15

3012 Kata
*Aleandro POV* Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada masalah ini. Aku tidak tahu bagaimana caranya yang jelas ada beberapa dari kawanan Lazaro yang memiliki bau sama dengannya hingga membuat kami berkali-kali terkena jebakan mereka dan harus berputar jauh dari tujuan kami semula. Dan malam ini, kami ketiga kalinya mendapati kalau kawanan yang muncul bukanlah kawanan Lazaro. Semuanya seolah dipersiapkan untuk mengacaukan pencarian kami. Disaat seperti ini Amelia-lah yang paling bisa diandalkan. Wanita itu melacak melalui aura. Dan itu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa disamarkan atau dipalsukan karena pancaran kekuatan yang mengalir dari setiap werewolf itu selalu sama, kecuali kau adalah sang raja. Tiba-tiba saja aku ingin membenturkan kepalaku dengan benda apa saja agar wanita itu hilang dari pikiranku. Sejak aku memulai misi ini, pikiranku sudah berhasil menghalaunya pergi. Tapi setiap kali aku berusaha memikirkan suatu rencana, wajah wanita itu yang muncul dalam ingatanku. Sial! Sementara masalah ini tidak kunjung selesai, dua orang yang ikut berburu bersamaku ini malah semakin membuatku tegang. Lily tidak menolak saat L mendekatinya, menyentuhnya. Untung saja dia bukan pasanganku, karena kalau aku mendapati pasanganku disentuh oleh pria lain, aku akan memastikan kalau pria itu akan menemui kematian lebih cepat dari yang seharusnya. Malam ini, atas permintaan Lily_paksaan lebih tepatnya_kami akhirnya beristirahat di alam terbuka. Tidak ada penginapan di daerah ini. Brough adalah kota yang cukup kecil di Inggris. Lily sedang tidur di dalam mobil saat kulihat L berjalan mendekati mobil. Apa yang dilakukan were itu disana? Kami sudah sepakat kalau aku dan L akan tidur di alam bebas sementara Lily di dalam mobil. Jadi kenapa dia mengendap-endap seperti itu? Aku terus memperhatikan L dalam keheningan. Were itu sudah sampai di sisi tempat Lily tertidur dan kemudian membuka pintu mobil dengan sangat pelan. Aku sangat yakin kalau dia nyaris tidak menimbulkan suara. Sepertinya dia meraih tuas untuk memundurkan tempat duduk karena beberapa saat kemudian tempat duduk yang ditiduri Lily mulai mundur, hingga posisi Lily saat ini setengah berbaring. L mencondongkan tubuhnya ke arah Lily. Oh tidak! Dia akan mencium Lily! Aku baru saja akan bergerak menjauhkan L saat were itu tiba-tiba saja sudah terhempas ke batang pohon jauh di belakangnya. Demi semua nama suci! Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan pemuda itu saat ini. Entah sejak kapan, entah datang darimana, saat ini Wren sudah berdiri di pintu mobil disisi Lily yang masih tertidur pulas. Kemarahan terpancar jelas dari seluruh tubuh Wren. Dengan cepat aku menghampiri Wren. “Aku tidak merasakan kehadiranmu.”ucapku berusaha mencairkan ketegangan, bukan karena aku membela L, tapi karena aku tidak ingin ada darah yang terbuang sia-sia malam ini. “Navaro mengirimku kesini tepat pada waktunya sebelum b******n itu menyentuh istriku.”geram Wren jelas tidak ingin memberi ampun pada Lorenz. Kekuatannya mulai memenuhi udara dan membuat binatang-binatang di sekitar kami bisa merasakan perubahan energi itu. Burung-burung yang sedang bertengger di dahan langsung terbang berhamburan menjauhi tempat kami berdiri saat ini. Ya, kalau Wren masih memilih untuk bersikap bodoh seperti ini dan ingin memamerkan kekuatannya maka akan terjadi imigrasi binatang mendadak dari tempat ini. “Bisakah kau sedikit tenang? Aku sedang tidak ingin melihat drama perebutan wanita malam ini. Lagipula istrimu itu butuh istirahat, kalau dia mendengar keributan, dia akan terbangun dan nanti pasti akan memaksa untuk berhenti dan istirahat kembali.”ujarku cepat. “Ini terakhir kalinya aku memberikanmu kesempatan untuk hidup, Lorenz. Sekali lagi kau mencoba menyentuh Lily tanpa izinnya, bahkan seperti malam ini, kau akan merasakan apa yang disebut neraka dunia. Ingat sumpahku.”ucap Wren datar lalu berbalik memandang Lily yang masih tertidur pulas bahkan setelah insiden kecil ini. Dengan sangat lembut Wren mengangkat tubuh Lily dan mendekapnya dalam pelukan, mengeluarkan Lily dari mobil. Saat itulah mata Lily perlahan terbuka. “Wren?”bisiknya serak. “Aku disini, amour.”balas Wren dan langsung membawa Lily pergi. “Kemana kau akan pergi?”tanyaku spontan. “Menjauh dari anjing itu.”sahut Wren cepat sambil membawa Lily menuju salah satu pohon dan mendudukkan Lily di tanah sebelum dia sendiri ikut duduk di sebelah wanita itu. Dalam satu gerakan ringan Wren membaringkan kepala Lily dipangkuannya. “Tidurlah. Aku akan menjagamu.”ucap Wren sarat kasih sayang, menunduk dan kemudian mengecup bibir istrinya. Eugh! Mereka selalu tidak pernah bisa melihat waktu dan tempat untuk memamerkan drama percintaan mereka. Saat itulah rasa panas menyengat bahu kananku. Tanpa sadar aku mengibaskan tanganku berkali-kali berusaha mengusir rasa panas itu. Wren yang melihatku hanya menatapku dengan aneh. “Kau kenapa?”tanyanya. Aku kembali membiarkan tanganku jatuh di samping tubuhku. “Tidak ada. Aku akan berjaga di tempatku tadi.”ucapku sambil berjalan menuju tempatku semula. “Aleandro...” Aku berhenti dan berbalik menatap Wren. “Amelia bilang dia baik-baik saja.”ujar vampir itu datar. “Lalu? Dia tidak ada hubungannya denganku, Wren.”jawabku terlalu cepat, bahkan aku sendiri tahu kalau aku sedang berbohong. Wren menatapku dengan tatapannya yang biasa. Tatapan yang selalu berhasil membaca isi hatiku. “Benarkah?”tanyanya. “Sudahlah. Jaga saja Lily. Kita tidak tahu kapan kita akan diserang.”ujarku kembali melanjutkan langkahku kembali ke tempatku semula. Sekali lagi panas itu kembali menyengat bahuku, dan sekali lagi aku tanpa sadar mengibaskan tanganku begitu saja, mengundang tatapan tajam dari Wren. Dengan sengaja aku mengalihkan tatapanku darinya, memperhatikan L yang sedang berusaha bangkit dan mencari tempat untuk tidur setelah dihempaskan dengan sangat kuat oleh Wren. Aku sedang tidak ingin memikirkan kemungkinan apapun yang terjadi padaku. Aku benar-benar harus mengistirahatkan pikiranku dari segala hal malam ini. Terutama bayangan Amelia, yang belum-belum sudah membuatku merindukan kehadirannya dalam pelukanku lagi. Setelah misi ini selesai, aku bisa menghabiskan waktu dengan wanita manapun yang kuinginkan.bisikku pada diriku sendiri sambil menatap langit yang penuh bintang. Tapi... Benarkah Amelia baik-baik saja saat ini? Aku ingin melihatnya langsung, menyentuhnya...   “Jejak palsu lagi.”geramku saat kami sampai di Kirkby. Hari sudah sangat larut saat kami tiba di salah satu pedesaan. Memang itu tujuan kami, agar tidak banyak yang menyadari keberadaan kami. Bergerak dalam gelap adalah keahlian bangsa vampir. Aku berjalan berkeliling sambil memikirkan kemungkinan apa yang bisa kulakukan kalau Lazaro benar-benar sudah sampai di Whitehaven saat Wren menyentuh bahuku pelan. “Tenanglah...”ujar vampir itu ringan. “Tenang kau bilang? Ini pertama kalinya aku merasa tertipu dan bodoh, Wren. Terlalu banyak jejak Lazaro tapi tidak satupun yang mengarahkan kita padanya. Aku berpikir bagaimana kalau keputusanku selama ini ternyata salah? Bagaimana kalau ternyata dia sudah jauh dari Inggris? Sudah terlalu lama pencarian ini berlangsung tanpa hasil!”semburku begitu saja. Tangan Wren meremas bahuku cukup kuat. Kalau saja aku bukan vampir, aku yakin kalau kekuatan Wren bisa meremukkan tulang selangkaku. “Apa dia salah, Lily?”tanya Wren mengabaikan ucapanku sebelumnya dan malah menanyakan apakah aku salah atau tidak pada istrinya. Demi Hades! Apa yang diketahui Lily? Lily menatapku perlahan. Ada yang aneh dari caranya memandangku. Aku tidak bisa mengatakan apa tepatnya tapi aku merasa seperti ditelanjangi. Dengan gugup aku memutuskan kontak mata dengan Lily saat wanita itu tersenyum. “Tidak, sayang. Aleandro benar... Walau kalau ini diteruskan mungkin memang akan terlambat.” “Apa yang kalian bicarakan!?”tuntutku kesal. “Sulit dijelaskan, Aleandro. Tapi entah sejak kapan istriku ini bisa mendeteksi niat jahat dan niat baik seseorang. Aku tidak tahu harus menyebut kekuatannya itu apa.”ucap Wren pelan. “Jadi apa fungsi kekuatan itu?”tanyaku skeptis. “Selama ini Lily tahu kalau semua jejak yang kalian ikuti sampai saat ini adalah palsu. Lily bisa merasakan niat Lazaro bahkan dalam jarak sejauh apapun karena dia pernah menyentuh Lazaro sebelumnya. Hanya terbatas pada orang-orang yang pernah disentuh oleh Lily.” Aku langsung menatap Lily tajam. Bisa-bisanya wanita itu! “Sialan kau, Lily Russell. Kau sengaja mempermainkan aku, bukan?” “Tidak, Aleandro. Yakinlah kalau aku tidak pernah berniat seperti itu. Kau selalu marah kalau aku ikut campur, karena itu aku membiarkan segalanya terjadi sesuai keinginanmu. Lagipula tidak ada yang salah dari ini semua karena kita memang mengikuti arah yang benar walaupun terlalu banyak persimpangan.”ucap Lily tulus, membuatku menahan amarahku. “Kau bisa mengatakan kalau kau bisa melacak Lazaro dan kita tidak perlu dibodohi seperti ini!”geramku kesal. “Aku tidak yakin kau akan senang dengan interupsiku saat kau sudah memutuskan sesuatu. Aku tidak bodoh, Aleandro. Kalau ada hal yang sama yang dimiliki pria selain ‘benda’ itu maka itu adalah kenyataan kalau kalian kaum pria juga sangat keras kepala mengenai apa yang sudah mereka putuskan.” Aku terdiam. Dia memang benar. Aku tidak suka kalau ada pihak lain yang ikut mengambil keputusan. Aku terbiasa membuat keputusan seorang diri. “Kalau kau memang bisa mendeteksi niat jahat, lalu kenapa kau membiarkan Lorenz mendekatimu?”ujarku berusaha meyakinkan diriku sendiri dengan kekuatan aneh milik Lily. “Karena sebelum kejadian itu, aku tidak merasakan sesuatu yang buruk dari Lorenz. Dia melakukan segalanya tanpa niat apapun.”jawabnya pelan sambil melirik Lorenz yang berdiri cukup jauh dari Wren. “Itu alasanku kenapa aku tidak langsung membunuhnya malam itu. Selama ini dia benar-benar berniat baik pada istriku, entah apa yang mendorongnya melakukan itu pada istriku kemarin.”tukas Wren sambil menatap Lorenz penuh kebencian yang tertahan. Aku bergidik ngeri melihat rasa kebencian Wren yang berusaha ditahannya itu. Aku pernah mengatakan kalau vampir adalah makhluk paling posesif di dunia, dan Wren sudah membuktikannya walaupun menurutku dia masih terlalu baik. Yang aku takutkan adalah kalau rasa posesif itu akhirnya menyentuhku di tempat yang tidak kuinginkan karena aku sudah mulai mengalami tanda-tandanya. “Jadi, Lily, bisakah sekarang kau mengatakan kemana kita harus pergi?”tanyaku datar. “Tentu. Kalau kau benar-benar mempercayaiku, maka kita harus bergegas ke Kendal malam ini juga. Entah kenapa aku yakin kalau Lazaro belum tiba di Whitehaven_kalau memang itu tujuannya_karena aku masih bisa merasakan keraguan dalam hatinya.”ucap Lily cepat. Setelah berdebat sebentar mengenai bagaimana cara kami menuju Kendal, akhirnya diputuskan kalau kami tetap menggunakan mobil itu walaupun aku tidak manyukai ide itu. Wren mengambil alih kursi pengemudi sementara aku dibiarkannya duduk di belakang bersama L. “Cepat, tapi akselerasinya masih kasar. Pedal gas-nya terlalu keras dan persnelingnya...” “Berhentilah mengomel!”bentakku dari belakang, kesal karena sepanjang jalan dia terus mengulangi pengamatannya pada mobil pinjaman Javas ini. “Bukan aku yang ingin meminjam mobil ini. Lagipula hanya manusia yang memperhatikan kondisi mobil sejauh itu.”sambungku kemudian. Lily tertawa mendengar ucapanku. “Biasakan dirimu, Aleandro. Kita tahu kalau dia tidak pernah membawa mobil yang bukan miliknya.”ucap Lily terdengar geli. Aku merengut di kursi belakang sambil menatap barisan pepohonan yang kami lewati saat Lorenz tersentak kaget di tempat duduknya. Dengan cepat aku mengalihkan perhatianku padanya. Were itu terlihat terkejut, dan aku tidak mungkin salah, ada raut ketakutan di wajahnya saat dia menatapku. “Apa yang terjadi?”tanyaku lebih penasaran alih-alih cemas. “Dia berubah. Lazaro berubah wujud dan dia...”bisik Lorenz pelan tanpa menyelesaikan ucapannya. “Senang.”sambung Lily cepat. Aku menatap Lily dan L bergantian. “Senang?”ulangku seperti orang bodoh yang baru pertama kali mendengar sebuah kata. “Aku tidak tahu, tapi ya, dia memang senang.”sahut Lorenz pelan, were itu terdiam sebelum kembali bicara. “Dia berada di sebuah kota... Aku tidak mengenal tempat itu. Banyak sekali toko-toko kecil yang sudah tutup. Dia berubah di tengah jalan... Ada banyak were lain yang bersamanya... Mereka semua juga sudah berubah...” “Tidak bisakah kau mengatakan sesuatu yang jelas tentang tempat itu?” Lorenz menggeleng pelan. “Aku tidak tahu tempat apa itu. Aku hanya melihat sekilas apa yang Lazaro pikirkan. Kalau saja aku bisa berubah, aku bisa melihat lebih jelas.”bisiknya pasrah. Belum sempat aku mengatakan apapun, Wren sudah menepikan mobil dan berhenti di pinggir jalan. “Keluar. Lakukan apapun yang kau butuhkan.”ujarku menyadari tujuan tindakan Wren. Lorenz melangkah keluar dari mobil dan dalam hitungan detik, sosok pemuda itu sudah digantikan seekor anjing besar. Lorenz tidak melakukan apapun. Dia hanya diam dan terlihat sedang berpikir. Matanya fokus pada satu titik di tanah. Cukup lama dia berada dalam keadaan itu sampai sesuatu yang dipikirkannya melintas dalam pikiranku saat aku membaca pikirannya. “b******k! Dia sudah sangat dekat! Whitehaven memang tujuannya. Dan dia... Sial! Sialan anjing itu!”semburku begitu saja, tidak menyadari gerakan ringan dari Wren_yang entah sejak kapan sudah turun dari mobil bersama Lily_untuk menutup kedua telinga istrinya agar tidak mendengar umpatanku. Aku melepas jaketku begitu Lorenz kembali berubah menjadi manusia dan melemparkannya pada L secara spontan, lupa kalau saat itu aku mengenakan kaos tanpa lengan. “Kita pasti akan terlambat.”bisikku pelan. “Kalau kau bisa menceritakannya dengan singkat, mungkin saja aku bisa membantu.”ujar Lily ringan. “Satu-satunya yang kubutuhkan saat ini adalah kemampuan malaikat sialan itu.  Mereka sudah tiba di Cenobiaeator Moor. Hanya butuh beberapa menit untuk menempuh jarak antara tempat itu dan Whitehaven. Lorenz jelas tidak pernah ke tempat itu sehingga tidak mungkin bagi kita untuk berteleport.”ujarku nyaris frustasi. Aku sempat menangkap gerakan kecil antara Wren dan Lily saat mereka berdua saling pandang penuh arti. Lily terus menatap Wren tanpa bicara sepatah katapun. Dan beberapa saat kemudian Wren mengangguk enggan. “Hanya Aleandro, Lily. Aku tidak akan membiarkan anjing itu menyentuhmu lagi.”gumam Wren pelan. Hanya aku? Apa maksudnya? Lily mengulurkan tangannya padaku. “Genggam tanganku, Aleandro. Aku akan mengantarkanmu ke Cenobiaeator Moor.” “Apa?” “Penjelasannya nanti saja, sobat. Kita harus mengejar waktu.”tukas Wren yang langsung meraih tanganku dan meletakkannya dalam genggaman istrinya. Belum sempat aku memprotes tindakan Wren, udara disekelilingku seakan terhisap, dan sensasi itu kembali melandaku. Sensasi yang tidak kusukai saat berteleport dengan siapapun. “Kau bisa melakukannya.”bisikku spontan saat kami sudah menginjakkan kaki di tempat yang kulihat dalam pikiran Lorenz. Lily hanya mengangguk saat geraman-geraman rendah itu memenuhi telingaku. “Bisa, tapi kekuatanku masih belum stabil. Aku masih sering salah tempat saat melakukan teleportasi.”ujarnya pelan, nyaris teredam geraman-geraman were. Kami berada tepat di tengah-tengah kawanan were. Terima kasih pada Lily untuk pemilihan tempatnya yang sangat baik ini. Dengan sengaja aku menatap satu persatu werewolf yang sedang menggeram ke arahku itu dengan tatapan dingin. “Pergilah, Lily. Aku akan mengatasi ini.”gumamku saat menyadari kalau Lily tidak berniat beranjak dari tempatnya. “Kau tidak akan bisa menghadapi mereka semua.”bisik Lily cemas. “Aku bisa. Berhentilah mencemaskan hal yang tidak perlu. Sekarang pergilah. Terlalu sulit untuk bertarung saat ada orang yang harus dilindungi.”balasku cepat. Rasanya kata-kata itu baru saja keluar dari mulutku saat seekor werewolf melompat ke arah Lily sementara lebih dari 15 ekor lainnya mengepungku disini. Dengan sengaja aku mengalirkan kekuatanku ke udara dan langsung membuat werewolf yang paling dekat denganku merasakan akibatnya. Were itu langsung jatuh tersungkur saat energi listrik tegangan tinggi menyambarnya saat dia mendekati jarak perlindunganku. Aku sudah lama tidak menggunakan kekuatan ini, tidak sejak aku bertarung melawan Zac. Kekuatan listrik yang kumiliki memang tidak sebesar Zac_yang selalu bisa mengalirkannya ke segala arah yang dia suAleandro dan membentuknya menjadi senjata. Kekuatanku hanya bisa mengalir di udara, membentuk perlindungan dalam jarak tertentu dan memastikan kalau tidak ada yang bisa menyentuhku tanpa terkena tegangan tinggi. Hanya dua orang yang bisa menembus medan listrik yang melindungi tubuhku. Pertama Zac, yang ternyata bisa membuat medan listrik padat dengan tegangan lebih tinggi dari milikku, seolah milikku hanya setipis lapisan plastik. Dan yang terakhir adalah Wren, yang entah bagaimana bisa menembus pertahananku begitu saja seolah medan listrik itu tidak ada. Tepat pada saat aku akan menolong Lily, aku melihat sebuah bayangan melesat ke arahnya dan menjauhkan Lily dari werewolf yang menyerangnya itu. Sosok itu adalah seorang pria yang dulu pernah kulihat, pria yang sama yang ditabrak Lily saat bazaar malam itu. Pria itu Wagner, sang raja werewolf.   *Author POV* Aleandro nyaris tidak mempercayai penglihatannya saat melihat Lily diselamatkan oleh Wagner. Dengan santainya pria itu menarik Lily menjauh dan mengamankan wanita itu. “Kau baik-baik saja, manis?”tanya Wagner ringan. “Kau...” “Tidak ada waktu untuk berkenalan, manis.”ucapnya lagi. Dan langsung berlari ke arah kerumunan werewolf itu sebelum menghajar mereka satu per satu dengan kecepatan dan ketepatan yang mematikan. Saat itu Wagner bahkan belum berubah menjadi serigala, tapi dia bisa mengatasi semua werewolf itu seakan sedang berhadapan dengan anak ayam, bukannya serigala. Wagner sudah membunuh banyak werewolf dengan tangan kosong saat dia akhirnya berdiri bersisian dengan Aleandro. “Aku tidak membutuhkan pertolonganmu.”geram Aleandro yang memilih untuk berdiri diam sementara satu persatu para werewolf yang menyerangnya jatuh terkapar akibat sengatan listrik di udara di sekeliling Aleandro. “Kau tidak. Tapi wanita itu ya.”balas Wagner cepat. “Kita harus bernegosiasi. Kau mengatasi disini dan aku akan ke tempat Lazaro.” “Tidak akan.”sahut Aleandro cepat. “Kalau begitu kau pergi dan biarkan aku yang membereskan masalah disini.” “Tidak.” Wagner memutar matanya menatap Aleandro. “Kau jelas lebih keras kepala dibandingkan vampir sialan itu.”bisik Wagner. “Pilihlah salah satu, vampir. Atau kau akan kehilangan semuanya. OraCenobiae sudah mengatakan kalau aku bisa melakukan apapun untuk mengatasi masalah ini. Dan sekarang aku memberimu kesempatan untuk memilih.” “Aku rasa kau tidak mengharapkan aku bekerja sama semudah itu karena keputusanku adalah aku akan tetap menghabisi para anjing ini, dan kalau kau pergi ke tempat Lazaro, maka aku juga akan langsung meninggalkan tempat ini untuk memburu Lazaro.”sahut Aleandro ringan. “Aku sudah tahu kalau kau adalah vampir yang paling keras kepala.”gumam Wagner lalu melirik Lily sejenak. “Kalau memang itu yang kau inginkan, silakan. Aku akan menonton aksimu bersama gadis itu berdua.”sambung Wagner cepat. “Kau belum pergi juga, Lily?”geram Aleandro kesal karena sekali lagi Lily menentangnya. “Lupakan dia, sayang. Ayo ikut denganku. Kita akan menontonnya beraksi.”tukas Wagner sambil melirik sederet bangku tunggu di luar kantor pos. Lily menggeleng cepat. “Tidak. Aku akan membantu Aleandro.” “Kau tidak perlu membantu penghisap darah itu, my lady. Dan kalau dia mati aku rasa kau tidak ada hubungannya dengan dia.” “Wagner, sang raja werewolf. Dia mati memang tidak ada hubungannya denganku karena bukan aku yang membunuhnya. Tapi aku akan merasa bersalah kalau aku membiarkannya mati begitu saja tanpa menolongnya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN