21. Permohonan Penduduk Desa Sayuran

2618 Kata
Menumpuk butiran padi yang berasal dari desa sebelah adalah rutinitas penduduk desa Sayuran. Bertepatan dengannya Yuri pamit mewakili Zean dan Mou Lizar. Mereka bersiap pergi ke jalanan tanpa arah. Ternyata desa Sayuran masih termasuk di dalam lingkungan hutan kecil. Pemukimannya tidak menghilangkan kesan hutan. Mereka berada di dalam hutan dengan luas tanah kosong yang begitu luas di setiap rumah. Rumahnya pun berjarak walau jarang sekali pohon hutan yang tumbuh. Uniknya lagi desa Sayuran semua menanam sayuran di jalan mereka, apapun jenisnya. "Ha!!!" Yuri terbelalak setelah keluar dari rumah. Hiruk-pikuk desa yang hidup dan damai nampak jelas di depan mata. Dia diam memandangi jalan yang penuh dengan sayuran di kiri-kanan. Mou Lizar hanya melotot dan Zean tersenyum. Ketika Yuri mengerjap dua kali dan meredakan rasa kagetnya, seseorang datang menawarkan sayuran di dalam bakul. "Permisi, belilah beberapa mentimun yang sudah dua hari ini. Kalau tak punya uang, tidak apa-apa. Tukarkan saja dengan beberapa butir beras." Wanita tua itu nampak rapuh membawa sebakul mentimun yang sedikit layu. Dalam hati Yuri tertegun. Wanita tua itu jujur mengatakan dagangannya sudah tidak laku selama dua hari. Zean berpemikirian sama dengan Yuri. Dia langsung mengambil beberapa mentimun itu dan menimangnya. "Nyonya, apa kau sendiri yang menanamnya? Ini masih segar." kata Zean sambil tersenyum. "Jangan menghiburku, anak muda. Aku sudah senang kalau ada orang yang melirik mentimun ini," wanita tua itu justru sedih. Zean dan Yuri saling pandang. Mou Lizar yang diam saja pun bersuara, "Apa masih bisa dimakan? Aku tidak pernah makan sayuran." menimang ke langit. Yuri langsung menyenggol Mou Lizar karena ucapannya membuat wanita tua itu sedikit murung. "Apa salahku? Aku bilang jujur tau," desis Mou Lizar. "Diam kau!" balas Yuri berbisik. Lalu, meringis pada wanita tua itu. "Nyonya, aku suka mentimun. Bagaimana kalau aku beli semua mentimun milikmu?" Mou Lizar langsung ternganga dan wanita tua itu terbelalak. "Kau yang benar saja, Yuri," lagi dan lagi Mou Lizar mendesis. Yuri menoleh. "Kenapa memangnya?" berlagak sok bodoh. "Aku berterima kasih untuk itu, tapi pantaskah kalian membelinya? Ini sudah sedikit layu." Wanita itu menunjuk semua mentimun dalam bakul. Ucapannya merebut perhatian Zean lagi. "Baiklah, aku hanya punya beberapa uang untuk membeli mentimun ini. Lumayan menjadi teman perjalanan." tanpa menunggu balasan, Zean memberikan sekantung uang koin yang cukup berat dan langsung mengambil bakulnya. Tentu saja wanita tua itu bingung. "Tunggu sebentar! Ini terlalu banyak! Aku tidak bisa menerimanya. Tidak sepadan, anak muda." dia menggeleng ingin mengembalikan kantong uang itu. "Hmm, ini enak. Yuri, kau mau?" Zean tidak memperdulikan kesah wanita itu justru menawari mentimun yang dia gigit pada Yuri. "Tentu saja, tapi bukan dari sisamu!" sewot Yuri di kata terakhirnya. Lalu, mengambil satu mentimun dan memakannya mentah-mentah. Mou Lizar sama terkejutnya dengan wanita tua itu, akan tetapi wanita itu terkejut karena heran. Berbeda dengan Mou Lizar yang mengetahui sisi lain dari Zean dan Yuri. 'Pangeran makan sayuran mentah? Tidak ada wibawanya sama sekali. Jangan-jangan aku tertipu kalau dia Pangeran palsu? Yuri kenapa ikut-ikutan, astaga!' pekik Mou Lizar dalam hati. Matanya membulat tanpa berkedip menyaksikan mereka makan tanpa ragu. Wanita tua itu mendesah pasrah kemudian tersenyum, "Nasib mujur aku berjumpa kalian. Semoga dalam perjalanan apapun kalian terhindar dari mala petaka. Desa Sayuran memang kekurangan bahan pokok makanan. Kalian hanya akan menemukan aneka ragam sayuran di sini. Sebaiknya kalian cepat pergi dari desa ini agar mendapat makanan yang lebih layak. Terima kasih banyak, anak muda. Wajahmu bercahaya sekali, apa kau bukan orang sembarangan?" meneleng memperhatikan Zean. Dia mulai menyukai Zean. Paras lembut nan rupawan itu masih mengunyah mentimun tanpa menghilangkan sihir senyumnya. "Haha, kau berlebihan. Aku hanya pengembara biasa. Wajah ini anugerah terindah yang kupunya," balasnya. "Sungguh lugu. Nona, apakah dia kakakmu? Kalian mau pergi ke mana?" merasa sangat berterima kasih karena dibayar dengan harga tinggi, membuat wanita tua itu terus mengajak mereka berbicara. "Siapa? Dia? Dia memang kakakku, tapi kami bukan saudara." Yuri menunjuk Zean. Mulutnya asik makan membuat Mou Lizar bergidik. "Kalau aku adalah ahli sihir jalanan. Kami bukan saudara, tapi teman satu jalan." ucap Mou Lizar memperkenalkan diri dengan bangga. Wanita tua itu terkekeh, "Baiklah, semoga selamat sampai tujuan. Kalau begitu aku permisi dulu. Nona, jaga dirimu baik-baik. Aku melihat kau membawa harapan besar yang akan merubah negeri." Wanita tua itu pergi setelah berbalik badan di kata terakhirnya. Jalannya lumayan lambat menuju ramainya jalan desa yang dipenuhi warga. Seketika Yuri terdiam. Tangannya yang memegang mentimun menjadi diturunkan pelan-pelan. Menelan mentimun yang tersisa dan menghela napas berat. "Semua orang punya firasat. Naluri wanita penuh derita tidak bisa diremehkan. Kakak, baik sekali kau membeli semua dagangannya, kalau tidak dia akan jauh kelaparan dari kita. Kurasa dia orang yang tidak biasa." sorot mata Yuri terus berpacu pada punggung wanita itu yang mulai menghilang dari kerumunan. "Aku senang bisa membantu. Terlebih lagi mentimun ini enak. Mou Lizar, kau harus mencobanya juga." Zean tidak terkecoh dengan ucapan wanita tua tadi. Dia menikmati makanannya sampai membaginya dengan Mou Lizar yang juga memandang heran wanita tua tadi meskipun tangannya merogoh mentimun dalam bakul. "Pangeran, berapa banyak uang yang kau berikan? Aku tidak tau kau punya banyak uang." menggeleng pelan. Yuri mengerjap sadar. "Jadi itu yang kau pikirkan sejak tadi? Sekantung uang?!" Mou Lizar menatapnya, "Tentu saja. Kau kira apa? Aku bahkan mengira-ngira jumlah koin di dalamnya. Hahh, Pangeran terlalu dermawan. Harusnya berikan sisanya padaku." "Untuk apa?" dengan polosnya Zean menjawab. "Eerrrr, ya, untuk aku lah," geram Mou Lizar. "Kau bisa cari uang sendiri," balas Zean masih dengan ekspresi yang sama. Mou Lizar semakin gemas, "Wanita tadi juga bisa cari uang sendiri." "Itu berbeda," bantah Zean. Ahli sihir itu terjingkat-jingkat membalas sahutan Zean. Mereka terus berdebat membuat Yuri terkikik. Jalan di hadapan lurus tidak ada cabang jalan. Desa ini tidak berliku-liku, akan tetapi banyak permasalahan yang terlihat. Hal itu sangat jelas bahkan hampir di sepanjang jalan ada pertengkaran. Semua tidak jauh dari nilai dagang dan makanan. Konon katanya desa Sayuran menyuplai ke istana negeri Ru, akan tetapi kenyataannya mereka kekurangan makanan pokok. Ini bisa menjadi gizi yang tidak seimbang. Kenapa tidak ada pasar dari desa lain yang membuat perdagangan di semua desa berjalan setara? Itu pertanyaan yang tidak akan ada jawaban pastinya jika sistem politik di pemerintahan negara Ru tidak menetapkan kebijakan. Yuri mempertanyakan hal itu seiring kakinya melangkah. Sama hal-nya dengan Zean yang meredupkan pandangan meskipun cuaca tidak begitu cerah. Lalu, dia melihat sebuah peternakan ayam yang sederhana. Ada seseorang yang sedang memberi semua ayam itu makan. Makanannya pun terbuat dari sayuran yang sudah tercampur dengan biji-bijian. "Mari kita ke sana. Sepertinya mereka punya sedikit air untuk kuda kita." Zean menunjuk dengan isyarat mata. Ketika Yuri menoleh ke peternakan itu, dia terkejut dalam hati. Dia pikir ayam seharusnya tidak memakan sayuran giling begitu banyak. Herannya lagi semua ayam itu menerima apa yang majikannya berikan. 'Apa tidak ada beras dan biji-bijian yang cukup untuk memberi hewan ternak makan? Nampaknya saja desa ini sangat subur nan sejahtera, tetapi masih banyak kekurangannya. Aku prihatin melihatnya,' batin Yuri. Kakinya mendadak lemas ketika mendekati peternakan itu. Aroma tidak sedap yang ditimbulkan ayam ternak mencemari indera penciuman, akan tetapi Yuri dan Zean bersikap biasa saja dan menahannya dalam hati. Lain dengan Mou Lizar yang sibuk menutupi hidung dan mulutnya menggunakan kain yang terikat di pinggangnya. Setelah puas memandang ke segala arah untuk memperhatikan peternakan itu, Zean menyapa sang pemilik peternakan yang masih sibuk memberi makan semua ayamnya. Suara banyak ayam ang berebut makanan cukup berisik, tetapi tidak mengganggu pembicaraan. "Permisi, Nyonya. Apakah ini peternakanmu?" tanya Zean mengagetkan orang itu. Dia sampai berbalik dan mendapati senyuman Zean yang ramah. Seketika dia tersenyum dan meletakkan makanan ayamnya begitu saja. "Ah, ada tamu dari jauh. Iya, ini memang peternakanku. Apa kalian mencari ayam?" tanya orang itu senang. Tergambar jelas dari raut wajahnya yang bersinar. Melihat Zean, Yuri dan Mou Lizar seperti sumber rezeki yang datang tiba-tiba. Pikiran orang itu sangat bisa ditebak. "Ah, kebetulan sekali. Hanya saja kami tidak memerlukan ayam sekarang, akan tetapi bolehkah kami meminta sedikit bantuan darimu?" tanya Zean lagi ramah. Senyum orang itu sedikit luntur. Dia berubah bingung, "Eee, bantuan apa itu? Apa yang bisa kubantu?" sedikit meneleng. "Dua kudaku kehausan. Bisakah kami meminta seember air untuk mereka?" Zean menunjukkan kudanya dan kuda Yuri. Sontak orang itu tersenyum kaku, "Oh, tentu saja. Silahkan masuk. Mari ke halaman belakang." Orang itu masuk begitu saja membuat Zean dan Yuri saling pandang. "Hehh? Ayam-ayam ini dibiarkan begitu saja? Wah, kalau dijual lumayan juga!" Mou Lizar berkacak pinggang menatap semua ayam itu. "Ayo masuk. Dia baik mau memberi minum kuda kita." ajak Yuri melangkah terlebih dahulu. Kemudian disusul Zean dan Mou Lizar yang membawa kuda dengan hati-hati. Barang-barang mereka masih berada di atas kuda saat tiba di halaman belakang peternakan itu. Dia melihat pemilik peternakan sedang mengambil air dari sumur satu ember besar penuh. Yuri ingin menghampirinya dan membantu, akan tetapi orang itu sudah selesai dan mendekati mereka. "Nyonya, biar aku bantu." Yuri membantu mengangkat ember itu ketika sudah agak dekat dengan mereka. Lain dengan Zean dan Mou Lizar yang ternganga oleh pemandangan di depannya. Lahan yang cukup luas dan ditanami tanaman sayur yang tumbuh di dalam tanah yaitu wortel. Sungguh tidak diduga Zean dan Mou Lizar. Mereka sampai tak berkedip, mungkin saja napasnya tercekat. Berbeda dengan Yuri yang hanya sedikit menyimpan rasa terkejutnya. Dia sudah menduga jika pemilik peternakan itu pasti punya lahan lain dan pekerjaan sampingan terlebih lagi semua penduduk di desa Sayuran bekerja sebagai petani dan penjual sayuran. Dia sudah menduganya sejak awal. Jadi hanya tersenyum melihat kedua temannya menganga seperti itu. "Wah! Kukira hanya peternakan ayam yang dia miliki. Ternyata kebun wortel pun ada!" Mou Lizar memekik hilang kendali. Lalu, mengerjap sambil menggeleng mengambil kesadarannya kembali. Zean juga sudah bersikap seperti sebelumnya, "Hebat juga. Pasti ini bisnis yang lancar." "Tidak juga, karena di sini kekurangan bahan makanan pokok." sahut pemilik peternakan sambil tersenyum dan menaruh ember air itu di depan kuda-kudanya. Setelah selesai dan mengusap dahi, dia melanjutkan ucapannya, "Beras dan gandum tidak ada di sini. Jadi jangan heran jika ayam ternak ku memakan sayuran, ya." Zean mengangguk dan Yuri mendesah mengelus dahi. "Hahh, air yang berat juga. Nyonya, apa kau mengelola semua ini sendirian? Hebat sekali!" Yuri merentangkan tangannya menunjuk lahan kebun wortel dan peternakan di depan sana. Orang itu tertawa ringan. "Tentu saja tidak. Anakku sedang menjual sebagian ayam di peternakan ke desa sebelah. Suamiku sedang ikut mengirim stok sayuran ke pemerintah negeri bersama aparat desa. Jika aku yang mengurus semua ini sendirian, tubuhku pasti sudah hancur sekarang," kata orang itu penuh candaan. Yuri ikut tertawa, "Haha, benar juga. Kau hebat, Nyonya! Aku saja tidak tau cara menanam sayuran." menggeleng polos. "Iya, kau hanya tau caranya berkelahi." gumam Mou Lizar sambil melirik sana-sini. Jelas Yuri bisa mendengarnya dan hanya dia beri lirikan sebagai jawaban. Orang itu terkekeh lagi, "Ngomong-ngomong, kalian ini siapa dan dari mana?" Mau ke mana?" Di sela kuda mereka yang minum dengan rakusnya, mereka berbincang akrab tanpa harus duduk. "Kami pengembara dari negeri seberang. Aku sendiri tidak tau sudah berapa lama pergi dari negeri sendiri, haha. Kami sedang membawa tugas penting, jadi terima kasih sudah membantu meringankan perjalanan kami." Yuri menunduk sopan setelah meringis. "Ah, tidak-tidak, tidak perlu sungkan begitu. Semua hewan pasti lapar dan haus seperti manusia. Hanya air saja tidak perlu malu. Apa kalian butuh makanan? Aku bisa memberi kalian bekal kalau mau," orang itu sedikit panik ketika Yuri menunduk. "Nyonya, memberi air saja sudah cukup. Terima kasih atas tawarannya. Sepertinya kami harus pergi sekarang," Zean memotong pembicaraan mereka karena dua kudanya sudah selesai menghilangkan rasa hausnya. Yuri menoleh, "Iya, benar juga. Nyonya, terimalah sedikit uang ini sebagai bayaran." merogoh beberapa koin di dalam sakunya. Orang itu menerimanya begitu saja. Yuri pikir dia akan menolak seperti orang sebelumnya. Mengetahui dugaannya salah, Yuri pun berputar badan dan mengajak Zean juga Mou Lizar pergi, akan tetapi orang itu menghentikannya. "Tunggu! Tunggu sebentar!" Yuri heran. Dia berbalik dan setelah mereka berbalik serta menghentikan langkahnya, orang itu segera masuk ke rumah. Tandanya meminta mereka untuk menunggu. "Apa kau rasa orang itu akan memberi sesuatu?" Mou Lizar berharap mendapatkan hadiah. "Sstt, itu kurang baik, Mou Lizar. Mengharapkan sesuatu yang belum tentu akan dilaksanakan," tutur Zean membuat Mou Lizar memutar bola matanya. Yuri mendesah sedikit terkikik, "Kupikir dia akan pura-pura menolak lalu menerima uangnya, atau bahkan menolak imbalan. Ternyata aku salah. Yahh, itu wajar karena karakter setiap orang berbeda-beda." Zean menahan senyum, "Itu sangat jelas dari ekspresimu ketika keang itu menerima uangmu." "Diam kau, Kakak!" Yuri merasa jengkel. Namun, Zean masih nampak menahan senyumnya yang tidak bisa ditahan. Tidak lama kemudian orang itu muncul dan membawa sebuah kotak. Tentu saja Yuri dan yang lainnya terkejut. Orang itu bahkan sedikit berlari padanya. Yuri saling pandang bingung dengan orang itu setelah orang itu berhenti tepat di hadapannya. "Nona, bawalah kotak ini bersama kalian. Di dalamnya ada sebuah peta jalan yang menuju ke istana negeri Ru. Sepertinya kalian bukan orang sembarangan. Kumohon terimalah permintaan besarku yaitu ubahlah kebijakan di negeri kami dengan aturan yang menyetarakan bahan pokok di semua desa. Kami butuh makan setiap hari dan berbagai jenis gizi juga ragam makanan, agar semuanya bisa merasakan. Perdana menteri pasti mau mendengarkan ucapan orang hebat. Jujur saja, sejauh ini sudah banyak kali perangkat desa serta orang-orang desa menyerukan pendapatnya tentang hal ini, akan tetapi tidak dipedulikan. Kami juga tidak tau penyebabnya, yang jelas ini pasti permainan politik pemerintah negeri. Kumohon terimalah permintaan ini. Aku memang lancang. Aku minta tolong pada kalian." orang itu menyerahkan kotaknya dengan cepat. Yuri dan yang lainnya tercengang. Di tidak bisa menerima kotak itu. Dibiarkan begitu saja diserahkan padanya dan pandangan orang itu sangat penuh harap. Apakah masalah pangan yang tidak merata ini sangat serius sampai banyak yang mengeluh di desa Sayuran ini? Yuri kembali bertanya-tanya. Tergugahlah hatinya yang begitu naif. Dia iba dengan kondisi warga, akan tetapi dia sadar jika tidak boleh ikut campur dalam urusan negeri orang. "Bukannya kami tidak mau membantu, tapi kami orang jauh. Bagaimana bisa ikut campur dalam urusan kalian? Itu akan sangat lancang," kata Yuri halus. "Tidak masalah, aku tidak memaksa. Setidaknya bawa petunjuk jalan ini. Siapa tau kalian membutuhkannya juga berubah pikiran untuk permintaanku," orang itu memaksa. Yuri dan yang lainnya saling pandang bicara dari mata. Kemudian, dia menghela napas panjang dan tersenyum. Tangannya terulur menerima kotak itu. Senyum orang itu langsung terbit. "Aku terima, bukan berarti kami ingin mengacaukan tatanan pemerintah negeri kalian, ya," canda Yuri walau serius. "Aku mengerti. Bawalah, itu juga bisa berguna bagi kalian agar tidak tersesat. Selain itu, aku juga tidak memaksa kalian untuk membantu. Hanya saja menaruh sedikit harapan untuk desa ini pada kalian. Jika tidak mau juga tidak tidak apa-apa." orang itu menggeleng pelan. Yuri terkekeh, "Terima kasih sekali lagi, Nyonya, juga untuk kotak ini. Kalau begitu kami permisi dulu." Yuri pamit undur diri beserta yang lain. Orang itu mengangguk dan mengantar mereka sampai di jalanan desa. Dalam hati Yuri merasa tidak pantas menerima peta ke arah istana negeri Ru, akan tetapi jika tidak diterima orang itu akan sedih dan kehilangan sedikit harapan, walaupun benda itu sekarang ada di tangannya juga tidak akan dia lakukan perjalanan ke istana. Gundahnya Yuri terlihat jelas oleh Zean dan Mou Lizar. Di sepanjang jalan gadis itu terus melihat kotak kecil yang ringan itu. Dahinya pun berkerut, bibirnya sedikit cemberut, juga jarang berkedip dan memperhatikan langkah. Zean berdeham menyita perhatian Yuri, "Aku tau apa yang kau ragukan, tapi dia benar. Siapa tau isi kotak itu bisa digunakan. Kalau kau tidak mau ke istana dan membantu mereka, tidak apa-apa. Tapi, Yuri, jika kita bisa melakukannya dan berhasil, pasti hal besar akan terjadi pada biji pohon itu. Dampaknya lumayan, bukan?" Yuri memicing membuat Zean yang mulanya santai menjadi terbelalak, "Kau semakin memperkeruh suasana hatiku, bukannya memberi jawaban pasti justru memberiku pilihan." Raut wajahnya sangat tidak bersahabat. Seolah ada awan mendung di atas kepala Yuri. Bukan Zean yang meneguk ludahnya susah payah, melainkan Mou Lizar. Dia sampai beringsut ke belakang Zean. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN