18. Sepasang Rusa

2536 Kata
Lebih kuat dari baja, dinding batu tak terkalahkan, bahkan dari perisai mantra hitam sekalipun. Biji pohon itu kuatnya melebihi kekuatan Zean. Yuri pun terkejut. Ketika Zean mencoba kekuatannya pada biji pohon itu, dia terpental sampai menabrak pohon. Menggabungkan kedua kekuatannya juga masih sama terpental, justru terjatuh walau tidak sakit. Yuri mengikuti Zean untuk menguji biji pohon itu. Awalnya mereka ragu ingin menghancurkannya karena takut jika hancur sungguhan. Namun, biji lemah itu berubah drastis. Yuri mengeluarkan segala macam emosi yang dia punya agar bisa meleburkan biji itu, ternyata masih utuh dan sekarang tangannya gemetar tak mampu memegang biji itu. Rupanya masih sama, tekstur dan warna masih sama, seolah tubuh yang sudah terisi jiwa biji itu memiliki kemampuan khusus yang membuat mereka percaya diri jauh lebih meningkat sekarang. Sinar cicin biru masih menyala, wajah terkejut bercampur senang juga terpancar. "Kakak, aku tidak percaya." Yuri menggeleng. Senyumnya melebar sampai akan mengeluarkan air mata. "Kau tau apa artinya ini, Yuri? Kita berhasil!" Zean mengambil biji itu. "Su-sungguh? Aaaaaa, akhirnya berhasil juga! Tapi kenapa bisa?" meneleng setelah berteriak. Zean berpikir sembari menyerahkan biji itu dan Yuri segera memasukkannya ke dalam tas sebelum tangan gemetarnya menjatuhkannya. Seketika mereka mendapatkan sebuah pemikiran yang sama. "Emosi!" seru mereka bersamaan. "Ketika aku menggunakan emosi terdalam saat aku meminta maaf padaku, mungkin itu menimbulkan energi positif yang bisa membuat biji ini menerimanya," sambung Yuri. "Energi positif itu adalah ketulusan hatimu," sambung Zean. Keduanya mengangguk dan menganggap sudah selesai. Mereka tertawa dan Zean tidak lagi membuat ekspresi menyebalkan bagi Yuri. Mereka sudah bermain dan senang seperti sedia kala. Namun, ada yang masih tidur di bawah pohon sana. "Mou Lizar, bangun! Ayo kita pergi dan cari ketulusan hati lagi! Ternyata itu juga termasuk cinta yang bisa membentuk cincin merah! Aku sangat bersemangat!" Yuri menggoyang-goyangkan lengan Mou Lizar kencang sampai empunya langsung bangun. Zean adik mengurus kudanya agar berdiri dan terus memandang senyum. Mou Lizar dikejutkan oleh ekspresi Yuri yang begitu bahagia. Dia terjingkat melototi Yuri. Yuri mengerjap-ngerjap. "Kau... Ada apa dengan wajahmu itu? Hah?! Pangeran Zean juga?! Kalian kenapa begitu senang?!" pekiknya. Yuri menutup wajah Mou Lizar dengan kedua tangannya membuat Mou Lizar kesukitan bernapas, "Ssttt, kami sedang bahagia! Akhirnya jalan pertama sudah terbuka. Kita punya harapan besar sungguhan! Ayo kita berangkat sebelum fajar datang dan aku harap bisa menemukan kebaikan lainnya!" Mou Lizar gemas melepaskan tangan Yuri dari wajahnya. Setelah berhasil, napasnya terengah. "Kau ini tidak bisa biasa saja?! Jangan menutup wajahku seperti itu. Aku tidak bisa bernapas dan melihat tau!" "Hahaha, maaf-maaf. Aku sangat senang!" sampai mengepalkan kedua tangannya. Zen menoleh, dia sudah siap dengan dua kudanya. "Ayo pergi! Ahli sihir, aku sudah baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas akan senyumku karena aku akan terus tersenyum padamu setelah ini, tentunya tanpa paksaan." Zean mengatakannya sambil tersenyum. Mou Lizar terbelalak. Seketika menghampiri Zean sampai Yuri diacuhkan, "Kau yang benar, Pangeran? Tidak merajuk tanpa alasan lagi padaku?" dia memicing. "Hahaha, apanya yang tanpa alasan? Aku punya alasan dan itu tidak akan kukatakan." Zean tergelak. Mou Lizar berkacak pinggang sambil berdecak, "Tidak seru! Katakan saja apa susahnya?" "Tidka akan kulakukan," jawab Zean ringan. "Hahh, setidaknya aku senang bisa berteman sungguhan denganmu. Apa karena biji itu berubah? Wah, perlihatkan padaku!" beralih meminta pada Yuri, "Eh? Dia ke mana?" menoleh ke belakang tidak mendapati Yuri. Ternyata Yuri sudah duduk di atas kuda. "Tunggu apa lagi? Ayo!" Yuri begitu semangat. Zean dan Mou Lizar mendongak. "Apa tidak berlebihan? Berjalan sekarang belum tentu menemukan keajaiban lainnya, 'kan? Lagipula semua hewan di sini tidur kalau malam, kecuali burung hantu yang kau tunggu-tunggu. Mana mungkin akan bisa mengisi biji itu lagi? Coba biarkan aku lihat bijinya, Yuri!" Mou Lizar berusaha membujuk Yuri. Yuri menjauhkan tas-nya agar tidak digapai Mou Lizar. "Tidak mau! Kau menolak melakukan perjalanan malam hari!" "Apa?! Hei, jangan begitu! Tunjukkan padaku!" Mou Lizar berteriak lagi. "Hahaha, wajahmu lucu sekali!" Yuri menunjuk wajah Mou Lizar. "Ish, keterlaluan sekali! Pangeran, dia pelit! Aku juga ingin melihatnya!" adu Mou Lizar bergantian menunjuk Yuri yang masih tertawa. "Yuri, perlihatkan saja. Biar dia tau," pinta Zean baik-baik. Sontak Yuri berhenti tertawa, "Baiklah, Kakak. Aku hanya bercanda." Mengambil biji itu dan memperlihatkannya pada Mou Lizar tanpa boleh disentuh Mou Lizar. "Lihat baik-baik, memang tidak ada perubahan yang bisa dilihat secara langsung, tetapi ini bukan semacam biji biasa lagi. Dia kuat melebihi senjata dan perisai apapun! Aku sudah mencoba melawannya dan gagal. Justru kami yang terpental sampai jatuh berkali-kali. Kekuatan cincin biru Kak Zean juga tidak bisa menandinginya. Sebelumnya juga merasakan firasat akan perubahan biji ini. Jadi intinya kita harus menemukan kekuatan energi positif lainnya agar mengetahui perkembangan biji ini secepatnya. Aku terlalu bersemangat! Setelah menjadi kuat dia akan berkembang jadi apa, ya?" menatap langit membayangkan dia berhasil mengumpulkan semua energi positif. "Hahaha, berhayal! Tapi benar ini sangat kuat? Hmm, terlihat sama seperti sebelumnya. Boleh aku coba?" Mou Lizar sudah mengangkat tangan ingin mengeluarkan sihirnya. "Tidak boleh!" Yuri segera memasukkan biji itu ke dalam tas. Senyum Mou Lizar luntur seketika, "Yahh, padahal aku sangat ingin mengujinya." Zean terkekeh. Membiarkan Yuri yang menaiki kuda sedangkan dia dan Mou Lizar berjalan kaki. Mou Lizar sering sekali menguak tandanya dia masih ingin tidur. Yuri menaiki kuda bukan karena tidak ingin jalan kaki atau tidak kasihan pada kudanya yang baru bangun, akan tetapi dia menyalurkan energinya agar kuda itu menjadi kuat hingga pagi. Dia mengeluarkan kekuatannya untuk dua kuda sekaligus. "Yuri, Apa yang kau lakukan?" Mou Lizar penasaran. "Ha? Oh, ini hanya teknik pengobatan yang biasa akau pakai. Kak Zean juga pernah memakainya. Ini bisa menambah stamina dalam waktu singkat," jawab Yuri santai. *Benarkah? Kau melakukan itu pada kuda?" Mou Lizar sedikit terkejut. Yuri mengangguk pasti, "Iya, kenapa tidak? Mereka juga lelah, 'kan?" "Aku tidak mengerti jalan pikiranmu." Mou Lizar menggeleng kecil. "Yuri seperti ibu penjaga. Sangat baik!" sahut Zean. "Saking baiknya sampai kuda pun dia perhatikan," sambung Mou Lizar. "Bukankah itu baik? Kuda juga makhluk hidup dan itulah yang sedang dilakukan Yuri. Dia membantu sesama makhluk hidup, tidak mau menyusahkan kuda-kuda itu. Terlebih lagi itu cara lain, siapa tau bisa mengisi biji itu," terang Zean. Yuri mengangguk ketika Mou Lizar menatapnya. "Iya-iya, aku tau. Kau orang yang berhati mulia," Mou Lizar pasrah. Yuri dan Zean tertawa. Apa yang dilakukan Yuri tidak cukup untuk mengisi biji itu. Sekarang mereka berjalan tanpa penerangan dan Yuri turun dari kudanya berjalan di tengah-tengah mereka. Memandang persekitaran tidak dapat menemukan apapun yang bisa dia lakukan. "Apa semua hewan liar sudah tidur sungguhan?" gulma Yuri membuat Zean dan Mou Lizar menatapnya bersamaan. "Benar, 'kan? Burung hantu saja tidak terlihat." Mou Lizar memusatkan pandangannya pada dahan pohon yang rendah. "Kau mencari burung hantu?" tanya Yuri. "Iya, siapa tau menang ada yang tidak tidur," jawab Mou Lizar. "Sepertinya kita tidak akan dapat apapun malam ini. Mungkin lagi nanti bisa menemukan jalan keluar lebih cepat dan tidka akan masuk hutan lebih dalam," harapan Zean. "Yahh, itu benar. Tidak masalah jika jalan-jalan malam di hutan, 'kan? Hahaha," Yuri tertawa lagi. "Dia sangat senang, aku biasa saja." Mou Lizar berbisik pada Zean. "Karena biji itu," sambung Zean berbisik. "Aku mendengarnya tau. Kalian berbisik di dekatku, aku di tengah-tengah kalian," Yuri masih dengan sisa tawanya. Seketika Zean dan Mou Lizar menjauhkan wajahnya. *Haha, aku sengaja," elak Mou Lizar. "Kau bicara begitu seolah takut Yuri memarahinu," sulut Zean. "Wah, ucapanmu benar." Mou Lizar menunjuk Zean sebentar dikira akan membela diri, tetapi tidak dan itu mmebuat Yuri tertawa lagi. Dia yang bahagia seperti itu bisa memulihkan energinya secara cepat. Tidak terasa malam yang panjang bisa terlewati dengan jalan kaki. Memang sedikit lelah, tetapi kaki mereka tidak mau berhenti. Kali ini sungguh serius mencari. Mou Lizar tidak membuat topik pembicaraan lagi. Anehnya semakin mereka berjalan, tidak menemukan hewan liar lagi bahkan seekor burung. Meeka mulai curiga kalau sungguh masuk ke dalam hutan yang terdalam. Sudah terhitung sehari semalam mereka terjebak di hutan karena ini sudah pagi. Pagi yang masih malu-malu karena mataharinya masih tertutup awan di timur sana. Meskipun sudah pergantian hari, mereka tetap melanjutkan perjalanan. Hingga tiba di sebuah sumber mata air batu besar ketika matahari sudah menampakkan dirinya. "Wah, indah sekali! Aku ingin meminum semua airnya!" Yuri merentangkan tangan. Bebatuan besar itu sangat banyak dan air keluar dari celah-celah mereka. Mou Lizar sudah meminumnya terlebih dahulu. Zean mengisi wadah airnya dan membiarkan kuda mereka minum. Yuri hanya terus merentangkan tangan. "Yuri, cepat minum," tegur Zean. Yuri menoleh seraya menurunkan tangannya, "Baik, Kakak." mengikuti perintah Zean dengan baik. Udara di pagi hari memang menyegarkan. Tidak perlu mandi rasanya sudah dimandikan embun pagi. Tidak ada kabut, tetapi embun sangat banyak. Mereka ada di setiap daun dan rumput. Setelah cukup minum, Yuri mencoba menelusuri bebatuan itu. Hanya berada di titik itu tanpa ada sambungan batu lainnya. Tempat itu dirasa aneh, tetapi keajaiban alam menurut Yuri. "Jika ada sumber air pasti ada hewan." Yuri mondar-mandir menatap bebatuan itu. "Maksudmu ikan? Aku tidak melihatnya." Zean mencoba melihat dasar air itu. "Bukan, bukan ikan. Hewan-hewan di hutan ini pasti tau tempat ini karena ada sumber air. Mereka butuh minum setiap hari. Apa sebaiknya kita tunggu bersembunyi di balik pohon dan menunggu mereka datang?" Yuri mulai antusias. "Kenapa?" Mou Lizar mengerutkan dahi. "Karena aku ingin melihat mereka!" mengepalkan tangan lagi semangat. "Kalau ular raksasa yang datang apa kau juga ingin melihatnya?" jahil Mou Lizar. "Kalau ular yang datang biar Kak Zean yang berurusan dengannya," jawab Yuri asal. "Hmm, dengan senang hati. Akan kukecilkan ular itu dan dijadikan hadiah untukmu. Mau?" "Iiihhh, ular lagi! Aku sangat takut ular, tolong jangan katakan ular." Mou Lizar bergidik. "Kau yang memulainya, Payah!" Yuri membentak Mou Lizar. Mereka bersembunyi di balik pohon sungguhan. Hanya kudanya yang masih terlihat bebas sedang makan rumput. Menanti para hewan yang akan keluar dari rumah demi minum di sumber air itu. Ternyata penantian Yuri tidak sia-sia. Memang benar banyak hewan berdatangan dan banyak jenis dari segala arah menuju sumber air itu. Mereka minum dengan damai tanpa ada perebutan. Yuri menganga kagum begitu juga dengan Zean. Namun, Mou Lizar terkejut karena ucapan Yuri benar adanya. "Aku tidak menyangka ada hewan sebanyak itu sungguh dagang untuk minum?" hampir saja Mou Lizar akan memekik. "Tutup mulutmu. Kalau tidak mereka kabur," bisik Yuri. Seketika Mou Lizar menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Mulai dari kelinci, rusa, kijang, burung berbagai jenis, sampai monyet pun ada di sana. Mereka bersuara seolah sedang bicara satu sama lain. Terdengar merdu di telinga Yuri membuat dirinya menahan pekikan. "Wah, ramai sekali. Ada rusa bertanduk panjang juga," gumam Zean. "Aku lebih suka monyet-monyet itu. Kenapa tidak ada kera?" sahut Mou Lizar. "Aku senang bisa melihat mereka," Yuri hampir menitikkan air matanya. "Hai, Mou Lizar. Kau bisa membuat jaring atau semacamnya tidak? Tangkap monyet itu kalau bisa." Yuri menunjuk beberapa monyet yang melompat riang kesana-kemari sambil bermain air. "Sembarangan! Aku tidak bisa! Untuk apa menangkap monyet?" Mou Lizar mendelik. "Haha, mereka mirip sepertimu," canda Yuri. "Apa?!" Mou Lizar geram dan Yuri hanya tergelak. Untungnya tidak disadari hewan-hewan itu. Ketika penghuni hutan sudah pergi, mereka keluar dari persembunyian. "Sudah puas, Yuri? Mereka tidak mau menampakkan diri pada kita dan membiarkan kita mencari jalan keluar," ujar Zean seraya memandang kepergian hewan-hewan itu. Yuri mendesah panjang, "Entahlah, Kakak. Aku merasa masih ingin di sini. Rusa bertanduk itu menarik perhatianku. Aku suka melihatnya seolah mereka tersenyum padaku." "Aku tersenyum padamu." Mou Lizar menunjukkan deretan giginya. Yuri langsung bersembunyi di samping Zean, "Kau terlihat bodoh." "Hah?!" Mou Lizar terbelalak. "Hahaha, apa kau mau melihat rusa itu lagi? Kalau begitu ayo kita ikuti. Aku juga ingin mengikutinya." Zean menarik tangan Yuri terlebih dulu sebelum Yuri menjawabnya. "Mou Lizar, tuntun kudanya, ya," sambungnya. Meskipun jengkel Mou Lizar tetap menurutinya. Rusa itu sepertinya sadar jika diikuti. Mereka berpencar dan lari begitu cepat. Zean membawa Yuri untuk mengikuti salah satunya yang bertanduk sangat panjang sampai Mou Lizar kesukitan mengikutinya. Zean tidak melepaskan tangan Yuri. Dia terlalu bersemangat mengejar rusa itu. "Kakak, apa tidak terlalu jauh? Kalau rusa itu hilang dari temannya bagaimana?" "Tidak akan. Ini rumahnya, mereka tidak akan kesulitan menemukan jalan pulang," jawab Zena membuat Yuri tenang karena rusa itu juga sudah berhenti berlari dan diam di sebuah pohon kecil berdaun kecil yaitu pohon minyak kayu putih. Rusa itu memakannya. Yuri semakin tersenyum lebar. Dia bersembunyi dnegan Zean lagi. Mou Lizar tertinggal cukup jauh di belakang sana dan tidak memilih mengejar lagi. Dia istirahat dengan kuda. "Wah, dia makan. Kenapa dengan mudah bisa makan? Lupa kalau kita kejar?" gumam Yuri. "Tanduknya besar sekali. Aku ingin menyentuhnya," ujar Zean. Yuri menoleh, "Aku juga ingin menyentuhnya." Zean juga memandang Yuri. Dia tersenyum lebar, "Ayo kita tangkap!" "Eh, jangan! Nanti dia tersakiti dan takut." Yuri menghilangkan tangannya. "Tadi dia juga sudah takut, sekarang sembuh sendiri. Ayolah," bujuk Zean. "Aku takut kalau dia mengamuk meskipun sangat ingin menyentuhnya," raut wajah Yuri benar-benar disayangkan. "Begitu, ya? Lalu, bagaimana cara menyentuhnya?" kembali menatap rusa itu. "Tidak usah ditangkap saja. Melihatnya sudah cukup," Yuri nampak tidak begitu puas. "Akan kubuat perisai di sekitarnya agar dia tidka bisa lari, bagaimana?" semangat Zean. "Jangan-jangan, kasihan." lagi dan lagi Yuri menyilangkan tangannya. "Tapi aku sangat ingin menyentuh rusa itu, Yuri. Tanduknya sangat besar!" Zean merentangkan tangannya menunjukkan betapa besar tanduk rusa itu. Yuri berdecak, dia juga punya keinginan sama, tapi tidak mau menyakiti rusa cantik itu. Ketika menoleh kembali ke rusa itu, dia terkejut karena rusanya menjadi dua. "Astaga! Sudah kedatangan teman!" Pekikan Yuri membuat Zean menutup mulut Yuri paksa karena rusa itu menoleh ke belakang mencari sumber suara. "Sstt, kecilkan suaramu. Lihat, mereka lari. Ayo kejar!" dengan senang hati Zena membawa Yuri pergi lagi dan Yuri hanya terkikik. Rusa itu menjadi dua dengan dia yang baru saja datang memiliki tanduk yang lebih kecil. Mereka berlari tak tentu arah, sangat cepat membuat Zean dan Yuri sedikit kesulitan. "Awas, Kakak. Ada pohon!" seru Yuri. Zean menghindari pohon itu, "Dimana-mana ada pohon, Yuri." "Hahaha, hanya bicara," iseng Yuri. Kedua rusa itu berhenti lagi ketika tiba di sebuah pohon buah. Mereka asik memakan rumput berbunga di bawah pohon buah itu. Yuri dan Zean berhenti berlari. Napas mereka terengah. Bersandar pohon tanpa melepaskan ikatan tangan. "Kakak, kita berhenti sejenak," kata Yuri. Zean menyipitkan matanya memandang dua rusa itu, "Lihat, Yuri. Mereka cukup aneh." menunjuk rusa yang bertanduk lebih kecil. "Aneh? Maksudmu?" Yuri ikut memandang rusa itu. "Kenapa yang baru datang itu terlihat murung? Lihat, rusa bertanduk panjang sampai berusaha membujuknya, tapi rusa itu tetap terlihat tidak semangat. Makannya pun perlahan. Apa dia sakit?" Yuri tersentak, "Benar! Kenapa dia? Aku tidak merasa tingkah laku itu adalah sakit. Kalau sakit pasti tidak akan kuat berlari secepat tadi. Setidaknya tenaganya berkurang, bukan?" "Benar juga. Lalu, kenapa?" Zean meneleng. Yuri menggeleng, "Entahlah, tapi aku merasa kasihan. " "Apa kita dekati saja?" saran Zean. "Kalau mereka lari lagi bagaimana? Mereka takut," gumam Yuri. "Kalau kau berperan jadi ibu hewan mungkin mereka tidak akan lari." Zean tersenyum kecil. Yuri menoleh bingung, "Ibu hewan? Ibunya rusa?" "Haha, bukan itu maksudku, tapi menggunakan perasaanmu. Perasaan seorang penyayang seperti ibu. Bukan berarti ibu rusa." Zean terkekeh. "Ah, benar! Tapi bagaimana memulainya?" Yuri mengetuk dagu. "Lihat saja rusa itu, pasti menemukan cara." Zean menunjuk dua rusa tadi dan Yuri kembali memandanginya. "Rusa yang sangat cantik," gumamnya. Benar apa yang dikatakan Zean. Rusa yang baru datang itu seolah tidak nafsu makan dan hanya ingin mendekati rusa bertanduk panjang. Apa alasannya masih belum diketahui. Namun, yang jelas Yuri dan Zean meninggalkan Mou Lizar menunggu kesal bersama dua kudanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN