Yuri menjadi jengkel karena Mou Lizar terus mengganggu Zean dengan pertanyaan bodohnya. Dia yang mengusir semua hewan-hewan yang berdatangan menyapa. Mereka semakin masuk hutan bukannya keluar hutan.
"Akhirnya kau tersenyum padaku bahkan memujiku. Aku mimpi apa tadi malam? Ah, aku tidak mimpi apa pun karena tidur kekenyangan. Pangeran, hatiku serasa melayang!" lagi dan lagi nih Lizar mengungkapkan rasa bahagianya.
"Kalau melayang kenapa kau tidak mati?" sahut Yuri untuk kesekian kalinya. Namun, tidak dihiraukan Mou lizar. Dia terus mengusik Zean sampai Zean mau berbicara lagi padanya. Yuri mendesah melihat ekspresi Zean.
'Dia terlihat seperti pawang kuda daripada Pangeran. Sejak tadi yang dibawa tali kuda,' batin Yuri.
"Kakak, kau dan Mou Lizar naik kuda saja. Biar aku yang mengurus hewan yang akan datang lagi," perkataan Yuri menghentikan ocehan Mou Lizar.
"Sungguh? Wah, terima kasih, Yuri. Kau yang terbaik!" Mou Lizar segera menaiki kuda Yuri. "Pangeran, ayo naik!"
Zean masih diam. "Yuri, kau yang naik saja," ujarnya.
"Tidak sebelum aku menjaga kalian sampai keluar dari hutan," tolak Yuri.
"Jangan keras kepala. Kau sudah nampak lelah. Rambutmu tidak terikat dengan benar. Benahi di atas kuda sana." Zean mengeluarkan ikat rambut Yuri dari celah pakaiannya. Kepang Yuri memang sudah terurai meskipun masih terikat jadi satu. Yuri mengambil ikat rambutnya, "Kau masih tidak terima? Sebenarnya apa yang kau mau? Kau terlihat bukan Kakakku," gumam Yuri.
Zean tersentak, "Biarkan aku tenang sebentar."
"Tidak mau. Kau tidak akan bisa tenang sebelum ikhlas membiarkan dia ikut," Yuri tahu arah perasaan Zean dan Zean semakin tersentak. Tidak sengaja Zean memalingkan wajahnya, terlihat seekor tupai terbang yang sedang melintas tepat ke arah Yuri.
"Yuri, awas!" Zean menarik tang Yuri keras sampai menabrak dadanya.
"Arghhh!" Yuri memekik.
Tupai itu terbang ke arah pohon lain. Zean dan Yuri memandanginya berjaga-jaga jika tupai itu datang kembali. Ternyata tidak, tupai terbang itu hanya sekadar lewat.
"Huft, hampir saja." desah Yuri tanpa melepaskan diri. Seketika dia sadar jika begitu dekat dengan Zean, langsung menarik dirinya tak mau menatap Zean.
"Ehm, kita lanjutkan perjalanan. Kakak, kau saja yang naik kuda," kata Yuri.
"Tidak, kau saja," tolak Zean.
Sadar jika akan seperti itu hingga nanti, Mou Lizar menengahi, "Mau sampai kapan memutuskan siapa yang akan naik kuda? Cepatlah naik semua agar cepat selesai. Aku jadi kesal."
Yuri dan Zean kompak menatap Mou Lizar yang berlagak seperti bos.
"Aku tidak suka ekspresimu itu," kata Yuri.
"Aku tidak peduli," Mou Lizar semakin bermain-main.
Yuri dan Zean menghela napas bersamaan. Akhirnya memutuskan naik kuda bersama. Semua hewan yang melintas itu hanya sekadar lewat. Syukurlah tidak ada hewan buas ataupun berbisa lagi. Cukup mereka atasi di atas kuda. Sayangnya siang sudah terlampaui dan berubah senja yang masih terik mereka tak kunjung menemukan jalan keluar. Rasanya sudah frustasi, tetapi tidak boleh menyerah. Para binatang itu tidak ada yang mau mendengar permintaan tolong Yuri. Mereka juga tidak paham bahasa Yuri. Tidak ada air, tenggorokan kering hanya dimasuki sari jeruk merah muda hasil petikan Yuri. Itu cukup untuk mengganjal rasa haus, tetapi kuda mereka tidak. Segera harus menemukan sumber air. Namun, Zean tidak merasakan adanya sumber air di sekitarnya. Hawa hutan lebat sama sekali tidak digenangi air sangat merepotkan.
"Aku lelah, ayo istirahat dulu," ucap Yuri.
"Baik, kuda kita juga letih." Zean turun terlebih dulu.
Terdapat banyak pohon besar di sana, mereka singgah di salah satunya. Kali ini Yuri dan Zean tidak saling peri ke mana-mana. Mereka benar-benar bersandar pohon kelelahan. Sisa-sisa keringat kering begitu lengket. Di bayangan Yuri dia ingin menyelam ke sungai dalam dan menangkap ikan yang banyak sebagai bekal. Lelah hanya memakan buah jeruk merah muda. Makanan Mou Lizar sudah habis terlebih dahulu. Air juga sudah tandas. Sungguh kekurangan air dan penat. Bahkan kedua kuda itu sampai tidur pulas. Yuri hanya bisa mengelus kepala mereka sambil tersenyum.
"Maaf, aku gagal membawa kalian istirahat di luar hutan. Sepertinya kita memang akan bermalam di sini." gumam Yuri sambil mengelus kepala kudanya.
"Aku... Tidak masalah. Asal jangan ada burung hantu, ya." balas Mou Lizar yang tengah menutup mata menikmati udara hutan yang menghembuskan sedikit angin.
"Ahaha, burung hantu itu cantik. Mata mereka besar." tangan Yuri masih di kepala kudanya.
"Sangat besar sampai bisa menghipnotisku lalu aku pingsan," balas Mou Lizar lagi. Yuri terkekeh sebisanya.
Zean menatap sekeliling, "Apa kau merasakan adanya air di sini, Yuri? Aku tidak bisa menemukan apapun."
Yuri menoleh, "Sebentar, aku gunakan instingku." Yuri mulai memusatkan pandangan jauhnya. Menutup mata dan menekan kedua pelipisnya kuat. Sontak Mou Lizar membuka mata, "Apa yang kau lakukan?"
"Mencari sumber air. Padepokan perempuan mengajari kepekaan perempuan agar semakin tajam bahkan lebih tajam dari insting laki-laki," jawab Zean.
"Wow, keren! Itu sebabnya kau bisa lari dari semburan ular tadi!" Mou Lizar sampai terjingkat sebentar.
"Hmm, kelebihan perempuan yang sedang belajar," jawab Zean lagi.
"Pangeran, apa kau sebagai laki-laki kalah dengan Yuri?" Mou Lizar semangat merecokinya lagi.
"Tidak, secara fisik Yuri lebih lemah dan kekuatannya terbatas hanya karena emosi, tetapi dia istimewa. Kekuatannya bertambah seiring dia bahagia. Terkadang jika dia sangat serius dan bahagia maka bisa mengalahkan siapa saja termasuk Cen Dama. Sayangnya dia lemah jika berhadapan dengan energi cincin biru milikku. Namun, keajaiban terjadi ketika dia menyalurkan energinya dan menyelamatkanku dari sekarat kehilangan separuh energi sisi positifku. Ceritanya sangat panjang dan rumit. Kau mungkin bingung mendengarnya. Intinya, kekuatan Yuri bisa berubah-ubah jika tidak dikondisikan dengan baik. Lain denganku, aku punya dua kekuatan yang bisa kugunakan untuk apa saja termasuk menghancurkan dan menyelamatkan," terang Zean begitu panjang.
Mou Lizar mendengarkannya dengan serius, "Aku mengerti. Karena itu kalian bersama dalam misi ini karena saling membutuhkan satu sama lain."
"Kurang lebih seperti itu." Zean mengangguk. Bertepatan dengan Yuri membuka matanya, "Aku menemukannya!"
"Apa?!" Mou Lizar terkejut hebat.
"Di mana? Biar aku mengambilnya untuk kalian." Zean bergegas berdiri.
"Tempatnya sangat jauh. Sekitar sepuluh meter dari sini. Terdapat beberapa tumbuhan bambu yang tumbuh di bebatuan hitam. Tanahnya sangat lembab. Di sana pasti banyak air jika kau menggalinya sebentar." kata Yuri mendadak lemas kemudian ambruk dalam duduknya.
"Yuri!" seketika Zean kembali duduk untuk memeriksa keadaan Yuri. Yuri masih sadar, Zean membantunya bersandar pohon.
"Apa yang terjadi?" Mou Lizar panik.
"Tenang, aku hanya kelelahan. Jarak sepuluh meter, ketajaman insting sejauh itu pasti akan menguras tenagaku. Selalu seperti ini ketika latihan. Aku hanya butuh istirahat." Yuri masih bisa tersenyum.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Zean merasa bersalah.
"Kakak, ambillah air sebanyak yang kita butuhkan, cepat! Aku yakin kita baru bisa keluar besok. Sebelum malam tiba, Kakak," kata Yuri.
"Kau yakin akan baik-baik saja? Bagaimana bisa aku meninggalkanmu?" raut Zean sangat sedih.
"Haha, aku hanya kelelahan tidak udah berlebihan. Cepat ambilkan, kuda kita sudah kehausan." senyum Yuri membuat Zean mengepalkan tangan. Dia berdiri dan meminta pada Mou Lizar, "Berikan aku wadah yang banyak menggunakan sihirmu!"
"Apa? Aku tidak bisa!" Mou Lizar bingung.
"Semua benda tak berguna tadi kau bisa membuatnya kenapa sekarang tidak? Hanya beberapa wadah kayu, cepat buat!" titah Zean seperti Pangeran.
"Ba-baik, akan kucoba." Mou Lizar sedikit gemetar. "Bagaimana caranya membuat wadah?" gumamnya.
Tangannya bersiap menjentikkan jari mengumpulkan kayu yang sudah jatuh. Kemudian mengingat-ingat sihir serta mantra yang perlu diucapkan. Menutup mata kuat kemudian sungguh-sungguh menjentikkan jarinya. Seketika ranting dan kayu-kayu kecil berkumpul dan membentuk wadah air mulai dari gelas, ember, hingga kantung kayu yang sangat lentur. Jumlahnya melebihi sepuluh biji. Yuri dan Zean takjub melihatnya.
"Wah, keren! Tak kusangka kau sungguh ahli sihir yang hebat, Mou Lizar! Kau tidak perlu mengandalkan tongkat elemen waktu itu. Dengan kekuatanmu saja sudah cukup menarik!" puji Yuri.
Mou Lizar langsung membuka matanya. Dia sendiri terkejut, "Astaga, sungguhan jadi?! Wah, aku benar-benar melakukannya!"
"Kau tidak pernah membuatnya sebelumnya?" Zean menggeleng.
"Pernah, tetapi aku lupa dan tidak sebanyak ini. Apa mungkin karena dalam keadaan terdesak?" mendongak memikirkan mantra miliknya.
"Haha, kau berhasil! Selamat, Mou Lizar! Kau hebat!" Yuri memukul punggung Mou Lizar pelan.
Zean membawa dua ember besar dan beberapa kantung air itu, "Aku akan segera kembali. Ini pasti sudah cukup. Tunggu aku, jangan kemana-mana. Mou Lizar, jaga Yuri karena dia sedang lemah. Kalau terjadi sesuatu aku akan menendangmu!" Zean segera pergi setelah mengancam.
"Ih, ngerinya!" Mou Lizar mendelik.
"Haha, dia hanya bercanda. Kau tidur saja, aku yakin tidak akan ada hewan lain yang mengganggu ketika kita tidur." Yuri bersandar dengan tenang.
"Tidak, kau tidur saja. Pangeran sudah mengutusku, jadi aku harus menurutinya. Aku harus menjagamu," kata Mou Lizar serius.
"Wow, laki-laki sejati, haha. Baiklah, aku juga tidak akan tidur. Aku akan menunggu Kak Zean kembali," kekeh Yuri.
Mou Lizar membuat perisai yang tembus pandang seperti sebelumnya agar hewan liar tidka bisa melukai mereka. Yuri tersenyum memandang Mou Lizar dari belakang.
'Dia memang orang yang sangat baik. Sikap cerobohnya punya manfaat yang unik. Aku harus segera membujuk Kak Zean akan dirinya nanti,' kata Yuri dalam hati.
Matahari terus bergerak perlahan ke barat. Tandanya sore sudah semakin sore dan Zean belum kembali. Cemas sudah menghantui Yuri. Dia khawatir jika Zean kesulitan mendapatkan air atau membawanya, atau mungkin dihadang hewan liar lagi karena tidak ada hewan yang menghampirinya. Selang beberapa menit Zean datang dengan membawa dua ember air di kedua tangannya yang terlihat begitu berat. Kantung air itu mengambang di ember air. Mou Lizar segera menghapus perisainya dan membantu Zean membawa salah stau ember air itu. Yuri langsung duduk dengan benar. Dia senang Zean baik-baik saja.
Air itu sampai tumpah sedikit dari ember. Zean mengisi semua gelas dan kantung kayu yang tersisa dengan air itu. Begitu banyak yang dibuat Mou Lizar sampai bisa untuk besok pagi. Kemudian sisa air yang ada di dua ember itu diberikan pada kuda mereka. Yuri memaksa kudanya agar bangun dan mereka langsung minum. Kehausan yang tidak diperkirakan sebelumnya. Yuri sampai tertawa setelah minum.
"Apa yang lucu?" Mou Lizar ikut terkekeh.
"Hanya mentertawakan kebodohan kita, haha. Dua kuda ini sampai menghabiskan airnya " Yuri mengelus kepala kuda lagi.
Zean hanya tersenyum kemudian ikut bersandar pohon. Mou Lizar tertawa bersama Yuri.
"Kita punya cukup air. Istirahat sampai tenaga benar-benar pulih kalaupun itu harus melewati malam." kata Zean sambil menghela napas panjang.
"Oh, iya. Bagaimana kau bisa mengambil air itu, Kak?" Yuri bertanya tanpa memasang Zean. Yang dia pandang hanyalah langit yang tertutup dedaunan lebat.
"Menggali bebatuan yang langsung bertemu sumber mata air. Aku mengambilnya sedikit demi sedikit. Hanya jaraknya saja uang membuatku kesulitan. Apalagi membawa air berat. Selain itu tidak ada rintangan," jawab Zean sederhana.
"Kakak, apa kau tidak lelah?" nada bicara Yuri sedikit mengusik hati Zean.
"Tidak, tidurlah kalau kau mau. Aku akan berjaga," Zean tidak menampilkan senyumnya. Dia memandang langit yang sama. Mou Lizar diam saja mendengarkan. Dia sudah akan masuk ke alam mimpi.
"Aku... Ingin bicara padamu," ujar Yuri tenang. Namun, bisa membuat Zean Dian beberapa saat. Yuri tetao menunggu sampai Zean kembali bersuara. "Nanti saja," sekalinya terucap membuat Yuri sedikit kasihan.
"Aku kasihan padamu," Yuri berterus terang. Dahi Zean berkerut tanpa menjawab. "Aku kasihan karena kau mulai kehilangan ekspresi. Aku harus menyalurkan energiku lagi padamu setelah ini," sambungnya. Yuri serius melebihi sebelum Zean mengambil air.
"Apa maksudmu? Aku baik-baik saja. Cincin biru tidak berulah lagi," elak Zean.
"Aku harus menyalurkan emosiku ke dalam hati nuranimu. Tunggu sampai aku bangun." Yuri memiringkan tubuhnya kemudian menutup mata. Zean menoleh melihat punggung Yuri. "Emosi? Aku takut kau yang akan kehilangan emosimu setelah memberikannya padaku. Bahkan kau tidak menurutiku untuk mengepang rambutmu lagi," sambungnya.
Menunggu Yuri tertidur dan Mou Lizar sudah tidur. Zean perlahan mendekati Yuri dan mengikat rambut Yuri tanpa harus mengusiknya. Kini rambut Yuri sama seperti semula. Panjang dan terikat rapi. Kepang yang indah dan besar di mata Zean. Itu baru Yuri yang dia kenal dari kecil. Lalu, dia ikut tidur setelah membuat perisai yang lebih kuat dari buatan Mou Lizar.
~~~
Di padepokan tempat kelompok penjaga bukit Zill berada sedang membahas tentang perkembangan tunas pohon Savara. Darah Yuri masih bisa menyegel perkembangannya, akan tetapi tidak bisa bertahan lama. Mereka berharap Yuri dan Zean segera menuntaskan misinya meskipun itu tidak akan singkat. Mereka sadar itu, jadi para anggota kelompok penjaga bukit Zill dilatih lebih keras oleh Ramar untuk meningkatkan ilmu mencegah energi jahat sampai memusnahkannya. Bagi mereka yang sudah masuk ke tahap lima berarti harus melanjutkannya hingga tahap enam. Namun, itu sangat sulit dan menguras tenaga. Tahap lima adalah tahap teratas yang bisa digapai anggota kelompok penjaga bukit Zill, kecuali Ramar sang pemimpin mereka. Dia sudah sampai tahap delapan dan butuh dua tahapan lagi agar bisa sampai ke titik sempurna tanpa cacat dan selalu berhasil. Namun, itu dirasa mustahil.
Guru Kahy sudah kembali ke padepokan perempuan, tentunya membawa buku mantra hati suci agar tidak disembunyikan oleh Ramar. Dia melakukan tugasnya sebagai guru, meskipun pikirannya kalut tentang Yuri dan cincin merah. Sedangkan Cen Dama di sela-sela berlatihnya dia sibuk mencatat perkembangan pohon Savara. Buku riwayat itu sangat rapi ada di tangannya. Dia selalu berpikir jika tidak boleh mengecewakan Yuri.
Kini dia berdiri di dekat perbatasan pohon Savara yang masih menjadi tunas. Auranya begitu dahsyat. Bukit Zill semakin membiru sampai semua akar tumbuhan menjadi biru. Buku riwayat ada di tangannya. Dia tidak sendirian, ditemani oleh papan pengumuman ajaib buatan Zean yang berasa di istana untuk bertukar kabar tentang perkembangan cincin biru itu terhadap senua orang dan juga Cen Dama agar kewaspadaan selalu dilakukan. Raja juga sibuk dengan tugasnya sebagai pemimpin negeri. Selama Yuri dan Zean pergi demi misi, semua orang sibuk pada tugasnya masing-masing. Mereka hanya berpikir tiga hal yaitu Yuri, Zean dan cincin merah.
"Satu! Dua! Tiga! Pukul!" seru Ramar menggema di aula padepokan. Luasnya bukan seperti padepokan lagi. Seluruh bukit Zill khusus milik kelompok penjaga bukit Zill. Ramar sedang mengajarkan bagaimana cara untuk masuk ke tahap enam. Ilmu pencegah energi jahat harus membuat segel lebih kuat dan itu membutuhkan energi yang cukup kuat. Hanya dengan satu segel saja sudah bisa menyegel energi negatif yang setara kekuatannya dengan segel. Itu kelebihan di tingkat enam. Selama ini mereka hanya bisa menyegel kekuatan jahat dengan bantuan anggotanya, tetapi jika berhasil di tahap enam meeka bisa menyegelnya sendiri dengan kekuatan setara.
"Ketua, air dingin dari dapur sudah siap," lapor salah satu dari petugas dapur.
"Baik, bagikan pada semua orang." kata Ramar.
"Baik, Ketua." petugas itu kembali ke dapur dan membawa rekannya untuk membagikan air dingin itu. Air dingin di cawan bambu bukan sekadar air dingin, tetapi pemulihan stamina yang sangat singkat. Namun, setelah semua anggota penjaga bukit Zill itu merasa segar dan siap berlatih kembali, Ramar justru pergi.
"Ketua, kau mau ke mana? Kita bekum selesai latihan," cegah salah satu dari mereka.
"Aku akan menemui Cen Dama. Kalian istirahatlah lebih awal. Jangan sampai tahap enam merusak organ kalian sekecil apapun," kata Ramar tenang.
"Ah, ternyata begitu. Tapi ini baru tahap enam belum delapan. Pasti tidak akan merusak organ, 'kan?" kilah orang itu.
"Jangan keras kepala. Aku tidak mau kalian terluka sedikit saja. Istirahat dan makanlah secukupnya." Ramar pergi setelah mengatakannya tanpa menunggu orang itu menjawab.
"Hahh, begitulah ketua. Dia tidak akan tega membiarkan anggotanya kelelahan. Padahal aku bersemangat sekali!" orang itu kembali pada teman-temannya.
Ramar pergi menuju puncak bukit Zill di mana tunas pohon Savara tumbuh. Di sana dia langsung bisa melihat Cen Dama berdiri memandang pohon sudah seperti Zean setiap harinya.
"Cen?" panggil Ramar yang telah tiba di sebelahnya.
Cen Dama sedikit terkejut. Dia memberi salam, "Kenapa ketua kesini?"
"Aku... Juga ingin melihat cincin biru." Ramar menautkan tangan ke belakang seraya menghela napas panjang.
Cen Dama tersentak. Ramar begitu tenang, tetapi gelisah. Paham akan kondisi dia tidak berani bertanya dan kembali memperhatikan tunas itu bersama-sama.