18

2544 Kata
*Amelia POV* Aku mungkin tidak bisa menolak saat Conrad menikahiku secara hukum vampir. Tapi setidaknya aku masih bisa menghindari pembicaraan tentang pernikahan ala manusia selama yang kubisa. Sejak kemarin, Conrad sudah berkali-kali menawarkan akan mengadakan pernikahan ala manusia untukku. Dan dia juga menjanjikan kalau seluruh sisa anggota tim-ku bisa tinggal disini bersamaku. “Mrs. Conrad?”panggil sebuah suara yang kukenali sebagai suara Brigita dari arah pintu. Mrs. Conrad? Yang benar saja! “Jangan panggil aku dengan nama itu, Brigita. Kau bisa memanggilku seperti biasa.” Brigita menggeleng cepat. “Tidak mungkin. Master sudah memerintahkan kalau seluruh pelayan di rumah ini atau siapapun harus memanggil anda dengan nama master.  Master bilang kalau hanya dia yang boleh menyebut nama anda.” Baiklah. Conrad benar-benar menguji kesabaranku. Aku segera mengganti pakaianku dengan pakaian yang kukenakan saat datang ke tempat ini. Aku memang tidak membawa senjata, tapi setidaknya aku masih memaAleandro boot spesialku. Setelah mematikan rambutku terikat tinggi, aku langsung berderap keluar dari kamar mencari Conrad. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan vampir itu. Begitu aku keluar dari kamar, aku langsung melihatnya sedang berdiri di depan pintu kamarnya sedang menatapku. Bibirnya tersenyum saat melihatku. Seandainya yang berdiri disana adalah Aleandro dengan senyumannya yang menggoda, aku pasti akan langsung melupakan niatku untuk menantangnya. Tapi yang berdiri disana adalah Conrad, vampir yang katanya sudah menikahiku, membunuh separuh pasukanku, dan yang mengurungku selama disini. “Kau ingin keluar, sayang?”tanya Conrad sambil berjalan menghampiriku. “Aku ingin menantangmu.”ucapku tenang. Demi Tuhan, kenapa tidak sejak awal aku melakukan hal ini! Conrad menatapku tajam sebelum tersenyum. “Kau marah karena merasa terkurung? Baiklah, ayo kita jalan-jalan.”ujarnya seakan aku tidak mengatakan apapun. “Jangan bodoh, Conrad! Aku bukan hanya merasa terkurung, tapi aku benar-benar dikurung! Lihat semua penjagaanmu ini! Aku ingin kembali ke Inggris! Dan kalau aku tidak bisa memintanya dengan baik-baik, maka ayo kita bertarung.”geramku sambil menekankan jari telunjukku ke dadanya yang sekeras batu. “Kau mau menantangku? Tidak mungkin, Amelia. Aku bahkan belum mendapatkan malam pengantinku.”bisiknya yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangku dan mencengkram kedua pergelangan tanganku. “Jangan dikira aku tidak tahu kalau kau melukai tubuhmu sendiri malam itu, sayang. Pertanyaannya adalah, kenapa kau melukai tubuhmu sendiri malam itu? Kau tidak berharap kalau bantuan akan datang bukan? Sydney adalah kekuasaanku. Tidak akan ada vampir atau siapapun yang bisa menolongmu.”lanjutnya sangat pelan lalu mengecup leherku. “Jangan sentuh aku!” “Jangan? Aku bisa menyentuhmu sesuka hatiku, sayang. Aku belum melakukannya karena aku ingin kau juga menginginkannya. Tapi melihat apa yang kau inginkan saat ini, aku pikir aku tidak bisa menunda malam pengantin kita lebih lama. Pernikahan ala manusia-mu itu akan kita pikirkan nanti.”ujarnya lembut dan dengan mudahnya membopongku kembali ke kamar dan menghempaskanku di tempat tidur. Aku melompat menerjang Conrad dan dengan sengaja mengarahkan tumit sepatu bootku ke tubuhnya. Tapi dia berhasil menghindar dengan mudah. “Kau tidak akan bisa mendapatkanku!”geramku sambil mencoba kembali menyerang Conrad saat vampir itu tertawa terbahak-bahak. “Astaga, Amelia... Jangan menyiksa dirimu sendiri, cinta.”bisiknya dan sekali lagi aku terhempas ke tempat tidur, kali ini dia bahkan tidak menyentuhku. “Aku tidak sudi kau sentuh!” Dan sepertinya itulah ucapan terakhir yang bisa kuucapkan sebelum Conrad menciumku penuh nafsu. Bibirnya menekan bibirku dengan kasar dan memaksa bibirku untuk membuka. Kedua pergelangan tanganku dicengkramnya di atas kepala saat tangannya yang lain berusaha membuka pakaianku. Tangan Conrad sudah sampai di kancing celanaku saat sebuah suara membuatnya berpaling dan meneriakkan sesuatu dalam bahasa yang tidak kumengerti. Tapi kejadian itu hanya beberapa detik sebelum dia kembali membuka pakaianku. Aku menggeliat berusaha menjauhkan tubuhnya saat aku merasakan aura kekuatan itu memenuhi pikiranku. Tidak hanya satu, tapi ada banyak aura yang kukenal semakin mendekati tempat ini. Dan tiba-tiba saja aku seperti mendapatkan tenaga tambahan. Aku menendang kaki Conrad dengan tumit sepatuku, membuatnya terkesiap saat rasa pedih akibat perak melukai kakinya. “Kau benar-benar penuh kejutan.”bisiknya seolah tidak terlalu mengganggu baginya kalau kakinya terluka seperti itu. Dia dengan cepat menanggalkan kedua sepatu bootku dan membuangnya ke sudut kamar. Conrad berlutut diantara pahaku. Tubuhnya menjulang tinggi saat menatapku di bawah kilau hijau bola matanya. Aku tidak lagi merasa terintimidasi walau saat itu aku hanya mengenakan bra dan celana dalam. “Lepaskan aku atau kau akan menyesal.”ucapku tenang. Bibirnya membentuk seringai mengancam saat bicara. “Aku tidak pernah menyesal, Amelia. Kau tahu, aku tahu kalau ada penyusup yang berhasil mendekati rumah ini. Tapi percayalah kalau penyusup itu tidak akan pernah bisa menginjakkan kakinya di rumah ini.”ujar Conrad penuh percaya diri. “Kau benar. Karena dia bahkan tidak menjejakkan kakinya dimanapun.”bisikku sambil menoleh ke arah beranda, tempat seseorang sedang mengambang di udara, memancarkan aura yang membuatku bergidik ngeri. Aleandro menatapku tajam, seolah Conrad tidak ada di ruangan itu. “Sepertinya aku mengganggumu, manusia.”ujar Aleandro cukup kuat untuk dapat kudengar dari jarak itu. “Kita kembali ke manusia dan vampir kalau begitu.”bentakku refleks. Conrad menggeram kesal karena dia bahkan tidak menyadari kehadiran Aleandro sampai aku memberitahunya. Perhatiannya yang terfokus padaku sangat mungkin membuatnya terbunuh dan itu jelas membuatnya kesal. Dia bangkit dan menghadap Aleandro. Bibirnya menggumamkan sesuatu yang tidak kumengerti. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk bangkit dari tempat tidur dan memungut pakaianku saat bayangan-bayangan putih muncul di beranda. Bayangan itu semakin lama semakin membentuk tubuh solid berwarna perak dan saat itu aku tahu kalau Kang Conrad bisa memanggil hantu! Sepertinya bukan hanya aku yang terkejut dengan fakta itu karena Aleandro juga terbelalak saat melihat tubuh-tubuh semi solid berwarna perak itu semakin banyak dan memenuhi beranda. “Terkutuklah darah penyihir dalam tubuhmu!”sembur Aleandro sambil bersiap menahan serangan saat para hantu itu terbang ke arahnya. Apa yang kulihat benar-benar membuatku terpana. Aku bahkan tidak melakukan apapun selain menutup mulutku agar tidak berteriak histeris saat melihat Aleandro. Hantu-hantu itu bisa menyentuhnya, menyerangnya, menyakitinya. Tapi Aleandro tidak bisa menyentuh mereka. Semua serangan yang Aleandro lancarkan hanya menembus kabut perak dan menghilang. Inikah kekuatan vampir kuno seperti Conrad? Teriakan kesakitan Aleandro setiap kali menerima serangan dari prajurit hantu Kang Conrad benar-benar menyayat hatiku. Selama aku mengenal vampir itu, dia tidak pernah menunjukkan kelemahannya sedikitpun apalagi berteriak kesakitan seperti saat ini. Tidak, Aleandro tidak lemah, jadi kalau dia memang tersiksa, maka lawannya lah yang terlalu kuat. Kalau selama ini aku meragukan apa yang kurasakan padanya, maka sekarang aku yakin. Tidak peduli kalau aku adalah pasangan Conrad, yang kucintai hanyalah Aleandro, walau aku tidak yakin apa vampir itu merasakan hal yang sama padaku. Setelah mengenakan kembali celanaku, aku langsung menerjang Conrad yang terus menggumamkan kata-kata aneh. Begitu tubuhku menabrak tubuhnya hingga terjatuh, saat itu juga prajurit hantu itu langsung lenyap. Bagus! “Kau tidak bisa menyakitinya lagi!”geramku sambil melayangkan tinju ke wajahnya yang sialnya, berhasil dihindari vampir itu. “Aku bisa, Amelia.”bisiknya terlalu pelan saat matanya melirik ke arah beranda dan mendapati hantu-hantu itu kembali muncul dan kali ini jumlahnya semakin banyak. Conrad bergerak dan langsung menempatkanku di lantai, mengunciku hingga aku sama sekali tidak bisa bergerak. Aku menoleh ke arah beranda hanya untuk menyaksikan Aleandro disiksa oleh prajurit hantu Conrad. Tanpa sadar air mata meluncur dari mataku saat Conrad merendahkan kepalanya untuk menciumku. “Aku bisa membunuhnya bahkan tanpa menyentuhnya.”ujar Conrad terlalu dekat dengan bibirku. “Jangan sentuh dia, b******k!”teriak Aleandro diiringi ledakan energi yang sesaat berhasil menghalau para hantu yang mengelilinginya. Conrad menoleh ke arah beranda, aku sadar kalau dia cukup terkejut karena Aleandro berhasil menghalau hantu-nya walau hanya sesaat. “Kau tidak bisa melarangku, sobat. Dia milikku. Dia istriku. Kami sudah menikah secara hukum vampir.”ujar Conrad tenang. “Tidak.”bisikku lirih. Saat itu aku langsung memejamkan mataku, tidak berani menatap mata Aleandro yang seolah menghujam langsung ke jantungku. “Aku_bilang_jangan_sentuh_dia_b******n!”seru Aleandro lagi yang langsung menimbulkan riak hangat dalam hatiku. Tindakan Aleandro untuk mengacuhkan apa yang Conrad katakan membuatku sedikit senang. Dia tidak peduli apa hubunganku dengan Conrad dan tetap ingin menyelamatkanku. Saat itulah aku merasakan sebuah aura yang sangat kukenal semakin dekat dan semakin jelas. Aku membuka mataku perlahan tepat saat sebuah bola api melesat dari luar jendela ke arah Conrad yang langsung melompat menghindar. Bola api itu menghantam pintu dan membuat pintu kamar meledak, meninggalkan rongga besar di dinding. “Lily...”bisikku lirih saat sosok itu memasuki wilayah pandangku. Mengambang di udara dengan kedua sayap terbentang lebar. Lily lebih terlihat seperti malaikat maut saat menatap ke arah Conrad yang berdiri tidak jauh dariku. “Jangan pernah menyentuh saudaraku dengan tangan kotormu, sialan.”bentak Lily yang langsung melepaskan bulu-bulunya dan menyerang Kang Conrad dengan hujan bulu setajam belati itu. “Sialan! Untuk apa malaikat ikut campur masalah ini!”maki Kang Conrad yang langsung mengeluarkan aura petarungnya dan mengirimkan sebagian hantu itu untuk menyerang Lily. Lily menatapku, mengabaikan kehadiran Conrad. “Tunggu sebentar Amelia, kita akan segera pulang.”ucapnya lembut tepat saat para hantu itu menyerangnya. Aku sudah bersiap melihat yang terburuk saat Lily dengan mudahnya menyingkirkan prajurit hantu Conrad dengan kibasan tangannya. Lily menghampiri Aleandro dan mengeluarkan Aleandro dari serangan para hantu itu. “Ini bukan urusanmu, Aleandro. Urusanmu ada disana.”ujar Lily kuat sambil menunjuk Conrad.   *Author POV* Aleandro bersyukur karena Lily berhasil meloloskan diri dari serangan vampir penjaga di sekeliling kediaman Conrad. Terbukti kalau hantu-hantu itu tidak bisa menyentuh Lily tapi bisa menyakiti para vampir. Setelah keluar dari serbuan para hantu itu, Aleandro langsung melesat ke kamar tempat Conrad dan Amelia berada. Pandangan Aleandro menatap Amelia dan Conrad bergantian saat matanya terpaku pada tato kuno di punggung tangan Amelia. Senyum langsung tersungging di bibir vampir itu walaupun hanya sesaat. Aleandro kemudian mengalihkan tatapannya pada Conrad. “Kau melakukan banyak kesalahan, Conrad. Dengan apa yang kau miliki, kau seharusnya tahu apa yang boleh kau lakukan atau tidak. Dan kau memutuskan untuk menentang hukum dunia kita.”ujar Aleandro datar. Conrad tersenyum. “Sebutkan hukum mana yang kulanggar?” “Apa yang kau lakukan bersama bangsa werewolf membuat Anasso tidak senang. Kau membantu ras lain untuk menghancurkan kaum kita. Menciptakan makhluk berdarah campuran jelas bukan hal yang disetujui hukum bangsa manapun, kekuatan mereka sangat tidak terduga apalagi werewolf berdarah vampir, kalau usaha kalian berhasil, maka kalian akan menciptakan monster paling mengerikan di dunia. Dan kau juga menahan properti milik klan lain.” “Diakah yang kau maksud?”tanya Conrad sambil mengedikkan kepalanya ke arahku. “Kalau memang dia properti yang kau maksud, maka kau salah, pesuruh Zac. Amelia sudah menjadi propertiku sejak 30 tahun lalu. Kebebasannya bukan berarti aku melepaskan hakku atas dirinya. Dan kini setelah kami melakukan ritual pernikahan bangsa kita, dia sepenuhnya menjadi milikku.” “Kau tidak bisa menikahi siapapun yang bukan pasanganmu.” “Benarkah? Aku pikir itu tidak tercantum dalam hukum manapun. Lagipula, darimana kau bisa mengatakan kalau Amelia bukan pasanganku?” “Dia tidak memiliki tandamu.” “Lalu kau sebut apa tato di tangannya itu?” “Itu bukan tandamu.” Dengan santainya Conrad menggulung lengan bajunya dan memperlihatnya tato di lengannya. “Ini tandaku.”ujarnya singkat yang membuat Aleandro terkesiap. Dia juga memiliki tanda itu? Tidak mungkin!teriak Aleandro dalam pikirannya. Setelah menenangkan dirinya, Aleandro kembali menatap Conrad tajam. “Tapi sepertinya pasanganmu tidak berminat untuk bersamamu karena dia jelas meminta bantuan untuk mengeluarkannya dari tempat ini.” “Dan itu tidak akan kubiarkan begitu saja. Seharusnya kau-lah yang dikenai hukuman, Aleandro. Kau berusaha merebut propertiku.” “Tidak!”tukas Amelia tiba-tiba. “Aku tidak mengerti apa yang kalian ucapkan. Properti dan segalanya. Yang aku tahu aku tidak ingin berada di tempat ini. Aku akan keluar dengan atau tanpa bantuan siapapun.”tegas Amelia yang sudah kembali berdiri dan menantang Conrad. Conrad melangkah mendekati Amelia dan langsung mundur kembali saat Aleandro melesat ke depan Amelia, menjauhkan Amelia dari Conrad. “Kalau begitu kita harus bertarung, Aleandro. Aku tidak suka membiarkan vampir lain menyentuh istriku begitu saja.”geram Conrad yang langsung melepaskan kekuatannya dan melempar Aleandro keluar kamar bahkan tanpa menyentuhnya. Aleandro mendarat di halaman dengan kakinya. Sambil memaki pelan Aleandro kembali melompat ke beranda kamar Conrad dan langsung menyerang Conrad. Conrad yang sama sekali tidak mengira kalau Aleandro akan bereaksi secepat itu tidak berhasil menahan serangan Aleandro, keduanya menghantam dinding dan mendarat di ruang tengah rumah Conrad. Vampir baru akan menendang Aleandro saat tinju Aleandro menghantam rahangnya. Aleandro melompat menjauh dan langsung menyelimuti dirinya dengan aliran listrik tegangan tinggi. Conrad bangkit dan menatap Aleandro marah. Tidak ada yang pernah menyentuhnya selama ini, dan Aleandro bisa melakukan itu karena gerakannya yang sangat cepat. Conrad mengarahkan tangannya ke sebuah lemari dan membuat lemari itu terbang menghantam Aleandro. Tapi lemari itu sudah hancur saat menyentuh selubung energi milik Aleandro. Conrad kembali menggumamkan sesuatu sambil menyerang Aleandro dengan kekuatan telekinetiknya. Aleandro sudah bersiap menahan sakit akibat serangan para hantu tapi serangan itu tidak kunjung tiba. Alih-alih para hantu, Aleandro hanya diserang dengan barang-barang yang dikendalikan Conrad dengan kekuatannya. Aleandro berhasil menghindari setiap serangan itu dengan mudah, tangannya meraih belati perak yang tersimpan di pinggangnya, mencari celah untuk dapat melemparkan belati itu. Dan Aleandro mendapatkan kesempatan itu saat Conrad kehabisa benda-benda yang bisa digerakkannya. Aleandro melemparkan belati peraknya dengan kecepatan mencengangkan menuju jantung Conrad, tapi vampir berhasil menghindar hingga belati itu hanya menggores lengan kirinya. Aleandro baru saja akan meraih belati lain di pinggangnya saat tingkat energi di udara mendadak berubah diiringi senyum kemenangan di wajah Conrad. “Kau akan mati.”bisiknya puas saat pintu-pintu di sekitar mereka berderak dan kemudian gerombolan mayat hidup mulai memasuki rumah. “Zombie?”bisik Aleandro tidak percaya saat melihat makhluk yang mulai memasuki rumah dalam jumlah besar itu. “Selamat tinggal sobat.”ujar Conrad lalu terbang kembali ke kamar untuk mencari Amelia. Aleandro sudah bersiap menghadapi serangan zombie itu saat terdengar ledakan dari salah satu pintu. Wren berjalan masuk dengan tangan melemparkan bola api ke arah kerumunan zombie. “Tinggalkan kesenangan ini untukku, sobat. Kau bisa kembali menghadapinya.”ujar Wren santai. Aleandro mengangguk paham dan segera terbang kembali ke kamar hanya untuk mendapati kalau Amelia sudah tidak sadarkan diri dan sedang berada dalam pelukan Conrad. “Terlambat.”ucap Conrad lalu segera terbang keluar dari kamar. Aleandro mengikuti Conrad dan berusaha menyusul vampir itu. Satu tangan Aleandro meraba belati di pinggangnya dan dalam hitungan detik sudah melemparkan belai itu ke arah Conrad yang berhasil menancap di bahunya tapi disaat yang sama sebuah bayangan menabraknya dan membuatnya terjatuh di tengah semak-semak yang mengelilingi rumah Conrad. “Aku lawanmu.”ujar Zeroun yang langsung menyerang Aleandro dengan tubuhnya. “Dan aku adalah lawanmu.”ujar sebuah suara feminin dari udara. “Dan kau, Aleandro... CEPAT KEJAR AMELIA!”bentak Lily nyaris murka. Aleandro menggeram kesal ke arah Lily dan kembali terbang mengejar Conrad. Aleandro sama sekali tidak bisa melihat Conrad, tapi Aleandro masih bisa mencium bau Amelia dan mengandalkan instingnya itu untuk mengejar Conrad. Dan tidak butuh waktu lama bagi Aleandro untuk menemukan mereka saat Conrad berhenti di sebuah tanah lapang dan membaringkan Amelia di tanah. Belati yang tadi menancap di bahunya kini sudah terlepas dan tergeletak di tanah, di samping tubuh Amelia. “Kenapa? Apa kau akhirnya memutuskan untuk menghadapiku secara jantan?”tanya Aleandro sambil mendarat dengan anggunnya tidak jauh dari tempat Conrad berdiri, tapi cukup jauh untuk bisa menghindari kalau Conrad menyerang tiba-tiba.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN