17. Cahaya Biji Pohon

2511 Kata
Tunas indah dipandang menghasut siapa saja yang datang. Keajaiban dan kecantikan tiada pesona yang sanggup menyainginya di negeri Zilla. Sayangnya begitu mematikan hingga menghancurkan negeri. Biru yang lebih biru dari lautan. Kuat yang lebih kuat dari sihir hitam. Segel terbesar yang pernah ada. Menggemparkan seluruh penjuru negeri. Itulah tumbuhan terkutuk yang masih menjadi cincin biru. Sinarnya tak terkira jika sudah muncul. Sangat indah, semua orang terpukau karenanya. "Sayangnya harus menjauhkanku lagi dengan putriku," kata Ramar setelah sekian lama diam. Pandangannya masih lurus ke cincin biru. Cen Dama menoleh, "Ketua, adik Yuri pasti baik-baik saja." Ramar mendesah, "Aku yakin begitu, tetapi apakah Pangeran telah sembuh?" "Adik juga pasti sudah menemukan cara untuk memulihkan tenaga Pangeran. Aku sangat yakin, dia tidak pantang menyerah. Apalagi...," Cen Dama menggantung ucapannya. "Dia sangat menyukai Pangeran," sambungnya. Hal itu membuat Ramar tersenyum, "Lebih menyukainya daripada aku ayahnya sendiri. Dasar gadis bodoh itu, senyumnya membuatku sakit setiap hari." tersenyum memikirkan tingkah Yuri yang begitu ceria. Senyum Cen Dama juga terulas, "Aku juga sakit memikirkannya, Ketua." "Kau anak yang baik, begitu juga Pangeran Zean," kata Ramar. "Jujur saja, aku sangat ingin berjuang, bertarung bersama mereka. Demi menuntas pohon terkutuk ini dan menyelamatkan semua orang, aku harus menjadi lebih kuat meskipun jauh dari mereka." perkataan serius Cen Dama mampu mengherankan Ramar. "Ketua, tolong latih aku sampai ke tahap delapan!" Cen Dama menatap Ramar sungguh-sungguh. Ramar terkejut, "Menuju delapan kau harus melewati enam dan tujuh. Kau bisa lumpuh dan kehilangan kenormalan anggota lain di tubuhmu jika terlalu memaksakan diri. Ilmu ini dilakukan secara bertahap, Cen." "Aku serius, Ketua. Jadikan aku lebih kuat!" Cen Dama sangat serius sampai otot kepalanya terlihat. Ramar masih belum memberikan jawaban. Dia memikirkan konsekuensi yang akan didapat Cen Dama. Namun, dia mengerti apa yang dirasakan dan apa yang ada di pikiran Cen Dama. "Aku tak mau kehilanganmu," Ramar mengatakannya juga tidak membuat Cen Dama gentar. "Aku tidak akan mati, Ketua. Percayalah, aku akan menjaga negeri ini dan juga berjuang bersama adik Yuri dan Pangeran Zean," Cen Dama bertekad bulat. Ramar menghembuskan napasnya gusar, "Kau memang keras kepala. Kalau Yuri dan Pangeran menjadi lebih kuat di luar sana kau juga ingin menyusulnya begitu, 'kan?" "Karena mereka temanku. Biarkan aku berjuang, Ketua. Aku tak akan kalah. Aku pasti bisa melampauinya. Berikan tahap delapan padaku!" Cen Dama semakin menjadi. Ramar memperhatikan tatapan Cen Dama yang begitu tajam. Ada keyakinan besar di sana. Meskipun Cen Dama yakin akan kemampuannya, tetapi keraguan Ramar tetap dipertahankan. Dia takut tubuh Cen Dama akan rusak jika berlatih terus menerus dari tahap enam hingga ke delapan. "Huft, baiklah. Kalau itu ambisimu akan kubantu mewujudkannya, Cen Dama." Ramar tersenyum setelah mendesah sabar. Cen Dama sangat senang. Dia berlutut sambil menangkupkan tangannya, "Terima kasih, Ketua! Aku akan bekerja keras!" serunya lantang. Saat itu juga pelatihannya dimulai. Di depan cincin biru yang besar itu Cen Dama memusatkan segala kekuatan yang dia punya. Baik sihir maupun energi positif dalam diri. Puncak bukit Zill menjadi saksi penyiksaan Cen Dama demi meraih tingkat ke delapan. Ramar hanya bisa pasrah mengajar serta membantu Cen Dama dalam pengobatan yang ada. Ketika kembali ke padepokan, Cen Dama masih giat berlatih meskipun sendirian. Para anggota penjaga bukit Zill mulai menasehatinya untuk beristirahat. Dia bahkan kurang tidur dan makan. Sungguh tekad yang sangat bulat. Bolak-balik antara padepokan dan tunas pohon Savara hanya untuk berlatih. Siang dan malam, membagi tugas dan latihannya sampai tubuhnya digerogoti ilmu yang telah dia lampaui. Dia kesakitan. Sekarat yang teramat parah setelah sampai ke tahap enam. Hanya dia yang menduduki tahapan itu. Para anggota lainnya gagal masuk ke tahap enam. Baru di tahap itu saja Cen Dama sudah terpuruk selama satu minggu dan Ramar memaksa untuk berhenti sejenak dan fokus pada pengobatan Cen Dama. Dia akan kembali latihan setelah pulih dari sakit yang diderita. Tubuhnya seolah terkikis sesuatu dari dalam. Sangat mengerikan membuat takut para anggota lainnya. Mereka mulai membicarakan Cen Dama. Baik di aula, melakukan tugas, berlatih memperdalam ilmu, bahkan ketika berjaga saat malam pun masih membicarakannya. Saat ini kondisi dan tekad Cen Dama telah disembunyikan dari pemimpin negeri. Hanya Ramar dan kelompok penjaga bukit Zill saja yang tahu. Ramar selalu berpikir tentang perkembangan Yuri, Zean dan juga Cen Dama. Mereka bertiga bagai pelindung di titik teratas negeri Zilla. Ikatan pertemanan mereka jauh lebih kuat dari yang dibayangkan. Terkadang Ramar meramalkan sesuatu yang tidak bisa diramalkan, yaitu masa depan anak-anaknya. Bagi Ramar, Zean dan Cen Dama sudah seperti anaknya sendiri. Mereka yang menemani Yuri sejak kecil dan selalu bersaing dalam hal kekuatan yang terbaik. Ramar mempercayakan keselamatan negeri Zilla pada ketiga orang itu. Selain itu, kabar Yuri dan Zean telah diusir dari salah satu desa karena merusak desa itu sudah tersebar hingga ke telinga Raja. Pemimpin negeri Zilla itu tidak marah. Dia hanya bisa bersabar dan membenahi desa itu. Berharap Zean bisa mengontrol kekuatannya lagi. Sampai sekarang kabar dari Yuri dan Zean tidak diketahui. ~~~ Mereka melewatkan sore yang indah di dalam hutan. Bagiamana matahari tenggelam di ujung barat yang tertutup semak-semak dan pohon besar tidak bisa dinikmati karena mereka masih tidur. Pohon besar itu bagai ranjang empuk sampai malam baru terjaga. Bukan semuanya yang sudah bangun, tetapi hanya Yuri dan Zean. Zean memang sengaja menutup mata meskipun sudah sadar sedari tadi. "Apa aku melewatkan sesuatu?" Yuri menyesuaikan pandangannya. Semuanya gelap. Suara hewan malam mulai terdengar. Menoleh ke Mou Lizar yang masih tertidur pulas. Dengkuran halusnya pun terdengar. "Bagaimana bisa dia tidur selama itu? Bukannya sudah dari tadi sore?" gumamnya. Pandangannya terarah ke Zean yang juga masih menutup mata. Namun, dia memicing meneliti sepasang mata itu apakah benar-benar tertidur atau tidak. Lalu, Yuri berdiri dan duduk di depan Zean. Tangannya tergerak untuk menyentuh d**a Zean. Dia menutup mata, konsentrasi memusatkan ketenangan dalam dirinya hingga mengalir ke d**a Zean. "Apa yang kau lakukan?" tanpa membuka mata Zean menegur merasakan sesuatu yang masuk ke dalam dirinya. Sebuah emosi jiwa yang begitu tenang. Itu dapat menambah energi positifnya. Yuri tersenyum dalam hati, "Aku tau kau tidak tidur." Sontak mata Zean terbuka. Dia menepis tangan Yuri. Seketika kekuatan yang Yuri salurkan terhenti. Yuri pun juga membuka matanya. Dua netra itu bertemu, tetapi berbeda emosi. "Aku melakukan apa yang ingin kulakukan. Sepertinya masih tidak berefek, ya?" Yuri menarik tangannya. Zean langsung ingat ucapan Yuri sebelum tidur. Dia menghela napas panjang, kemudian membuka perisai yang dia buat. Ketika perisai itu menghilang Yuri mendongak. "Ternyata itu yang membuat keadaan sedikit aneh. Kau membuat perisai di malam hari. Udara yang masuk tidak segar seperti malam biasanya," gumam Yuri. Angin malam mulai menerjang mereka dengan begitu pelan. Berbisik halus melewati setiap tumbuhan yang ada. Rumput yang mereka pijak bergoyang-goyang kecil. Rambut Zean dan Yuri mulai berterbangan ringan. Dingin membuat Mou Lizar dan dua kuda itu terusik dari tidurnya, tetapi masih memaksakan diri untuk tidur. "Kau tak perlu membuang-buang tenaga untuk menyalurkan emosimu padaku. Aku baik-baik saja," ucapan Zean membuat Yuri menoleh. "Aku hanya membantu kakakku agar mendapatkan kembali ekspresi sebelumnya. Tidak datar seperti ini," balas Yuri. "Apa pentingnya sebuah ekspresi?" dahi Zean sedikit berkerut. Dia mulai jengah. "Sangat penting!" Yuri berseru sampai Mou Lizar terkejut. Mou Lizar hanya bangun setengah sadar kemudian kembali tidur tanpa peduli apa yang terjadi. Yuri dan Zean memandangnya heran. Kemudian, mereka kembali beradu pandang. Zean melenguh, "Aku akan mencari udara segar." hendak berdiri, akan tetapi tangannya dicekal Yuri. Zean menoleh tak terima. "Aku minta maaf," ujar Yuri. Seketika Zean terbelalak. Yuri berdiri tanpa melepaskan cekalannya, "Kurang segar apa udara di sini sampai mau mencari udara segar?" sambung Yuri sembari memandang ke langit. Zean masih menatapnya dengan sorot yang sama. Ketika Yuri menoleh, Zean terpaku. Kata maaf itu membekukan kakinya. Padahal sebelum hari ini Yuri juga mengatakan hal yang sama. Sayangnya terasa berbeda karena raut wajah Yuri benar-benar serius. Di sebelah utara tidak jauh dari pohon besar yang masih disinggahi Mou Lizar, udaranya jauh lebih dingin dari yang dikira. Yuri memaksakan kehendak mengikuti Zean yang ingin mencari udara segar. Di utara itu tidak ada suara hewan malam. Sangat hening ditambah diamnya mereka. Yuri sudah tidak mencekal Zean lagi. Keduanya menatap utara yang sama. Mereka bahkan lupa dari jalan mana mereka datang. "Aku minta maaf," untuk kedua kalinya Zean dibuat terperangah dalam diam dengan ucapan itu. Yuri sudah mulai berbicara. "Aku tidak menyangka akan menjadi seserius ini perihal perasaanmu. Kau berubah cenderung diam, tidak mudah tersenyum, sedikit merespon apapun yang terjadi. Kakak, aku kecewa padamu, meskipun aku tidak mau mengatakan ini. Aku juga tidak percaya, tapi kau melakukannya," tutur Yuri. Zean masih diam. Beberapa detik berlalu membuat Yuri berpikir keras. Dia juga tidak tersenyum. Cara yang dia dapat hanyalah meminta maaf agar hati Zean luluh dan ceria kembali. "Kau termakan emosimu, Yuri. Sehingga meracuni pikiranmu yang bukan-bukan," balas Zean setelah lamanya hening. Yuri berdecak, "Aku bisa jadi lebih kejam dan memutar apa yang kau lakukan, Kakak. Bagaimana jika aku yang tidak terlalu respon terhadap apapun. Semuanya akan jadi diam." "Mengingat kau pengendali emosi, seharusnya jangan terlalu termakan emosi. Pikirkan baik-baik sebelum bertindak hal seperti itu," jawab Zean. "Itu yang ingin kukatakan, Payah!" Yuri meningkatkan nada bicaranya. Zean menoleh, "Kau menyebutku payah?" "Iya! Kau orang paling payah yang pernah kutemui! Cemberut sesuka hati tanpa berpikir apa akibatnya!" Zean mengerjap Yuri berkata seperti itu. "Memangnya apa akibatnya?" "Aku jadi kesal." Yuri melipat tangan di d**a. Mulut Zean terbuka. Seketika meraup wajahnya ingin meremas Yuri gemas. "Kau pandai sekali berubah-ubah mimik wajah. Tadi tegang, sekarang jujur tidak ketulungan. Aku ingin menendangmu rasanya!" "Apa?! Aku berkata benar!" Yuri masih kesal. Zean terkekeh, "Aku sudah tertawa, kau puas?" "Bercanda?" sebelah alis Yuri terangkat. Zean terkekeh lagi sampai menggeleng, "Kau ini polos atau sengaja? Mau menghiburku?" "Tidak, aku ingin membujukmu," ekspresi Yuri berubah lagi menjadi serius. Namun, masih terlihat menggemaskan bagi Zean. "Membujukku? Baik, apa yang bisa kau lakukan sampai aku bisa kembali seperti dulu?" Zean melipat tangan menantang. "Aku akan mengusir Mou Lizar," kata Yuri tanpa berpikir. "Hmm, bagus. Lakukan saja, dengan begitu aku senang." Zean mengangguk. "Ah, tidak-tidak. Nanti bisa menyakiti hatinya." Yuri menggeleng kuat. "Hahaha, sudah kuduga. Kau aneh sekali!" Zean tergelak. Yuri mengetuk-ngetuk dagunya, "Kalau begitu apa, ya? Aku akan... Tetap minta maaf saja." "Meskipun tahu tidak salah kenapa minta maaf?" "Karena aku ingin kau kembali seperti semula, Payah! Pangeran macam apa kau ini? Tidak mengerti bahasa manusia, ya?" Yuri kembali melototi Zean. "Hahaha, baiklah-baiklah. Aku terima permintaan maafmu, tapi coba sedikit lebih serius." "Kenapa?" Yuri meneleng. "Aku hanya ingin mendengarnya lebih serius. Minta maaf pada Pangeran bisa membuatmu sedikit tersanjung tau." Zean mulai berbangga diri. "Haha, lihat dirimu. Mulai menampakkan sesuatu," Yuri malas. "Ayolah, kalau tidak aku akan terus diam," ancaman Zean membuat Yuri segera memasang wajah memelas. Zean menahan tawanya. "Mudah sekali kau ini," gumamnya sembari terkekeh. Laku, dia juga membuat ekspresi serius tanpa ada canda seperti tadi. Yuri menunduk, menggenggam tali tas selempangnya kuat. Tas yang tidak pernah lepas dari tubuhnya itu terasa dingin. Zean terus memandang Yuri seperti sebelum dia tertawa. "Kak Zean, aku... Minta maaf telah mengabaikanmu beberapa saat." Sontak Zean melebarkan matanya lagi. Dia tidak menduga jika permintaan maaf Yuri berbeda dari sebelumnya. Zean tidak bisa menjawab ataupun bergerak ketika Yuri memperlihatkan wajahnya. "Aku sungguh minta maaf. Jauh di lubuk hatiku juga bilang begitu. Aku tau kau merasa diacuhkan ketika Mou Lizar datang. Ini sudah kedua kalinya, jadi mohon maafkan aku. Jangan lagi bersikap diam seperti bukan Kak Zean yang kukenal." Yuri membungkukkan badan. Zean tersentak, mundur satu langkah tidak bisa bicara. Yuri masih di posisi yang sama. Tangan itu masih memegang tali tas teramat kuat. Yuri sungguhan menggunakan emosinya. 'Di-dia tulus,' batin Zean. Hentakan kuat di d**a terus bergemuruh apalagi tas yang dibawa Yuri bersinar tiba-tiba. Kaki Zean seolah membeku, matanya semakin melebar dan mulutnya sedikit terbuka. Begitu juga Yuri yang sontak membuka matanya. Tangannya terlepas dari tali tas. Mereka tak bisa berkutik. Banyak pertanyaan yang ingin terlontarkan, akan tetapi cahaya di tas itu semakin bertambah. Gelap di utara menjadi terang tanpa pelita. Silau tak mampu mengalihkan perhatian mereka. 'A-apa ini? Kenapa dengan tas-ku?' hati Yuri bertanya-tanya. Dia gemetar. 'Apa yang terjadi? Jangan-jangan bukan ulah emosi Yuri karena dia sendiri terkejut melihatnya,' pikir Zean. Tas itu terbuka dengan sendirinya. "Apa?!" seru Yuri dan Zean bersamaan. Keduanya saling pandang sebentar, kemudian kembali fokus pada tas itu. Yuri sungguh dibuat kaku. "Ka-kakak, kenapa tas ini bercahaya? Dia terbuka!" Yuri susah payah mengucapkan kata-kata. "Aku juga tidak tau," Zean tidak bisa mengontrol keterkejutannya. Setelah terbuka sempurna, ternyata satu-satunya isi dari tas itu keluar melayang. Cahaya itu berasal darinya. Biji pohon harapan terakhir senjata murni yang dipunya kini menunjukkan dirinya. Yuri dan Zean ternganga jauh lebih terkejut dari sebelumnya hingga biji pohon itu berada tepat di tengah-tengah mereka. "Kakak, bijinya melayang!" Yuri menunjuk biji pohon itu. "Astaga, Yuri, apa yang telah kau lakukan? Kenapa dia bisa begitu?" Zean tidak tahu harus berbuat apa. "Aku tidak berbuat apa-apa, aku hanya minta maaf padamu setulus hatiku. Aku tidak menggunakan kekuatanku, sungguh!" Yuri menggeleng. "Benarkah? Kalau begitu kenapa?" Zean panik. "Payah! Mana aku tau?!" Cahayanya semakin menyilaukan mata sampai Yuri dan Zean harus bersikeras melihatnya walau matanya sakit hampir tidak bisa melihat apapun. Hingga cahaya itu sampai ke titik terterang dan mereka menyerah untuk melihat biji itu. 'Sial! Aku tidak bisa melihat apa-apa,' keluh Yuri dalam hati. Mereka berpaling cukup lama, kemudian cahaya itu perlahan menghilang. Tidak, melainkan terhisap kembali oleh biji pohon itu. Yuri dan Zean mengerjap menyesuaikan pandangan mereka. Biji pohon itu masih melayang meskipun cahayanya sudah hilang sempurna. Keadaan menjadi gelap seperti semula. "Hilang.... Kakak, bijinya masih di tempat." Yuri terheran-heran memandangi biji pohon itu. Zean melakukan hal yang sama, "Yuri, sepertinya terjadi sesuatu yang besar pada biji itu. Coba kau ambil, apa terjadi perubahan? Aku merasakan auranya bertambah. Cincin biruku juga merasakannya." Zean menunjukkan jari manisnya. "Apa?!" Yuri melototi cincin Zean. "Apa benar begitu?" Zean menggerakkan jemarinya. Kekuatan negatif dalam dirinya berhasil dikuasainya kembali, "Sudah kuatasi." "Ha? Wah, cepat sekali." Yuri mengerjap sekali. Biji pohon itu menarik perhatiannya lagi. Yuri ragu untuk menyentuhnya, tetapi penasaran juga tidak bisa dibendung. Akhirnya biji pohon itu berhasil dia ambil alih kembali. Napas Yuri tercekat ketika biji pohon itu jatuh ke tangannya layaknya benda pada umumnya, bukan melayang seperti yang baru saja terjadi. Zean ikut menelisik biji pohon itu. Yuri menimangnya seolah merasakan sesuatu yang berbeda. Dia terbelalak membuat Zean tidak sabar. "Ini... Berat," kata Yuri tak berhenti menimang biji itu. "Berat? Seberat apa?" Zean meminta biji itu dan Yuri memberikannya. Sontak Zean juga berpendapat yang sama. "Ini jauh lebih berat, dua kali lebih berat. Bukan, tapi berkali-kali lipat lebih berat dari awalnya. Yuri, ini tak bisa dipecahkan! Dia sudah berubah bukan lagi biji pohon biasa!" "Apa?! Coba aku periksa lagi!" Yuri merebutnya. Matanya menyipit memandangi biji itu tanpa celah sampai matanya sakit. Dia menggeleng menyadarkan diri agar lebih fokus. "Kakak, terlalu gelap. Coba buat cahaya," pintanya. "Cahaya apa? Cahaya cincin biru mau?" "Kau bercanda? Di saat begini masih bisa memberi tawaran? Lakukan saja!" cerca Yuri. "Iya, baiklah." Zean pasrah dan menjentikkan jarinya. Seketika cincin itu bersinar, tentu saja dalam kendali Zean dan tidak terlalu terang. Cukup menyinari mereka berdua. Biji pohon itu memang sekuat yang Zean katakan. Yuri tidak menemukan keganjalan lain di biji itu seperti lubang atau perubahan warna menjadi merah seperti yang dikatakan guru Kahy tentang perkembangannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN