Lisa membersihkan tubuhnya. Dari mulai memakai lulur, masker, hingga berdiam lama dalam bak mandi air hangat penuh dengan kelopak mawar. Selepas itu, dia memakai kimono handuk. Lalu memandangi dirinya di depan cermin rias. Jika dulu dia merasa asing dengan tubuh sempurna itu, kini dia tersadar itu memang dirinya. Langsing, tinggi, putih dan halus. Seringaian penuh arti terbentuk dari bibir ranumnya. Kekecewaan luar biasa terpantul dari binar mata cantiknya. Tidak pernah dia memuji bentuk tubuhnya. Akan tetapi kini dia membelai setiap bagian tubuh itu dengan bangga. Tentu, itu merupakan "aset paling penting" dalam meraih keinginannya. Rambutnya tergerai lurus sepunggung berwarna hitam legam. Dikibaskanlah beberapa kali. Begitu lembut dan wangi. Tanpa henti dia memperhatikan pantulan di

