Andre mempersilakan Lisa duduk di salah satu meja dekat jendela. Dia memesan semuanya dengan antusias seolah itu adalah kencan pertama mereka. Tidak bisa dipungkiri memang semua pria yang memiliki waktu berdua dengan Lisa akan menganggapnya sebuah “kencan”. “Rambutmu indah,” pujinya sudah seperti remaja yang memuji pacar baru. “Mm—makasih,” sahut Lisa mulai curiga gerakan bola mata Andre pada dirinya. Terutama ketika melihat ke bawah lehernya. Ia sampai mendehem untuk menghentikan tatapan menyeluruh itu. Andre langsung bersikap sopan, “Aku turut prihatin untuk masalah di pernikahanmu, Lisa, bagaimana keadaanmu dan Martin?” “Baik, begitu ada yang mengancam kami, pengawal Martin mengungsikan kami ke tempat persembunyian sampai aman.” “Lalu—kenapa kamu malah datang kemari—” “Dengar,” po

