*Amelia POV*
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku kembali memimpikan malam yang mengubah hidupku seluruhnya. Malam yang tidak akan pernah kulupakan sampai kapanpun. Malam dimana untuk pertama kalinya aku bertemu dengan makhluk legenda yang selama ini aku kira hanya ada di dalam novel dan dongeng. Malam dimana aku bertemu dengan seorang pria tampan yang ternyata adalah seorang vampir sekaligus malam yang membuatku mengerti artinya kehilangan dan penderitaan.
“Mommy?” Panggilku saat kedua orang tuaku sibuk mengejar adik-adikku yang berlarian kesana kemari di restoran tempat kami makan malam untuk merayakan ulang tahun pernikahan orang tuaku. Restoran itu tidak terlalu mewah, tapi Dad memutuskan untuk membayar seluruhnya sehingga hanya ada kami sekeluarga di dalamnya.
Ibuku berhenti dan menatapku. Senyum di wajahnya saat itu sama sekali tidak pernah kubayangkan akan menjadi senyum terakhir yang kulihat. “Ada apa, sayang?” Tanya wanita lembut di hadapanku itu.
“Ayo kita pulang.” Ajakku sambil merengek karena aku sudah mulai bosan berada di tempat ini. Untuk anak seusiaku saat itu, 15 tahun, aku termasuk golongan anak manja.
“Sebentar, sayang. Setelah adik-adikmu berhasil kami ‘aman’kan, kita akan pulang.” Janji Mom yang langsung kujawab dengan anggukan.
Seandainya aku tahu apa yang menunggu kami di rumah saat itu, aku tidak akan pernah mengajak keluargaku pulang dengan cepat. Aku mungkin akan memaksa untuk pergi ke tempat lain, kemana saja asal bukan pulang ke rumah. Tapi saat itu aku tidak tahu. Karena itu begitu kedua adikku berhasil di’aman’kan seperti kata ibuku, kami berlima langsung pulang ke rumah.
Seharusnya tidak ada yang aneh saat kami tiba di rumah malam itu, tapi tetesan darah dari pintu depan langsung menarik perhatian kedua orang tuaku. Mereka mengurungku bersama kedua adikku di dalam kamarku sebelum pergi meninggalkan kami.
“Jangan keluar sampai Mom kembali.” Ujar Mom saat itu.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Yang aku tahu hanyalah aku berusaha menjaga kedua adikku yang sedang tertidur lelap agar tidak bangun saat mendengar teriakan ibuku. Ketakutan mulai menjalari tubuhku saat teriakan itu terhenti tiba-tiba. Kedua kakiku menolak untuk dipijakkan hingga aku hanya bertahan di tempat tidur bersama kedua adikku. Semakin lama keheningan itu semakin mencekamku. Udara dingin mulai membuat bulu kudukku berdiri. Aku sama sekali tidak menyangka kalau udara dingin saat itu bukanlah karena penurunan suhu dimalam hari tapi akibat keberadaan makhluk asing yang ada di rumahku.
Tidak ada suara selama beberapa saat setelah teriakan ibuku itu. Yang bisa kudengar hanyalah suara napas teratur dari kedua adikku. Tapi itu tidak lama sampai pintu kamarku dibuka paksa oleh dua orang asing. Seorang pria tampan bermata emas dan seorang wanita cantik berambut pirang lembut masuk ke dalam kamarku. Aku tidak mengenali mereka, yang kutahu hanyalah mereka berbahaya. Instingku mengatakan untuk lari saat itu juga, tapi aku harus melindungi kedua adikku. Aku harus melindungi mereka. Saat mereka tersenyum, saat itu aku tahu kalau mimpi terburuk dalam hidupku menjadi kenyataan. Sepasang taring muncul saat mereka tersenyum, dan dari cahaya lampu yang mengintip dari luar jendela aku baru menyadari kalau ada cairan merah di sudut bibir mereka. Darah.
Teriakan ketakutan akhirnya lolos dari bibirku, membuat kedua vampir itu semakin menyeringai puas. Kedua adikku langsung terbangun mendengar teriakanku dan aku langsung memeluk mereka erat. Kedua adikku menyadari kalau ada makhluk asing yang mendekati kami, begitu mereka melihatnya keduanya berteriak ketakutan. Dua bocah 7 dan 8 tahun berada dalam pelukan anak 15 tahun. Ketiganya sama-sama menggigil ketakutan.
Sang vampir laki-laki menatapku dengan mata hijau cemerlang, membuatku terhipnotis. Sekali lagi, aku tidak menyadari apa yang terjadi. Aku tidak tahu kalau saat aku terhipnotis itulah kedua adikku digigit dan dibunuh oleh vampir-vampir itu. Aku tidak tahu kalau saat aku terhipnotis itu seorang vampir lain datang dan menghabisi kedua vampir itu. Tapi aku tahu saat ada cairan panas rasa besi melewati tenggorokkanku, seakan membakarnya dengan api yang sangat panas. Rasa sakit itu yang membuatku tersadar dan mendapati seorang vampir tampan sedang meneteskan darah dari pergelangan tangannya ke dalam mulutku, kedua taringnya mengintip dari sela-sela bibirnya. Begitu kesadaran sepenuhnya memasuki diriku, aku berteriak, bergerak menjauh walau tahu itu percuma, membuat tetesan darah yang seharusnya masuk ke dalam mulutku menodai bajuku. Aku masih bisa merasakan panas cairan di dalam tenggorokanku saat vampir itu mendekatiku.
“Terlalu cantik untuk dibunuh.” Bisiknya lalu untuk pertama kalinya aku merasakan apa yang namanya ciuman sebelum vampir itu menghilang di balik gelapnya malam.
Butuh beberapa menit bagiku untuk memulihkan diri dari serangan kejutan yang mendatangiku malam itu sebelum aku turun dari tempat tidur hanya untuk mendapati tubuh kedua adikku terbaring tak berdaya di lantai. Kedua tubuh mereka dingin, sangat dingin. Ada bekas gigitan di leher keduanya. Berkali-kali aku mengguncang tubuh mereka, berharap mereka bangun, tapi semuanya percuma. Aku berlari ke luar, mencari kedua orang tuaku, berharap kalau itu semua mimpi. Tapi apa yang kulihat di dapur membuatku berteriak histeris.
“Tidaaaaaakkkkkkkk!!!!!!!!!!!”
Aku terbangun dari tidurku. Keringat membasahi dahiku. Gerakan tiba-tiba itu membuat Aleandro ikut bangun dan menatapku penuh tanda tanya. “Ada apa?” Tanyanya pelan.
“Hanya mimpi.” Bisikku sambil berbaring kembali di ranjang.
Aleandro ikut berbaring disisiku, menarikku hingga merapat ke tubuhnya dan memelukku erat. “Mimpi apa? Ceritakan padaku. Aku sudah lama sekali tidak bermimpi.” Ucapnya lembut di puncak kepalaku.
Sekali lagi aku terkejut dengan sikap lembutnya. Selama aku mengenal Aleandro, dia tidak pernah bersikap baik padaku, apalagi selembut ini. Tapi sejak kami bercinta tadi malam, seakan-akan ada kepribadian lain yang mengisi tubuhnya. “Bukan apa-apa. Hanya mimpi yang rasanya sudah bertahun-tahun kulupakan.” Bisikku sambil mengatur napasku agar kembali normal.
“Mimpi buruk?”
Aku mengangguk pelan dan semakin menempelkan wajahku di dadanya yang telanjang. “Apa kau tidak ingin menceritakannya padaku?” Tanyanya lagi.
Aku nyaris saja mengumbar semua masa lalu yang bagaikan duri dalam daging itu saat mendengar suara seraknya yang khas. Tapi ketakutan dan kebencian yang kurasakan mengalahkan hasratku akibat suara Aleandro. “Aku tidak bisa. Rasanya kalau aku menceritakannya, kejadian itu benar-benar terjadi lagi. Dan aku tidak sanggup.” Bisikku pelan.
“Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Tidurlah lagi. Kau butuh istirahat.” Ucapnya lembut, membuatku benar-benar berpikir kalau Aleandro yang selama ini kutemui tidak pernah ada.
“Cium aku. Buat aku melupakannya.” Bisikku sambil menengadahkan kepala menatap mata Aleandro yang bersinar hijau.
Aleandro merendahkan kepalanya, mengecup ringan bibirku sebelum kecupan itu menjadi ciuman penuh nafsu.
“Apa Lily sudah ada memberi kabar baru?” Tanyaku saat kami berdua menyusuri Timur Laut Carlisle menuju Brampton, mengikuti jejak were yang begitu jelas kurasakan.
Aleandro memperlambat larinya, menyesuaikan dengan gerakanku. “Tidak ada. Hanya saja...”
“Ada apa?” Tanyaku cepat.
“Wren sempat menelepon. Sepertinya dia merasakan sesuatu.” Bisik Aleandro nyaris ditelan angin malam.
“Apa mak...”
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, sesosok bayangan melesat menerjang Aleandro. Bersyukur karena Aleandro sempat menghindari serangan mendadak itu, aku balas menerjang musuh kami itu saat mendapati kalau sosok itu adalah werewolf. Perkelahian pun tidak terelakkan. Seekor were lainnya menyerangku saat aku ingin menyerang were yang tadi menerjang Aleandro, membuatku sempat kehilangan keseimbangan dan menabrak pohon yang ada disana.
Aku tidak sempat memperhatikan atau memperdulikan bagaimana keadaan Aleandro saat were itu kembali menyerangku. Lily benar. Menghadapi were berbeda dengan menghadapi vampir. Werewolf tidak mempan dengan perak! Dan itu artinya aku benar-benar harus melukai mereka dengan cukup fatal untuk memperlambat gerakan mereka. Sialnya adalah werewolf memiliki tubuh yang jauh lebih besar dan lebih berat daripada vampir yang pada akhirnya menyulitkanku menyerang mereka secara fisik.
Berkali-kali terlempar ke batang pohon membuat tulang punggungku akhirnya retak. Nyeri tak terkirakan langsung menjalari seluruh saraf di tubuhku. Dari sudut mataku aku dapat melihat kalau Aleandro berhasil mengalahkan were yang satunya lagi dan baru saja akan mematahkan leher were itu saat kudengar geraman-geraman rendah muncul dari balik pepohonan. SIAL! Bahkan sebelum mereka muncul aku sudah tahu kalau kami dikepung kawanan were. Beberapa detik kemudian kami benar-benar dikeliling werewolf yang jumlahnya hampir melewati hitungan lusin.
Aku sama sekali tidak tahu kapan Aleandro bergerak ke sisiku, tiba-tiba saja tangannya sudah mencengkram lenganku dan menarikku berdiri. Sesaat aku bingung dengan tindakannya, tapi sedetik kemudian saat kerumunan werewolf itu membelah dan memberi jalan pada seorang pria, aku tahu kalau pria itu adalah sang Alpha walaupun sosoknya jauh sekali untuk menjadi seorang pemimpin. Auranya jelas berbeda dengan were lainnya.
“Wah wah wah, ada apa ini sampai penghisap darah ada disini?” Tanya pria itu dingin.
“Aku tidak ada urusan denganmu. Kaummu yang menyerang kami lebih dulu.” Balas Aleandro cepat.
“Tentu saja. Kalian memasuki wilayahku. Wajar kalau mereka ingin menyingkirkan pengganggu.”
Aku menatap Aleandro bingung. “Wilayah? Wren memberikan wilayah ini pada mereka?” Tanyaku pelan.
“Kami tidak butuh izin dari bangsa kalian untuk mendiami suatu wilayah.” Tegur pria itu yang sepertinya tersinggung dengan pertanyaanku.
Aleandro tersenyum menatapku. “Wren sudah memiliki terlalu banyak masalah, dan menurutnya ‘mereka’ tidak terlalu penting dibandingkan apa yang sedang terjadi, karena itu Wren berpikir untuk mengatasi mereka nanti setelah dia punya waktu luang.” Jawab Aleandro yang aku tahu kalau itu hanya jawaban asal. Wren tidak pernah menganggap remeh invasi makhluk non manusia non vampir. “Kami sedang mengejar were level E, dan jejaknya membuat kami sampai disini.”
“Werewolf kau bilang?” Tanya pria itu seakan ingin memastikan pendengarannya sendiri.
“Seperti yang kau dengar.” Balas Aleandro cepat.
“Kalau begitu itu urusan kami. Werewolf yang jatuh ke level E itu bukan urusan bangsa kalian.” Ujarnya datar.
Aleandro menggelengkan kepalanya. “Sepertinya aku tidak sependapat. Karena bangsa kami yang membuatnya seperti itu. Aku harus menyelidikinya untuk bisa membereskan masalah ini sampai ke akarnya.”
“Aku tidak akan pernah membiarkan bangsaku dibunuh oleh kalian. Tidak akan.” Geramnya, sesaat aku sempat berpikir kalau dia akan segera berubah menjadi werewolf.
Aleandro mengedikkan bahunya. “Aku tidak peduli dia akan mati di tangan siapa, yang aku butuhkan hanya beberapa pengetahuannya tentang keberadaan vampir yang menyebabkan semua masalah ini.” Sahut Aleandro ringan.
“Apapun yang kau inginkan, aku tetap tidak akan membiarkanmu menyentuh kaumku.” Tegasnya lagi.
“Kalau begitu berikan padaku.” Ujar sebuah suara dari belakang kami berdua.
Aku tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa dia. Perubahan aliran energi yang terjadi mendadak ini, rasa takut yang dirasakan para were disana, dan aura yang memancar keluar dari si pemilik suara itu membuktikan kalau dia adalah Alpha dari seluruh bangsa werewolf. Kalau pria yang tadi memiliki aura yang cukup menekan, maka pria asing yang baru muncul ini memiliki aura yang hangat namun menyesakkan.
“Kau...” Gumam Aleandro saat memperhatikan si pendatang baru yang ternyata adalah seorang lelaki tampan berambut hitam. “Ah, aku ingat. Kau yang ditabrak Lily saat bazaar waktu itu.” Lanjut Aleandro kemudian.
“Bisa-bisanya kau bicara seperti itu pada Raja kami!” Seru pria yang tadi.
“Diam, Lazaro.” Ucap pria yang baru datang dan kini berdiri tidak jauh dariku. “Aleandro sang Eksekutor. Dan kau... Kau manusia? Apa yang kau lakukan bersama penghisap darah ini, Nona?” Tanya pria itu padaku.
“Apa yang dia lakukan bersamaku jelas bukan urusanmu.” Tukas Aleandro cepat yang dapat kurasakan kalau Aleandro melepas sedikit kekuatannya ke udara.
Pria itu menggeleng pelan sambil melakukan hal yang sama, menghalau kekuatan Aleandro menggunakan kekuatannya sendiri. “Hati-hati, Nona. Kalau kau ingin lepas darinya, beritahu aku.” Ujarnya lembut. “Serahkan si b******k itu pada penghisap darah ini, Lazaro. Aku tidak ingin ada keributan yang tidak perlu.” Ujarnya kemudian pada pria Alpha lainnya yang bernama Lazaro itu.
“Anda hanya bercanda, kan?” Tanya Lazaro tidak percaya.
Pria itu berjalan mendekati Lazaro. Tangannya diletakkan di bahu Lazaro. Dan saat itu aku yakin kalau dia juga punya kekuatan seperti vampir kuno. Wajah Lazaro langsung kesakitan dan makin lama kedua kakinya tidak sanggup menahan apapun yang dia rasakan hingga akhirnya Lazaro jatuh berlutut. “Pernahkah aku bercanda dengan penghisap darah, Lazaro? Jangan membuat kita malu di depan mereka. Berikan apa yang dia inginkan.” Ucap pria itu dingin.
Lazaro mengangguk lemah, dan beberapa saat kemudian kami sudah mengikuti were itu menuju tempatnya menyembunyikan were level E. Jejak yang kami ikuti ternyata memang benar. Kalau saja tidak ada gangguan dari Lazaro dan kawanannya, aku dan Aleandro pasti bisa menemukan were itu tanpa harus didahului drama perkelahian yang membuat tulang-tulangku retak. Untung saja aku memiliki daya penyembuhan yang jauh lebih cepat dari manusia.
Berterima kasih pada vampir yang mengubah jalan hidupku.
“Aku tidak menganggap ini sebagai bantuan.” Ujar Aleandro begitu kami tiba di depan sebuah ruangan bawah tanah yang cukup gelap pada sang pemimpin were.
“Aku tidak peduli. Aku hanya memberikannya pada kalian karena kalian memang menemukan jejaknya. Tapi jangan harap ini akan terulang. Seperti yang Lazaro katakan, apapun yang terjadi pada bangsa kami itu adalah tanggung jawab kami dan kamilah yang akan mengurusnya, tidak peduli siapapun yang ada dibelakang itu semua.” Ucap Wagner dingin.
“Berdoalah supaya kalian bisa keluar dengan selamat dari Inggris. Wren tidak akan membiarkan ada penyusup di tanah kekuasaannya.” Gumam Aleandro pelan.
“Kami tidak takut dengan makhluk terkutuk seperti kalian.” Sahut Wagner terlalu cepat, sempat membuatku berpikir apakah dia memang sekuat itu hingga kepercayaan dirinya bisa seperti itu?
Aleandro tersenyum. “Baguslah. Karena kami akan terlalu berpuas diri kalau hanya kami yang paling hebat. Yang kuat ada karena ada pihak yang lemah.” Balas Aleandro ringan. Dan dengan satu kali tendangan, Aleandro berhasil mendobrak pintu yang memisahkan kami dengan ruangan tempat were itu di kurung. “Kau ingin melihat cara interogasi kami atau kau ingin meninggalkan kami?” Tanya Aleandro pada sang pemimpin were.
Pria itu terdiam sejenak sebelum berbalik. “Tinggalkan mereka.” Ujarnya pada para pengikutnya.
“Kau ingin disini, Amelia?” Tanya Aleandro begitu hanya tinggal kami bertiga di dalam ruangan remang-remang itu.
Bau apek khas barang-barang lama yang tidak terurus memenuhi ruangan. Apalagi mengingat ruangan ini berada di bawah tanah, membuatnya semakin pengap. Dan disudut ruangan, seekor were berbulu hitam pekat di rantai dengan rantai yang aku yakin biasa digunakan untuk truk-truk kontainer.
“Kau ingin aku berkelahi lagi dengan para were itu?” Tanyaku tanpa bisa menghilangkan nada sinis di dalamnya.
Aleandro terkekeh pelan. Aku tahu kalau dia mengejekku karena sikapku yang keras kepala. “Setelah ini selesai, aku akan mengajarkanmu bagaimana menangani anjing-anjing itu, sayang. Sekarang, aku harus menjalankan tugasku kalau aku masih ingin melihat dunia besok.” Ujarnya ringan sambil menghampiri were yang sedang di rantai itu.
Yah, setidaknya dia sudah berubah. Tidak lagi berpikir untuk mengusirku dan menganggapku sebagai gangguan.
Geraman rendah kekesalan terdengar dari were itu saat Aleandro semakin mendekatinya. Dalam beberapa detik Aleandro sudah meraih rantai itu dan menyentakkannya hingga terlepas dari dinding, membebaskan were itu. “Aku ingin bicara.” Ujar Aleandro sambil menatap were itu.
Seperti biasanya, alih-alih jawaban, yang terdengar hanyalah geraman dari were itu.
“Kau ingin kau sendiri yang berubah atau aku harus memaksamu?” Tanya Aleandro datar.
Sesaat aku pikir kalau ucapan Aleandro itu tidak akan mengakibatkan apapun. Tapi aku salah. Were itu memunggungi kami dan sedetik kemudian sosoknya digantikan oleh sesosok pria telanjang bertubuh kecil_tidak lebih besar dari Aleandro. Sambil berbalik dia meraih selimut kusam yang tidak jauh dari tempatnya berdiri dan melilitkannya di pinggang. Saat menatap wajahnya, kesadaran akan fakta tak terbantahkan itu menggangguku. Apa makhluk non manusia itu semuanya tercipta dengan wajah sempurna?
“Kau cukup bijak untuk memilih berubah sendiri, anjing.” Ujar Aleandro ringan.
“Namaku Lorenz. Bersyukurlah aku belum sepenuhnya jatuh ke level rendah itu hingga aku masih bisa memutuskan apa yang terbaik untukku.” Ujarnya ringan.
Aleandro tersenyum puas mendengar ucapan were itu. “Kalau begitu kau bisa menjawab pertanyaanku dengan benar, bukan?”
Pria itu berjalan mendekati pintu, menyentuhnya pinggirannya seakan benda itu terbuat dari api neraka. “Saat ini aku berada dalam keadaan terlemah. Aku hanya bisa mempertahankan wujud manusiaku selama beberapa menit. Kalau kau ingin tahu tentang yang terjadi, keluarkan aku dari sini, dan aku berjanji akan memberitahu apapun yang ingin kau ketahui.” Bisiknya pelan.
“Kau ingin keluar dari kawananmu sendiri?” Tanya Aleandro berusaha menyembunyikan kekagetannya, walaupun aku tahu dia cukup terkejut mendengar permintaan Lorenz.
“Ini bukan kawananku. Aku punya kawananku sendiri.” Sahutnya sama pelannya dengan sebelumnya. “Apa kau masih menginginkan jawaban itu?” Tanya Lorenz benar-benar terdengar penuh harap.
“Kau ingin keluar sekarang?” Tanya Aleandro cepat.
Lorenz menggeleng pelan. “Saat ini Wagner ada bersama Lazaro. Kau tidak akan bisa melawan mereka, apalagi Wagner. Beberapa hari lagi Wagner akan pergi, dia tidak pernah menetap lebih dari dua hari, saat itu, datanglah lagi dan bantu aku keluar dari sini.”
“Itu kalau kau belum dibunuh oleh anjing itu.”
Senyum singkat di wajah Lorenz membuatnya terlihat sangat manis. Tapi senyum itu hanya sebentar singgah di wajahnya karena sedetik kemudian wajah dingin itu kembali mendominasi. “Lazaro tidak akan membunuhku. Sampai saat ini hanya aku yang bisa bertahan tanpa jatuh ke level rendah itu bahkan setelah seminggu. Dia pasti akan menunggu perkembanganku. Dia...”
Lorenz tidak meneruskan ucapannya karena sesaat kemudian tubuhnya bergetar hebat, raungan memenuhi ruangan bawah tanah itu dan dalam sekejap sosoknya kembali berubah menjadi serigala besar. “Dia benar-benar tidak bisa mempertahankan wujud manusia?” Tanyaku cepat saat were itu menggeram kesal.
“Sepertinya begitu.” Gumam Aleandro. “Sebenarnya aku bisa membaca pikiranmu, kau tidak harus berubah menjadi manusia. Tapi aku tidak suka kalau mengingat pemandangan yang terlihat adalah aku bicara dengan anjing.”
“Aleandro... Apa kau akan menerima tawarannya?” Tanyaku cepat saat aku merasakan ada aura tambahan yang semakin mendekati ruangan itu.
“Aku akan membebaskanmu. Sampai saat itu, nyawamu adalah milikku. Jaga jangan sampai ada yang membunuhmu sebelum hutangmu lunas.” Ujar Aleandro ringan. “Kalau kau ingin berubah pikiran, katakan sekarang, karena begitu aku keluar dari tempat ini kau tidak akan punya kesempatan untuk mengingkari perjanjian ini.”
Were itu tidak bergeming sama sekali bahkan sampai kami melangkah keluar dari ruangan pengap itu. “Kau membuat perjanjian dengan were?” Tanyaku tidak percaya.
Aleandro bergumam tidak jelas sebelum menjawab pertanyaanku. “Sayangnya walaupun mereka makhluk berbulu yang bau, dalam hal menepati janji, mereka sama seperti kami.” Sahut Aleandro datar.
Aku ingin sekali mengucapkan sesuatu saat Lazaro muncul di tangga di hadapan kami. “Waktumu sudah habis, vampir. Pergilah sebelum aku berubah pikiran untuk membiarkanmu keluar dari sini hidup-hidup.” Ujarnya dingin.
“Bersyukurlah aku masih membenci bau kalian hingga akupun tidak ingin berada lebih lama di tempat ini.” Balas Aleandro sambil menarikku berjalan melewati Lazaro.