“Obat apa yang kau minum?” Tanyaku kasar sambil mencengkram pergelangan tangannya dengan kekuatan yang sudah kuperkirakan akan membuat tulang manusia retak.
Tapi Amelia terbukti lebih tangguh dari manusia. Selain kenyataan kalau tulangnya tidak retak, aku curiga wanita ini tidak merasakan apapun. Ekspresinya terlalu tenang untuk orang yang merasa kesakitan. “Untuk apa kau bertanya?” Balasnya sengit.
“Jangan membodohiku. Kau jelas lebih kuat dari manusia walau kau tak sekuat kaum abadi. Dan apa yang tadi terjadi padamu_jantungmu_itu lebih Nefenip manusia yang diubah menjadi vampir. Tapi kau bukan jenis itu. Jantungmu masih berdetak, tidak ada vampir dengan jantung berdetak. Apa kau sebenarnya?”
Amelia mengeluarkan sebutir obat yang sama dengan yang tadi ditelannya. “Mau mencoba menebak apa ini?” Tantangnya sambil melemparkan tablet itu padaku.
“Kau tahu kalau vampir tidak memiliki indera perasa seperti manusia.” Geramku walaupun tetap menangkap tablet kecil itu.
“Ayo bertaruh. Aku yakin kau bisa merasakannya.” Ujar Amelia penuh percaya diri.
Dan tiba-tiba saja ide itu muncul dalam kepalaku. Picasa Center penting bagi Wren bukan hanya karena kenyataan kalau gedung pencakar langit itu merupakan pusat kekuasaan Wren tapi juga pusat uji coba pemimpin klan itu, penjara, dan juga bunker. Itu sebabnya Picasa Center dibangun dengan memiliki banyak lantai dan ruang bawah tanah. Dan salah satu uji coba yang sempat kudengar_walau belum kubuktikan_adalah tablet darah. Tablet yang konon katanya bila dilarutkan dalam air biasa akan membuat air itu sangat amat Nefenip dengan darah_dalam segala komposisinya. Tapi aku tidak pernah mendengar kalau ada yang bisa mengkonsumsi tablet itu tanpa dilarutkan. Menurut Wren, dia membuat tablet itu untuk para vampir baru, untuk membantu menguasai nafsu mereka terhadap darah dan tidak langsung menyerang manusia secara brutal.
Tanpa menunggu lagi aku memasukkan tablet itu dalam mulutku. Dan dengan sangat cepat tablet itu langsung lumer dan berubah menjadi air kental dalam jumlah sedikit tapi sanggup membuatku tercengang. “Ini bukan tablet darah manusia. Bukan darah manusia yang ada di dalamnya.”
Tiba-tiba Amelia bertepuk tangan singkat. “Bravo! Vampir memang memiliki lidah yang paling peka terhadap rasa darah. Kau benar. Itu bukan diproduksi untuk vampir dengan komposisi darah manusia. Benda itu hanya dibuat khusus untukku. Dan darahnya_sekali lagi kau benar_adalah darah vampir. Darah sahabatmu sendiri yang menjadi komposisi utama tablet itu, Milord.” Ujar Amelia ringan.
Kalau wanita itu mengatakan sudah membunuh seratus atau bahkan seribu master vampir aku tidak akan sekaget ini. Tapi dia mengatakan kalau tablet darah ini mengandung darah Wren? Darah salah seorang vampir master terkuat yang kukenal? Yang benar saja!
“Wren mungkin memang dermawan dalam memberikan darahnya pada para pengikutnya tapi jelas bukan manusia. Dan aku masih bisa menghitung berapa banyak anggota klannya yang pernah mencicipi darah Wren, dan kalau mereka semua dijumlahkan bahkan tidak memenuhi kedua tanganku.”
“Jangan khawatir. Aku juga awalnya merasa aneh dan tidak percaya. Tapi hanya itu cara satu-satunya untuk menekan ‘masalah’ dalam tubuhku. Dan sampai saat ini, hanya darah Wren yang cukup kuat untuk menekannya.” Jelas Amelia santai. “Dan akan aneh_sangat aneh_kalau aku meminum darahnya langsung. Aku jelas bukan vampir. Aku tidak bisa mengakses pembuluh darah manusia seperti kalian. Aku tidak punya taring.” Ujarnya sambil memamerkan deretan gigi putihnya dengan santai.
“Makhluk apa kau sebenarnya?” Tanyaku penuh penekanan.
Amelia hanya tersenyum. b******k. Dia tidak akan mengakui siapa dirinya, dan rasanya Wren juga tidak akan memberitahukannya. Belum sempat aku merespon senyum penuh percaya diri wanita itu, aku merasakan ada sesuatu yang mendekat ke rumahku. Dan sepertinya Amelia juga bisa merasakannya.
“Ada tamu tak diundang malam ini.” Gumamku pelan.
“Kau tidak keluar untuk menghadapi mereka?”
Aku menggeleng cepat. “Tidak ada gunanya, toh mereka tidak akan bisa menemukan rumah ini. Walaupun aku enggan, tapi kekuatan Navaro membuat rumah ini nyaris tak nyata bagi tamu-tamu tak diundang. Aku bersyukur kami berada di sisi yang sama. Malaikat itu akan menjadi lawan yang sangat merepotkan kalau kau berpikir menjadikannya sebagai musuh.” Ujarku tenang, benar-benar tenang, karena aku yakin kalau apapun yang ada di luar sana tidak akan mungkin memiliki kemampuan memindai tempat-tempat magis seperti yang bisa dilakukan para malaikat.
*Author POV*
Conrad berdiam diri di kamarnya selama berhari-hari. Vampir itu memilih untuk tidak berburu atau menerima makanan di kamarnya. Ada hal yang mengusik pikirannya sejak dia kembali ke Sydney seminggu yang lalu. Dia sudah lama tidak memikirkan masalah ini, sudah bertahun-tahun sejak dia memutuskan kalau hidup dan mati orang itu bukan urusannya dan hanya dirinyalah yang terpenting. Tapi Conrad tidak pernah benar-benar lepas tangan dari orang itu. Kenyataan kalau orang itu pernah mendapatkan darahnya di masa lalu dan masih bertahan hingga kini membuat Conrad selalu mengikuti perkembangan orang itu sampai saat ini. Dan kini saat semua percobaan ini gagal, hanya ada satu kesimpulan. Hanya orang itu, satu-satunya makhluk hidup yang masih bernyawa dan tidak mengalami perubahan sejak menerima darahnya.
Seakan telah mendapatkan jawabannya setelah berpikir berhari-hari, Conrad bangkit dari kursi besar itu dan bergegas keluar dari kamarnya. Vampir kepercayaan Conrad langsung menghampirinya.
“My Lord.” Sapa vampir tampan itu.
“Aku ingin kau terbang ke Inggris sekarang juga, Zeroun.”
“Inggris, My Lord?” Ulang Zeroun bingung karena Masternya itu baru kembali dari Inggris seminggu yang lalu.
“Ya, London mungkin. Atau daerah mana saja. Kau harus mencari ‘dia’ dan bawa ‘dia’ kehadapanku. Sebagai satu-satunya yang bisa bertahan hidup dengan darahku, dia berhak mendapatkan tempat disisiku.”
“Dia di bawah perlindungan Master lain, My Lord.”
“Aku tidak peduli. Tugasmu adalah membawa ‘dia’ ke sini dalam keadaan hidup apapun yang terjadi. Aku tidak peduli kau akan membawa berapa banyak klanku bersamamu selama kau berhasil membawanya kemari. Sekarang mungkin tidak ada masalah, tapi entah kenapa aku merasa suatu saat nanti, dia akan membuat sesuatu yang besar.”
Zeroun masih menatap Conrad serius. Sebagai kepercayaan Conrad, Zeroun tidak pernah mempertanyakan setiap perintah yang Conrad berikan. Hanya saja kali ini perintah itu terdengar seperti seruan peperangan mengingat penguasa Inggris adalah vampir kesayangan sang Raja.
“Aku akan melakukannya.” Ucap Zeroun akhirnya. Baginya, kemarahan sang Raja tidak seberapa bila dibandingkan dengan murka Masternya.
“Aku ingin dia disini sebelum Lazaro mengetahui keberadaannya. Anjing itu mungkin akan memanfaatkannya kalau dia mengetahui keberadaannya.” Ujar Conrad lagi.
“Saya akan berangkat malam ini juga.” Ujar Zeroun yang langsung bergegas pergi.
Sementara itu di London, Wren menemukan fakta yang bisa membuat vampir lain memutuskan untuk mengungsi dari dunia daripada menghadapi ketakutan itu. Tapi Wren berbeda. Fakta yang dia temukan malah membuatnya yakin apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Dengan langkah pasti Wren keluar dari laboratorium Picasa dan kembali ke kantornya di lantai 47. Wren meraih gagang telepon dan mulai menekan sederet nomor sebelum nada sambung mulai terdengar.
“Hallo?”
“Ada kabar?” Tanya Wren ringan pada seseorang yang menerima telpon di seberang sana.
“Tidak. Ada banyak werewolf gila disini, tapi entah kenapa sebagian besar sudah lenyap seakan ada pihak lain yang juga memburu mereka. Tidak banyak yang bisa diharapkan selain kegilaan dan hasrat mereka akan darah.”
Wren mengangguk paham. Memang seperti itulah nasih manusia yang baru berubah menjadi vampir. Dan sepertinya keadaan juga berlaku bagi siapa saja yang tidak bisa menoleransi darah vampir. “Memang ada pihak lain, Aleandro. Wagner sudah menurunkan sekawanan werewolf untuk melenyapkan werewolf gila yang berkeliaran di Inggris. Aku berusaha menemuinya tapi dia selalu menolak bertemu denganku dan melepaskan kawanan anjingnya di daerahku.”
“Lalu apa yang kau lakukan? Aku curiga kau masih tetap diam saja dan membiarkan kawanan itu berkeliaran di daerahmu.” Ujar Aleandro ringan.
“Aku menangkapi mereka. Dalam waktu dekat Wagner pasti akan memintaku bertemu dengannya. Saat itulah aku akan membahas semua masalah ini, itu kalau dia peduli dengan nasib kawanannya. Tapi bukan itu alasan aku meneleponmu.”
“Kalau begitu katakan.”
“Aku sudah tahu siapa vampir dibalik ini semua.”
“Siapa?”
“Sulit rasanya mengakui hal ini, tapi dia jelas lawan yang berat. Vampir itu adalah satu-satunya vampir kuno penguasa sihir, Aleandro. Vampir kuno yang melatih bawahannya dengan sihir, Conrad.”
Aleandro terdiam sejenak. Dia tahu siapa Conrad. Tidak ada vampir seusianya yang tidak mengenal vampir itu. “Kau yakin, Wren? Conrad tidak pernah muncul setidaknya seabad terakhir. Kau yakin kalau dia vampir dibalik semua ini? Ini akan jadi masalah serius kalau kita salah mengenali orang, Wren.” Tanya Aleandro serius.
Wren ingin sekali mengatakan kalau dia tidak juga tidak yakin. Tapi ilmuwan yang bekerja untuknya, manusia dan vampir, mereka terlalu jenius untuk bisa salah mendeteksi pemilik darah itu. “Kalau saja mereka pernah salah, sekali saja, aku akan meragukan hasil mereka kali ini. Tapi mereka tidak pernah salah, Aleandro. Tidak pernah sejak aku mempekerjakan mereka.”
“Kau tahu apa artinya ini kan?” Tanya Aleandro pelan.
“Sekali lagi kita akan berhadapan dengan vampir terkuat sepanjang sejarah, sobat. Setelah apa yang terjadi pada sang raja terdahulu. Conrad jelas hampir setua bumi ini.” Gumam Wren pelan. “Apa kau butuh bantuan? Karena kalau kau memang akan berhadapan dengannya, aku ingin kau kembali dengan selamat, Aleandro. Begitu juga dengan Amelia.”
“Ngomong-ngomong tentang Amelia. Apa yang kau pikirkan dengan memberikannya tablet darah itu? Tablet yang mengandung darahmu!” Sergah Aleandro tiba-tiba kesal.
“Kau sudah tahu?” Tanya Wren tanpa terdengar terkejut. Setidaknya Wren memang sudah menyiapkan dirinya kalau rahasia tentang Amelia suatu saat pasti akan terbongkar.
“Bagaimana aku tidak tahu kalau dia menelan tablet sialan itu tepat di depan mataku.” Gumam Aleandro menahan rasa kekesalannya.
“Aku tidak bisa memberitahukan apapun padamu karena aku juga tidak tahu apa-apa. Yang kutahu hanyalah pertama kali aku bertemu dengan Amelia, dia jelas bukan manusia sesungguhnya. Dia kuat, cepat, dan sangat berbakat nyaris seperti vampir kalau saja aku tidak merasakan detak jantungnya. Sampai satu ketika aku merasakan darahnya saat dia sedang dalam kondisi terburuk. Dia manusia, Aleandro, tapi ada darah vampir di dalam darahnya. Darah vampir dalam jumlah yang sangat sedikit tapi membuatnya berbeda. Semakin hari darah itu semakin mengubahnya. Hanya darahku yang bisa menekan efek darah itu, menahan perubahannya hingga tidak berubah menjadi apapun. Karena itu aku menjadikannya hunterku. Dia akan setia padaku selama aku mengizinkannya mencari vampir yang membuatnya seperti saat ini. Dia kasus khusus, Aleandro. Satu-satunya manusia yang memiliki darah vampir bukan dari garis keturunannya.”
“Dan kau tidak tahu siapa vampir itu?”
“Darahnya terlalu sedikit untuk dapat dideteksi. Bahkan sampai saat ini. Satu-satunya cara mengetahui siapa vampir itu adalah dengan membiarkan Amelia mencarinya sendiri. Karena hanya dia yang mengenal wajah vampir itu. Aku tidak ingin membawanya ke labor. Dia berhak untuk menemukan sendiri siapa vampir yang mengubah jalan hidupnya.”
“Apa dia vampir yang kuat?”
“Aku tidak tahu sejauh itu, Aleandro.” Ucap Wren penuh sesal.
“Baiklah. Berarti aku benar-benar harus memintamu menyingkirkannya dari sekitarku.”
“Aku tidak bisa. Walaupun aku berharap ini tidak benar, tapi entah kenapa instingku mengatakan kalau Amelia akan menemukan vampir yang meracuninya kalau dia berburu bersamamu.” Sahut Wren, sekali lagi terdengar menyesal.
“Kau bercanda!”
“Sayangnya aku tidak bercanda, Aleandro. Aku merasa kalau kasus ini sangat Nefenip dengan apa yang Amelia alami.” Sahut Wren cepat. “Ingat ini, Aleandro. Saat kau membutuhkan bantuan, jangan segan mencariku. Kang Conrad bukan lawan yang mudah. Dan... Ironis memang, tapi kau mungkin butuh bantuan Navaro.”
“Aku mungkin akan meminta bantuanmu, Wren. Tapi tidak dengan Navaro. Apapun hubungan kami saat ini, jelas aku tidak akan memintanya bertarung untukku dan kemudian duduk bersama untuk minum teh sambil menceritakan pertarungan itu kembali. Hubungan kami tidak sebaik itu.”
“Aku tahu. Kau dan Navaro tidak akan saling menolong kalau itu demi diri kalian. Tapi kalian akan melakukannya demi aku.” Ujar Wren penuh percaya diri. Kesadaran akan dirinya yang cukup berpengaruh pada Aleandro dan Navaro membuat Wren terkadang sedikit semena-mena.
“Aku tidak akan meminta bantuannya bahkan sampai keabadian meninggalkanku.” Bisik Aleandro yang langsung memutuskan sambungan.
Wren menatap gagang telepon di tangannya sebelum mengembalikan benda itu ke tempatnya semula. Dalam beberapa langkah Wren sudah berdiri menatap jalanan London yang terbentang di hadapannya. Melalui kaca jendela kantornya di lantai 47, kendaraannya yang berlalu lalang di jalanan terlihat seperti semut kecil bercahaya. Pikirannya sibuk dengan kemungkinan Aleandro akan berhadapan dengan vampir kuno terkuat sepanjang masa dan itu membuatnya gelisah. Wren percaya kalau Aleandro bisa mengalahkan vampir sekuno apapun selama vampir itu tidak menguasai sihir seperti yang dimiliki Conrad. Dan sialnya vampir manapun yang sudah hidup hampir satu milenia pasti mengetahui kalau Conrad adalah satu-satunya vampir yang berasal dari penyihir. Entah vampir gila mana yang menjadikan seorang penyihir sebagai vampir, tapi itu terbukti menciptakan kekuatan dahsyat yang amat sulit dikalahkan.
Setelah memikirkan apa yang akan dilakukannya, Wren kembali menelpon seseorang. Kali ini sebuah suara berat menyapanya. “Hallo?”
“Ini aku, Archard. Dimana Zac saat ini?” Tanya Wren cepat.
“Master sedang berada di Washington saat ini. Ada masalah?”
“Ya. Tidak. Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Aku akan terbang ke Washington malam ini. Bilang pada Zac untuk menungguku karena aku mungkin membawa kabar buruk.” Ujar Wren yang langsung memutuskan sambungan sebelum menerima jawaban apapun dari Archard.
Malam itu, Wren berangkat ke Washington seorang diri, bahkan tanpa ditemani oleh Lily karena dia tidak menjadwalkan perjalanannya lebih dari sehari disana. Tidak ada yang tahu kalau kepergian Wren malah akan membuat London berada dalam cekaman teror kegelapan.
***
Tidak ada yang lebih mengejutkan Amelia saat mendengar laporan timnya kalau beberapa anggota hunternya terbunuh saat memburu sekelompok vampir pendatang baru selain kenyataan kalau saat itu Wren tidak berada di London. Dengan geram Amelia menelpon markasnya sendiri dan mendapati kalau laporan itu benar. Hampir setengah anggota timnya tewas saat berburu. Anggota tim Amelia adalah hunter terbaik selama beberapa tahun yang bahkan bisa menyerang vampir tua tanpa luka sedikitpun. Kenyataan kalau vampir pendatang baru ini bisa membunuh hampir setengah populasi tim Amelia membuat gadis itu yakin kalau dia dibutuhkan di London saat ini juga sebelum seluruh anggotanya tewas.
Amelia baru saja akan mengemasi barang-barangnya di Padure Castle saat Aleandro berjalan memasuki kamarnya. “Ada telepon untukmu.” Ujarnya sambil menyodorkan ponsel kecil pada Amelia.
“Dari?”
“Lily.”
“Oh tidak.” Bisik Amelia sambil menerima ponsel itu, tidak menyadari kalau Aleandro sama sekali tidak beranjak dari kamar Amelia. “Hallo?”
“Aku tidak ingin kau kembali ke London, Amelia.”
“Aku harus kembali, Lily. Anggota timku tewas!”
“Aku tahu. Karena itu aku ingin kau tetap bersama Aleandro. Hanya disana yang aman untukmu.”
“Bersembunyi dan membiarkan anggotaku tewas begitu saja? Sejak kapan kau berpikir aku bisa bertindak seperti pengecut?”
“Percayalah kalau aku akan melakukan yang terbaik untuk melindungi mereka. Aku juga tidak ingin mereka meninggal, Amelia.”
“Karena aku percaya makanya aku ingin kembali, Lily. Wren tidak ada, dan kau juga mungkin dalam bahaya.”
Lily berdeham pelan, menahan tawa yang sudah mendesak keluar walau dalam situasi seperti ini. “Tidak akan ada bahaya untukku, sayang. Tidak akan ada yang berani mengganggu putri Lucifer_walaupun terkadang aku enggan mengakui hubunganku dengannya.”
Amelia mengangguk pelan. Sesaat dia melupakan siapa Lily sebenarnya. “Tapi aku tidak tenang, Lily. Mereka sepertinya tidak bisa diremehkan. Kenyataan kalau Wren tidak ada di London, dan Navaro belum juga kembali semakin membuatku cemas. Setidaknya kalau aku kembali, aku bisa sedikit membantu.” Ucap Amelia nyaris putus asa untuk membuat Lily mengerti kalau dia amat sangat peduli dengan tim-nya.
“Kau melupakan kalau saat ini kita memiliki dua orang Dream Hunter, Amelia. Alby dan Chale masih ada disini. Mereka sudah kembali dari liburan panjang. Begitu juga dengan klan Libra lainnya. Kita harus bersyukur karena setelah Hector kalah, Chale memutuskan untuk bergabung bersama kita.”
“Kenapa aku merasa kau seolah sedang menyembunyikanku, Lily?” Tanya Amelia tiba-tiba.
“Menyembunyikanmu? Untuk apa?” Tanya Lily balik.
“Aku tidak tahu. Itulah yang membuatku frustasi. Hanya saja firasatku mengatakan seperti itu.”
“Tidak ada yang kusembunyikan, Amelia. Aku hanya ingin kau tetap fokus dengan tugasmu bersama Aleandro.” Ujar Lily datar. “Kalau bisa aku ingin bicara dengan Aleandro.”
Tanpa mengatakan apapun, Amelia mengembalikan ponsel itu pada Aleandro. Keduanya saling bertatapan selama beberapa detik sebelum Aleandro menjauh dari Amelia.
“Aleandro, apa ini kau?” Tanya Lily berusaha memastikan kalau dia benar-benar bicara dengan orang yang tepat.
“Ya.”
“Aku ingin memohon sesuatu padamu. Apapun caranya jangan biarkan Amelia kembali ke London. London dalam masalah, Aleandro. Dan Amelia-lah yang mereka inginkan. Aku bisa mengatasi masalah ini selama Amelia tidak ada disini. Pemburu terbaik mereka hanya bisa mencium bau secara spesifik, Aleandro. Mereka hanya mengandalkan itu dan informasi sebelumnya tentang keberadaan Amelia disini. Selama Amelia tidak berada dalam jarak penciuman dari London, aku bisa mengatasinya.”
“Itu mustahil.” Sahut Aleandro singkat sambil berjalan keluar dari kamar Amelia karena dia hampir yakin kalau Lily tidak ingin pembicaraan mereka didengar oleh Amelia.
“Aku tidak peduli cara apapun yang kau lakukan, Aleandro. Yang penting jangan sampai Amelia kembali ke London.” Tegas Lily. “Tidak Amelia, ataupun kau. Tidak ada yang kembali ke London sampai aku memberitahu kabar terbaru.”
“Itu sulit, Lily.” Geram Aleandro.
“Please? Lakukan untuk Wren kalau memang perlu. Wren akan murka kalau mereka berhasil mendapatkan Amelia.” Bujuk Lily lagi.
“Wren akan menghancurkan neraka kalau kau yang terluka alih-alih Amelia dan aku juga akan langsung masuk daftar buruannya kalau membiarkanmu melakukan ini.” Bisik Aleandro sambil menggeleng tidak percaya. Bagaimana bisa Lily berpikir kalau Wren akan murka karena Amelia terluka alih-alih dirinya terluka? Karena Lily memang bodoh. Orang buta sekalipun bisa melihat kalau Wren akan menghadapi seluruh penghuni neraka hanya demi menyelamatkan istrinya. Pikir Aleandro enggan.
“Aku tidak akan terluka. Percayalah. Lucifer selalu datang kalau aku dalam keadaan kritis. Sulit memang, tapi rasanya aku mulai mempercayainya sebagai ayahku.”
“Kalau kau sudah menyebut nama itu, aku tidak bisa berbuat apapun. Memang sulit dipercaya kalau The Fallen Angel satu itu memperlakukanmu dengan sangat istimewa.” Gumam Aleandro.
“Jadi, apa kau menerima permohonanku?”
“Akan kuusahakan, mengingat aku sendiri yang kemarin meminta Wren untuk menariknya dari tugas ini.”
“Aku percaya padamu.”
“Tidak ada vampir yang bisa dipercayai, Lily.” Bisik Aleandro sebelum memutuskan sambungan.