Wagner menatap Lily penuh curiga sebelum tatapan itu kembali normal. “Kau mengenalku?”
“Tentu saja aku mengenalmu, Wagner. Kau sudah membuat suamiku cukup kesusahan belakangan ini dan itu membuatku tidak suka.”tukas Lily cepat.
“Kau sudah punya suami?”tanya Wagner tidak percaya lalu menatap Lily dan Kau bergantian. “Kalau begitu kenapa kau begitu mencemaskan keadaannya?”tanya Wagner lagi kali ini menunjuk Aleandro.
“Ya. Dia cukup sering menyebut namamu belakangan ini. Dan aku pikir, aku harus mencemaskan Aleandro.”
“Dengan segala hormat, lady, siapa suamimu? Apakah aku mengenalnya? Karena aku jelas merasakan kalau kau bukanlah bangsa kami dan bukan pula bangsa penghisap darah. Aku tidak merasakannya dari dirimu.”
Lily memberikan Wagner sebuah senyuman yang menurut siapapun bukanlah senyuman tulus. “Aku bukan bangsamu, my lord. Aku juga bukan bangsa vampir, walau aku termasuk dalam salah satu klan mereka. Dan ya, aku pikir kau cukup mengenal suamiku.”ucap Lily cepat. “Kau pasti pernah mendengar namanya, Wren adalah suamiku.”
Bagi Wagner, tidak ada yang lebih mengejutkannya daripada apa yang baru saja diucapkan oleh wanita di hadapannya ini. Entah kenapa Wagner yakin kalau wanita ini bukan manusia biasa mengingat sudah dua kali dia bertemu wanita ini di tengah-tengah kumpulan monster. Tapi apa yang wanita ini katakan tetap saja bukan hal yang bisa dipercaya dengan mudah oleh siapapun mengingat pemilik nama itu juga merupakan salah satu monster menyusahkan yang pernah Wagner temui.
“Kau tidak bermaksud mengatakan kalau Wren si penghisap darah itu adalah suamimu, bukan? Kau pasti merujuk pada Wren yang lain.”ujar Wagner berusaha mencari penjelasan paling mudah.
“Wren si penghisap darah lah yang kumaksud, my lord. Jadi amat sangat wajar kalau aku mencemaskan Aleandro mengingat apa hubungannya dengan suamiku. Dan terima kasih sudah mencemaskan keselamatanku dan menolongku tadi. Jujur, aku tidak membutuhkan itu semua.”balas Lily tenang lalu meninggalkan Wagner yang masih tercengang dan ikut bergabung bersama Aleandro dalam pertarungan.
Aleandro tidak menyangka kalau Lily memilih langsung terjun dalam pertarungan daripada kembali ke tempat Wren dan membawa Wren ke tempat ini. Dengan cepat Aleandro meredam kembali kekuatannya dan bertarung dengan tangan kosong mengingat saat itu dia tidak membawa pedang pemberian Wren yang tertinggal di mobil yang mereka tinggalkan di Cheltenham. Aleandro sudah menghabisi lebih dari 5 werewolf saat dia mendengar teriakan Lily. “Sudah kukatakan agar kau pergi, sialan!”bentak Aleandro tanpa melihat apa yang terjadi pada Lily. Dan saat Aleandro berbalik untuk melihat apa yang sebenarnya sudah terjadi, dia mendapati Lily terbang dengan bola api malaikat di salah satu tangannya alih-alih melihat wanita itu terluka.
“Sorry.”ucap Lily ringan. “Aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Aku hanya terkejut dengan serangan mereka dan memutuskan bertarung di udara lebih menguntungkan bagiku.”ucap Lily diiringi senyum tulus untuk menegaskan permintaan maafnya.
Umpatan kesal mengalir lancar dari mulut Aleandro tepat pada saat seseorang menggenggam pergelangan tangannya dan tiba-tiba saja Aleandro sudah berada dalam pusaran udara itu lagi. Sensasi yang membuat manusia akan mengeluarkan isi perut mereka saat semuanya berakhir. Aleandro membelalakkan matanya saat semua sensasi itu berakhir dan mendapati Wagner memegang tangannya. “Aku tidak membutuhkan rasa terima kasihmu.”gumam Wagner cepat sebelum kembali menghilang, meninggalkan Aleandro di sebuah tempat yang belum dikenalnya.
Sekali lagi rentetan ucapan kotor mengalir dari mulut Aleandro. Aleandro baru saja akan memperpanjang umpatannya saat dia mendengar suara geraman tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan cepat Aleandro membalik tubuh dan mendapati Lazaro berada tidak jauh dari tempatnya sekarang. Lazaro tidak sendirian. Dia bersama dua ekor werewolf lainnya.
“Sudah cukup kau berlari dariku, Lazaro.”ujar Aleandro datar. Memutuskan untuk saat ini dia akan menyimpan kekesalannya pada Wagner untuk lain hari. Ada musuh lain yang harus dihadapinya.
Tidak ada jawaban. Alih-alih jawaban, Aleandro hanya mendapatkan geraman dari para werewolf di hadapannya. Tapi walaupun tidak ada yang bicara, Aleandro bisa dengan mudah membaca pikiran Lazaro saat itu juga. “Seperti yang kau lihat. Rajamu sendiri yang membantuku. Kau sudah diburu oleh kami dan kaummu sendiri, Lazaro. Percayalah, kau akan menginginkan kematian dariku daripada penderitaan dari kaummu sendiri.”
Sekali lagi Lazaro menggeram, dan tiba-tiba saja salah satu dari werewolf yang berjaga di belakangnya langsung melompat menyerang Aleandro. Seakan bisa membaca apa yang akan terjadi, Aleandro langsung menghindari serangan itu dengan mulus. Senyum angkuh langsung terukir di wajah vampir tampan itu. “Ah, sayang sekali. Maaf kalau tubuhku refleks menghindarinya dan itu membuat temanmu terlihat bodoh, bukan? Aku janji kali ini aku tidak akan menghindar.”ejek Aleandro yang sepenuhnya sudah melupakan kekesalannya pada Wagner dan melupakan kalau di tempat yang lain Lily masih bertarung seorang diri.
Werewolf itu kembali menyerang. Aleandro membuktikan ucapannya, dia tidak menghindar tapi berdiri dia menanti serangan itu. Tepat saat were itu hendak menerkam kepalanya, Aleandro menjulurkan tangannya dan meninju sisi kepala were itu dan membuatnya terpental jauh. “Tepat sasaran.”gumam Aleandro spontan.
Were itu segera bangkit dan kembali menyerang Aleandro. Kali ini Aleandro tidak hanya diam, dia berlari kearah were itu dan dengan sekali lompatan, Aleandro sudah berpindah ke samping were itu, melayangkan tinjunya ke sisi perut were itu. Dengkingan tajam membelah udara saat were itu kembali jatuh tersungkur. Melihat temannya menjadi mainan Aleandro, were yang lain langsung ikut menyerang Aleandro. Tapi mereka melupakan kenyataan kalau Aleandro bisa membaca pikiran siapapun. Dengan satu gerakan ringan Aleandro melayangkan tendangannya ke belakang sambil berputar, disusul dengan sebuah tinju yang tepat menghantam moncong werewolf itu. Tidak hanya sampai disitu, Aleandro mengulurkan kedua tangannya ke arah kedua werewolf yang menyerangnya dan mengangkat keduanya ke udara dengan kekuatan telekinetisnya. Dengan sekali ayunan tangan kedua were itu berbenturan di udara, suara tulang retak kali terdengar jelas disusul dengkingan memilukan dari keduanya.
“Alam tidak pernah membiarkan kalian memiliki kekuatan lebih dari bangsa vampir.”ucap Aleandro tenang lalu langsung menjatuhkan kedua tubuh were yang terluka itu kembali ke tanah.
Dalam sekejap kedua werewolf itu berubah kembali ke wujud manusia mereka dan salah satu diantaranya adalah seorang wanita. Aleandro melangkahi tubuh mereka begitu saja dan menghampiri Lazaro.
“Kau pengecut, Lazaro. Kau membiarkan kawananmu melawanku lebih dulu. Apa yang kau harapkan? Berharap aku akan kelelahan dan saat kau maju kau bisa mengalahkanku? Kenapa tidak kau sendiri yang maju, Lazaro?”tanya Aleandro dingin_dengan sengaja_sekali lagi melepaskan kekuatannya.
Lazaro melangkah mundur sebelum menerjang Aleandro dengan tiba-tiba. Aleandro sama sekali tidak menghindari serangan Lazaro. Dia hanya diam saja dan jatuh berguling begitu tubuh were Lazaro menghantamnya. Aleandro dan Lazaro bergulingan di tanah. Beban tubuh Lazaro membuat Aleandro terperangkap dibawah werewolf itu. Bukannya merasa takut atau gelisah, Aleandro malah tersenyum dan semakin lama menyeringai lebar.
Lazaro baru saja akan mengigit Aleandro saat seluruh tubuh Aleandro sekali lagi diselimuti listrik tegangan tinggi, membuat Lazaro langsung melompat menjauh dari Aleandro. “Ah, kau benar, sobat. Ini salah satu alasan kenapa Zac menjadikanku eksekutor. Bagaimana? Kau manyukai sensasinya?”tanya Aleandro yang bangkit dengan gerakan anggun khas vampir.
Lazaro menggeram, jelas kesal dengan kekuatan Aleandro. Itu artinya Lazaro tidak bisa menyerang Aleandro dalam wujud werewolf. Aleandro memiliki pertahanan sempurna untuk serangan jarak dekat. Dalam sekejap Lazaro sudah kembali berwujud manusia. “O’ow~ Aku tahu kau termasuk tampan, sobat. Tapi bisakah kau mengenakan sesuatu sebelum kita bertarung? Aku tidak yakin kalau aku bisa memaksa diriku untuk nyaman melihatmu seperti itu. Bagaimanapun aku masih normal dan lebih manyukai melihat wanita telanjang daripada pria telanjang.”ujar Aleandro seolah mereka ada disana bukanlah untuk bertarung.
Aleandro berbalik, berjalan menuju pagar pembatas pertokoan dan duduk disana saat sebuah belati terbang ke arahnya dan langsung jatuh sebelum sempat melukainya. Dengan malas Aleandro menatap belati dan Lazaro bergantian. Were itu sudah mengenakan sesuatu untuk menutup bagian pinggang ke bawah, secarik Aleandron yang hanya diikatkan sembarangan. “Mungkin akan berhasil kalau kau melemparnya dengan tenaga.”gumam Aleandro sambil meraih belati itu dan melemparkannya kembali ke arah Lazaro.
“Suatu saat, kesombonganmu itu akan menghancurkanmu.”geram Lazaro.
“Tentu. Aku selalu berpendapat akan ada konsekuensi atas segala kelebihan yang kita miliki. Dan sepertinya kesombonganku memang berlebihan dan pasti akan ada akibatnya. Aku percaya itu.”balas Aleandro santai.
Keheningan yang merebak selama beberapa detik itu dipecahkan oleh umpatan kasar dari Lazaro. Dan disaat yang sama Aleandro langsung waspada saat menyadari ada kekuatan besar yang sedang mendekat. Otot-ototnya mengendur saat mengenali kekuatan yang menyesakkan manusia itu. “Belajar dari ahlinya. Kau mulai suka membuat kemunculanmu menjadi sesuatu yang dramatis, Wren.”gumam Aleandro pelan.
“Dan kau cenderung melupakan kalau para anjing ini bisa melakukan perpindahan tempat, Aleandro.”ujar Wren yang dengan anggunnya melakukan pendaratan tepat diantara Aleandro dan Lazaro.
“Kau ingin bilang kalau dia akan berteleportasi?”tanya Aleandro tidak percaya.
Wren mengangguk tenang. “Kau akan kehilangan dia, dan mungkin segalanya akan terlambat kalau kau kembali kehilangan dia. Sekarang, jangan bermain-main, sobat. Selesaikan tugasmu dan kita semua bisa kembali ke London.”
“Dia tidak bergerak. Lagipula, Wren, Lazaro tidak bisa melakukannya.”
“Kekuatanku, Aleandro. Berterima kasihlah pada Zac karena dia aku memiliki kekuatan ini.”ucap Wren pelan, merujuk pada kekuatan telekinetisnya. “Dan masalah itu... Lakukan sajalah, Aleandro. Aku tidak ingin Wagner yang membunuhnya saat dia jelas masih berada dalam wilayahku.”
Aleandro mengangguk paham sebelum berjalan mendekati Lazaro. “Aku mengakui kalau kau yang pertama bisa menghindariku selama ini. Membuat berbagai jejak palsu dan membuatku mempercayainya. Kau hebat, sobat. Tapi apa yang kau lakukan membuatku tetap harus membunuhmu. Tidak, bukan hanya aku, tapi juga kaummu sendiri. Kalau saja kau bisa berpikir sedikit lebih cerdas, kau tidak akan melakukan ini semua.”
“Berhentilah mengomel, Aleandro. Aku ingin segera kembali ke London.”tegur Wren geram.
Aleandro memberikan Wren tatapan tajam sebelum mengulurkan tangan ke arah Lazaro. “Salahkan nasibmu karena terlahir sebagai werewolf yang tidak akan pernah memiliki kekuatan lebih dari kaumku.”bisik Aleandro pelan dan dengan satu gerakan cepat mematahkan kepala Lazaro hingga terlepas dari tubuhnya.
***
*Amelia POV*
Enam hari.
Sudah hampir seminggu aku berada disini. Tapi aku masih belum mendapatkan jawaban apapun dari Conrad. Dia hanya menemuiku saat jam makan tiba. Walaupun dia tidak makan makanan manusia, tapi dia selalu menemaniku untuk makan. Dan setelah itu dia kembali menghilang. Semua pembicaraan selama makan juga selalu dibatasinya hingga tidak satupun yang menyinggung masalah penyerangan ke London ataupun alasannya kenapa membiarkanku tetap hidup. Sejujurnya aku sekarang tidak begitu memperdulikan jawaban apa yang akan dia berikan. Aku ingin sekali keluar dari tempat ini. Tapi semuanya sudah kulakukan dan tidak ada cara untuk keluar dari tempat ini tanpa bertarung dengan anggota klannya. Dan aku tidak percaya kalau anggota klan Conrad itu bisa kukalahkan dengan mudah.
Sekali. Hanya sekali kami melakukan pembicaraan serius. Itu adalam malam kedua aku disini. Saat itu Conrad bersedia mengatakan apa alasan dia memberikan darahnya pada werewolf.
“Tidak ada alasan, Amelia. Mereka menginginkan kekuatan, dan aku memberikannya. Darahku, Amelia, memiliki kekuatan yang lebih dari seorang vampir master sekalipun. Lagipula, aku tidak punya dendam pribadi dengan mereka.
Aku masih berdiri di beranda kamarku di lantai dua saat kudengar seseorang mengetuk pintu. Manusia. Dan seperti biasanya, selalu diganti. Sejak aku tinggal di tempat ini, Conrad mempekerjakan manusia untuk memenuhi kebutuhanku. Dan selama 6 hari aku tinggal disini, sudah ada pergantian pelayan nyaris 3 kali karena entah bagaimana pelayan yang lama hilang. Aku tidak bodoh untuk tidak menyadari kalau salah satu dari klan Conrad yang tinggal di rumah ini menghisap darahnya terlalu banyak hingga mereka kehabisan darah.
“Masuk.”ujarku cukup kuat agar dapat di dengar oleh si pengetuk pintu.
“Maaf mengganggu, Ms. Williams. Master ingin anda segera turun untuk makan malam. Dia sudah menunggu di ruang makan.”ujar wanita itu sopan.
Menunggu? Hah. Kali ini biarkan saja dia menunggu!
“Aku tidak lapar, Brigita. Katakan pada Master-mu kalau aku tidak akan turun.”ujarku cepat.
Wajah wanita itu langsung diselimuti kekalutan. Matanya bergerak resah mencari sesuatu seolah sedang menunggu pertolongan. “Master akan marah.”
“Katakan padanya kalau dia ingin marah, temui aku.”
“Dia tidak akan senang, Ms. Williams.”
Aku berbalik dan menatap Brigita tajam. “Katakan saja apa yang kukatakan ini padanya. Dia harus menemuiku cepat atau lambat dan aku menolak menundanya lebih lama.”tegasku sebelum berbalik kembali menatap pemandangan malam.
Sesaat kemudian aku mendengar bunyi pintu di tutup dan kembali menikmati keheningan di kamarku. Tapi itu tidak bertahan lama karena beberapa saat kemudian pintu kamarku menjeblak terbuka dan seseorang melangkah masuk. Bahkan sebelum orang itu melangkah masuk aku sudah merasakan auranya. Conrad jelas tidak senang dengan apa yang disampaikan Brigita.
“Apa yang kau inginkan, Amelia? Kenapa kau bilang kalau kau tidak lapar?”tanya Conrad tenang.
Aku segera berbalik, memutuskan untuk berhenti bersikap sebagai wanita baik-baik. Dan kalau dia berharap menemukan wanita yang selama 6 hari ini berdiam diri, maka dia harus kecewa. “Berhenti bersikap baik padaku! Aku disini bukan untuk menjadi simpananmu, barang milikmu, apalagi cuma untuk berdiam diri di dalam rumah. Aku kesini untuk menanyakan kenapa kau membiarkanku hidup saat itu padahal kau jelas bisa membunuhku! Dan kenapa kau menyerang London hanya untuk membawaku ke tempat ini? Jangan harap kau bisa menghindar lagi, Conrad! Aku bersumpah akan pergi dari tempat ini kalau kau tidak mengatakan yang sebenarnya!”semburku dengan segala kekesalan yang selama seminggu ini kupendam.
“Apa kau akan tetap disini kalau aku menjawab semua pertanyaanmu?”
“Tentu saja tidak! Aku bukan milikmu!”
Tiba-tiba saja Conrad sudah berdiri di depanku dan meraih tanganku. “Kau pasti tahu apa artinya ini bukan?”tanya Kang Conrad sambil mengelus punggung tanganku, dimana seminggu yang lalu tidak terdapat apapun, tapi kini sudah ada ukiran kuno disana. Sama seperti yang dimiliki oleh Lily. Tato pasangan. Pertama kali aku melihat tanda itu aku benar-benar terkejut. Aku tidak pernah membayangkan ditubuhku akan muncul tanda itu, tanpa kalau aku berpasangan dengan seorang vampir.
“Apa hubungannya ini dengan keadaan sekarang?”tanyaku dingin.
Dan sekali lagi dalam gerakan yang sangat cepat, Conrad melepaskan tanganku dan kemudian membuka kemeja yang dikenakannya. Terkejut bukan kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang kulihat di lengan kanannya. “Kau tidak bisa pergi dariku.”bisik Conrad sambil menjatuhkan kemejanya ke lantai.
Tanpa sadar tanganku terulur untuk menyentuh tato itu dengan tangan kananku. Ada tato kuno juga disana walaupun ukirannya jauh lebih rumit daripada tato di tanganku dan sedikit berbeda dari milikku. “Tidak mungkin...”bisikku dan dengan cepat kembali menarik tanganku menjauhinya.
Tapi sepertinya Conrad tidak menginginkan hal yang sama. Dia merengkuh pinggangku dan mendekapku erat. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, Amelia. Tidak setelah apa yang terjadi ini. Kau adalah pasanganku. Aku gila kalau aku membiarkanmu pergi ke perlindungan vampir lain sementara aku adalah pasanganmu.”
“Ini tidak mungkin! Kita hanya duduk, makan_hanya aku, bahkan kita jarang bicara. Tidak mungkin tato ini untuk kita!”ucapku histeris, berusaha menyangkal kenyataan yang ada di hadapanku ini.
Conrad menggigit lembut bahuku lalu menelusurkan lidahnya di bekas gigitan itu. Berkali-kali dia melakukan hal itu. “Jelas kau tidak tahu kalau tato itu akan muncul saat sepasang kekasih bertemu, tidak peduli kalau mereka hanya berpapasan di jalan begitu saja.”bisik Conrad yang berhasil membuatku terangsang. Sialan dia.
“Kalau begitu, kenapa kau menghindariku selama ini?”tanyaku begitu saja sambil berusaha menahan rasa frustasi di antara kedua pahaku.
“Karena aku tahu kalau kau akan bereaksi seperti ini. Aku ingin kau menerimaku tanpa harus terpaksa. Aku ingin kau menerimaku seperti aku menerimamu. Aku ingin segalanya berjalan lancar dan perlahan.”ucap Conrad dengan kelancaran yang membuatku berpikir kalau dia memang jujur.
Demi Tuhan! Aku pikir aku menyayangi Aleandro selama ini! Aku pikir aku merindukan Aleandro selama ini! Aku pikir tanda itu milik Aleandro!teriakku dalam hati.
Aku masih terlalu shock dengan semua kejadian ini saat Conrad menancapkan taringnya ke leherku. “Kau...”ucapku terputus saat kegelapan mengaburkan pikiranku.
Aku terbangun dengan kondisi sangat lemah. Rasanya aku bahkan tidak akan sanggup menggerakan kaki dan tanganku. Aku tidak pernah merasa selemah ini sebelumnya. Sialan Conrad, dia pasti menghisap darahku sangat banyak. Aku masih memejamkan mataku, menolak untuk membuka mata karena aku ingin sekali tertidur tapi entah kenapa firasatku mengatakan kalau apapun yang terjadi aku harus bangun.
Hal pertama yang aku sadari begitu membuka mata adalah kenyataan kalau aku terbaring di ranjang yang bukan di kamarku! Aku hampir melompat dari tempat tidur saat fakta itu menyerangku, aku telanjang!
“Sialan Conrad!”seruku kuat tidak peduli apakah dia mendengarnya atau tidak.
Belum lagi kekesalanku mereda, aku mendapati kalau seprai yang kutiduri ada bercak darahnya, begitu juga dengan telapak tangan kananku. Tidak ada luka disana, hanya ada bekas darah mengering_sangat sedikit. “Apa yang dilakukannya padaku sebenarnya!!”geramku sambil turun dari tempat tidur, mencoba berdiri hanya untuk mendapati kalau tubuhku benar-benar lemah dan terjatuh kembali di sisi ranjang.
“Apa yang kau lakukan?”tanya sebuah suara saat sepasang tangan kuat membantuku duduk kembali di tepi ranjang.
Aku mendongak dan mendapati Conrad menatapku tanpa ekspresi. “Apa yang kau lakukan padaku, sialan!?”
“Kalau kau pikir aku sudah memanfaatkan tubuhmu untuk kepuasanku, kau salah, Amelia. Aku tidak tertarik untuk bercinta dengan wanita yang tidak sadar.”jawab Conrad sambil duduk di sebelahku.
“Lalu apa yang kau lakukan?”tanyaku mulai frustasi, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padaku.
Conrad menatapku tajam kali ini, kilau hijau di matanya terlihat jelas. “Aku hanya menghisap darahmu, dan menyatukan darah kita. Menikah dalam hukum vampir.”ujarnya tenang, terlalu tenang untuk semua kegilaan yang dia lakukan.
“APA!?”
Aku lebih memilih mendengar kalau dia memperkosaku, meniduriku, atau melakukan sesuatu yang b***t pada tubuhku daripada hal ini. Menikah? Oh tidak!