*Author POV*
Conrad menatap kerlap kerlip lampu kota dari jendela helikopternya. Dia baru saja meninggalkan London untuk singgah di Berlin sebelum terbang dengan jet pribadinya menuju Sydney. Disebelahnya duduk seorang pria tampan berkebangsaan Korea seperti dirinya. Nama pria itu adalah Lazaro.
“Darahmu terlalu kuat untuk mereka. Hampir semuanya jatuh dalam level E seperti vampir lainnya yang tidak bisa menahan kehausan mereka. Aku tidak memberikan klanku untuk hancur, vampir.” Geram Lazaro sambil menatap marah pada Conrad.
“Bukan salahku kalau mereka tidak bisa menahan nafsu mereka. Jelas sekali bahwa klanmu memang lemah.” Sahut Conrad tenang.
“Tidak ada yang bisa membuktikan kalau ini bukan akibat dari darahmu.”
“Ada. Ada seseorang yang bisa menahan efek darahku lebih dari siapapun. Dan dia masih hidup sampai saat ini.”
Lazaro mengibaskan tangannya kesal. “Tidak mungkin. Tidak ada yang bisa menahan efek dari darah vampir tua sepertimu. Darahmu mengandung kekuatan yang terlalu kuno. Dan kalau saja aku tahu akhirnya akan seperti ini, aku tidak akan berusaha menciptakan kekuatan baru dalam klanku.”
“Aku tidak peduli kau percaya atau tidak. Yang jelas orang yang menerima darahku itu bisa menahan nafsunya. Dia tidak pernah jatuh dalam level E Layaknya vampir ataupun klanmu.”
“Kalau itu memang benar, dimana dia saat ini? Apa yang diberikannya padamu?”
“Dia bukan klanku.”
Mata Lazaro nyaris keluar dari rongganya begitu mendengar jawaban Conrad. Kang Conrad bukan jenis vampir yang akan memberikan darahnya dengan percuma dan membiarkan orang itu pergi darinya begitu saja. Lazaro saja harus menghabiskan waktu hampir setengah abad untuk membujuk Conrad agar bersedia memberikan darahnya pada klannya agar kekuatan dalam darah vampir itu mengalir dalam darah klannya juga. Dan sekarang Lazaro mendengar kalau Conrad pernah memberikan darahnya pada orang lain yang bahkan tidak disebutkan namanya dan membiarkan orang itu hidup bebas di dunia tanpa harus membayar apapun padanya.
“Kalau efek ini terus berlanjut, para vampir itu akan mulai membunuh mereka. Dan lama kelamaan Wagner akan mengetahuinya. Ini bisa jadi masalah besar.” Gumam Lazaro pelan.
“Kalau begitu kau yang harus memikirkan penyelesaiannya.” Sahut Conrad cepat. “Seharusnya kau sudah tahu apa akibatnya saat kau memintaku memberikan darahku pada klanmu. Tidak. Bukan hanya darahku, kau seharusnya sudah memikirkan efek darah vampir pada kaummu. Vampir dan werewolf bermusuhan bukan secara tiba-tiba.”
“Tapi orang yang kau sebut itu... Setidaknya katakan padaku makhluk apa dia? Kenapa dia masih bisa bertahan sampai saat ini?”
Conrad menatap Lazaro dingin. “Dia bukan urusanmu.”
Lazaro sama sekali tidak membahas masalah itu lebih jauh. Conrad mungkin sudah bersedia bekerja sama dengannya membangun klannya, tapi bukan pilihan bijak kalau ingin terus melanjutkan perjanjian itu dengan mencecar Conrad tentang masalah siapa orang yang dibiarkannya hidup bebas itu dan efek darahnya tersebut. Conrad mungkin bisa membunuhnya saat ini tanpa bergerak dari tempat duduknya. Satu hal yang sangat diyakini Lazaro adalah semakin tua usia seorang vampir maka semakin gelap kekuatan mistik yang dimilikinya.
Wren menatap Lily dengan kesal. Kalau saja hari ini Wren tidak harus pergi ke Picasa Center, dia mungkin tidak akan pernah tahu kalau mobilnya menghilang satu, dan yang hilang adalah salah satu mobil kesayangannya.
“Jadi, apa kau memang merencanakan ini semua, amour?” Tanya Wren pada istrinya yang sekarang sedang duduk manis di hadapannya di dalam kamar mereka.
“Kau tidak bisa marah, Wren. Kau tahu kalau aku terpaksa melakukan itu semua. Kau tidak mungkin membiarkan Amelia berkeliaran mengejar vampir yang tidak jelas hanya dengan menggunakan sepeda motor. Dia bisa diserang kapan saja!”
“Dia sudah terlatih, amour. Dia bisa mengatasinya. Lagipula, kenapa harus mobil itu yang kau berikan padanya? Di kantor masih banyak mobil lain yang bisa dia gunakan.”
“Aku hanya mengambil kunci secara acak. Aku tidak tahu kalau itu kunci Reventon. Lagipula mungkin memang benar mobil-mobil di kantormu masih banyak yang bisa digunakan, tapi tidak ada yang memiliki persenjataan dan pertahanan sebaik mobil-mobil yang ada disini.” Jawab Lily cepat seakan tidak menyadari kekesalan suaminya. “Ayolah, Wren. Jangan terlalu diambil hati. Kau masih bisa membelinya lagi dan memodifikasinya.” Bujuk Lily sambil menghampiri suaminya.
Wren menatap Lily sejenak sebelum menghela napas pasrah. “Aku tidak tahu harus bagaimana menghukummu. Aku memang terlalu bodoh, kau tahu? Aku sadar kalau kau akan merepotkan hidupku lebih dari yang sudah kau lakukan, tapi entah kenapa aku masih saja mencintaimu dengan semua kelakuanmu itu.”
“Karena kau tahu kalau aku tidak benar-benar melakukan semua itu dengan sengaja.” Bisik Lily sambil berjinjit dan mengecup puncak hidung suaminya.
“Ugh~ Rasanya aku curiga kau menginginkan sesuatu dariku.” Bisik Wren sambil memeluk Lily lembut.
Lily tersenyum lebar mendengar ucapan Wren. “Kau selalu tahu apa yang kuinginkan.”
“Jadi katakan padaku, kali ini kau ingin membuat keributan apa dan dimana?”
Dengan cepat Lily memukul lengan Wren pura-pura kesal. “Aku tidak pernah membuat keributan!”
“Tentu saja. Kau hanya sering membuat kerusuhan.” Sahut Wren cepat. “Katakan, amour, apa yang kau inginkan kali ini?” Tanya Wren lembut.
“Aku ingin bertemu Eliza.” Bisiknya pelan.
Wren langsung menjauhkan Lily dan menatap istrinya tidak percaya. “Kau pasti bercanda.”
“Tidak.”
“Demi semua nama suci. Navaro sudah mengatakan kalau kita tidak bisa menemui mereka selama beberapa waktu. Tidak bisakah kau menahan keinginanmu itu, amour? Navaro sudah mengubah Eliza menjadi seorang malaikat, dan sahabatmu itu sedang dalam masa Anaktisi saat ini. Mengingat posisi Navaro, mereka pasti berada di Regnum Angelorum saat ini. Tidak ada makhluk non malaikat yang bisa kesana, amour, kalau kau masih ingin melihat dunia.” Jelas Wren berusaha sabar dengan permintaan Lily.
“Bagaimana dengan Sara? Bolehkah aku menemuinya? Kau tahu kalau dia membutuhkanku saat ini. Karl sudah meninggalkannya.”
“Sudah hampir satu tahun sejak Karl meninggalkannya. Dia pasti bisa bertahan. Itu yang terbaik untuk mereka. Karl dan Sara tidak mungkin bersama selamanya. Karl makhluk abadi, sedangkan Sara adalah manusia_benar-benar manusia.”
“Begitu juga dengan Navaro dan Eliza. Tapi mereka bisa bersama. Aku tidak mengerti kenapa Karl meninggalkan Sara padahal dia sangat mencintai Sara.”
“Mungkin itu pilihan yang menurutnya terbaik bagi Sara.”
“Dia bodoh kalau berpikir itu akan membuat Sara bahagia.”
Wren meraih Lily dalam pelukannya. “Kami kaum pria terkadang bisa menjadi orang paling bodoh sedunia, amour, kalau itu membuat pasangan kami bisa bahagia. Kalau kami bisa memberikan dunia, kami pasti akan memberikannya hanya untuk melihat pasangan kami tersenyum.”
Kedua terdiam selama beberapa saat, hanya saling memeluk dalam diam, sampai akhirnya Lily berbisik pelan. “Kenapa kau selalu melarangku, Wren?”
“Karena kau tidak mengatakan keinginanmu yang sebenarnya.”
“Kau akan murka kalau mendengarnya.” Ucap Lily sambil menggeleng pelan, takut membayangkan reaksi Wren saat mendengar keinginannya.
“Coba saja, daripada aku memasuki pikiranmu untuk mengetahuinya.” Bisik Wren lembut lalu mengecup pelan bibir Lily.
Lily langsung melepaskan diri dari Wren dan menjauhi suaminya itu. “Jangan coba-coba. Kau sudah berjanji untuk tidak memasuki pikiranku tanpa izinku.”
“Karena itu, katakan apa yang kau inginkan.”
Lily terdiam sejenak sebelum menghirup napas, mengumpulkan keberanian. “Aku ingin ikut berburu werewolf itu, Wren.” Ujarnya dalam satu hembusan napas.
Seandainya saja Wren masih hidup, dia pasti sudah mati begitu mendengar permintaan istrinya itu. Untung saja saat ini Wren tidak memiliki jantung yang berdetak. “Aku tahu kalau selama beberapa waktu ini aku jarang membawamu keluar karena semua kesibukan ini, amour. Aku tahu aku menjanjikan liburan ke Amerika untukmu dan aku tidak akan melupakannya. Aku tahu wajar kalau kau marah karena semua itu... Tapi permintaanmu kali ini tidak bisa kukabulkan. Ini... Tidak mungkin.”
“Aku bisa menjaga diri, Wren.”
“Aku tahu, aku sendiri yang mengajarimu. Bahkan Reynard juga sesekali datang kesini untuk membantumu berlatih. Kemampuan bertarungmu sudah jauh lebih baik daripada pertama kali kita bertemu. Tapi tidak, sayang. Ini berbahaya.” Ucap Wren selembut mungkin.
Lily menggeleng pelan. “Aku sudah pernah menghadapi malaikat. Aku pernah menghadapi vampir kuno. Apakah were ini jauh lebih berbahaya dari semua yang pernah kuhadapi itu? Tidak mungkin, bukan?” Tanya Lily skeptis.
Wren menggeleng pelan. “Itu berbeda, sayang.”
“Tidak ada bedanya.” Tukas Lily berkeras.
“Lily... Aku mohon, buang niatmu itu. Aku bisa gila kalau kau terlibat dalam masalah. Apalagi kalau kau sampai terluka. Bagaimana kalau mereka sampai menangkapmu? Bagaimana kalau... Tidak! Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan kulakukan. Aku tidak bisa kehilanganmu, amour!”
Lily berjalan mendekati Wren dan meraih tangan vampir itu. “Izinkan aku, sayang... Dan kau akan kuizinkan untuk menjaga setiap langkahku. Tidak akan melakukan tindakan bodoh yang tidak kau izinkan. Aku berjanji.” Bisik Lily lembut lalu mengangkat tangan Wren menyentuh pipinya, menekan lembut telapan tangan Wren dengan pipinya.
“Kau benar-benar membuatku gila!” Sembur Wren lalu menarik Lily ke arahnya sebelum menciumi istrinya itu dengan frustasi.
Lily menikmati keposesifan suaminya itu. “Apa ini artinya boleh?” Tanya Lily saat Wren menghentikan ciumannya dan menempelkan kedua dahi mereka.
“Hanya kalau aku memutuskan aku ikut berburu.” Sahut Wren cepat. “Dan sebelum itu kau harus berada disisiku 24 jam dalam sehari setiap harinya. Aku tidak mau mengambil risiko kau tiba-tiba kabur dengan salah satu mobilku. Dan menceburkan diri dalam setiap masalah yang bisa kau temui.”
***
*Aleandro POV*
Tidak ada petunjuk. Seminggu ini aku hanya menemukan satu lagi werewolf yang jatuh ke level E. Dan werewolf itu sudah dibawa ke Picasa Center untuk diperiksa. Were itu bahkan tidak tahu siapa yang memberikannya darah vampir. Yang dia ingat hanyalah saat dia terbangun, dia sangat haus dan menginginkan darah manusia. Memang itu efek dari darah vampir. Siapa saja yang menerima darah vampir di tubuhnya akan merasakan kehausan yang sama seperti yang kami rasakan. Itu sebabnya Wren menyediakan banyak sekali kantong darah di setiap tempat tinggal dan kantornya, terlalu banyak pembunuhan kalau kami memang memuaskan hasrat haus darah kami.
Tanpa sadar aku sudah sampai di Carlisle. Penangkapan were terakhir itu terjadi di Penrith. Beberapa mil di selatan Carlisle. Entah apa yang membawaku ke Carlisle. Mungkin hanya kebiasaan untuk selalu pulang setelah melakukan tugas. Kebiasaan yang muncul sejak aku kembali berbaikan dengan Wren.
Aku menatap rumah besar yang kini ada di hadapanku. Padure Castle adalah milik Wren, Zac yang membuat Wren memberikan rumah megah ini padaku. Sahabatku yang satu itu memiliki kebiasaan mengumpulkan barang-barang mewah, yang aku tidak pernah tahu apa tujuannya. Padure Castle mungkin tidak seluas Acasa Manor_rumah yang ditinggali oleh Wren_tapi Padure Castle memiliki kelebihannya sendiri. Ada lapangan luas di belakang rumah yang selalu kugunakan untuk pertarungan antar klan. Dan betapa kebetulannya karena pertarungan yang terakhir kali terjadi disana adalah pertarungan Wren dengan HECTOR yang diakhiri kecurangan. Padure Castle juga pernah hancur sampai berkeping-keping saat Wren tanpa sengaja melepaskan kekuatannya. Sebagai vampir yang tidak terlalu tua seperti aku dan Zac, Wren sudah sangat kuat, kecepatan perkembangan kekuatannya cukup menakutkan. Bisa jadi itu didukung kenyataan kalau pasangannya adalah putri The Fallen Angel terkuat.
“Baru kali ini aku melihat ada rumah seindah ini selain Acasa Manor.” Ujar sebuah suara yang membuatku langsung waspada.
Tapi apa yang kutemukan ternyata bukannya membuatku waspada tetapi kesal. Apa yang dilakukan wanita itu disini?
“Apa ini rumahmu? Lily memang mengatakan kalau rumah ini sangat indah. Tapi ini lebih dari apa yang bisa kubayangkan.” Ujarnya lagi seakan aku mengundang dia untuk berkunjung ke Padure Castle.
“Apa yang kau lakukan disini?”
“Jalan-jalan.”
“Jangan bodoh.”
“Kau ingin jawaban jujur? Baiklah. Wren menurunkan perintah untuk memburu were campuran itu. Dan aku mendapat tugas khusus, memburu vampir yang memberikan darahnya pada were itu bersamamu.”
Aku melangkah cepat mendekati wanita itu dan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Tidak ada tanda-tanda kebohongan disana. Bahkan apa yang dia pikirkan sama dengan yang dia ucapkan. Kalau dia berbohong, maka dia bahkan lebih hebat daripada Zac dalam menyembunyikan pikirannya. “Aku tidak percaya Wren memberikan tugas itu padamu.” Ucapku dingin.
“Terserah padamu untuk percaya atau tidak. Tapi yang jelas aku ada disini karena mengikutimu.” Sahut wanita itu ringan. “Jadi, apa kita bisa masuk sekarang? Aku lelah menyetir sejauh ini untuk menemukanmu. Kalau aku tidak cepat maka aku akan kehilanganmu lagi seperti dua hari lalu.”
“Bagaimana bisa kau tahu aku ada disini? Hujan turun tadi malam, semua jejak yang kubuat sudah tersapu air.”
Amelia menghela napas panjang, seakan sedang berhadapan dengan anak kecil yang nakal dan dibutuhkan kesabaran menghadapinya. “Aku menjadi pimpinan hunter Wren bukan begitu saja, Mister. Aku akan mengakuinya. Aku bisa melacak makhluk apapun karena aku bisa membedakan aura mereka dalam jarak tertentu tergantung berapa lama aku berinteraksi dengan mereka. Dan kau, Mister, cukup mudah kutemukan karena aku sering bertemu denganmu, dan entah kenapa ada sesuatu di dirimu yang mengingatkanku pada Wren hingga aku bisa dengan mudah melacakmu.” Jelas wanita itu. “Berbeda dengan bau yang biasa para vampir lacak, aura jauh lebih mudah dilacak karena selama apapun kau meninggalkan tempat atau benda itu, selalu ada jejak aura yang tertinggal.”
Aku menyentuh gagang pedang yang tersampir di pinggangku. Pasti karena pedang ini. Pedang yang Wren berikan tidak lama setelah kami kami menjadi rekan. Sialan anak itu. Dia memiliki pemburu alami, dan benda yang tidak pernah kutinggalkan ini menjadi GPS sempurna untuk menemukanku.
“Apa yang akan kau lakukan, Aleandro? Para werewolf itu tidak mengetahui darah vampir mana yang mereka minum. Kita tidak punya petunjuk siapa yang melakukan ini dan kemana kita akan mencarinya.” Ujar Amelia datar.
“Bukan kita, tapi aku. Kau betul kalau para anjing itu tidak tahu siapa vampir yang memberikan darahnya... Tapi kau salah dalam satu hal. Aku bisa mencari vampir itu, dan kalau aku ingin menemukan vampir itu, maka aku harus menemukan ketua klan mereka lebih dulu.”
“Kau akan memburu ketua klan mereka? Yang benar saja, kau bisa memicu perang!” Sembur Amelia.
“Bukan aku yang memicu perang, tapi mereka. Ulah mereka mencoba menambah kekuatan dengan darah kami sudah memicu perang itu sendiri.” Sahutku cepat sambil menggapai gagang pintu dan membukanya.
“Apa kau tidak merasa perlu membicarakannya dengan Zac atau yang lainnya?” Tanya Amelia lagi sambil mengikutiku masuk.
“Zac memberikan wewenang penuh padaku. Lagipula, asal kau tahu, manusia, kalau aku bertanya pada Zac akan kuapakan para anjing itu, maka jawaban Zac hanya satu, bunuh mereka semua tanpa terkecuali.” Jawabku cepat. “Bukankah lebih baik aku memutuskannya sendiri apakah akan membunuh atau membiarkan mereka hidup? Lagipula, apa yang kau lakukan di rumahku? Aku tidak ingat pernah mengundangmu untuk masuk.”
“Kau memang tidak pernah mengundangku masuk, aku hanya berinisiatif. Karena disekitar sini tidak ada hotel, jadi aku hanya bisa berharap kau berbaik hati padaku dan meminjamkanku satu kamar.” Ujarnya ringan. “Aku percaya kalau rumah ini memiliki banyak kamar.”
“Hubunganku dengan manusia hanya ada dua jenis. Pertama, untuk mengenyangkan rasa hausku atau kedua, untuk memuaskan nafsuku. Kau bisa memilihnya.”
Amelia maju mendekatiku, walaupun dia harus mendongak, tapi dia memaksa menatap mataku. “Aku_tidak_akan_memilihnya.” Bisik wanita itu sambil menekankan jarinya ke dadaku.
Demi semua nama suci. Wanita yang berdiri di hadapanku saat ini bahkan lebih bodoh dari manusia paling bodoh di dunia ini. Dia bisa saja mati saat ini karena berani bersikap seperti itu padaku. Tapi sepertinya dia sama sekali tidak mengenal kata takut dalam hidupnya. Aku baru saja akan mengucapkan sesuatu saat Amelia melangkah mundur tiba-tiba dan langsung mencengkram dadanya. Detak jantungnya melambat selama beberapa detik sebelum tiba-tiba meningkat.
“Apa yang terjadi?” Tanyaku bingung melihat wajahnya yang langsung pucat dan berkeringat dingin.
Amelia menggeleng cepat. Dengan sangat tergesa-gesa dia duduk dan membongkar isi tas ranselnya sebelum mengeluarkan sebuah botol obat. Amelia mengambil sebutir obat dan langsung menelannya tanpa air minum.
“Kau sakit?” Tanyaku penasaran karena hanya beberapa detik lalu dia terlihat seperti akan mati tapi sekarang wajahnya sama sekali tidak pucat dan tidak berkeringat lagi. Dan aku bisa merasakan kalau detak jantungnya kembali normal dalam sekejap.
“Aku tidak sakit. Dan aku tidak pernah sakit.” Sahutnya cepat.
Apa yang terjadi padanya? Pucat, keringat dingin, dan detak jantungnya meningkat tajam... Itu bukan gejala yang bisa dialami manusia. Hanya manusia yang akan berubah menjadi vampir yang memberikan gejala serupa.
Tapi dia...