“Kita sudah memiliki tato pasangan, karena itu aku mengambil jalan pintas dengan menikahimu dalam hukum vampir. Kalau kau menginginkan pernikahan ala manusia, aku bisa melakukannya.”ujar Conrad bahkan tanpa rasa bersalah.
Aku menghirup napas panjang, berusaha mencerna kembali semua informasi mendadak yang masuk dalam kepalaku ini. Dengan ketenangan yang tersisa, aku membalas tatapan Conrad. “Keluar!”
Conrad menatapku seolah aku mengatakan hal gila.
“Aku ingin kau keluar! Dan dimana pakaianku?”
Conrad sama sekali tidak bicara, dia hanya menunjuk onggokan pakaian di sebuah sofa.
Tanpa menunggu Conrad keluar atau tidak, aku bangkit dari tempat tidur dengan sisa tenaga yang berhasil kukumpulkan, menyambar pakaianku dan bergegas ke kamar mandi. Dengan frustasi aku memeriksa saku celana jeans yang tadi kukenakan, mencari sesuatu dan berharap benda itu masih ada disana. Aku hampir mengutuk segalanya saat tanganku menyentuh sebentuk benda di dalam saku belakang celana jeans-ku. Dengan penuh harap aku mengeluarkan benda itu.
“Terima kasih Tuhan!”bisikku penuh syukur dan kemudian menekan salah satu tombol kecil hingga sebuah jarum keluar dari salah satu sisinya. Dengan mengucapkan segala macam doa yang bisa kuingat, aku menusuk lenganku dengan jarum itu hingga berdarah. Bagian bening yang melingkari benda itu langsung terisi darahku sebelum menghilang dan digantikan dengan kerlap-kerlip lampu di tempat yang sama.
Aku kembali menyimpannya di dalam saku celanaku dan mengenakan kembali semua pakaianku. Wajah yang terpantul di cermin kamar mandi adalah wajahku, tapi entah kenapa aku merasa berbeda. Aku memejamkan mataku, dan tiba-tiba saja wajah Aleandro muncul. Cukup lama aku memejamkan mataku untuk menikmati pikiranku tentangnya sebelum aku kembali membuka mata dan menghadapi kenyataan.
“Kalau ini semua benar, maka selama ini aku tidak pernah mencintai Aleandro. Aku hanya terobsesi padanya. Itu yang membuatku selalu memikirkan dan ini bukan cinta.”bisikku datar.
Dan tiba-tiba saja Conrad sudah menggedor pintu kamar mandi. “Apa yang kau lakukan? Kenapa aku mencium bau darah, Amelia?”seru Kang Conrad kuat, dan aku sempat ragu kalau pintu ini bisa bertahan lebih lama mengingat kuatnya gedoran Conrad.
Aku menyimpan kembali benda itu dan kemudian berjalan keluar. “Hanya melukai diriku sendiri untuk melihat apakah ini kenyataan atau hanya mimpi.”jawabku asal sambil berjalan menuju beranda dan memilih berdiam diri di tempat itu.
*Author POV*
Wren baru saja akan menyatukan tubuhnya dengan Lily saat Navaro muncul di kamarnya, dan sedetik kemudian tubuhnya tersentak menegang. Dengan cepat Wren menarik selimut untuk menutupi tubuh Lily. “Aku tahu apa yang terjadi, Navaro. Tapi akan lebih baik kalau kau keluar dan membiarkan istriku mengenakan pakaiannya. Kau pasti tidak suka kalau aku menerobos masuk saat kau sedang bercinta dengan Eliza, bukan?”tanya Wren datar.
Navaro hanya mengangguk pelan sebelum berjalan keluar dari kamar Wren. “Ada apa sayang?”tanya Lily sambil menatap Wren bingung.
“Berjanjilah kau tidak akan marah padaku.”bisik Wren sambil menatap Lily serius.
Lily memiringkan kepalanya bingung. “Apa yang kau bicarakan? Untuk apa aku marah padamu?”tanya Lily balik.
“Berjanjilah, amour. Katakan padaku kalau kau tidak akan marah padaku apapun yang terjadi.”
“Aku mencintaimu, untuk apa aku marah?”
Wren mengangguk setuju. “Aku harap itu mewakili kalau kau tidak akan marah padaku.”bisik Wren cepat. “Amelia sedang dalam bahaya, amour.”
“Apa maksudmu?”tanya Lily kali ini terdengar lebih serius.
“Amelia tidak dalam misi. Dia pergi menemui Conrad, dan dia membutuhkan pertolongan saat ini. Asumsiku adalah, dia tidak bisa melarikan diri dari sana hingga dia melakukan hal terakhir yang bisa dilakukannya, menggunakan pemancar yang kuberikan untuk memberitahu dimana dia berada.”
Lily bangkit dari ranjang, melepaskan selimut yang tadi diberikan Wren, melupakan kenyataan kalau tubuhnya tidak mengenakan apapun. “Kau bohong padaku, Zhang Wren? Kau bilang kalau Amelia dalam tugas! Itu alasan kenapa dia tidak ada disini! Tapi apa? Kau membiarkan dia pergi ke tempat vampir itu! Kau membiarkan dia membahayakan dirinya sendiri!”
“Tenanglah. Setidaknya Amelia masih bisa memberitahukan kita kalau dia membutuhkan pertolongan.”bujuk Wren sambil menghampiri Lily, menggenggam tangannya.
Dengan sekali sentak, Lily melepaskan genggaman tangan Wren. “Siapa lagi yang tahu mengenai hal ini? Siapa saja yang ikut membohongiku?”
“Semuanya tahu, kecuali kau dan Eliza.”jawab Wren yang akhirnya memutuskan untuk jujur. “Jangan marah padaku, amour.”ucap Wren kemudian saat Lily melemparkan tatapan menuduh padanya.
Lily sama sekali tidak mengucapkan apapun saat dia memunguti pakaiannya di lantai dan kembali mengenakannya.
“Lily...”
“Jangan_sebut_namaku! Aku sedang marah saat ini. Aku tidak tahu siapa yang harus kubuang ke neraka lebih dulu saat ini.”geram Lily sambil meneruskan usahanya mengenakan kembali seluruh pakaiannya.
Setelah berhasil mengenakan blus krem dan celana floral tiga perempatnya, Lily langsung menghambur keluar kamar bahkan tanpa mengenakan alas kaki. Wren yang tidak menduga tindakan Lily terlambat mengejar istrinya itu karena harus mengenakan celananya lebih dulu. Lily sudah melesat menuruni tangga saat Wren keluar dari kamar. Dengan cepat Wren menyusul Lily dan menahan istrinya itu tepat di anak tangga terakhir. “Apa yang akan kau lakukan?”
“Bertanya pada Navaro dimana Amelia sekarang! Aku akan menjemputnya!”jawab Lily sengit.
“Percayalah sayang, aku akan melakukannya kalau kau bisa bersikap lebih tenang.”
“Tenang? Tenang! Apa yang kau pikirkan selama ini? Apa kurang jelas kalau aku mengatakan kalau aku menyayangi Amelia?! Aku tidak ingin dia berada dalam bahaya?! Tidak jelaskah semua itu untukmu, Wren?”
“Ada apa ini?”tanya Aleandro yang akhirnya keluar dari kamarnya setelah mendengar keributan di tangga. Dia baru saja akan istirahat setelah perjalanan panjang dari Whitehaven tadi malam saat semua keributan itu terdengar.
Lily langsung mendorong Wren menjauh dan menghampiri Aleandro, menekan d**a Aleandro dengan telunjuknya. “Kau! Kau tahu kalau Amelia dalam bahaya! Kau tahu kalau Amelia pergi ke tempat vampir itu! Kau tahu tapi kau membiarkannya pergi seorang diri! Kau tahu kalau itu semua berbahaya dan kau membiarkan pasanganmu pergi ke tempat vampir lain!”sembur Lily yang langsung membuat muka Aleandro menegang.
“Apa yang kau katakan?”geram Aleandro tanpa bisa menahan kekuatannya mengalir keluar.
“Oh, jangan bilang kau tidak tahu. Wren baru saja mengatakan kalau semuanya mengetahui masalah ini.”tukas Lily dingin.
“Bukan itu. Kau bilang kalau Amelia adalah pasanganku?”
Lily memutar bola matanya. “Demi Tuhan! Jangan menyembunyikannya lagi! Aku tahu kalau kau sudah memilikinya, tato pasangan itu!”
Aleandro tidak pernah ingin mencekik seseorang lebih besar dari keinginannya saat ini. Lily bukan hanya mengetahui apa yang disimpannya selama beberapa hari ini tapi meneriakkannya hampir ke seluruh penjuru Acasa Manor saat seluruhnya sedang berkumpul di tempat itu. Aleandro tidak butuh melihat satu persatu siapa saja yang mendengar ucapan Lily karena Aleandro dapat merasakannya kehadiran setiap orang dan tatapan mereka.
“Benarkah yang kudengar?”tanya sebuah suara begitu dingin, begitu tajam.
Aleandro dapat melihat kalau disisi lain puncak tangga Zac berdiri dengan angkuhnya, menatap Aleandro dengan sorot mata menuduh. Sementara itu di puncak tangga Navaro memeluk bahu Eliza posesif. Aleandro menatap Lily dengan geram saat Wren menghalangi pandangan Aleandro pada Lily. “Aku juga tahu, Aleandro. Kau tidak bisa menyalahkan Lily.”ucap Wren pelan.
“Ya, aku punya benda sialan itu. Dan ya, aku memang memikirkan wanita itu selama ini. Aku mungkin mencintainya. Tapi demi semua nama suci, apa hubungannya tanda ini dengan keributan saat ini?”bentak Aleandro frustasi, tidak ada lagi yang bisa dirahasiakannya.
Navaro dan Wren saling menatap sebelum keduanya beralih menatap Aleandro. “Ada hubungannya, Aleandro. Amelia mungkin sedang dalam bahaya saat ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, yang aku tahu Amelia membutuhkan pertolongan saat ini. Pertanyaannya adalah apakah kau akan ikut bersamaku?”tanya Wren cepat.
“Dia menekan benda itu?”tanya Aleandro dengan nada benar-benar tidak percaya.
Wren mengangguk. “Dan juga memasukkan darahnya. Kita hanya butuh melihat ruang kendaliku untuk melacak sinyal dan setelah itu kita bisa menemukannya dengan kekuatanku.”ujar Wren cepat. “Tapi ada yang ingin kutanyakan... Apa kau tidak merasakan sesuatu dengan tanda itu beberapa saat yang lalu?”
“Kalau yang kau maksud adalah rasa panas, maka ya, aku sudah cukup sering terganggu dengan rasa tidak nyaman itu sejak tanda itu muncul.”sahut Aleandro tajam. “Dan bagaimana kalian tahu kalau aku punya tanda sialan ini?”
“Sikapmu. Kau terlalu sering memberikan perhatian berlebih pada lenganmu. Dan kau juga sering melamun untuk ukuran vampir. Itu yang dulu kulakukan saat aku jatuh cinta pada Lily. Lagipula, tanda itu akan semakin besar seiring waktu hingga memenuhi lengan atasmu. Aku berasumsi kalau tanda itu sudah cukup besar mengingat kau selalu mengenakan baju berlengan di luar kebiasaanmu.”jelas Wren tenang.
“Maaf, apa kalian sudah selesai bicara?”sela Eliza cepat yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Wren.
“Apa?”tanya Wren dan Aleandro bersamaan.
“Lily sudah pergi.”ujar Eliza datar.
Banyaknya makhluk dengan kekuatan besar dalam satu ruangan membuat tidak seorangpun dari mereka yang menyadari kalau Lily sudah tidak ada disana. Bahkan Wren juga tidak menyadari kepergian istrinya. Dengan frustasi Wren langsung melesat ke berbagai penjuru rumah untuk mencari Lily, tapi hasilnya nihil. Lily tidak ditemukan dimanapun juga.
“Demi Tuhan! Dimana dia!?”teriak Wren frustasi saat kembali ke ruang tengah tanpa menemukan Lily.
Tidak ada yang berani mengucapkan apapun selama beberapa saat sampai akhirnya Navaro menyentuh bahu Wren pelan. “Dia disini.”bisik Navaro tepat sebelum Lily muncul tiba-tiba di sisi Wren dan sudah mengganti pakaiannya.
“Kemana saja kau, Lily Russell!? Kalau kau marah padaku kau bisa meninjuku, menyerangku, apapun yang kau lakukan akan kuterima! Tapi tolong jangan menghilang seperti tadi! Kau membuatku gila!”sembur Wren tanpa bisa mengendalikan emosinya.
Lily sama sekali tidak memperdulikan kemarahan suaminya. Dengan tenang dia berjalan menghampiri Aleandro. “Apa kau mencintai Amelia?”tanya Lily tiba-tiba.
“Apa?”
“Tanda itu tidak akan muncul kalau kau tidak memiliki perasaan untuknya. Pertanyaannya adalah apakah yang kau rasakan padanya cukup untuk membuatmu berpikir kalau dia berharga dan kau ingin menyelamatkannya?”
Aleandro mengulang ucapan Lily dalam pikirannya. Apakah Amelia cukup berharga untukku? Ya. Dia sangat berharga. Hari-hari yang kulalui tanpanya terasa menyebalkan dan aku membutuhkannya di sisiku. Tidak peduli kalau dia selalu marah dan memancing emosiku. Aku menginginkan apapun yang dia miliki!
“Ya, dia berharga.”bisik Aleandro terlalu pelan dan kemudian ada sorot keteguhan dalam matanya saat dia memandang Wren. “Aku butuh bantuanmu, sobat.”ucap Aleandro serius.
Seakan tahu apa yang diminta Aleandro, Wren langsung berbalik dan berjalan menuju ruang baca. Semuanya mengikuti langkah Wren, tapi vampir itu tidak berhenti, dia berjalan menuju deretan rak buku dan menarik gantungan lampu yang ada di sebelah rak buku hingga membuat rak itu berputar dan memperlihatkan sebuah ruangan di baliknya.
“Ini ruang kendali di rumah ini. Kita akan mencari dimana sinyal itu dipancarkan.”ujar Wren menjawab pertanyaan yang belum sempat diucapkan oleh siapapun.
Wren duduk di depan salah satu Wrenar komputer dan mengaktifkan beberapa program sebelum tersenyum puas. “Kita akan melakukan perjalanan ke Sydney. Tapi sebelum itu kita harus istirahat malam ini. Kita akan berangkat besok setelah matahari terbenam.”
“Aku ingin berangkat sekarang, Wren.”ucap Aleandro tajam.
“Aku tahu kalau saat ini kau ingin sekali bertemu dengan Amelia, apalagi setelah tanda itu muncul. Tapi percayalah, jauh lebih baik kalau kita merencanakan segalanya sebelum pergi ke tempat itu. Aku tidak ingin mati sia-sia disana, sobat.”
Aleandro menatap Wren tidak percaya. Sejak tadi Wren memang mengatakan kita, tapi Aleandro tidak berpikir tentang itu sampai saat ini. “Kita? Aku ingin pergi sendiri!”
“Tentu saja kita, kau mungkin yang akan berhadapan dengan Kang Conrad, tapi kau tidak akan bisa menghadapi seluruh klan Kang Conrad. Itulah gunanya aku ikut denganmu.”jelas Wren ringan.
Aleandro sama sekali tidak berusaha membantah ucapan Wren, dia hanya berbalik dan menatap Navaro dan Zac bergantian. “Kalian?”
“Aku rasa Eliza akan mengusirku dari kamar kalau aku membiarkan kedua orang ini pergi menantang maut.”sahut Navaro cepat lalu mengecup puncak kepala istrinya.
“Aku akan pergi kemanapun selama tidak berada satu kota dengan para anjing itu.”sahut Zac tenang.
“Kalian mungkin akan ikut ke Sydney. Tapi tidak akan melakukan apapun. Ini pertarungan Aleandro, dia yang akan menghadapi Kang Conrad. Aku dan Zac akan menghadapi siapapun yang berusaha menghalangi mereka. Dan sementara itu kau akan menjaga Lily dan Eliza di pesawat, Navaro.”ujar Wren cepat.
Lily langsung menghampiri suaminya. “Aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan, Sire.”bisik Lily dingin.
“Oh, tidak!”desis Wren yang langsung menangkap apa maksud ucapan istrinya. “Tidak, tidak, tidak. Kau tetap di pesawat bersama Navaro dan Eliza, Zac. Aku dan Lily yang akan menemani Aleandro. Aku lebih memilih melihat istriku bertarung dan melindunginya sendiri daripada dia tiba-tiba kabur dari pesawat dan menceburkan diri tiba-tiba ke dalam pertarungan.”sambung Wren kemudian tanpa dibantah oleh siapapun.
Tepat 19 jam kemudian, sebuah pesawat jet mengudara di landasan Heathrow dengan tujuan Sydney. Pesawat milik Wren itu memiliki interior yang sangat memanjakan para penumpangnya. Wren memiliki kabinnya sendiri, sementara yang lain duduk di tempat duduk tunggal yang sangat nyaman di kabin besar di depan.
“Kenapa kau disini dan bukannya di kabinmu sendiri?”tanya Aleandro saat melihat Wren duduk di kursi kosong di seberang tempat duduknya.
Wren melirik ke belakang, tempat kabinnya berada sebelum menatap Aleandro enggan. “Lily masih marah. Dia mengusirku keluar.”bisik Wren enggan.
“Apa memang seperti ini rasanya?”tanya Aleandro tiba-tiba.
“Apa?”
“Punya pasangan. Apa seperti ini yang kau rasakan dulu saat Lily terancam bahaya? Ingin melakukan apapun agar dia berdiri di depanmu dalam keadaan selamat. Tidak bisa berhenti memikirkannya. Selalu ingin menyentuhnya. Dan selalu resah kalau dia tidak ada dalam jangkauanmu. Apa memang seperti ini rasanya saat kau menemukan pasanganmu?”gumam Aleandro pelan.
Wren menatap Aleandro penuh pengertian. “Ya. Seperti itulah rasanya. Kau akan terbiasa, Aleandro. Pertama ini mungkin memang sangat aneh. Kita yang tidak pernah memperdulikan siapapun, selalu bergerak seorang diri menantang bahaya, mencintai kesendirian lebih dari apapun dan tiba-tiba kita dihadapkan dengan situasi dimana kita tidak lagi bisa melakukannya seorang diri.”ucap Wren serius.
Aleandro menundukkan kepalanya dan menutup wajah dengan kedua kepalanya. “Aku tidak suka perasaan ini. Rasanya lebih menyiksa dibandingkan tidak mendapatkan darah selama berbulan-bulan.”bisiknya.
“Kau bisa menguburnya kalau kau mau. Pertanyaannya adalah apakah kau cukup kuat untuk menjaga jarak dari dia? Apakah kau cukup kuat untuk mengobati luka itu seorang diri? Kuatkah kau saat melihatnya bersama pria lain yang bisa menyentuh tubuh dan jiwanya? Karena aku tidak cukup kuat untuk melepas Lily pergi, Aleandro. Walau kita makhluk paling kuat sekalipun di dunia, tapi kita selalu menjadi yang paling lemah untuk bisa melepas mereka. Dan aku yakin kau juga tidak cukup kuat untuk melepas Amelia.”
“Aku tidak mengharapkan ini saat mendekatinya. Aku hanya ingin menikmati semua kesenangan itu.”
Wren tersenyum memandang Aleandro yang masih menutup wajah dengan tangannya. “Mungkin kau tidak sadar, tapi sejak pertama kali kau dan Amelia bertemu, kau cenderung melindunginya.”
“Aku tahu. Saat itu aku melakukannya hanya karena dia anggota klanmu.”bisik Aleandro. “Aku benci melihatnya yang tidak kenal takut. Aku benci dengan sifat pemberontaknya. Aku benci dengan sifatnya yang terkadang terlalu baik hingga membahayakan dirinya sendiri. Aku benci dengan keingintahuannya yang sangat besar.”
“Dan kau juga benci kalau dia meninggalkanmu seperti saat ini, karena itu kau mengajukan diri untuk langsung membunuh Kang Conrad, bukan?”
“Aku hanya bertindak spontan saat itu.”
“Percayalah, sobat. Semakin keras kau berusaha menghindari perasaan ini, semakin kuat cengkramannya di jiwamu. Saat kau sudah terbiasa dengan perasaan baru ini, kau akan menyadari kalau hidup yang selama ini kita jalani tidak pernah seindah saat kau bertemu dengan pasanganmu.”
“Bagaimana kalau dia tidak memiliki tanda itu?”
Wren terdiam. Dia memutar otaknya untuk mencari jawaban. “Aku tidak tahu. Aku hidup belum terlalu lama untuk mempelajari misteri ini. Tapi percayalah, aku yakin kalau saat tanda itu muncul di tubuhmu, tanda yang sama juga muncul di tubuh pasanganmu, karena itu yang terjadi padaku.”
“Bagaimana kalau ternyata ada yang memiliki tanda lain selain aku?”
Wren bangkit dan menyentuh bahu Aleandro lembut. “Ayo kita berdoa pada apapun agar itu tidak pernah terjadi.”bisik Wren sebelum berjalan menuju kabinnya sendiri, memutuskan untuk merayu Lily agar dia diizinkan beristirahat bersama istrinya itu.