“Hallo?”
Yeah!
“Eliza?”
“Amelia?”
“Ya ini aku. Apa aku bisa minta tolong sesuatu?”
“Hei... Sekalinya menelpon langsung meminta sesuatu. Baiklah, apa yang bisa kubantu?”
“Aku sudah menelpon Master dan Lily, tapi tidak ada yang menjawab. Tolong katakan pada Master kalau aku baik-baik saja.”ujarku cepat, jelas sedikit berbohong di bagian aku menelpon Wren.
“Hanya itu?”
“Ya, hanya itu.”
Eliza terdiam sejenak. “Kenapa aku merasa kau menyembunyikan sesuatu, Amelia?”tanya Eliza pelan.
Sial! Dia pasangan Navaro! Dia pasti bisa merasakan sesuatu! “Tidak ada yang kusembunyikan, Elizabeth.”bisikku pelan.
“Aku harap begitu. Jadi cuma itu pesannya?”tanya Eliza lagi.
“Ya. Dan...”
“Apa, Amelia?”
“Katakan aku menyayangi mereka.”
Sekali lagi keheningan merebak. “Aku tidak tahu apa yang kau lakukan saat ini. Aku ingin percaya kalau kau memang tidak menyembunyikan apapun, tapi rasanya ada yang salah. Bisakah aku menanyakan sesuatu?”
“Apa?”
“Apa kau dalam misi?”
“Tidak.”
“Apa kau dalam bahaya?”
“Sedikit.”
“Demi Tuhan! Kenapa kau hanya menjawab monosyllables Amelia? Apa ada orang didekatmu yang seharusnya tidak mendengar telponmu?”
“Ya.”
Aku mendengar Eliza menghembuskan napas panjang yang sepertinya ditahan sejak tadi. “Aku mengerti. Apa Wren tahu kau dalam bahaya?”
“Ya.”
“Demi Tuhan! Lily juga?”
“Tidak.”
“Aku tidak tahu harus menanyakan apa lagi, Amelia. Kau membuatnya semakin sulit. Apa kau akan kembali?”
Hening. Aku ingin kembali. Tapi Zeroun berkeras kalau aku tidak bisa kembali. Jadi apa aku akan kembali? “Ya.”sahutku tidak terlalu yakin dengan apa yang akan terjadi nanti.
“Bagus. Aku akan menyampaikan pesanmu dan sedikit bertanya ini itu pada vampir iparku itu. Berhati-hatilah, Amelia. Katakan saja kalau kau membutuhkan pertolongan. Aku berhutang nyawa padamu, dan Navaro sudah ingin sekali membalas budi padamu. Dia tidak biasa berhutang pada siapapun.”ujar Eliza tulus.
Oh betapa aku menyayangi mereka semua dengan segala keanehan mereka! “Aku mengerti. Terima kasih.”ujarku pelan sebelum memutuskan sambungan dan menyadari kalau kami sudah tiba di sisi pesawat.
“Tidak ada telepon, Ms. Williams.”tegur Zeroun.
“Aku tahu.”balasku sambil menonaktifkan ponselku saat tangan Zeroun merebut ponsel itu.
“Aku pikir kau salah paham. Tidak ada telepon setelah ini untuk selamanya. Kau tidak akan bisa berkomunikasi dengan Wren atau siapapun di tempat ini. Inggris bukan lagi tempatmu.”ujarnya ringan sambil menyimpan ponselku dan langsung menaiki tangga pesawat.
Aku mengejar Zeroun dan menahan tangannya. Sudah cukup! “Kau tidak bisa berbuat seperti ini! Aku setuju untuk mencoba bertemu dengan Conrad, bukan setuju untuk tinggal bersamanya selamanya! Kehidupanku disini!”bentakku kasar.
“Sekali lagi kau salah paham. Aku tidak mengajukan tawaran mencoba, Ms. Williams. Sekali kau mengatakan ya, maka itu artinya ya untuk segalanya. Aku tidak ingin mengambil risiko ada yang mengetahui tempat tinggal kami.”ujarnya tenang.
“Aku bisa saja mengatakan tidak!”
“Dan akan ada darah yang terbuang.”balasnya cepat.
Oh, ini dia. Ini dia sisi kehidupan vampir sebenarnya. Memburu dan membunuh. Bukannya bekerja membuka klub dan menjadi pekerja biasa seperti Wren ataupun vampir lain yang kukenal selama ini. Pada dasarnya, vampir adalah predator.
“Kau akan menyesal dengan semua ini, Zeroun.”geramku kesal tapi tetap menaiki pesawat bersama Zeroun.
Zeroun menarikku mengikutinya sebelum mendorongku hingga terduduk di salah satu kursi di dalam pesawat. “Kenakan ini.”ujarnya sambil memberikan penutup mata padaku. “Hanya master yang bisa membuatku takut, Ms. Williams. Dan percayalah, kau akan lebih suka mengenakan penutup mata itu daripada membuatku sendiri yang melakukannya.”sambung Zeroun kemudian.
Aku tidak takut dengan Zeroun. Tidak. Tidak juga dengan semua ancamannya. Aku hanya berusaha bersikap praktis. Semakin cepat ini berlalu semakin cepat aku mencapai tujuan hidupku. Bertemu dengan Conrad. Dengan malas aku mengenakan penutup mata itu. Dan tiba-tiba saja aku melihat Aleandro berdiri di sana. Aku melepas kembali penutup mata itu, tidak ada Aleandro. Tidak ada siapapun dalam kabin itu.
“Jangan bodoh, Amelia. Kau hanya berhalusinasi.”bisikku.
Tapi kenapa harus Aleandro yang muncul?
Sekali lagi aku menutup mataku dengan benda itu, dan sekali lagi Aleandro muncul di depanku. Kali ini aku membiarkannya saja. Mencari tahu apalagi yang akan muncul dari halusinasiku. Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah dia akan merindukanku kalau aku tidak ada? Apakah aku cukup berarti untuknya hingga dia akan memikirkanku?
---
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur. Yang jelas aku terbangun karena rasa panas di punggung tanganku. Aku ingin sekali membuka penutup mata itu, tapi aku masih mendengar deru mesin pesawat. Dengan enggan aku membiarkan mataku tetap tertutup dan mengelus punggung tanganku yang terasa panas. Entah apa yang terjadi padaku, yang jelas ini tidak ada hubungannya dengan penyakit.
Rasa panas di punggung tanganku hilang timbul selama sisa perjalanan. Aku harap ini bukan hal yang buruk. Dan sepanjang sisa perjalanan itu juga aku tetap terjaga, berusaha mencari tahu kemana kami pergi sebenarnya.
“Tetap kenakan penutup mata itu setelah kita mendarat, Ms. Williams.”ujar Zeroun seolah ada bagian diriku yang memanggilnya.
“Kita akan mendarat?”tanyaku lega karena aku benar-benar ingin segera melepas penutup mata ini dan melihat apa yang terjadi pada punggung tangan kananku.
“Dalam 5 menit.”sahut Zeroun cepat.
Dan benar saja, lima menit kemudian pesawat mulai menukik dan bergetar. Sedikit berguncang saat roda pesawat menyentuh landasan dan beberapa menit kemudian dengung pesawat benar-benar berhenti. Aku merasakan seseorang menyentuh lenganku dan menarikku berdiri. “Jangan coba-coba melepas benda itu.”geram Zeroun saat aku mencoba mengangkat penutup mata sialan itu.
Kalau ada kesempatan, aku ingin sekali menyiksa vampir ini. Dia benar-benar membuat kesabaranku mencapai batasnya. Sekarang aku hanya bisa berharap kalau vampir bernama Kang Conrad itu tidak semenyebalkan bawahannya ini. Karena kalau sampai itu terjadi, aku akan langsung berputar dan pergi saat itu juga.
Aku merasakan kalau tubuhku di dorong melewati sebuah pintu mobil. Aku yakin kalau mobil ini berjenis sedan mengingat rendahnya pintu yang harus kulewati. Aku mendengar Zeroun bicara dengan seseorang dalam bahasa inggris berdialek asing.
Kami di Australia.bisikku yakin. Hanya orang Australia yang terbiasa menyebutkan ever menjadi eva.
Aku masih menahan diri untuk tidak mengucapkan apapun saat mobil mulai melaju di jalanan. Aku tidak tahu berapa lama perjalanan ini, yang jelas aku sudah merasa bosan dan lelah karena harus duduk berjam-jam di pesawat dan sekarang di dalam mobil. “Aku ingin bertanya.”ujarku tiba-tiba pada Zeroun.
Mungkin vampir itu terkejut karena aku masih merasakan kehadirannya bahkan setelah dia bergabung tanpa suara dan gerakan. “Selalu ingin tahu.”gumam Zeroun terdengar tidak senang.
“Apa Conrad yang memerintahkan untuk menyerang London?”tanyaku serius. Karena jawabannya akan menentukan sikap apa yang kupilih nanti saat bertemu dengan vampir itu.
“Tidak secara langsung.”
“Apa maksudnya?”
“Master memerintahkan untuk membawamu dalam keadaan hidup dengan segala cara.”
“Dan membunuh siapapun yang menghalangi misimu?”
“Ya.”
Rasa sakit itu kembali menusuk dadaku. Ingatan kalau tim-ku tewas di tangan mereka membuat segalanya bertambah buruk. Aku tidak pernah mengatakan ini pada siapapun. Dulu aku selalu bermimpi untuk menemukan Conrad dan menjadi bagian klannya mengingat dia menyelamatkan nyawaku. Tapi setelah kematian tim-ku, aku tidak yakin lagi dengan mimpi itu.
Hampir setengah jam kemudian mobil berhenti dan Zeroun menarikku keluar dari mobil. Saat itulah dia melepaskan penutup mataku. Kami berhenti di depan sebuah rumah kolonial kuno yang masih berdiri gagah di sebuah daerah pedalaman. Sepanjang pengamatan singkatku, aku tidak menemukan pemukiman lain sini.
Kau terjebak.bisikku pada diriku sendiri.
Aku masih akan mengamati daerah di sekitar rumah kuno itu saat aku merasakan energi besar terpancar dari arah rumah seolah melecutku seperti cambuk. Spontan aku langsung mencari sumber energi itu dan mendapati asalnya adalah dari seseorang yang berdiri di balkon lantai 3. Kekuatannya tidak bisa diremehkan, bahkan sebagai manusia aku merasa sesak dibawah pancaran energinya. Dan tiba-tiba saja darahku berdesir, seolah mengatakan kalau pemiliknya ada disana.
“Conrad.”bisikku masih menatap sosok angkuh yang berdiri di balkon itu.
Aku merasa kalau mata hijau cemerlang itu menatapku hingga menembus tubuhku, langsung ke dalam jiwaku. Aku tidak kuasa memindahkan tatapanku darinya. Sesaat aku merasa terhipnotis oleh tatapan mata hijau itu. Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku, menolak apapun yang dia ingin lakukan hanya dengan menatapku. Kalau dia berharap mendapatkan anak yang baik dan patuh, maka dia harus kecewa selamanya.
“Masuk.”ujar suara di belakangku. “Master ingin bertemu denganmu di ruangannya.”sambung Zeroun kemudian sambil mendorongku memasuki bangunan kuno itu.
WOW!
Hanya kata itu yang muncul dalam kepalaku begitu aku menginjakkan kaki di bagian dalam bangunan kuno itu. Rumah ini jelas peninggalan bangsa Inggris. Hanya dengan melihat desain interior ruangannya saja siapapun bisa mengetahui hal itu. Tangga kembar di kedua sisi ruangan dengan balkon menghadap ke dalam membuatnya nyaris menyerupai istana kecil. Belum lagi dengan semua perabotan kayu kuno yang aku yakin lebih tua daripada usiaku itu. Kalau saja aku belum terbiasa dengan Acasa Manor, maka aku akan mengira pemilik rumah ini adalah salah satu anggota kerajaan Inggris.
Zeroun membawaku menaiki salah satu sisi tangga dan kemudian berbelok ke kanan, sebelum menaiki tangga spiral lainnya. Dia kemudian berhenti di depan sepasang pintu ganda kayu berukir. “Masuk.”ujarnya padaku terdengar begitu datar.
Sesaat aku ingin sekali berteriak padanya dan mengatakan kalau dia tidak berhak memerintahku seperti itu. Tapi setelah kupikir-pikir, itu hanya akan membuatnya memiliki alasan untuk mengintimidasiku lebih jauh. Dengan dagu terangkat tinggi aku membuka pintu itu dan melangkah masuk ke dalam ruangan sang master.
“Selamat datang di Sydney, Amelia Williams.”ujar sebuah suara yang langsung membuatku terpesona. Suara yang selama ini hanya ada dalam mimpiku itu kini menjadi kenyataan. Pria yang selama ini menjadi tujuan hidupku itu kini berdiri dengan anggun di hadapanku. Dan... Dia sama sekali tidak berubah. “Apa Zeroun menyusahkanmu selama perjalanan?”tanya Conrad lembut sambil menghampiriku dalam gerakan lambat.
“Tidak terlalu.”sahutku spontan.
Conrad tersenyum. Senyum yang aku yakini bisa meluluhkan hati wanita manapun. “Aku akan bicara dengannya nanti. Sekarang aku ingin sekali menghabiskan waktu bersamamu.”ucapnya seakan kami adalah kenalan lama alih-alih hanya bertatapan selama beberapa menit.
“Apa yang kau inginkan dariku?”tanyaku cepat.
Conrad menatapku bingung. “Aku?”
“Ya. Untuk apa kau mengirim Zeroun dan membawaku ketempat ini?”
Sekali lagi Conrad tersenyum. “Apa kau tidak merindukanku setelah selama ini? Karena aku jelas merindukanmu dan aku berpikir kalau sudah terlalu lama tidak melihatmu, wanita satu-satunya yang kubiarkan hidup. Dan aku berniat menghabiskan waktu lama bersamamu.”sahutnya ringan.
Tunggu!
Apa-apaan sikapnya ini? Aku tidak pernah mengenal vampir yang bersikap sebaik dan seramah ini selain Wren dan klan-nya. Dia... Dia bukan hanya ramah, kalau aku boleh mengatakannya, dia seperti sedang merayuku!
“Aku tidak yakin kalau memang itu yang benar-benar kau rasakan padaku.”gumamku.
“Tidak masalah, Amelia. Yang penting sekarang kau ada bersamaku. Kau milikku.”bisiknya lembut sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajahku.
Aku mengelak, sebagai refleks spontan tubuhku. “Aku bukan milik siapapun.”geramku.
Vampir itu terkekeh. Conrad tertawa!
“Aku tahu... Tentu saja aku tahu itu, sayang. Kau selalu menganggap dirimu bukan milik siapapun. Tapi kita sama-sama tahu kalau kau adalah milikku. Darah di dalam tubuhmu adalah milikku sejak 30 tahun lalu, sayang.”ucapnya ringan. “Sekarang istirahatlah. Kau pasti lelah dengan perjalanan ini.”sambungnya sambil mengedik ke arah ranjang besar yang tidak kusadari sampai saat ini.
“Apa aku tidak diberi kamar?”tanyaku cepat.
“Ini kamarmu, sayangku.”
“Zeroun bilang kalau ini kamarmu.”ujarku berkeras.
“Benar, tapi ini juga kamarmu. Kau akan tinggal di kamarku, tidur denganku, dan menghabiskan waktumu bersamaku.”
“Tidak.”sahutku cepat.
“Tidak?”
“Tentu saja tidak. Aku ingin kamarku sendiri. Dan yang paling penting aku tidur sendiri.”
“Tidak bisa, Amelia.”
“Kenapa tidak bisa?”tanyaku mulai kesal.
“Aku sudah menunggu saat ini selama 30 tahun. Kau tidak mungkin membuatku menunggu lebih lama bukan?”
Aku menggeleng cepat. “Tentu saja tidak. Aku tidak berniat membuatmu menunggu lebih lam..”
“Bagus. Kalau begitu kita sepakat.”
“Tunggu dulu! Aku memang tidak berniat membuatmu menunggu lebih lama karena aku tidak menjanjikan apapun padamu. Aku tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan itu. Tidak bisa, bukan belum saatnya.”
“Amelia...”
“Apa? Aku tidak akan kompromi untuk hal ini.”
Conrad menatapku tajam. Mata hijaunya memancarkan kekuatannya. Tapi kemudian dia berkedip dan mata itu kembali memancarkan kelembutan. “Baiklah. Tapi kau tetap akan menghabiskan waktu bersamaku.”putusnya. “Zeroun!”panggilnya datar.
Zeroun langsung membuka pintu dan melangkah masuk. Aku curiga kalau sejak tadi vampir bawahan Kang Conrad itu memang berdiri di depan pintu kamar“Yes, Master?”
“Antarkan Amelia ke kamarnya.”
“Kamarnya, master?”tanya Zeroun seolah Conrad sedang menyuruhnya mengantarkanku kembali ke Inggris.
“Kamar mana saja yang dia inginkan. Kalau perlu tunjukkan semua kamar di rumah ini dan biarkan dia memilihnya sendiri.”ucap Conrad yang sepertinya membuat Zeroun cukup terkejut. “Ikut dengannya Amelia. Aku akan menemuimu besok. Kalau kau membutuhkan sesuatu, kau bisa memintanya pada Zeroun.”
“Apa aku boleh meminta kembali ponselku?”tanyaku cepat.
“Ponsel?”
“Saya mengambil ponsel Ms. Williams, untuk keamanan, master. Mereka bisa melacak ponselnya. Lagipula, saya sudah meninggalkan ponselnya di bandara Heathrow.”ujar Zeroun tenang.
Conrad menatap Zeroun penuh perhitungan sebelum mengangguk pelan. “Maaf, Amelia. Sepertinya kau tidak bisa mendapatkan ponselmu kembali. Tapi kalau kau memang membutuhkannya aku akan meminta Zeroun membelikan satu untukmu.”
Yang benar saja. Semua nomor yang ingin kuhubungi ada disana. Kalau bukan ponselku, yang lain tidak ada gunanya. Lagipula aku tidak pernah mengingat nomor telepon orang lain. “Tidak perlu. Rasanya tidur jauh lebih menggoda untuk saat ini.”ucapku sambil melangkah keluar dari kamar Kang Conrad.
Istirahat. Itu yang kuperlukan saat ini sebelum memikirkan bagaimana cara menghubungi Wren atau Lily atau Eliza atau Aleandro sekalipun. Atau aku bisa memikirkan cara untuk keluar dari tempat ini begitu energiku kembali. Saat itulah rasa panas di punggung tanganku kembali muncul. Otomatis aku menggosok punggung tanganku dan melihatnya.
Sialan! Apa-apa’an ini!