19/END

2614 Kata
Conrad kembali tersenyum, dan Aleandro sudah terlalu berpengalaman untuk diam saja saat Conrad bersiap memanggil apapun dengan sihirnya itu. Aleandro mengangkat tangannya ke udara dan sedetik kemudian sebuah pedang. Jemari Aleandro melingkari sebuah gagang hitam panjang dan melengkung. Mata pedangnya mengikuti lengkungan gagangnya, dan mata pedang itu juga tidak sepanjang pedang biasanya. Dan sebelum Conrad menyelesaikan mantra sihirnya, Aleandro sudah menyabetkan pedangnya ke arah Conrad, sebuah kilat putih membelah udara dan menghantam Conrad telak. Vampir itu terhempas ke sebuah batang pohon hingga membuat pohon itu tumbang. Conrad langsung bangkit berdiri dan mendapati pakaiannya sudah sobek di bagian depan. Tebasan pedang Aleandro tidak memberikan luka serius di tubuhnya. Sama seperti Aleandro, Conrad bisa membuat perisai di sekeliling tubuhnya, itulah yang membuat serangan Aleandro tidak mematikan untuknya. “Pedang yang bagus.”ujar Conrad sambil membuka bajunya dan membuangnya begitu saja. “Kau juga cukup hebat.”balas Aleandro sama tenangnya. “Izinkan aku bertanya. Siapa penyihir yang memasukkan sihirnya dalam pedang itu?”tanya Conrad seolah mereka sedang dalam perjamuan minum teh alih-alih bertarung mempertaruhkan nyawa. Aleandro mengedikkan bahunya. “Percayalah, aku tidak tahu.”sahut Aleandro sambil menimang pedang berornamen spiral di gagangnya itu dan sekali lagi melayangkan serangan ke arah Conrad. Kali ini Conrad tidak menghindarinya, vampir itu menerima serangan dengan tangannya dan membuat tangannya mengeluarkan banyak darah. “Bagus.”bisiknya pelan. Sambil bergumam pelan, dengan telapak tangannya yang lain, Conrad menyentuh darahnya yang makin lama membentuk sebuah pedang panjang. “Pedang lawan pedang.”ujarnya begitu pedang yang terbuat dari darahnya sendiri itu terbentuk. Aleandro sudah belajar untuk menyembunyikan keterkejutannya selama berhadapan dengan Conrad. Vampir itu selalu bisa melakukan hal yang mustahil karena kemampuan sihirnya. Dan saat itu juga Aleandro memutuskan kalau mereka tidak bisa bermain-main lagi. Aleandro langsung melesat ke arah Conrad untuk menyerang vampir itu. Benturan kedua pedang tidak terelakkan lagi. Keduanya bertarung dengan serius, kecepatan mereka tidak bisa diikuti oleh mata manusia. Tidak akan ada yang tahu kalau saat itu sedang berlangsung sebuah pertarungan kalau saja tidak ada bukti kehancuran dimana-mana. Pohon-pohon bertumbangan, tanah tempat mereka berpijak dan melancarkan serangan membentuk lekukan-lekukan, bekas sabetan pedang mulai bermunculan di batang-batang pohon ataupun bebatuan yang ada disana. Sebuah ledakan besar terdengar saat sederet pohon tumbang bersamaan. Dan di batang pohon terakhir, Aleandro jatuh terduduk dengan hanya bertopang pada pedang yang tertancap di tanah. Tubuhnya dipenuhi luka sabetan pedang yang membuatnya mengalirkan banyak darah. Tidak jauh dari Aleandro, Conrad berdiri dengan kedua kakinya, pedang darah di salah satu tangannya, tapi tubuhnya juga menderita luka yang sama parahnya. Aleandro bersusah payah untuk bangkit saat bayang-bayang keperakan mulai bermunculan dan semakin lama semakin solid. serangkai makian meluncur dari mulut Aleandro saat hantu-hantu itu menyerangnya, menembus tubuhnya berkali-kali dan semakin menyiksa Aleandro. Teriakan kesakitan lolos dari mulut Aleandro memenuhi keheningan malam. Conrad yang terlalu asyik memperhatikan Aleandro sama sekali tidak menyadari gerakan di belakangnya sampai sebuah belati perak menancap di punggungnya, tepat di jantungnya. Terkejut dengan rasa perih di punggungnya Conrad berbalik dan mendapati Amelia berdiri tidak jauh darinya. Belum sempat Conrad melakukan apapun Amelia sudah menerjangnya hingga Conrad jatuh terlentang di tanah dan membuat belati itu menancap semakin dalam. “Kau benar-benar ingin membunuhku?”tanya Conrad pelan sambil memperhatikan Amelia yang menekan tubuh Conrad dengan lututnya. “Dulu aku punya alasan untuk mencari dan menginginkanmu. Tapi kau membunuh anggota timku, mengurungku dan menyakitinya. Tidak ada lagi alasan bagiku untuk membiarkanmu hidup setelah semua yang kau lakukan.”geram Amelia sambil bangkit dan menempatkan tumit sepatu bootnya yang terbuat dari perak tepat di atas d**a kiri Conrad. “Yang paling tidak bisa kumaafkan adalah kau menyakiti orang yang kucintai.”bisik Amelia lalu dengan sekuat tenaga menginjak d**a Conrad hingga tumit sepatunya menembus d**a Conrad. Mata Conrad terbelalak akibat rasa sakit yang diterimanya. Tapi itu hanya sesaat sebelum Conrad berdiri tiba-tiba dan menjatuhkan Amelia ke tanah. “Kalau begitu aku juga tidak punya alasan untuk membiarkan makhluk yang mencoba membunuhku tetap hidup.”ujarnya terlalu tenang dan membuat Amelia tidak percaya. “Aku sudah menikam jantungmu.”geram Amelia sambil berusaha lepas dari Conrad. “Jantungku ada disini, sayang.”ujar Conrad sambil menunjuk d**a kanannya. “Kau kuat, Amelia. Dan kau jelas spesial. Tapi kau sudah menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan dan memilih menantangku. Aku akan membunuhmu dengan cepat, sayang.”bisik Conrad kemudian sambil mengarahkan pedangnya ke leher Amelia saat sebuah kilat perak menembus leher Conrad dan memenggal kepalanya. Sedetik kemudian sebuah pedang tertancap di jantungnya, kali ini benar-benar di jantungnya. Siapapun yang melihat ekspresi di kepala Conrad yang terpenggal itu akan menyadari kalau vampir kuno itu terkejut dengan apa yang terjadi. Kepercayaan dirinya yang tinggi kalau dia tidak akan mudah dilawan membuatnya terlalu meremehkan sedikit kesempatan yang ada selama dia menghadapi Amelia. Celah yang tersedia akibat konsentrasinya yang terpecah membuat Aleandro bisa meloloskan diri dari hantu-hantu itu dan menyerang Conrad tiba-tiba. “Aleandro...”bisik Amelia tidak percaya saat melihat Aleandro berdiri di belakang tubuh Conrad yang kini tergeletak di tanah, mulai menyusut dan mengering. Setiap vampir yang mati akan kembali ke sosoknya sesuai dengan usianya. Dan usia Conrad yang terlalu tua membuat tubuhnya mulai hancur dan hanya meninggalkan debu. Seolah tersadarkan dari lamunannya, Aleandro menatap Amelia sesaat sebelum melangkah mundur menjauhi Amelia. “Pergi!”   *Aleandro POV* Conrad benar-benar lawan yang sangat sulit ditaklukan. Kemampuannya menguasai sihir bahkan lebih hebat dari para penyihir. Kekuatan yang sudah dimilikinya sejak menjadi manusia semakin lama semakin hebat seiring lamanya dia bertahan dalam wujud vampir. Dan yang paling tidak bisa kubayangkan adalah kemampuannya mengendalikan para hantu dan zombie! Terkutuklah Conrad karena aku tidak bisa membalas satupun serangan dari para hantu itu saat mereka bisa menyerang dan menyakitiku dengan mudah. Setiap kali mereka menembus dan menyentuh tubuhku, rasa sakit yang muncul sama dengan rasa sakit saat sebuah belati perak di tusukkan ke tubuhmu. Aku bahkan tidak bisa menahan teriakan yang lolos dari bibirku. Tidak mungkin mengharapkan Lily untuk datang menolongku sekarang mengingat saat ini Wren sedang bertarung mati-matian melawan zombie. Hantu memang lawan yang tidak bisa diserang, tapi zombie juga tidak kalah menyebalkan. Mereka adalah sekelompok mayat hidup yang akan terus menyerang lawan mereka sampai orang yang menggerakkan mereka mati atau menghentikan mantranya. Selama kedua hal itu tidak terjadi maka para zombie itu tidak terhentikan. Satu-satunya jalan untuk menghentikan zombie selain membunuh pengguna mantranya adalah dengan menghancurkan zombie itu hingga menjadi debu. Dan kami kaum vampir tidak memiliki kekuatan itu, kecuali Zac_dan kini Wren juga_yang bisa mengendalikan api dan membuat ledakan. Aku sama sekali tidak bisa memperkirakan sudah berapa lama aku berteriak kesakitan akibat serangan para hantu itu saat tiba-tiba serangan itu berhenti. Benar-benar berhenti. Susah payah aku mengumpulkan kesadaranku dan berusaha mencerna apa yang sedang terjadi saat kulihat Amelia berdiri di atas tubuh Conrad dan sedetik kemudian Amelia-lah yang berada di tanah sementara Conrad menguncinya hingga tidak bisa bergerak. “Kalau begitu aku juga tidak punya alasan untuk membiarkan makhluk yang mencoba membunuhku tetap hidup.”ujar Conrad terlalu tenang dan membuat Amelia tidak percaya. “Aku sudah menikam jantungmu.”geram Amelia sambil berusaha lepas dari Conrad. “Jantungku ada disini, sayang.”ujar Conrad sambil menunjuk d**a kanannya. “Kau kuat, Amelia. Dan kau jelas spesial. Tapi kau sudah menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan dan memilih menantangku. Aku akan membunuhmu dengan cepat, sayang.”bisik Conrad kemudian sambil mengarahkan pedangnya ke leher Amelia. Sudah cukup apa yang dia lakukan pada Amelia. Dengan sisa kesadaran dan tenaga yang kuhimpun dengan paksa, aku menyabetkan Mithrodin ke arah Conrad. Dan seperti yang kuinginkan, cahaya perak yang keluar dari Mithrodin memenggal kepala Conrad, dan sebelum vampir itu bergerak memasang kepalanya kembali, aku melompat dan menikam jantungnya yang berada di kanan dan memutar Mithrodin, memastikan kalau Mithrodin menghancurkan jantungnya hingga tidak mungkin bisa melakukan penyembuhan sendiri. Aku menarik Mithrodin dari tubuh Conrad dan membiarkan tubuh itu memulai pembusukannya sesuai dengan usianya. Mithrodin kembali menjadi tak kasat mata saat kegelapan itu menghantamku. Serangan-serangan dari pada hantu membuatku kehabisan tenaga dan energi kehidupanku. Aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Terakhir kali aku mengalami kejadian ini adalah saat aku menghadapi Lilian. Saat itu aku harus mengurung diriku sendiri didalam gua agar aku tidak menyerang makhluk hidup manapun. Darah yang di turunkan Lilian padaku mungkin membuatku lebih kuat, lebih cepat menyembuhkan diri dibanding vampir manapun, dan lebih cepat. Tapi darah itu juga membuatku mengalami masa-masa kegelapan dimana aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri_rasa haus akan darah_dan menyerang makhluk hidup terdekat untuk menghilangkan rasa hausku. Dan saat ini, kegelapan itu datang. “Aleandro?”panggil Amelia pelan. Tidak! Dia harus pergi selama aku masih bisa mengendalikan diriku sendiri. Dia harus pergi sejauh mungkin! “Pergi menjauh dariku!”bentakku sambil terus berjalan mundur. “Aleandro!”seru Amelia bingung. Tiba-tiba aku jatuh terduduk, kegelapan itu akan segera menguasaiku, tanganku refleks memegang leher, berusaha meredakan rasa haus yang teramat sangat dan kedua kelopak mataku mulai tertutup. “Pergilah, Amelia. Saat ini aku mungkin bisa membunuhmu.”bisikku pelan. Bahkan untuk mengucapkan kalimat sepanjang itu saja rasanya sulit. Tenggorokanku benar-benar terbakar. Aku butuh darah! “Aku tidak akan pergi sampai kau mengatakan apa yang terjadi!” “Pergilah... Aku... A, aku tidak bisa menahannya lebih lama...”bisikku lagi. Bukannya pergi, Amelia malah menghampiriku dan berlutut di hadapanku! Aku tidak tahu apa yang dia lakukan sampai tangannya menyentuhku.. “Katakan apa yang terjadi?”tanya Amelia lembut. Tepat saat tangan Amelia menyentuh bahuku, kedua mataku terbuka, tidak perli mendengar orang lain atau siapapun untuk mengatakan kalau bola mataku kini tidak lagi berwarna hijau. Monster itu menang, diriku kini terperangkap dalam kekuasaan monster itu. Wajah Amelia saat taringku muncul dan langsung menancap di lehernya tidak akan pernah kulupakan. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun, bukan aku yang kini mengendalikan tubuhku, tapi monster yang selalu kukurung jauh di dalam diriku. Darah Amelia mulai mengalir di dalam tenggorokanku dan aku bisa merasakan kalau monster itu senang. Dia mendapatkan apa yang dia mau. Aku mulai menyerah, benar-benar menyerah untuk mendapatkan kesadaranku. Darah Amelia semakin banyak masuk ke dalam tubuhku, aku juga bisa merasakannya. Bahkan aku bisa merasakan kalau tubuh Amelia mulai dingin, tidak ada lagi kehangatan di sana. Detak jantungnya mulai melambat dan melemah. Amelia akan mati! Seiring melambatnya detak jantung Amelia, aku kembali berjuang mengalahkan monster itu, mengalahkan diriku yang lain. Tapi monster itu terlalu kuat dan Amelia semakin melemah. Tidak! Aku tidak boleh membiarkan Amelia mati! Tidak! Aku membutuhkannya!   *Author POV* Dengan kalut dijauhkannya bibirnya dari leher Amelia hanya untuk mendapati kalau wanita itu nyaris sepucat kertas dan tubuhnya sedingin es. Debaran jantungnya hanya tinggal satu-satu dan terdengar sangat lemah. “Tidak! Tidak! Kau tidak boleh mati, Amelia Williams! Tidak!”seru Aleandro sambil memeluk tubuh Amelia, mengguncangkan tubuh lemah itu, berusaha untuk membuatnya sadar. “Jadikan dia vampir, Aleandro.”bisik sebuah suara dari udara. Aleandro menengadahkan kepalanya, mendapati Wren dan Lily turun ke sisinya. Tidak ada yang terluka, dan mungkin kalaupun ada, mereka pasti sudah saling menyembuhkan. “Kau bisa menyembuhkannya, Lily. Aku mohon.”bisik Aleandro seolah Wren tidak mengatakan apapun, untuk pertama kalinya memohon sesuatu dari orang lain. Lily menggeleng pelan. “Dia kehilangan banyak darah, Aleandro. Dan dia juga terlalu dekat dengan kematian. Jadikan dia vampir, Aleandro. Hanya itu cara untuk membuatnya tetap bertahan.”ujar Lily datar. “Aku tidak bisa....”bisik Aleandro. “Aku tidak bisa membuatnya menjalani hidup selama itu dan membiarkannya melihat semua kepedihan. Aku terlalu mencintainya. Aku tidak sanggup melihatnya terluka saat orang-orang di sekitarnya meninggal sementara dia tetap hidup hanya karena dia vampir!” “Amelia mencintaimu, Aleandro. Dia akan menerima apa yang kau lakukan padanya. Dan seandainya dia memang tidak manyukai pilihan itu, kita bisa mengusahakan sesuatu.”ujar Wren tenang. “Aku tidak bisa membunuhnya!”bisik Aleandro pedih sambil terus memeluk tubuh Amelia yang semakin melemah. Wren menyentuh bahu Aleandro dan meremasnya pelan. “Kau bisa. Kita bisa melakukan apapun Aleandro asal itu bisa membuat mereka bahagia. Apapun.”ujar Wren tenang. Aleandro menjauhkan Amelia dan menatap wajah cantik yang kini bersiap menghadapi kematian itu. Aleandro menggeleng kuat dan hanya menatap Amelia pedih. Tiba-tiba bibir Amelia bergerak, sebuah suara kecil terdengar dari bibirnya. “A, aku... Aku... M, m, men, mencintaimu.”bisik Amelia terbata. Aleandro mengerjap. Sesaat dia tidak mempercayai apa yang dia dengar. Seolah menunggu kepastian itu, Aleandro langsung menggigit pergelangan tangannya dan mengalirkan darahnya ke dalam mulut Amelia. Berkali-kali Aleandro harus melukai pergelangan tangannya karena luka itu terus menutup tapi detak jantung Amelia tetap melemah dan melambat. Aleandro masih terus mengalirkan darahnya ke dalam mulut Amelia saat detak jantung Amelia benar-benar berhenti. Tapi keadaan itu hanya berlangsung beberapa saat sebelum jantungnya kembali berdetak kuat dan cepat. Kedua mata Amelia yang tadinya menutup kini terbuka dan kilau hijau muncul di kedua bola matanya. Aleandro menjauhkan pergelangan tangannya dari bibir Amelia dan mengarahkan mulut Amelia ke lehernya hingga dia merasakan sepasang benda runcing menembus kulit dinginnya dan mulai menghisap darahnya. *** Dua hari kemudian... “Apa yang kau berikan padaku ini, Aleandro?”tanya Amelia setelah mencoba sekantong darah dan kemudian melemparkan kantong darah itu pada Aleandro. Aleandro menangkap kantong darah itu dan menatap Amelia bingung. “Ini darah manusia. Kau harus meminumnya. Aku tidak bisa membawamu berburu karena kau masih terlalu baru.”ujar Aleandro serius. “Darah kau bilang? Itu terasa seperti air biasa bagiku.”tukas Amelia dingin. Aleandro menghampiri Amelia yang duduk di perpustakaan Acasa Manor. “Apa yang kau katakan?” “Aku tidak merasa kalau itu darah, Aleandro. Tidak ada rasa dan sensasinya terlalu aneh.”jawab Amelia serius. “Tapi kau tidak bisa terus-terusan menolaknya, Amelia. Kau membutuhkannya.” Amelia mengangguk paham. “Aku tahu. Tapi yang kuinginkan hanya satu.”bisik Amelia pelan. “Apa?”tanya Aleandro cepat. “Aku hanya ingin darahmu.”jawab Amelia yang langsung membuat Aleandro terkejut. Aleandro menggeleng kuat, seakan ingin menyingkirkan sesuatu dari kepalanya. “Kau ingin darahku?”ulang Aleandro tidak percaya yang langsung dijawab Amelia dengan anggukan kepala. “Tidak mungkin!”desis Aleandro masih tidak percaya. “Mungkin saja, sobat. Amelia jelas sudah membuktikan kalau dirinya spesial. Pertama dia bisa menerima darah vampir di dalam tubuhnya selama 30 tahun. Kedua, dia bisa membuktikan kalau tanpa pasangan tidak hanya muncul pada dua orang walaupun tanda yang serupa hanya ada di tubuhmu dan tubuhnya. Yang ketiga, mengingat selama menjadi manusia dia sudah menerima darahku untuk menekan semua keanehan di tubuhnya, wajar kalau saat ini dia hanya bisa menerima darah vampir dan bukannya darah manusia.”ujar Wren yang entah sejak kapan sudah berada di pintu perpustakaan. Aleandro menatap Amelia tidak percaya, menggeleng cepat sebelum menengadahkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak. “Kau benar-benar makhluk aneh, luv.”bisik Aleandro lalu sambil memeluk Amelia sejenak sebelum melepas kembali pelukannya. “Aku akan memberikanmu darahku kalau kau bersedia menikah denganku.”ujar Aleandro serius. “Apa master diizinkan melamar vampir miliknya?”tanya Amelia ringan, menatap Aleandro dan Wren bergantian. “Tentu saja.”sahut Aleandro cepat. “Kalau begitu, ayo kita menikah. Lagipula aku tidak terikat pada siapapun mengingat suamiku sebelumnya sudah mati di tanganmu, master.”bisik Amelia dengan kilatan geli di mata hijaunya. Aleandro langsung memeluk Amelia erat seolah tidak ingin melepaskannya. “Selamat datang di dunia para suami beristri pemberontak.”ujar Wren sambil menarik Lily_yang kebetulan melintas di depan perpustakaan_ke dalam pelukannya. “Kau akan menikmati rasa cemas dan ketakutan saat Amelia memutuskan menghadapi bahaya sobat. Dan kalau saat itu tiba, aku yang akan berpesta melihatmu tenggelam dalam kekhawatiran.”bisik Wren puas karena benar-benar akan melakukan apa yang dia ucapkan sebagai bentuk balas dendam terhadap apa yang Aleandro tuduhkan selama ini padanya. Wren berjalan keluar dari perpustakaan dengan Lily di dalam pelukannya. “Sepertinya Aleandro menjadi orang pertama yang bercinta di ruang baca milikku, amour.”bisik Wren sebelum mencium Lily lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN