19. Kisah Tiga Rusa

2551 Kata
Yuri terus memperhatikan kedua rusa itu. Kerutan di dahinya terus bertambah seiring mencoba menyimpulkan sesuatu. Dua rusa itu sangat jelas seperti sedang terlibat masalah. 'Aku tidak tau apa yang rusa itu alami, tapi yang bertanduk agak kecil itu terlihat murung, sedangkan yang bertanduk panjang menghiburnya dengan memberikan makanannya. Apa yang mereka lakukan?' batin Yuri. Zean menepuk lengan Yuri membuat konsentrasinya hancur, "Sudah menemukan jawabannya?" Yuri menepuk dahi, "Aduh, Kak Zean. Fokusku hilang gara-gara kau!" desisnya. "Oh, maaf. Silahkan lanjutkan." Zean membekap mulutnya. Yuri harus memulai dari awal. Perlahan dia mengerti ketika rusa bertanduk panjang itu mendorong kepala temannya dengan kepalanya. Yuri segera berbalik membuat Zean terkejut. "Kakak, dua hewan itu sedang memadu kasih, bukannya sakit atau terlibat masalah. Yang baru datang itu dibujuk si tanduk panjang, tapi dia tidak mau," kata Yuri. Zean tersentak, "Apa yang kau bicarakan?" menatap Yuri penuh heran. Yuri mengerjap dua kali, "Kau tidak mengerti juga?" menggeleng kecil. Zean pun ikut menggeleng. "Sshh, susah sekali menjelaskannya." Yuri meringis. Perhatian mereka teralihkan saat seekor rusa lain datang dari arah yang berbeda. Rusa itu hampir sama seperti rusa yang bertanduk panjang. Yuri mengernyit, "Eh? Lihat itu! Ada yang datang." "Dan dia sejenis," sambung Zean. Mereka kembali mengamati. 'Rusa yang baru datang ternyata pengganggu. Rusa yang murung itu ketakutan dan pergi sembunyi di belakang rusa bertanduk panjang. Ck, kalau diurutkan berarti ini seperti drama cinta seekor rusa. Pasti rusa berwajah muram itu rusa betina dan dua lainnya pasti jantan. Ternyata dia jadi rebutan, ya? Baiklah, kalau sudah begini aku harus turun tangan. Cukup mudah menangani rusa,' pikir Yuri positif. Melihat senyum Yuri yang manis membuat Zean mengerti. "Kau sudah siap, bukan? Ayo lakukan!" karena memang Zean yang menyuruh Yuri untuk bicara pada rusa-rusa itu. Yuri mengangguk, "Kau tunggu sini, Kak Zean." Tidak menunggu jawaban dari Zean, Yuri perlahan-lahan mendekati rusa-rusa itu. Padahal Zean sudah membuka mulutnya dan tangan mengapung di udara ingin menghentikannya. "Dia mau beraksi apa?" gumam Zean bingung. Namun, sejauh Yuri melangkah, Yuri terus tersenyum. Senyumnya nampak manis dan tenang bahkan ketiga rusa itu sudah mengetahui kedatangannya, tetapi mereka diam. Awalnya rusa yang baru datang itu seperti bertengkar dengan rusa bertanduk panjang dan rusa yang bersembunyi itu masih diam bersembunyi. Sekarang mereka melihat Yuri tanpa berpaling hingga Yuri berhenti tepat di depan mereka dan jongkok. Dia mengedipkan matanya dua kali lalu meneleng. Ketiga rusa itu perlahan ikut meneleng. Kemudian, Yuri tertawa kecil sambil menutup mulutnya. "Manis sekali! Kalian siapa?" tanya Yuri disertasi meneleng ke sisi yang lain. Rusa-rusa itu mengikuti pergerakan Yuri lagi. "Ha! Yuri mengendalikan mereka! Tidak, mereka seakan tersugesti oleh Yuri tanpa sebab. Mungkin, ini bahasa ibu rusa yang Yuri gunakan," pekik Zean terkejut. Dia membekap mulut agar suaranya tidak diketahui rusa-rusa itu. Zean pikir Yuri mulai menggunakan kekuatannya yaitu mengontrol emosi dan menyalurkannya pada binatang. Meskipun gadis itu tidak bisa bicara atau mengerti bahasa hewan. Yuri melambaikan tangannya pelan, "Aku Yuri. Aku dari seberang negeri. Aku lihat kalian sedang dalam masalah dan rusa itu sedang dilema sekarang." Yuri menunjuk rusa murung yang bersembunyi. Sontak kedua rusa bertanduk panjang itu menoleh ke temannya yang murung dan rusa yang murung lebih murung lagi, menundukkan kepalanya lebih dalam. "Tidak-tidak, jangan begitu. Aku tidak akan menakuti kalian. Aku ingin membantu kalian," kata Yuri lagi setenang angin yang berhembus dalam sepi. Seketika rusa murung itu memperlihatkan wajahnya. Dia bersuara membuat Zean terkejut lagi, tetapi Yuri tetap dalam keadaan tenang. 'Ba-bagaimana caranya mengerti bahasa hewan? Dia bicara apa?' pikir Yuri. Rusa itu seolah mengadu padanya. Yuri hanya bisa tersenyum mengerti walau dalam hati bingung. Sampai rusa itu berhenti bersuara dan kembali murung, Yuri baru tertawa kecil lagi. "Kalian ini lucu sekali! Aku tidak mengerti bahasa kalian, tapi kalau boleh aku menebak sepertinya ada dilema yang tidak bisa dipecahkan di sini, karena salah satu dari kalian tidak mau mengalah yaitu kau!" Yuri menunjuk rusa yang baru datang. Rusa yang baru datang pun menggelengkan kepalanya sehingga tanduknya hampir mengenai Yuri. Zean yang terus memperhatikan sampai khawatir. Hampir saja dia akan muncul dan menyuruh Yuri untuk berhati-hati. "Hei-hei, tenanglah. Yang kukatakan benar, 'kan?" Yuri menyilangkan tangannya. Rusa itu terus saja berkilah. Lalu, rusa bertanduk panjang menyeruduknya seolah menegur. "Ha! Jangan, jangan seperti itu. Jangan berkelahi! Mari kita selesaikan baik-baik," Yuri tersentak. Keduanya tidak mau berhenti. Lama-kelamaan Yuri geram. Dia menarik tanduk kedua rusa itu dan mendadak mereka tenang. Memandang Yuri yang memberi tatapan sinis dengan senyum tersungging manis. Kedua rusa itu matanya mengecil seperti terintimidasi. "Diam jika tidak aku akan memukul kalian sampai tanduk ini patah," kata Yuri seperti tidak mengancam. Senyumnya sangat mendominasi, tetapi ucapannya mengerikan. Dirasa mereka sudah tenang, Yuri melepaskan mereka. "Yahh, ini lumayan lucu. Kalian memperebutkan dia, ya? Hei, kau rusa yang tiba-tiba muncul. Sebenarnya sudah lama kau mengancam rusa betina itu, 'kan, untuk menjadi kekasihmu? Sayangnya dia sudah punya kekasih yaitu dia yang memberinya apel dan membujuknya dari tadi dan kau malah ingin merebutnya? Itu sangat tidak sopan." Yuri menunjuk semua rusa itu bergantian kemudian menggeleng di akhir ucapannya. Lalu, rusa betina itu pun bersuara lagi. Dia mengadu lagi pada Yuri, benar-benar meminta pertolongan. Yuri pun mengangguk mencoba mengerti. Zean semakin dibuat heran oleh tingkah Yuri. "Iya-iya, aku mengerti. Sangat sulit bagimu, 'kan?" Yuri membalas rusa betina itu dan rusa itu menganggukkan kepalanya. "Seharusnya kau tidak boleh merebut atau mengganggu pasangan hewan lain. Kau harus mencari pasanganmu sendiri. Kenapa begitu? Karena cinta dan perasaan itu tidak bisa dipaksakan, kawan! Meskipun kau sangat menyukainya, tapi rasa sukamu tidak melebihi dari ikatan batin yang erat dari dua kekasih. Jadi, sebaiknya kau mundur dan mengerti saja. Masih banyak rusa betina yang mau berbagi apel bersamamu." Yuri menegur rusa yang baru datang sambil mengangguk seiring berbicara. Ketiga rusa itu saling pandang dan rusa betina semakin berdekatan dengan rusa bertanduk panjang. Kemudian rusa yang mendapat teguran Yuri mengerti dan merasa kasihan karena dia menundukkan kepalanya. Ekspresi yang sangat lesu dan menerima kenyataan. Dia pergi begitu saja meninggalkan rusa betina yang kembali bersuara seolah mengucapkan sesuatu untuk perpisahan. Hal itu membuat Yuri menahan tawa meskipun merasa iba. "Kehidupan asmara sering kali seperti ini entah itu untuk manusia ataupun hewan. Tidak peduli dalam bahasa apa mereka berbicara, hanya bahasa cinta lah yang bisa menyatukannya. Semangat, kawan lucuku!" kata Yuri sambil mengepalkan tangan memberi semangat pada rusa yang pergi. Perlahan-lahan rusa itu menghilang di balik pepohonan hutan. Di saat itulah Yuri langsung meninggalkan kedua rusa yang sudah bersatu kembali. Rusa betina itu tidak murung lagi. Yuri kembali pada Zean yang masih dibuat tercengang dan tidak menduga sama sekali. Sampai tubuhnya sedikit kaku ketika menoleh ke Yuri. "Hahaha, wajahmu payah! Kenapa?" Yuri tertawa, tetapi berbisik. Zean mengerjap sadar. Menunjuk Yuri tidak santai sampai Yuri mendelik, "Kau... Kau mengerti bahasa rusa!" "Ssstt, aku tidak tau sama sekali, Kakak! Ayo, kita pergi dari sini, nanti aku jelaskan. Masalahnya sudah selesai, kita jangan ganggu mereka lagi." Yuri melambaikan tangannya memberi aba-aba untuk pergi tanpa menimbulkan suara. Zean mengikuti arahan Yuri. Ketika mereka sudah cukup jauh dari lokasi kedua rusa itu, Yuri meluapkan tawanya. "Haha, tadi itu lucu!" "Tadi itu mengerikan tau! Sejak tadi kau bilang lucu, apanya yang lucu?" Zean berdecak. Yuri kelelahan tertawa sampai memegang perutnya. "Aduh-duh! Kau sengaja tidak mengerti atau gimana? Aku tidak tau mereka bicara apa, tapi dari raut wajah ketiga rusa itu aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Itu membuatku mengerti apa yang mereka coba katakan padaku. Buktinya dengan emosiku yang tenang dan peka berhasil membuat mereka mengerti dan masalah terselesaikan. Itu jadi salah satu tanda jika perasaan bisa mengerti semua bahasa," terang Yuri. Zean mengerti, dia tersenyum memandang Yuri yang masih ingin menghabiskan sisa tawanya. "Kau unik, Yuri. Juga tidak berubah sama sekali," ujarnya pelan. "Ha? Apa?" Yuri menoleh. Zean menggeleng, "Tetap cerewet seperti waktu kecil. Baiklah, Mou Lizar sudah menunggu. Sebaiknya kita berlari saja." "Hei, tunggu!" Yuri sedikit protes karena Zean berlari lebih dulu. Dia mengejar sampai bisa mengimbangi laju lari Zean yang tidak terlalu cepat. Lain dengan Mou Lizar yang merasa dibuang tanpa sebab. "Ayolah, ke mana mereka? Aku ditinggal dengan dua kuda ini. Kalau ada ular beracun lagi bagaimana?" keluh Mou Lizar. Berdecak, duduk lemas bersandar pohon sambil memegangi tali kuda, membiarkan kuda yang asik makan. Tidak lama kemudian Yuri dan Zean datang. Sontak Mou Lizar berdiri dan mencerca mereka. "Kalian kemana saja?! Aku lelah menunggu tau! Lihat kuda kalian, perutnya sudah besar-besar seperti mengandung!" menunjuk dua kuda itu. Yuri dan Zean kompak menoleh, "Mereka kuda jantan, tidak akan bisa mengandung." Sudut bibir Mou Lizar berkedut karena Yuri dan Zean berbicara bersamaan dengan kalimat yang sama, "Astaga, sudah lupakan! Kalian dari mana tadi?" "Ahaha, maaf sudah membuatmu khawatir. Sebenarnya kami dari...," Yuri belum selesai menjelaskan, Mou Lizar sudah menyelanya. "Huh! Aku tidak khawatir, hanya tanya saja," elaknya. "Oh, ya? Kau takut, 'kan?" Zean tersenyum tipis. Mou Lizar mengejang. Menunjuk Zean tidak terima, "Bukan begitu, Pangeran! Aku tidak takut apapun!" Yuri hanya meringis menyaksikannya. "Hmm, satu kebaikan sudah terlaksana. Ayo kita lanjutkan perjalanan. Setidaknya hari ini kita harus bisa keluar dari hutan ini." Zean mengambil alih tali kudanya. "Eh, tunggu sebentar. Apa yang kau bilang, Pangeran? Kebaikan?" Mou Lizar menghentikan langkah mereka dengan terheran-heran. Zean dan Yuri mengangguk polos. "Hmm, kalau melakukan kebaikan bukankah akan berpengaruh pada biji pohon itu?" sambung Mou Lizar. Agak mendongak berpikir keras. "Benar!" pekik Yuri yang berhadapan dengan Zean. Dia tidak terpikirkan akan hal itu. Lalu, melihat tas selempangnya yang ternyata sejak tadi bersinar kecil dan redup karena biji itu terhimpit tas. Yuri segera mengeluarkannya. Zean dan Mou Lizar tidak sabar menunggu. Tidak mereka duga biji pohon yang sudah sangat keras itu menunjukkan keajaibannya lagi. Dia bereaksi menandakan telah terisi lagi. Sinarnya semakin menjadi saat berada di tangan Yuri. "Waaaww, ini fantastis! Dia agak merah!" Yuri tak berkedip sama sekali. Matanya jauh terlihat lebih lebar dari sebelumnya. "Woaahh, aku tidak pernah melihat yang seperti ini. Ini bukan merah, bukan juga merah muda. Ini menuju merah," sambung Mou Lizar. "Kau benar. Biji ini menuju warna merah. Itu tandanya cincin merah akan segera terbentuk. Kau berhasil, Yuri!" Zean takjub. Mulut mereka terbuka sampai beberapa detik Mou Lizar merebut biji itu tanpa persetujuan Yuri. "Aku mau memegangnya! Biar aku coba memegangnya!" pekikan Mou Lizar sangat keras. "Ha!" Mereka berteriak bersamaan. Biji pohon itu berhenti bersinar, akan tetapi warnanya sedikit berubah. Sudah tidak gelap seperti sebelumnya. Kerasnya masih sama, tidak akan rusak walau terancam senjata apapun. "Kok, bisa hilang cahayanya? Apa... Apa ada yang salah?" Mou Lizar kebingungan. Dia agak takut jika dia melakukan kesalahan setelah memegangnya. "Coba berikan padaku." pinta Zean dan Mou Lizar memberikannya. Masih sama ketika dipegang Zean. "Tidak ada perubahan, warnanya masih ada bercak terangnya. Hanya saja cahayanya sudah hilang. Mungkin memang hanya sebentar," lanjutnya. "Oh, ternyata begitu. Syukurlah kalau tidak ada masalah. Setidaknya kita tau kalau yang tadi benar-benar berhasil." Yuri meminta biji itu. Mou Lizar mengelus d**a, "Hahh, baguslah kalau begitu. Aku kira aku salah karena memegangnya asal-asalan, haha." Yuri dan Zean tersenyum melihat Mou Lizar. Zean menyerahkan biji itu pada Yuri. Sontak cahaya merahnya kembali lagi. Mereka tersentak mundur dan silau. Yuri bahkan sampai menggenggam biji itu agar cahayanya sedikit meredup. "Wow! Bagaimana bisa?! Dia bersinar lagi?!" pekik Mou Lizar. Matanya mengeryip dan mengerjap-ngerjap menyesuaikan diri dengan cahaya biji pohon. Begitu juga dengan Mou Lizar dan Yuri. Mereka terkejut sampai menganga. Rahang Yuri seakan ingin jatuh rasanya. "Yuri, dia bercahaya lagi saat kau pegang. Apa mungkin hanya bisa bereaksi saat kau sentuh saja?" Mou Lizar menatap Zean dan Yuri bergantian, "Benar-benar! Sedangkan aku dan pangeran tidak bisa membuatnya bersinar! Cahayanya langsung hilang jika kami sentuh!" Ucapan Mou Lizar semakin meyakinkan asumsi. Namun, perkataan mereka tidak ada salahnya. Yuri mengerutkan dahi memandang biji pohon di tangannya. "Apa benar seperti itu? Jika iya, maka baiklah. Biji ini memang terikat denganku." menggenggamnya erat tanpa melepaskan keseriusan di wajahnya. Perlahan-lahan cahayanya meredup dan menghilang seiring kerutan di dahi Yuri menghilang. "Fiyuuhh!" Yuri menghela napas panjang. Kemudian, memasukkan biji pohon itu ke dalam tas lagi. Wajahnya kembali mengukir senyum membuat Mou Lizar terjingkat berkali-kali. "Kau berubah ekspresi lagi! Dasar emosi yang tidak stabil!" pekik ya sambil menunjuk Yuri. "Hahaha, kau lucu sekali, Mou Lizar! Aku menstabilkan emosiku, tau! Kelihatannya saja aku tidak stabil karena memang berubah-ubah ekspresi. Kau tidak akan mengerti karena masih baru bersama denganku, tapi Kak Zean sudah tidak asing lagi dengan ini walau kita sudah terpaut jarak cukup jauh untuk tidak bersama," terang Yuri. Sudut bibir Mou Lizar berkedut, "Bukannya marah saat diejek justru tertawa. Pangeran, kurasa dia agak gila setelah mendapat perubahan pada biji pohon." mendekati Zean yang sejak tadi diam tanpa menghilangkan senyum. "Hmm, tanpa sadar kau menghina Yuri. Aku bisa tidak terima dengan itu." Zean menggeleng pelan. Hanya ingin bercanda dengan Mou Lizar setelah dia berbaik sangka padanya beberapa saat yang lalu. Mou Lizar sedikit menjauh dari Zean, "Ha! Pangeran membela Yuri! Tidak adil! Padahal, 'kan aku benar!" "Hahaha, sudahlah, Mou Lizar. Aku hanya bercanda. Sekarang kita teman, 'kan?" Zean menyenggol lengan Mou Lizar. "Eee, haha, iya. Aku juga hanya bercanda. Hanya bercanda, haha!" pura-pura riang sambil memalingkan pandangan. Yuri menahan tawanya agar Mou Lizar tidak bertingkah lebih aneh di matanya. Setiap pergerakan dan cara bicara penyihir kecil itu sangat lucu baginya. Entah mengapa Yuri merasa sangat terhibur terhadap Mou Lizar padahal Zean merasa biasa saja. Mungkin karena Zean dan Mou Lizar sama-sama lelaki, jadi candaan kecil seperti itu tidak berpengaruh bagi mereka, lain dnegan Yuri Mei Fafa. ~~~ Perjalanan dilanjutkan. Dua kuda itu sudah kenyang seratus persen. Air mereka juga tinggal sedikit. Persediaan air akan habis dan mereka masih belum menemukan jalan keluar hutan. Benar-benar hutan yang luas dan lebat sampai akhirnya rasa lelah datang bersamaan senja. Matahari di ujung barat sangat indah, terlebih lagi dilihat dengan mata yang lebar selebar kancing. Artinya mereka tidak sanggup lagi menantang hari. Sudah saatnya istirahat, tetapi tekad untuk keluar hutan masih membara. Naik kuda yang sangat pemberani melangkahkan kaki dan berlari kecil sedari tadi juga tidak bisa membantu banyak. Lalu, sesuatu terlihat di jalan depan dengan jarak beberapa puluh langkah. Sesuatu yang sangat jarang pepohonan, akan tetapi rimbun oleh semak-semak. Yuri tidak terlalu yakin begitu juga dengan Mou Lizar. Namun, Zean masih bisa melihatnya dengan jelas. Kemudian, mereka memaksakan diri untuk pergi ke sana. Sedikit demi sedikit cahaya jingga dari matahari bisa mereka rasakan kehangatannya. Semakin terang menerangi hutan bersamaan semakin sedikitnya pepohonan yang mereka lihat. Tandanya jalan keluar sudah ditemukan. Itu tepat di depan mereka. Tinggal beberapa langkah lagi agar dua kuda itu membawanya lolos dari belenggu hutan. Senyum merekah sempurna, mata kembali segar, hawa hutan mulai berkurang, dan semak-semak berhasil dilewati tanpa halangan. "Yeeyyy, kita akhirnya kita keluar juga! Yahooo!" teriak Yuri menggema bersamaan langkah terakhir di perbatasan hutan. "Hahaha, kita bebas!" sahut Mou Lizar sampai merentangkan tangannya. "Syukurlah, Yuri." Zean bahagia melihat Yuri seperti mendapat kekuatannya kembali. Mereka berhenti setelah beberapa jarak menjauh dari perbatasan hutan. Nampak gerbang menuju desa dari salah satu negeri Ru. Sudah tidak sabar lagi untuk berkerumun bersama orang-orang dan kondisi yang ramai. Sunyinya hutan sudah cukup membekap. Pandangan lurus ke depan. Tepat di barat matahari tenggelam nampak sangat menawan. Bersama redupnya sepasang mata sang pencari energi positif untuk cincin merah. Wajah lelah dan senyum manisnya sepadan dengan apa yang dia dapat. Yuri menunjuk matahari itu. "Kakak, aku ingat rasa ini. Rasa ketika keluar dari bukit Zill untuk memulai perjalanan baru," gumamnya lemas. Zean dan Mou Lizar menatapnya senang sekaligus heran. Tidak diduga tangan Yuri semakin terkulai lemas dan dia pun pingsan. Zean sigap menyangga dengan lengan kekarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN