20. Desa Sayuran

2811 Kata
Pergantian hari memang sedikit orang yang berkeliaran di luar rumah. Beruntung masih ada salah satu pintu yang terbuka dengan obor yang menerangi setiap sisi rumah. Rumah yang sederhana dan berbau kayu asli dari hutan. Terlihat sangat kokoh dan berusia puluhan tahun, sudah terlihat dari sekali pandang bagi Zean. Pemilik rumah itu baik hati karena bersedia menampung mereka untuk satu malam, terlebih lagi Yuri butuh perawatan. Masih tidak diketahui pasti apakah penyebab dari pingsannya Yuri selain kelelahan. Namun, Zean yakin bukan hanya lelah yang bisa membuat Yuri kehilangan kesadaran begitu lama. Zean pikir ini efek dari letusan hati Yuri saat berhasil membuat perubahan dua sekaligus dalam biji pohon itu. Yuri sudah tidak sadar selama satu jam. Uap air panas bercampur taburan daun kayu putih dalam baskom mengepul sedari tadi agar membantu pernapasan Yuri. Alih-alih jika bisa membantunya cepat sadar. "Terima kasih sudah bersedia membantu kami, Paman," Zean menangkupkan tangannya ketika pemilik rumah itu duduk di depannya. Mou Lizar mengikuti cara Zean sambil meringis menunjukkan deretan giginya. Laki-laki paruh baya yang tinggal dengan anak perempuannya. Mereka seorang pedagang sayuran. Kini anak dari paman itu sedang berkutat di dapur membuatkan sesuatu yang hangat untuk mereka. "Ah, tidak apa-apa. Aku kasihan melihat temanmu yang pingsan. Sudah begitu lama, tapi dia tak kunjung bangun." paman itu menggeleng pasrah memandang Yuri. Zean tetap mempertahankan senyumnya, "Tidak masalah, Paman. Dia kuat." "Sekuat apapun perempuan, dia tetaplah perempuan. Tubuhnya jauh lebih lemah dari laki-laki. Kalau setengah jam lagi dia masih belum sadar, terpaksa aku panggilkan tabib," kata pemilik rumah. Dia kasihan memandang betapa lemahnya Yuri. "Kumohon, jangan lakukan itu, Paman. Menerima bantuanmu saja sudah cukup bagi kami," tolak Zean baik-baik. "Tapi kenapa, anak muda? Temanmu butuh perawatan. Lihat, sangat lemah dan kecil!" menunjuk Yuri lagi dengan iba. "Haha, tidak sebanding dengan dirinya yang asli, Paman. Percayalah padaku. Aku juga tidak ingin menyiksanya, aku juga ingin dia cepat sadar, akan tetapi memanggil tabib bukan pilihan yang tepat." Zean menggeleng pelan. Mou Lizar memandang mereka berdua bergantian mengikuti siapa yang berbicara. Tidak tahu harus mengatakan apa dan tergoda dengan aroma masakan anak dari pemilik rumah yang sangat harum menggelitik indera penciuman. Sekuat tenaga Mou Lizar menahan hasrat agar tidak kabur dari sana dan lari ke dapur. Perutnya sudah meronta-ronta. "Kalau begitu, pasti ada penyebabnya. Hahh, aku tidak mau mengusut informasi pribadi kalian. Kalau memang itu keinginanmu, terserah saja, hahaha." paman itu tertawa. "Paman, kau sangat baik." Zean tersenyum jauh lebih manis dari sebelumnya membuat paman itu terkejut sampai berhenti tertawa. "Wah, kau punya paras yang begitu menawan. Aku belum pernah melihat orang setampan dirimu," puji sang paman. "Paman, aku juga ada di sini. Aku tidak kalah tampan darinya," Mou Lizar menyita perhatian. "Ha? Kau tidak sama dengannya." paman itu memperhatikan Mou Lizar dan Zean bersamaan. Sontak mereka tertawa. "Hahaha, iya-iya aku akui kalah darinya. Paling tidak aku juga masih muda." Mou Lizar mengusap dagunya percaya diri. "Anak muda memang penuh semangat muda. Tidak mau kalah dari yang lain, haha. Aku akan mengatur tempat tidur untuk kalian selagi menunggu makanannya siap." paman itu berdiri, akan tetapi Zena menghentikannya. "Tunggu, Paman. Kami tidur di sini saja," ujar Zean. "Apa? Tidak bisa, di sini dingin," paman itu tidak jadi berdiri. Mereka berada di ruang tamu dan hanya duduk di lantai yang terbuat dari kayu. Sedangkan Yuri hanya diletakkan di kursi panjang itu pun setelah mengangkat kursi dari ruangan lain. Ruang tamu memang dingin. Banyak udara yang masuk dari celah-celah. Api dari obor setidaknya cukup untuk menghangatkan mereka. "Tidak masalah, Paman. Kami akan tidur di sini saja. Kami tidak mau merepotkan," sanggah Zean ramah. Mou Lizar tak berani angkat suara. Setelah saling pandang dan berpikir, paman itu akhirnya mengerti. "Ah, baiklah kalau begitu. Aku... Akan mengambilkan selimut untuk kalian saja." Keputusan yang adil bagi Zean terlebih lagi paman itu setuju. Seorang tamu yang baik pasti tidak ingin merepotkan pemilik rumah terlalu banyak, itu yang dilakukan Zean sekarang. Saat paman itu pergi, Mou Lizar berbisik pada Zean. "Pangeran, kenapa menolak tawarannya? Sudah tau di sini dingin malah ditolak." mengelus kedua lengannya yang menggigil. "Jangan mengeluh, Mou Lizar. Jangan panggil aku Pangeran jika di depan orang-orang asing. Sudah syukur kita diberi tempat menginap, jika tidak kita bisa lebih kedinginan di luar. Terlebih lagi aku tidak bisa meninggalkan Yuri sendirian di sini. Dia pasti juga sangat kedinginan sampai tak kunjung sadar." Zean memperhatikan Yuri lekat. Air hangat bercampur daun kayu manis itu sudah tidak hangat lagi. Tidak ada gunanya diletakkan di samping kepala Yuri. "Hahh, padahal aku ingin tidur di ranjang yang nyaman sampai pagi, tapi ya sudahlah. Apa boleh buat?" Mou Lizar mengendikkan bahu lalu berbaring melipat tangan di d**a. Matanya tertutup tanpa terlelap. Obor di sekitar sudut ruangan bisa merusak pandangannya. "Kau ini..." Zean menegur. Mou Lizar langsung mengerti, "Aku tau, hanya ingin saja apa tidak boleh?" gumamnya tanpa membuka mata. Ini kedua kalinya Yuri tidak sadarkan diri. Zean curiga Yuri akan tidur sebelum sadar seperti sebelumnya. Dia mengamati baik-baik biji pohon di dalam tas yang selalu dipakai Yuri bersamaan dengan denyut nadi yang teratur. Zean tidak menemukan keganjalan apapun selain kelelahan. Dia mendesah duduk lebih dekat dengan Yuri. Dia tersenyum, tangannya diam di pangkuan takut menyentuh Yuri barang seujung jari padahal dia hanya ingin melihat rantai akar birunya saja. "Itu rantai akar yang bagus, bukan?" gumamnya. Jemarinya bergerak-gerak menggesek cincin birunya. "Aku mendengarmu, Pangeran," ucapan Mou Lizar mengagetkan Zean. Mou Lizar membuka matanya sebelah, "Aku heran, kalian ini teman sungguhan atau pura-pura?" Zean mengernyit, "Kenapa bilang begitu?" "Karena cara memandangmu pada Yuri berbeda," lanjut Mou Lizar. "Berbeda?" Zean meneleng. "Hahaha, Pangeran bodoh! Maaf-maaf, hanya terbawa suasana. Kau sepertinya tidak mengerti sama sekali. Kalau begitu aku tidak mau menyimpulkan apapun. Biarkan kau sendiri yang menyadarinya. Pangeran, kalau makanannya sudah datang beritahu aku, ya. Aku mau tidur sebentar." Panjangnya penjelasan Mou Lizar membuat Zean semakin bingung. Dia tak ambil pusing untuk itu. Tidak lama kemudian paman pemilik rumah datang membawa tiga selimut beserta anak perempuannya yang membawa beberapa makanan hangat dari dapur. Tidak perlu dibangunkan Zean, Mou Lizar sudah bangun sendiri ketika menghirup aroma makanan dari dekat. "Wah, kelihatannya enak!" kata Mou Lizar tidak sabar. Zean sampai menyenggolnya agar dia diam. Paman itu tertawa kecil, "Ini dia makanan dan selimutnya sudah datang. Untuk makanannya tidak gratis, ya." "Tenang saja, Paman. Dia yang akan bayar." Zean menunjuk Mou Lizar polos. Mou Lizar yang awalnya tersenyum lebar mendali terbelalak, "Aku? Kenapa aku?" menunjuk dirinya sendiri. "Haha, bergurau, tidak serius." paman itu memberikan selimutnya sedangkan anaknya menyajikan makanan. "Fiyuuhh, mengagetkanku saja." Mou Lizar bahagia menerima selimut. Langsung mengenakannya tanpa malu. Zean hanya memangku selimut itu, "Kami mersasa merepotkan. Kami akan bayar biaya sewa seperti saat menyewa penginapan semalam. Tolong, terimalah." Mengeluarkan sejumlah koin perak membayar paman itu sungguhan. Mou Lizar melotot tidak menduga Zean serius. Paman itu sampai bingung tidak bisa berkutik. "A-aku hanya bercanda, anak muda. Jangan bayar apapun, makanlah sepuas kalian. Aku ikhlas menerima kalian di sini. Jangan malu-malu. Obati saja rekanmu dengan baik. Bagaimana ini? Nak, jelaskan padanya kalau kita tak minta uang," paman itu meminta anaknya untuk menjelaskan. "Begini, para pengembara. Rumah kami berada di pinggir gerbang desa. Kami biasa menerima siapa saja yang ikut singgah ataupun menumpang. Kami tidak keberatan karena saat malam pun kami juga harus bekerja. Itu sebabnya pelita di rumah kami masih menyala. Sayuran di kebun belakang rumah akan dicuri orang jika tidak kami jaga. Setiap malam aku dan ayahku bergantian menjaganya. Kalau tidak percaya, lihatlah sendiri kebun di belakang rumah. Sangat luas seperti sawah padi. Semuanya berisi sayuran dengan berbagai jenis. Kalau kalian mencari penginapan, tidak ada di desa ini. Jadi kami sudah biasa dengan adanya pengembara yang kedinginan di malam hari." Perangaian yang sempurna. Halus bagai sutera terbang di gelap malam. Senyumnya seperti Dewi rembulan. Itulah yang ada di pikiran Mou Lizar sekarang. Matanya berbinar terpesona dengan gadis itu. Lemah lembut mengetuk hatinya yang kedinginan. Bagi Mou Lizar itu anugerah yang sedap dipandang. "Waaahhh, cantik sekali!" tanpa sengaja dia memuji. Gadis itu tersenyum malu dan paman itu tertawa. Zean menyenggol lengan Mou Lizar lagi sampai sadar. "Kau bicara apa? Tahan mulutmu!" bisik Zean mirip mendesis. Air liur Mou Lizar hampir menetes karena ternganga. Mou Lizar segera mengusap wajahnya. "Hehe, hai, Nona manis! Kalau benar begitu kami tidak akan sungkan lagi. Eee, apa kau mau menjaga kebun sekarang? Aku bisa menemanimu kalau mau," Mou Lizar malu-malu. "Jaga bicaramu, Mou Lizar," desis Zean lagi. Dia sungkan pada pemilik rumah. Paman itu justru terkelakar. Mereka berbincang sampai pukul delapan malam. Ketika pemilik rumah dan putrinya berjaga di kebun sayuran, Mou Lizar langsung tertidur. Kini hanya Zean yang terjaga. Dia menghitung waktu pingsannya Yuri. Selimut yang dikenakannya pada Yuri tak bisa menghilangkan hawa dingin di kaki. Zean menambah menutupi kaki Yuri dengan selimutnya. Alhasil dia yang menggigil kedinginan. "Kakak, aku tidak apa-apa. Pakai lagi selimutmu." Tiba-tiba Yuri berbicara membuat Zean terkejut. Dia segera mendekat ke wajah Yuri. Matanya tidak terbuka, Zean pikir Yuri bicara tanpa sadar. Secara mendadak pula Yuri bangun dalam posisi duduk. Zean tersentak mundur. "Astaga, Yuri! Kau kenapa? Menakutiku saja!" Zean mengelus d**a karena Yuri sadar sepenuhnya sambil memasang ekspresi bodoh. Menggaruk kepalanya sampai mengusap wajah berkali-kali. Zean hanya menganga. "Aku sudah sadar dari tadi, tapi aku tidur. Kau malah membangunkanku. Ambil balik selimutmu, kau juga kedinginan." ujarnya lemas sambil memberikan selimut Zean. Zean mengambilnya ragu, "Kau... sungguh tidak apa-apa?" Yuri menoleh mengerti maksud Zean, "Kau pikir aku seperti mayat hidup yang tiba-tiba bangkit, ya? Jahat sekali." Zean mendesah lega, "Syukurlah kau baik-baik saja. Pingsanmu lama sekali, aku pikir bukan efek lelah saja. Tidak ada masalah dengan kekuatanmu, bukan?" "Tidak ada, yang tadi itu pingsan sungguhan. Aku rasa karena bertarung denganmu dan mengganggu rusa itu. Aku merasakan sedikit adanya peningkatan untuk energi positif dalam diriku. Ini seperti... mengalir dalam nadiku. Apa mungkin terhubung dengan biji pohon cincin merah?" Yuri memperlihatkan pergelangan tangannya. Zean memeriksanya, "Sudah kuperiksa berkali-kali dan pendapatku kau terkena efek saat biji pohon itu berubah. Yuri, apa mungkin nantinya jika kau berhasil mengisi biji pohon itu lagi, kau akan terkena dampak yabg lebih besar? Jauh lebih besar dari apa yang kau rasakan sekarang." Baru bangun mereka langsung membahas perkembangan misi. Progres yang tidak bisa ditunda dan harus dibicarakan setiap saat walau kenyataannya mereka terlalu santai menjalani hari-harinya. Perkataan Zean ada benarnya. Pada intinya Yuri mengalami perubahan terhadap kekuatannya dan berimbas pada dirinya sampai kelelahan. Itu semua disebabkan oleh perkembangan biji pohon miliknya. Yuri memandang pintu yang sedikit terbuka. Kemudian, beralih pada Mou Lizar yang tertidur nyenyak. Ada beberapa makanan yang masih utuh. Asapnya pun masih mengepul. Sepertinya Zean sengaja menunggunya bangun untuk makan bersama. Dia mengerti jika Mou Lizar menahan lapar dan dingin. Bukan Zean yang melarangnya untuk makan, akan tetapi dirinya sendiri yang mengerti keadaan. Bagaimana mungkin dia makan sedangkan Yuri tak sadar berjam-jam lamanya. Dia alihkan untuk tidur selagi menunggunya bangun. Yuri menggaruk tengkuknya merasa bersalah. Seharusnya dia tidak tidur setelah sadar dari pingsan. "Kakak, besok pagi kita harus keluar dari rumah ini secepatnya," kata Yuri setelah menguasai situasi. Zean mengangguk, "Sekarang makanlah. Pemilik rumah ini sangat baik." Zean mendekatkan makanannya pada Yuri sambil membangunkan Mou Lizar. Dalam sekali tepuk Mou Lizar langsung bangun. Dia terkejut melihat Yuri yang sudah duduk tersenyum hangat padanya. "Huaaa! Kau sudah sadar?! Syukurlah, Yuri! Kukira kau sekarat sungguhan! Dia tidak mau memeriksakanmu pada tabib. Hahh, tapi yang jelas aku sennag kau sudah siuman. Apa ada yang sakit? Bagian mana? Mau aku menghiburmu agar semakin sehat?" paniknya Mou Lizar membuat Yuri terkekeh. "Entahlah, ini aneh. Aku tidak merasa sakit apapun. Biasanya setelah pingsan pasti pusing, 'kan? Aku tidak pusing sama sekali." Yuri menggeleng pelan. "Huft, bagus kalau begitu." Mou Lizar mengelus d**a. Pandangannya jatuh pada makanan yang dia acuhkan sejak tadi. Seketika matanya melebar, "Wah! Sudah waktunya makan? Mari makan!!!!" mengambil beberapa lauk yang dia suka. "Yuri, kau harus makan banyak agar tidak mudah pingsan." memberikan makanan porsi besar pada Yuri. Dia bilang sebagai amunisi perutnya yaitu nutrisi. "Ini banyak sekali. Kau begitu aku bagi dengan Kak Zean saja." Yuri memberikannya pada Zean. "Apa? Mana bisa begitu? Pangeran punya jatahnya sendiri." Mou Lizar mendelik. Berbisik ketika menyebut Zean sebagai Pangeran. "Sudahlah, kau makan saja. Aku mau berbagi dengan Kakakku." Yuri langsung melengos memaksa Zean untuk makan bersamanya. Mou Lizar menganga. Ikut melengos, "Terserah! Kalau begitu sisanya aku makan sendiri!" Merajuk dan merebut semua yang ada di hadapannya. Dia makan sangat lahap. Sedangkan Yuri dan Zean makan porsi besar itu bersama. Hari semakin malam. Kantuk menghilang meninggalkan dingin yang mulai menggerogoti tulang. Yuri datang ke halaman belakang setelah membiarkan Zean dan Mou Lizar berisitirahat. Nampak pemilik rumah dan putrinya sedang berjaga di sekitar kebun luasnya. Pelita mengelilingi kebun. Ada pelindung di dalam api itu sehingga tidak mudah padam tertiup angin. "Wah, di sini dingin sekali. Pasti menyenangkan kalau siang hari." Yuri duduk di samping pemilik rumah secara tiba-tiba. Mereka terkejut, Yuri meringis bodoh. "Ah, kau sudah siuman? Syukurlah." paman itu tersenyum manis. "Paman, terima kasih untuk semuanya. Kak Zean bilang kalian tidak mau diberi upah sewa semalaman, jadi aku punya sesuatu yang khusus buat kalian. Kali ini mohon diterima, ya, atau kami merasa sangat tidak enak." Yuri merogoh ikat pinggangnya dan mengeluarkan sesuatu. "Hmm? Benda apa itu?" pemilik rumah dan anaknya penasaran. Yuri meringis, "Ini dia! Rekayasa kebun sayur buatan Mou Lizar! Memang bentuknya kecil, tapi ini benar-benar mirip kebun kalian, seperti tiruan. Dia menggunakan sedikit sayuran dari dapur dan kayu kecil di luar rumah, hehe. Maafkan kelancangan dia, ya, tapi ini bagus! Perlu kalian ketahui kalau dia itu penyihir jalanan. Menghibur dari jalan satu ke jalan lain. Ambillah!" menyerahkan benda kecil sebesar telapak tangannya yang terbuat dari kayu dan sayuran asli. Berbentuk persegi dan sangat keras bahkan sayuran-sayuran kecil itu mengeras seakan diberi perekat yang tidak bisa luntur. Mereka terkejut sekaligus takjub menerima benda itu, "Wah, ini luar biasa! Bagaimana bisa dia membuatnya? Woaahh, benar-benar mirip, haha!" "Dia bisa menyihir benda-benda tidak berguna menjadi berguna. Itulah gunanya sihir kecil Mou Lizar." Yuri menjentikkan jari. Gadis itu mulai tertarik. Dia mendekat pada Yuri, "Nona, kalian punya kekuatan unik, ya? Bisa tunjukkan padaku yang lainnya?" Begitu semangat sampai matanya berbinar. Yuri menggeleng menyilangkan tangannya, "Haha, tidak juga. Kalau kau butuh hiburan, Mou Lizar lah solusinya." "Oh, begitu. Dia yang merayuku tadi namanya Mou Lizar? Kalau kau dan orang yang ramah tadi siapa?" gadis itu menimang. "Ahaha, ternyata kita belum berkenalan, ya? Perkenalkan, aku Yuri seorang pengembara. Kedua lelaki itu temanku. Satunya ahli sihir yang unik dan satunya lagi orang yang sangat baik juga kuat. Aku tidak pernah melihat orang sehebat dia dalam berkelahi. Dia yang bertugas melindungi kami saat di perjalanan. Aku hanya mengikuti mereka saja." Yuri menggaruk kepala belakangnya sambil menunjuk deretan giginya. "Benarkah? Wah, kalian kumpulan orang hebat! Sepertinya berkelana itu menyenangkan. Kalian mau pergi ke mana?" gadis itu semakin antusias. Yuri kualahan menjawab. Terpaksa harus mencari alasan agar tidak memberitahu kebenarannya sekaligus tidak berbohong. "Eemm, sebenarnya ini sulit dijelaskan karena kami berjalan secara diam-diam. Maaf, ya, tidak bisa memberitahumu. Yang jelas kami orang baik." senyum Yuri berubah manis. "Ternyata seperti itu. Tidak masalah, tapi apa kau tidak kedinginan? Satu selimut memangnya cukup? Kenapa tidak tidur bersama mereka saja?" sekarang paman itu yang berbicara. "Ini lebih dari cukup, paman. Terima kasih lagi, ya, tapi aku masih belum mengantuk," jujur Yuri. Paman itu mengangguk dan kembali fokus pada ladang sayurnya. Dia melihat hewan-hewan malam yang menghinggapi tanamannya membuat kakinya melangkah untuk mengusir hewan-hewan itu. Serangga terbang yang jelas akan merusak kualitas sayur di esok hari. Yuri juga mengerti hal itu. Lain dengan sang gadis yang meneleng memperhatikan hiasan di rambut Yuri. "Nona, apa itu? Aneh sekali, tapi bagus!" menunjuk rantai akar biru milik Yuri. Yuri meraba rantainya, "Oh, ini hiasan kepala. Memang hanya ada satu di dunia dan akulah pemiliknya, haha. Aneh, bukan?" Gadis itu mengangguk, "Iya, walaupun aku menyukainya! Boleh aku pinjam?" "Tidak boleh, karena ini istimewa. Keluargaku saja kularang menyentuhnya," Yuri meringis lagi, tetapi gadis itu menjadi kesal. "Apa istimewanya sampai tidak boleh dipinjam?" "Sangat istimewa sampai kau merasa mati rasa saat tidak memilikinya," jelas Yuri dengan senyum simpul tak terlihat manis sama sekali. Gadis itu tersentak tidak bertanya lagi. Mungkin dia pikir rantai akar biru itu seperti jiwa Yuri. Jika tidak bersatu olehnya maka akan mati. Mengerti maksud diamnya gadis itu membuat Yuri mendesis kedinginan agar perhatian mereka teralihkan. "Hei, sudah cukup bicara tentangku. Sekarang ceritakan tentang kalian dan desa ini. Apa nama desa ini? Aku baru pertama kali datang ke sini." Yuri mengeratkan selimutnya. Gadis itu mendesah, "Huft, desa ini bernama desa Sayuran. Kalian jangan heran kalau mayoritas warga di sini mempunyai ladang dan semuanya ditanami sayuran. Tidak ada makanan pokok dan desa kami adalah penghasil sayuran besar yang disalurkan langsung ke pasar desa-desa lain. Hebat, 'kan?!" "Woaahh, kalian hebat sekali! Ini cara pertanian dicampur dengan pengaturan perekonomian yang bagus! Desa sebelumnya tidak seperti ini." Yuri menggeleng. Menumpu kepalanya pada tangan, melamun menatap gadis itu yang perhatiannya sudah teralihkan sempurna. Dia mulai bercerita ke sana-kemari tanpa harus Yuri tanya dan Yuri menjadi pendengar setia yang sedang mengusir dinginnya malam. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN