethan? Martin tidak mau mendengarkanku, dia tidak mau membatalkan pernikahan kami, dia sudah gila." Seorang waitress datang sambil menyodorkan menu kepada mereka. Lily tidak mau menyentuhnya sama sekali, sehingga Ethan memesankan makanan untuk mereka. Setelah ditinggal oleh pelayan itu, Ethan mulai menarik punggung tangan Lily. "Kamu terlalu panik, Sayang, ini nggak seperti dirimu saja." "Kepalaku pusing." "Sudah minum obat belum?" "Kamu menyindirku'kan?" "Lisa, aku perhatian padamu. Kamu itu tenang saja, ini aku, Ethan, alasanmu bangga padaku itu karena aku bisa tahu segalanya'kan?" "Apa maksudmu?" "Tapi bayaranku tidak murah, Lisa, aku ingin kita bertunangan minggu depan. Jadi aku putuskan malam ini kamu dan Martin sudah selesai. Memang seharusnya aku saja yang bertindak, menunggumu terlalu lama." "Kenapa kalian... seperti ini..." "Kalian? Kenapa?" "Aku... harus jujur tentang sesuatu padamu. Tolong percayalah." "Kalau kamu bukan Lisa tapi Lily?" Lily sontak terkejut. Namun ia segera mengangguk, "Benar, aku bersumpah, namaku sebenarnya Lilianne Griselda, rumahku ada di perum Edelweis blok B no. 12B." "Dan pacarmu Tristan?" "Iya! Tolong percayalah!" "Percaya kok." "Ethan..." Seorang pelayan mendekati mereka denga membawakan senampan hidangan lezat olahan seafood. Lily merasa aneh karena aroma makanan ini sangat dia sukai. Bahkan ia juga yakin sering memakannya disini. Ethan menyeringai padanya, "Martin saja mana tahu kalau ini kafe yang sering kamu datangi saat menghabiskan waktu berdua denganku." "Enggak mungkin!" tolak Lily menggelengkan kepala karena tidak mau menerima pernyataan itu. Ia sangat risih dengan kebersamaannya dengan Ethan. Ia mendorong piring makanan itu menjauh. Lalu menutupi hidungnya seolah itu adalah makanan pantangan. "Nggak! Aku alergi!" Ethan memperhatikan pengunjung kafe yang sedikit sepi dari biasanya. Ia menjadi lega karena para pelayan sudah kembali ke dapur. Alhasil dia bisa meraih lengan kanan Lily, lalu menariknya dengan kasar. Ia berbisik penuh ancaman, "Nggak usah akting, Sayang, ini gua... Ethan, lo nyari mati? kalau gua tahu lo main ama Tristan lagi, gua bunuh kalian berdua." Kedua mata Lily perlahan mengeluarkan butiran air mata. Semuanya terlihat rumit, apalagi sang kekasih tidak percaya pada dirinya sendiri. "Aku Lily, Ethan, bukan Lisa-mu," kilahnya. Ethan menghiburnya dengan menyuapinya olahan seafood itu, "Ayo ah, Sayang, udah nggak usah cari alasan. Kamu udah kepepet'kan, bingung karena aku akan menagih janjimu, jadi pura-pura bodoh kayak gini." Lily memakannya dengan terpaksa. "Nah gitu dong, padahal juga suka, gitu kok bilang alergi. Alergi apa kamu ini? Kita sering banget loh makan disini," kata Ethan tersenyum puas melihat kekasihnya patuh, "suapi aku dong juga." Lily menuruti perintahnya. Mereka saling menyuapi selama beberapa puluh menit. Ethan terus mengajaknya mengobrol, namun Lily tidak meresponnya sedikitpun. Gadis ini tetap takut pada kehadiran Martin. Orang yang selalu dipikirannya itu tahu-tahu sudah ada di ambang pintu kafe. Dia membawa dua lelaki kembar yang merupakan pengawal pribadi. Mereka berusia tak jauh berbeda dengan dirinya. Dia menghampiri meja Lily, lalu menyapa, "Pasti tunanganku juga berhubungan denganmu, Ethan." Ethan tersenyum, "Apa kabar, Mantan Bos?" Martin menyambar lengan Lily, memaksanya berdiri, "Ayo pulang! aku punya hadiah di rumah, Sayangku." Kedua pengawalnya terlihat menghadang Ethan agar tidak ikut campur. "Dia pacarku, Martin," kata Ethan dengan santainya. Martin meremas tangan Lily. Matanya menatap gadis itu dengan penuh pertanyaan. Ia terus menyeretnya hingga keluar kafe. "Ketahuan selingkuh, diam mulu kamu hah?" sindirnya pada sang tunangan yang tampak pasrah. Lily menggeleng, "Aku.... bukan Lisa." Martin membuka pintu kursi depan mobilnya, lalu mendorong Lily masuk. "Udah, nanti kutanyai, diam saja di dalam. Berharap saja aku bisa lembut nanti." Ethan ikut keluar kafe, "Martin... urusan kita belum selesai, jangan seenaknya membawa pacar orang. Kami bahkan belum check in di hotel depan itu." Dua pengawal kembar tadi menjauhkan Ethan dari tuan mereka. Mereka berdua tidak menunjukkan raut wajah apapun. Bagi mereka, melindungi Martin adalah hal mutlak, namun sebisa mungkin menghindari perkelahian di depan umun. "Besok kita selesaikan, di tempat biasa, apapun maumu katakan saja," kata Martin menahan diri agar tidak menghajar wajah Ethan. Dia seolah sedikit takut apabila menantangnya. Ada sesuatu milik Ethan yang membuatnya harus tenang. Ethan malah mendadak menghampiri pintu mobil itu, lalu menarik tangan Lily, "Dia pacar gue, udah lama gue nungguin ini, enak banget lo main ambil aja!" Martin menarik balik tangan Lily. Ia mendorong tubuh Ethan menjauh sembari menghardiknya, "Pergi!" Lily berusaha menepis semua tangan yang menyentuhnya. Sayangnya, tenaganya terlalh lemah menghadapi dua pria kasar dan keras kepala itu. Ia sampai merintih kesakitan, "Hentikan, kumohon..." Dua pengawal Martin menarik Ethan agar menyingkir. Mereka kompak menghajae perutnya, lalu menghempaskannya ke trotoar jalan. Martin memandangnya rendah, "Lisa milikku selamanya. Lagipula dia sudah menjual dirinya padaku dan sudah kubayar 100%." Lily mendelik karena pernyataan itu, "Apa maksudmu!" "Jangan menaikkan suara padaku!" bentak Martin sambil memaksanya duduk ke dalam mobil. Lalu segera masuk ke kursi kemudi juga. Dia meninggalkan dua pengawalnya menghajar Ethan setiap kali lelaki itu berusaha berdiri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN