5

3274 Kata
Aleandro menatap ponselnya dengan gamang. Menahan Amelia selama yang diperlukan artinya menguji batas toleransiku hingga ke garis terakhir. Tidakkah mereka sadar kalau aku dan Amelia hampir selalu saling menyerang dalam setiap kali kesempatan yang kami miliki? Menahan Amelia... Jelas bukan ide terbaik yang bisa mereka pikirkan. Pikir Aleandro sambil berjalan mengelilingi Padure Castle saat dia menangkap siluet seseorang bergerak di lantai bawah. Aleandro berhenti di beranda luar dan mendapati kalau Amelia sedang memasukkan tas ranselnya ke dalam mobil. Sial. Sepertinya peran pengasuh untukku dimulai lebih cepat. Kutuk Aleandro kesal. Dengan sekali lompatan, Aleandro terjun ke bawah, sedetik berikutnya Aleandro sudah mencengkram pergelangan tangan Amelia. “Mau kemana?” Tanya Aleandro datar. Amelia menatap Aleandro seakan vampir itu sudah gila atau tiba-tiba otaknya dipaksa keluar. “Mengingat selama pembicaraanku tadi kau berada dalam ruangan yang sama denganku, rasanya mustahil kau tidak tahu aku akan pergi kemana.” Ujar Amelia sambil berusaha menarik tangannya walau tahu itu sia-sia. Dan sejujurnya Amelia cukup terkejut mendapati Aleandro ada disekitarnya tanpa merasakan perubahan aura di udara. “Dari apa yang aku dengar adalah kau tidak boleh kembali ke London. Kenapa kau tetap akan pergi?” Tanya Aleandro lagi, dengan sengaja menarik tangan Amelia hingga kini Amelia nyaris berada dalam pelukan Aleandro. Dengan tangannya yang bebas, Amelia menekankan jari telunjuknya di d**a Aleandro. “Itu_bukan_urusanmu, mister.” Geramnya dan sekali lagi berusaha melepaskan diri dari Aleandro. Aleandro terdiam. Vampir itu menatap mata abu-abunya. Makin lama kerutan di dahi Aleandro semakin dalam saat memperhatikan warna mata Amelia. “Apakah kau memaAleandro lensa kontak?” Tanya Aleandro tiba-tiba, membuat Amelia terkejut karena vampir itu melenceng jauh dari apa yang sedang mereka perdebatkan. “Tidak. Dan untuk apa kau bertanya?” “Matamu unik. Itu bukan warna abu-abu. Sesaat tadi aku memang yakin itu abu-abu, tapi kalau kuperhatikan sedekat ini, warnanya nyaris biru.” Bisik Aleandro pelan sambil menyentuh wajah Amelia dengan tangannya yang lain. Dan itu memang benar. Entah kenapa selama ini aku tidak pernah memperhatikan kalau Amelia itu wanita yang menarik. Segala yang ada pada dirinya terlihat unik. Pikir Aleandro enggan menerima perasaan baru dalam hatinya itu. Entah kenapa Amelia manyukai sentuhan Aleandro itu. Dia seakan terhipnotis dan melupakan niatnya untuk kembali ke London. Tepat saat Amelia menatap mata hijau cerah milik Aleandro itulah kesadarannya kembali. Dengan geram Amelia menendang kaki Aleandro dan melompat menjauhi vampir itu. “Sialan kau vampir! Aku selalu melupakan kalau mata hijau kalian itu bahkan lebih menyesatkan dari iblis manapun!” Maki Amelia, “Aku akan kembali ke London, walaupun itu artinya aku harus melawanmu.” Lanjut gadis itu sambil meraih belati perak di pinggangnya. Untuk pertama kalinya Aleandro tersenyum di hadapan Amelia. Senyum yang membuat Amelia nyaris menjatuhkan belatinya. b******k! b******k! Vampir memang makhluk penuh feromon! Dan sialnya vampir di hadapanku ini rasanya tahu bagaimana cara mengendalikan feromonnya sendiri! Tapi kenapa dia memutuskan untuk memamerkan feromonnya saat ini? Saat aku benar-benar harus pergi! Maki Amelia hanya dalam hatinya. Aleandro bergerak malas-malasan mendekati Amelia. “Kau ingin melawanku?” Tanyanya dengan suara serak yang sangat rendah. Sial! Sial! Sial! Suaranya bahkan bisa membuat perawan mengalami o*****e! Geram Amelia lagi dalam hatinya “Kalau itu cara satu-satunya aku bisa kembali ke London.” Bisik Amelia berusaha menahan efek suara Aleandro di perutnya yang diserbu ratusan kupu-kupu. “Kau tidak akan menang, manis.” Bisik Aleandro lembut, memutuskan kalau menggoda Amelia jauh lebih menarik daripada menantangnya secara langsung. “Itu belum pasti. Aku harus mencobanya dulu.” Balas Amelia berusaha terdengar tegas walau dia sendiri tidak yakin. Aleandro menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kau tidak akan pernah menang melawanku, kecuali kau memiliki kekuatan lebih dari Wren, dan itu artinya tidak mungkin.” “Jangan sombong, vampir!” Geram Amelia dan dengan cepat gadis itu sudah menerjang Aleandro dengan belati terhunus ke depan. Aleandro berhasil menghindari serangan Amelia. Senyum di wajahnya sama sekali belum hilang. Entah kenapa Aleandro sepertinya manyukai hiburan di tengah tugas perburuannya kali ini. Sepertinya aku akan menikmati tugas tambahanku untuk menahan makhluk manis ini agar tidak kembali ke London. Dia jelas akan membuatku senang dengan semua perlawanannya. Pikir Aleandro sambil terus menghindari Amelia. “Kau terlalu lambat untukku, manis.” Ucap Aleandro ringan sambil terus menghindari Amelia dengan mudah, bergerak seperti udara. Amelia menatap Aleandro dengan kesal. Tanpa diberitahupun Amelia sudah tahu kalau Aleandro terlalu cepat. Tapi bukan hanya sampai disini kemampuan Amelia. “Kau akan menyesal kalau meremehkanku, vampir.” Bisik Amelia yang dengan sangat tiba-tiba melempar belatinya ke arah Aleandro. “Cuma ini?” Tanya Aleandro yang berhasil menghindari belati itu, tapi dia tidak menyangka kalau sedetik kemudian Amelia sudah menodongkan pistol tepat ke jantungnya. Bukannya takut, Aleandro malah tertawa terbahak-bahak. “Aku mengagumimu, manis! Kau tidak hanya kuat dan cepat, tapi yang paling penting adalah kau bisa membaca gerakan musuhmu.” Ujar Aleandro sambil berusaha menahan tawanya. “Apa kau masih bisa tertawa kalau peluru ini menembus jantungmu?” Tanya Amelia yang semakin menekankan moncong pistolnya ke d**a Aleandro. Aleandro mengangkat kedua tangannya ke atas, bersikap menyerah. “Baiklah, baiklah. Kau perusak kesenangan orang, manis.” Gumam Aleandro pasrah. “Jangan halangi aku, maka kau tidak akan merasakan peluru perak ini menembus jantungmu.” Ujar Amelia lagi. Aleandro terdiam menatap Amelia. Ada kilat kemenangan di mata gadis itu, dan hal itu membuat Aleandro tersenyum. Amelia yang melihat senyum merekah di wajah Aleandro balas menatap vampir itu. “Apa yang membuatmu tersenyum?” Hardik Amelia. “Kau.” “Aku?” Ulang Amelia bingung. Amelia sama sekali tidak menyangka kalau Aleandro bisa bergerak super cepat. Dengan ketepatan mematikan, Aleandro memukul tangan Amelia cukup kuat untuk membuat gadis itu menjatuhkan pistolnya, dan sedetik kemudian mencengkram kedua pergelangan tangan Amelia hanya dengan satu tangan. “Kau sepertinya terbiasa meremehkan vampir, sayang.” Gumam Aleandro sambil mengelus pipi Amelia dengan punggung tangannya. “Aku jadi bertanya-tanya, selemah apa vampir yang selama ini kau hadapi? Jelas kau tidak pernah berhadapan dengan vampir sepertiku.” “Jangan sentuh aku!” Geram Amelia, bukan karena dia membenci sentuhan Aleandro, tapi karena dia membenci kenyataan kalau dia sangat manyukai hal itu. Seolah bisa membaca pikiran Amelia, Aleandro langsung mendorong Amelia ke dinding mobil, memerangkap gadis itu diantara tubuhnya dan mobil, menyelipkan kakinya sendiri diantara kedua kaki Amelia. Amelia sudah hendak menginjak kaki Aleandro dengan tumit sepatu bootnya yang terbuat dari perak saat Aleandro merendahkan wajahnya dan mengecup bibir Amelia. Tubuh Amelia menegang dengan ciuman mendadak itu. Amelia bukan baru kali berciuman dengan seorang laki-laki. Tapi ini pertama kalinya Amelia berciuman dengan vampir, dan sialnya dia adalah vampir yang selama ini membuat Amelia kesal dengan segala sikap angkuhnya. Amelia menggeliat berusaha menjauhkan bibirnya dari bibir Aleandro, tapi usaha itu hanya semakin membuat Aleandro memperdalam ciumannya. Kecupan ringan itu kini berubah menjadi ciuman penuh hasrat. Lidah Aleandro mulai menggoda bibir Amelia, menjilatnya dengan lembut hingga erangan lirih itu meluncur keluar. Dan Aleandro memanfaatkan kesempatan itu untuk merasakan hangatnya mulut Amelia. Lidah Aleandro menyentuh pelan lidah Amelia, sekali... Dua kali... Dan akhirnya lidah itu memulai penjelajahan asingnya, membuat Amelia benar-benar melupakan apapun yang dipikirkannya. Genggaman Aleandro yang melonggar dimanfaatkan Amelia untuk melepaskan tangannya dan merangkul leher Aleandro. Menahannya agar tidak menghentikan ciuman mereka. Aleandro mengangkat wajahnya perlahan, menjauhkan bibir mereka yang membengkak karena ciuman liar itu. Mata hijau Aleandro semakin cerah dengan gairah, begitu juga dengan mata unik milik Amelia. Hembusan udara dingin tidak menghentikan keduanya untuk saling mengagumi. Dengan perlahan Aleandro menyentuh wajah Amelia dengan ujung jarinya, seakan takut gadis itu akan hancur kalau dia menyentuh terlalu banyak. Tidak ada kata-kata diantara mereka. Dengan cepat Aleandro kembali mencium Amelia sambil membimbing gadis itu masuk kembali ke rumah. Gairah menyelimuti mereka seakan mereka tidak punya waktu lebih lama untuk saling memuaskan. Aleandro mendesak Amelia bersandar ke pintu begitu pintu tertutup kembali, meninggalkan bibir Amelia hanya untuk mengecup nadi di sepanjang leher Amelia, berhati-hati untuk tidak melukai Amelia sementara kedua tangannya sibuk membuka jaket kulit dan kaos yang dikenakan Amelia. Membenci kemungkinan terputuskan ciumannya, Aleandro merobek kaos yang dikenakan Amelia begitu saja. “Apa yang kau lakukan?” Tanya Amelia tidak percaya. “Aku benci harus berhenti menciummu. Dan kaos sialan ini menghalangiku. Aku benar-benar ingin melihatmu.” Gumam Aleandro di pangkal leher Amelia, terus menciumi gadis itu hingga bibirnya menemukan belahan p******a Amelia. Amelia bisa merasakan bibir Aleandro tersenyum di kulitnya sebelum bibir itu mengecup payudaranya. Erangan kecil meluncur dari bibir Amelia begitu bibir Aleandro menggigit lembut puncak payudaranya. Amelia mungkin belum pernah b******u dengan vampir, tapi Amelia tahu kalau vampir akan menggigit pasangannya pada saat seperti ini. Tapi Aleandro tidak. Dia melakukannya seakan dia manusia, bukannya vampir. Dan semua yang dilakukan Aleandro pada Amelia membuktikan kalau sepanjang keabadian vampir itu tidak dihabiskannya hanya untuk mengeksekusi vampir pembelot tapi juga memenuhi kebutuhan jasmaninya. “Kau benar-benar indah, Amelia Williams. Dan aku tidak bisa menahannya lebih lama.” Geram Aleandro sambil berlutut di depan Amelia dan menarik penghalang terakhir dirinya dengan bagian sensitif di tubuh Amelia. “Kau anugerah.” Bisik Aleandro pelan sebelum mulai menggoda Amelia di tempat yang sudah menunjukkan tingkat gairah Amelia itu. Tidak sampai semenit kemudia Aleandro sudah kembali berdiri dan memeluk Amelia erat. “Lingkarkan kakimu di pinggangku, sayang. Aku akan masuk.” Desis Aleandro yang langung melaksanakan ucapannya saat itu juga.   “Kukira vampir tidak bisa menahan kekuatannya saat bercinta.” Bisik Amelia sambil beringsut mendekati Aleandro. Aleandro mendekap Amelia lebih erat, tidak memperdulikan kenyataan kalau saat ini mereka berbaring telanjang berdua di depan perapian ruang depan. “Bagaimanapun kau manusia. Kau bisa hancur. Dan aku akan menyesal seumur hidup kalau kau sudah hancur bahkan sebelum aku bisa menikmati semua keindahan ini.” Sahut Aleandro pelan sambil membelai tubuh Amelia dengan ujung jarinya. “Aku bukan pecinta p******a wanita. Tapi sepertinya apa yang kau miliki membuatku memujanya.” Bisik Aleandro sambil merendahkan kepalanya hanya untuk menggoda p******a Amelia. “Ini pertama kalinya aku bercinta dengan vampir. Dan kau membuktikan kalau vampir memang makhluk penuh feromon.” Bisik Amelia berusaha menahan diri untuk tidak mengerang karena sentuhan bibir Aleandro di payudaranya. “Supaya harga dirimu tidak jatuh, ini juga pertama kalinya aku berhubungan dengan manusia. Kaummu terlalu lemah untuk kami. Tapi kau berbeda.” Bisik Aleandro yang sudah beranjak ke leher Amelia, kembali menciumi leher wanita itu dengan rakus seakan mereka belum pernah bercinta. Dengan satu gerakan cepat Aleandro menggulingkan tubuh Amelia hingga wanita itu kini berada dibawahnya. Aleandro memberikan bibir Amelia kecupan-kecupan ringan saat dia mulai menyatukan tubuh mereka kembali. “Dan kau berhasil membuatku b*******h kembali hanya dengan melihatmu telanjang, manusia.” Bisik Aleandro saat mulai bergerak, mengatur irama percintaan mereka. “Kita akan lebih perlahan kali ini.” Lanjut Aleandro sesaat kemudian.   Tidak ada yang ingat bagaimana caranya mereka bisa sampai ke kamar tidur Aleandro. Yang mereka ingat hanyalah kenyataan kalau mereka sudah bercinta gila-gilaan hampir di setiap tempat di Padure Castle sebelum pindah ke kamar dengan segala cara yang bahkan tidak pernah dipikirkan penulis teknik bercinta sekalipun. Dengan salah satu lengan menjadi alas kepala Amelia, Aleandro membelai rambut Amelia lembut. “Kenapa kau begitu berkeras kembali ke London saat Lily melarangmu?” Pertanyaan Aleandro membuat Amelia tersadar. Dengan cepat dia berusaha bangkit dari tempat tidur, tapi lengan Aleandro yang lain menahan tubuhnya. “Jangan bergerak. Berbaringlah.” Bisik Aleandro. “Aku harus kembali ke London.” “Kau ingin kita bercinta lagi?” Tanya Aleandro seakan Amelia tidak pernah bicara. “Demi Tuhan! Aku ingin kembali ke London, bukan bercinta lagi denganmu! Kapan kau bisa membuang ego-mu dan mendengarkan ucapan orang lain?” “Aku tahu itu yang kau katakan, karena itu aku akan membuatmu bercinta lagi denganku untuk menahan kepergianmu. Katakan padaku kenapa kau berkeras untuk pergi?” Desak Aleandro, yang mulai menggoda tubuh Amelia dengan jari-jarinya. Amelia merasakan kalau dia berkeras untuk tetap pergi, Aleandro pasti akan membuktikan ucapannya, dan Amelia terlalu tergoda untuk kembali menikmati vampir itu. Dengan pasrah Amelia kembali berbaring dalam pelukan Aleandro. “Mereka anggota timku. Dan setengahnya sudah tewas saat ini. Aku dibutuhkan disana.” Bisik Amelia pelan. “Hanya itu?” Tanya Aleandro dengan mata menyipit, menyelidik. “Aku sendiri yang membangun tim ini. Aku yang mengumpulkan mereka, aku yang melatih mereka. Mereka sudah seperti saudaraku sendiri. Aku selalu berpesan agar mereka kembali dengan selamat dalam setiap misi. Tapi saat aku tidak ada, saat itu mereka tewas. Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana perasaanku.” “Kau menyayangi mereka?” Tanya Aleandro lagi. “Tentu saja. Apa kau tidak pernah menyayangi seseorang?” Tanya Amelia tidak percaya, seakan Aleandro baru saja menanyakan berapa jumlah kepala Amelia. Bibir Aleandro bergerak pelan di dahi Amelia, entah tersenyum atau apa. “Tidak. Aku tidak mengerti kenapa manusia bisa menangisi seseorang. Kalian manusia sudah ditakdirkan akan mati suatu saat nanti, kalian tahu itu, dan kalian tetap menangisi hal yang tidak perlu. Aku tidak percaya pada apapun yang tidak bisa kulihat. Dan rasa sayang serta cinta tidak pernah memiliki wujud, bukan?” “Kau pasti sangat menyayangi Wren dan Zac, kau nyaris menuruti semua permintaan mereka.” Bisik Amelia sambil menikmati sentuhan bibir Aleandro di seluruh wajahnya. Aleandro terkekeh pelan saat mendengar kedua nama itu disebut. “Hubunganku dengan Zac bukan hubungan atas dasar rasa sayang. Aku memang bukan klannya, tapi aku bekerja untuknya. Ucapannya adalah perintah untukku. Setelah semua yang dia lakukan dulu, rasanya apa yang kulakukan untuknya saat ini tidak seberapa. Sedangkan Wren, aku masih tidak mengerti apa konsep rasa sayang sebenarnya. Yang aku tahu hanyalah aku selalu merasa nyaman dengan Wren, suka berbicara dengannya, dan kami sudah mengenal lebih lama dari yang bisa kau pikirkan.” “Suatu hari nanti kau pasti bisa menyayangi seseorang.” Ucap Amelia nyaris tanpa suara. “Aku harap tidak. Emosi hanya akan mengacaukan pekerjaanku. Aku lebih suka dengan segala sesuatu yang bersifat praktis seperti ini, tanpa melibatkan perasaan.” Gumam Aleandro lalu kembali mencium Amelia. Amelia sempat merasakan kegetiran dalam nada suara Aleandro sebelum akal sehatnya menghilang akibat ciuman Aleandro yang penuh nafsu dan tuntutan.   Wren sama sekali tidak menduga kalau perjalanannya ke Washington untuk menemui Zac memakan waktu hingga berhari-hari. Dan entah kenapa selama itu juga Lily tidak menelpon, bahkan mengabaikan setiap panggilan yang Wren lakukan. Begitu sampai di Washington Wren mendapati kalau Zac meninggalkan pesan untuknya agar menyusul ke Arizona. Wren memang menyusul ke Arizona, tapi Zac tidak ada disana. Sang Anasso itu sudah kembali ke Kanada. Dengan kesal Wren menyusul Zac ke wilayah kekuasaan pribadinya itu. Dan di Vancouver-lah Wren baru bisa menemui Zac. Wren berderap cepat memasuki bangunan tanah yang nyaris menyerupai gua itu. Jalan berkelok dengan beberapa persimpangan tidak membuat Wren bingung kemana tujuannya. Dia sudah terlalu hapal tempat ini untuk melupakan dimana bisa menemui Zac. Bau tanah lembab memenuhi penciuman Wren saat dia menuruni anak tangga menuju sebuah ruangan yang cukup jauh. Beberapa saat kemudian Wren tiba di sebuah ruangan berdinding tanah yang terbentuk alami. Disanalah Wren mendapati Zac sedang berdiri diam menatap salah satu dinding yang penuh dengan ukiran kuno. “Bisa-bisanya kau membuatku menghabiskan waktu berkeliling Amerika, Zac.” Geram Wren bahkan tanpa menyapa sang nosferatu. Zac berbalik, senyum terukir di wajahnya saat melihat Wren. “Aku tersanjung kau mau mengunjungi ‘gua’ku.” Ujarnya yang sangat menyadari kekesalan Wren karena harus mengelilingi Amerika Serikat untuk mencarinya. Bukan berarti Zac sengaja, tidak, dia tidak sengaja. “Aku tidak habis pikir apa yang kau dapatkan dari tempat ini.” Gumam Wren. “Bumi memberi kita kekuatan, Wren. Semakin dekat kita dengan intinya, semakin banyak bumi memberi kita kekuatan.” Bisik Zac ringan. “Terserahlah. Ada yang ingin kusampaikan padamu.” “Sepertinya hal yang penting. Kita duduk saja.” Ujar Zac sambil menunjuk sofa tua yang ada disana. “Conrad muncul, Zac.” Ucap Wren yang langsung membuat Zac menghentikan langkahnya. “Siapa kau bilang?” Tanya Zac cepat. “Conrad.” Ulang Wren dengan sengaja mengucapkannya sepatah demi sepatah kata. Wren langsung bisa merasakan aliran listrik di sekitarnya bagaikan cambuk melecut ke tubuhnya. Selalu seperti ini setiap kali Zac tidak senang. Kekuatannya sulit sekali dikendalikan. “Kendalikan dirimu, Zac. Kau akan menyesal kalau aku terbunuh hanya karena kau lepas kendali.” Tegur Wren. Zac seolah menghirup napas panjang sebelum menghembuskannya dalam sekali gerakan. “Apa dia ada hubungannya dengan masalah akhir-akhir ini?” Tanya Zac yang dengan susah payah mengontrok kekuatannya. “Darahnya-lah yang kutemukan dalam darah setiap were yang dikirim ke Picasa.” Zac terdiam. Dengan gerakan sangat lambat_dalam ukuran vampir_Zac menghempaskan tubuhnya di sofa dan menyilangkan kakinya. “Kalau memang benar, maka wajar kalau para were itu jatuh ke Level E. Darah vampir kuno tidak pernah berefek baik bagi siapapun, apalagi Conrad.” “Aleandro akan kesulitan menanganinya.” Gumam Wren yang sepertinya ditujukan pada dirinya sendiri. “Tentu saja. Apa kau sudah tahu dimana Conrad saat ini?” Wren menggeleng pelan. “Tidak. Aleandro juga belum menemukan apapun. Tapi ak...” Belum sempat Wren menyelesaikan ucapannya, tato kuno di lengan kirinya memanas, memberikan nyeri yang cukup untuk mengalihkan perhatian Wren. Dengan spontan Wren menggosok lengannya, matanya melotot dan mulutnya mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat orang suci sekalipun merasa ternoda. Dan hanya ada satu arti dibalik itu semua. Zac yang masih berkutat dengan pikirannya mendapati Wren terlihat aneh. Dengan cepat dia bangkit dan mencengkram lengan Wren. “Apa yang terjadi padamu?” Tanya Zac. “Lily... Sesuatu terjadi padanya...” Bisik Wren sambil berusaha menahan nyeri di lengan kirinya. “Bagaimana kau tahu?” Tanya Zac skeptis. “Tato pasangan bukan hanya untuk menandai, Zac. Ini menjadi penghubung kami, sejauh apapun itu. Lily terluka, aku yakin itu. Masalahnya adalah dengan kemampuannya sekarang, siapa yang sanggup melukai Lily? Aku berani bersumpah kalau Lily tidak akan keluar Inggris tanpa izinku, jadi pasti ada serangan disana, Zac.” Jelas Wren cepat. “Pergilah. Aku akan menyusul setelah memastikan beberapa hal.” Bisik Zac. Wren mengangguk cepat. “Aleandro membutuhkanmu untuk melawan Kang Conrad, ingat itu.” Bisik Wren sebelum melesat keluar dari ruangan itu hingga bayangannya pun nyaris tak terlihat. Wren bergegas menuju belakang bangunan tua milik Zac itu dan mendapati sebuah pesawat jet pribadi ada disana. Seandainya Navaro ada bersamanya saat ini, Wren tidak membutuhkan waktu terbang berjam-jam untuk sampai di London, Navaro bisa berteleport ke London saat itu juga. Tapi kini Navaro sedang sibuk dengan masalah Eliza. Dan itu artinya pesawat jet adalah satu-satunya pilihan terbaik saat ini. Dalam hatinya Wren bersyukur setidaknya Zac mendengarkan pendapat Aleandro tentang memiliki armada pesawat sendiri agar tidak bergantung pada jadwal penerbangan komersial saat mereka harus berkunjung ke tempat yang sangat jauh. Tepat sebelum masuk ke dalam pesawat mewah itu, Wren menghubungi seseorang. Suara serak yang sangat khas menyapanya di seberang. “Bisakah kau ke London saat ini, Aleandro?” Tanya Wren langsung, bahkan tanpa menyapa si penerima telpon. “Ingin sekali. Tapi tidak bisa. Dimana kau, Wren? Lily meneleponku dan mengatakan kalau ada serangan di London, mereka menginginkan Amelia, karena itu dia ingin aku menjaga Amelia agar jangan sampai kembali ke London. Dimana kau saat London di teror, Wren?” Wren menggeleng tidak percaya mendengar apa yang Aleandro katakan. Selain karena Wren menyadari kalau suara Aleandro menyiratkan kepuasan bercinta, Wren juga cukup kaget karena Aleandro tahu apa yang terjadi sementara dia tidak. “Aku di tempat Zac saat ini, Aleandro. Aku akan kembali ke London sekarang juga. Bagaimana bisa Lily meneleponmu tapi tidak memberitahukan apapun padaku?” “Dia bilang kalau dia bisa mengatasi ini semua.” Sahut Aleandro cepat. “Tapi sepertinya tidak. Aku tahu telah terjadi sesuatu padanya. Apa Lily mengatakan sesuatu tentang siapa yang menginginkan Amelia?” “Tidak. Istrimu tidak mengatakan apapun, dia hanya membuatku berjanji padanya untuk menahan Amelia agar tidak kembali ke London.” “Kalau begitu lanjutkan tugasmu.” Ujar Wren yang langsung memutuskan sambungan dan bergegas menaiki pesawat. Beberapa menit kemudian, pesawat jet itu sudah mengudara menuju London.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN