15. Daerah Hewan Liar

2969 Kata
Mendadak pertengkaran mereka berhenti karena mendengar dengkuran yang sangat keras. Ketika keduanya menoleh ke sumber suara, terkejut melihat dua kuda yang berdiri di balik pohon besar. Yuri dan Zean saling pandang sebentar sebelum menghampiri pohon itu bersamaan. Memasang kecurigaan besar karena dengkuran itu semakin keras. Curiga jika ada pencuri yang mencuri kudanya sedangkan Mou Lizar masih pingsan di dekat tumbuhan beri seingat Yuri. Mereka terkejut sambil memberi posisi siap menyerang. Ternyata yang mendengkur adalah Mou Lizar. Posisi tidurnya sangat tidak sopan. Kaki terbuka lebar dan kepala berada di akar besar yang timbul dari tanah. Yuri dan Zean menghela napas panjang. "Aku sudah berpikir terlaku cemas," kata Zean. Yuri mengangguk membenarkan, kemudian ingat pertikaiannya lagi, "Berikan rantai akar biruku!" Zean hanya memberikan senyuman manis. Dia membawa tali dua kudanya. "Sudah cukup serangannya. Mungkin lain kali kita beradu lagi. Bawa teman barumu itu, ayo kita pergi," ucapnya. Zean meninggalkan Yuri dengan langkah pelan karena kudanya juga berjalan teramat pelan. Yuri menganga, mengepalkan tangan lebar karena diacuhkan. "Masih di persoalan yang sama? Lagi-lagi cemburu dengan Mou Lizar! Kakak, kau ini ada apa?!" teriak Yuri tanpa ragu sampai membuat Mou Lizar bangun terperangah. "Astaga! Apa yang teriak-teriak?!" panik celingukan seolah ingin melarikan diri. Yuri melototinya, Mou lizar diam sebentar menatap Yuri, "Eh? Ada kau?" celingukan mencari Zean dan sisa-sisa pertarungan. "Sudah selesai, ya? Mana Pangeran?" "Hahh, sudahlah. Ayo pergi..." Yuri mengibaskan tangan setelah mendesah malas. Mou Lizar berdiri heran, "Kenapa? Kau kalah, ya?" menunjuk Yuri. Yuri mendelik, "Diam kau! Cepat kalau tidak kita akan ditinggal!" Mou Lizar menepuk pipinya keras, "Kudanya hilang! Yuri, kudanya dicuri! Bagaimana ini?!" paniknya mengitari pohon. Yuri menepuk dahinya, "Aduh, berhenti bertingkah gila. Mereka dibawa Kak Zean. Dia masih merajuk karenamu. Cepat!" mengejar Zean terlebih dahulu membuat Mou Lizar berhenti mengitari pohon. "Ha? Ternyata begitu. Hei, Yuri! Tunggu akuuuuu!" lari mengejar Yuri yang sudah cukup jauh. Jalan yang tepat karena mereka bertemu Zean dengan cepat. Masih tak mau bicara dan itu mmebuat Yuri enggan menatap Zean. Mou Lizar memicing melirik mereka berdua bergantian. Mereka semakin masuk ke dalam hutan. 'Hmm, ada yang aneh di sini. Kenapa perlahan-lahan rambut Yuri terurai? Di mana ikat rambutnya?' Mou Lizar berpikir keras. Sekali lagi Yuri meminta berhenti karena menemukan tumbuhan unik lagi yaitu pohon jeruk merah muda. Itu bukan hal luar biasa karena banyak dijual di pasar. Yuri memetik buah itu sebagai bekal di perjalanan. Kesempatan bagi Mou Lizar mengintrogasi Zean. Dia menghadang Zean secara terang-terangan. "Hai, Pangeran. Kita tidak bicara setelah makan malam. Apa kau mendadak bisu?" memicing penuh curiga. Zean sudah terbiasa dihina, tetapi dia tahu Mou Lizar hanya bercanda. "Minggir," pintanya pelan. Mou Lizar berkacak pinggang, "Ayolah, senyum sedikit. Aku tidak mengerti di mana wajah hangatmu itu tersembunyi?" Zean memandang Mou Lizar lekat. "Kau ingin aku tersenyum padamu?" Mou Lizar mengangguk kuat. "Kalau begitu jauhi Yuri," nada bicaranya masih sangat tenang. Seketika Mou Lizar tergelak, "Aku tau kau akan bicara begitu!" menunjuk Zean tanpa takut. "Aku tidak mau. Dia teman yang baik. Lagipula apa salahku sampai kau menyuruhku menjauhinya? Aja, aku tau. Kau terbakar cemburu, Pangeran. Hubungan adik dan kakak yang hanya sekadar nama bukanlah hubungan yang sebenarnya. Aku tau itu!" Mou Lizar memunggungi Zean dan berkacak pinggang. "Ck, omong kosong apa kau ini?" Zean menggeleng sabar. Mou Lizar kembali menghadap Zean, "Kau mengakuinya, haha! Tenang saja, aku tidak akan mengganggu jalan hubungan kalian. Hanya saja jangan salahkan aku kalau juga bermain dengan Yuri. Pangeran, kita ini teman satu tim. Bersenang-senang dalam perjalanan apa salahnya? Kau jangan benci padaku, ya." tersenyum seraya menepuk pundak Zean. Zean melirik pundaknya. Menyingkirkan tangan Mou Lizar berganti memegang pundak Mou Lizar. Ahli sihir itu sampai menahan napasnya. "Aku tak benci padamu," benar-benar tatapan yang dalam. Mou Lizar menelan ludahnya kasar. Mundur sambil meringis gemetar, "Ahaha, baguslah kalau begitu. Aku hanya asal bicara saja." menatap pohon lain sebentar, "Kenapa ucapanmu membuatku kedinginan?" cicitnya. Zean menarik tangannya membuat Mou Lizar menatapnya lagi, "Aku tidak ingin menyakitimu. Sebaiknya jangan bicara padaku saat ini." berjalan menghampiri Yuri. Mou Lizar sedikit tertegun. Dia diam melihat punggung Zean. 'Sebenarnya ikatan mereka sangatlah kuat sampai jika ada orang lain masuk walau hanya teman sepertiku pasti sangat mengganggu. Kurasa itu yang sedang Pangeran Zean rasakan. Meskipun benar, itu hanya sesaat. Aku yakin setelah ini kita akan satu teman sesungguhnya,' batin Mou Lizar. "Hei, tunggu aku!" teriaknya sambil mengejar Zean. "Kakak, kita punya banyak buah jeruk!" suara Yuri terdengar begitu bahagia sambil menunjukkan buah jeruk yang dia petik pada Zean. Terkadang Mou Lizar heran dengan perubahan sifat Yuri. Sangat singkat dan jelas. Dia pikir kekuatan yang ada di dalam tubuh Yuri akan lelah berubah-ubah sesuai isi hati Yuri. Itu membuatnya tertawa dalam diam. Sudah puas mengambil jeruk sebanyak yang dia mau, kemudian perjalanan kembali dilangsungkan. Yuri memakan buah jeruk dan mengumpulkan kulitnya sangat rapi. Katanya akan dibuang di tempat sampah nanti jika sudah bertemu pemukiman lagi. Dia tidak mau mengotori hutan. Zean tidak mau memakan jeruk itu. Hanya Yuri dan Mou Lizar yang memakannya. Karena itulah Yuri kembali diam dan terus memperhatikan Zean. Ikat rambutnya masih dibawa Zean dan kepang Yuri perlahan-lahan terurai. 'Sampai kapan Kak Zean tidak menunjukkan ekspresinya? Aku seperti kehilangan dia,' batin Yuri. "Mou Lizar, sudah sampai mana kita? Kau tau hutan ini, 'kan? Apa sudah hampir keluar?" Yuri menoleh pada Mou Lizar. Mou Lizar masih memakan jeruknya, "Hmm, aku tidak yakin. Aku tidak pernah masuk hutan ini begitu dalam. Hanya luaran hutannya saja." "Apa? Jadi kita tersesat?!" Yuri memekik keras sampai Mou Lizar meringis, "Aduh, jangan berteriak! KALAU ULARNYA DATANG BAGAIMANA?!" balas Mou Lizar. Sekarang Yuri yang mendelik, "Kau masih mencemaskan ular? Mana? Dari tadi tidak ada ular. Kalaupun ada itu wajar, ini daerah kekuasaan para hewan liar. Aku berharap bertemu burung hantu putih nanti malam!" menepuk tangannya senang laku makan buah jeruk lagi. "APA? KAU BIARKAN KITA TIDAK KELUAR DARI HUTAN INI SAMPAI MALAM? YANG BENAR SAJA?!" Mou Lizar kembali berteriak. "Aduh, berisik sekali. Kalau memang tersesat, berarti kita harus menginap di sini, 'kan?" jawab Yuri santai. Mou Lizar menjambak rambutnya, "Aaaa, aku takut tidur di hutan! Kalau ada ular..," dia menggantung ucapannya. "Ular lagi yang kau pikirkan. Jangan takut, 'kan ada Kak Zean. Dia akan mengusir ular itu hanya dengan sekali suara." Yuri mengibaskan tangannya seperti ular. Mou Lizar menatap Zean, "Pangeran, kau akan menyelamatkan kami, 'kan?" tanyanya ragu. "Hmm," jawab Zean singkat. Yuri meliriknya karena tak puas dengan jawaban itu. 'Kakak memang tak marah, dia hanya belum bisa terima. Aku harus bagaimana membujuknya? Aku tidak suka kalau Kak Zean seperti itu,' pikir Yuri. Mendadak Mou Lizar mendekat ke telinga Yuri membuat Yuri tersentak. "Yuri, tadi aku sudah membujuknya agar tersenyum, tapi jawabannya hanya sedikit. Aku tidak yakin kalau perasannya baik-baik saja. Coba kau hibur dia," bisiknya. "Eh? Kau membujuknya tadi?" Yuri menoleh juga berbisik. Mou Lizar mengangguk. 'Kakak memang sudah keterlaluan. Aku harus meluluhkan hatinya,' batin Yuri. "Tidak masalah, ini tidak akan bertahan lama. Tenang saja," hibur Yuri. Mou Lizar hanya melirik Yuri sebagai jawaban. Setelah itu otak Yuri terus memikirkan sebuah cara untuk meluluhkan perasaan Zean. Setelah pertarungan singkat itu Zean tetap tidak berubah meskipun sudah bicara banyak dengannya. Lain dengan Zean yang nampak fokus mencari sesuatu yang sekiranya bisa mengisi biji pohon miliknya. 'Hutan ini benar-benar subur seakan tidak ada celah sedikitpun untuk kerusakan. Sejak tadi hanya ada jejak-jejak binatang liar, tapi tidak bertemu salah satu dari mereka. Bahkan burung rasanya enggan menampakkan diri. Ada apa ini? Apa mereka pemalu?' batin Zean. Badan terasa lengket akan keringat. Kaki yang pegal tidak diperdulikan demi dapat keluar dari hutan sebelum malam. Namun, ada yang menghadang mereka. Semua berhenti sejenak. "AAAAA, ULAR SUNGGUHAN! SUDAH KUBILANG DI SINI BANYAK ULARNYA! TOLONG-TOLONG, SELAMATKAN DIRI!" Mou Lizar berlari terbirit-b***t sampi menabrak pohon berkali-kali kemudian memanjat pohon dan duduk di dahannya. Mengeluarkan benda-benda tidak berguna dari dalam bajunya yang nampak tak berisi apa-apa. "Ambil ini, ular jelek! Yuri, Pangeran, awas! Aku akan membunuhnya dari atas! Rasakan ini!" terus melempari ular itu dengan mainan yang banyak. Yuri dan Zean tetap di tempat meskipun ular itu membuka mulutnya memperlihatkan taring yang tajam. Melihat Mou Lizar yang menggunakan sihir kecilnya untuk mengusir ular itu mengherankan Yuri. "Kenapa begitu panik?" gumam Yuri. Ular yang begitu besar berwarna gelap sebesar dahan yang dinaiki Mou Lizar. Zean segera membawa kudanya dan Yuri mundur, akan tetapi Yuri menolaknya. "Yuri, hati-hati," kata Zean tanpa harus berhenti. Yuri menoleh ke belakang, 'Nampaknya Kak Zean membiarkanku menjinakkan ular ini,' kata Yuri dalam hati. Belum sempat Yuri menolehkan kepalanya ular itu sudah menyemburkan bisa. Yuri segera menjauh lompat tinggi. Instingnya bekerja cepat. Matanya menghunus tajam. "Wahai, Ular berbisa. Kami tidak mengganggumu, jadi jangan halangi jalan kami," Yuri bersikap biasa. "Hei, Yuri! Kenapa kau bisa sangat santai, hah?!" teriak Mou Lizar di atas sana. Dia memeluk pohon erat. Sudah lelah menggunakan sihirnya. Ular itu bergerak cepat ingin mematuk Yuri dan Yuri menghindar lagi. Dia lari diikuti ular itu. Semakin cepat dan cepat Yuri membuat ular itu mengitari pohon mengikuti kemanapun dia pergi. "Pangeran Zean, kenapa kau diam saja?! Cepat bagi dia!" Mou Lizar kembali berteriak. Zean tetap diam menyaksikan ular itu. "Dasar Pangeran aneh! Itu yang kau sebut melindungi adikmu? Payah!" maki Mou Lizar dan Zean tetap tak bergerak. "Kau juga tidak melindungiku, Penyihir konyol!" balas Yuri sambil berlari. "Eh? Kau membelanya?" Mou Lizar nampak bodoh. Yuri menapakkan kaki ke salah satu pohon untuk melompat jauh ke belakang ular itu dan mendarat dengan sempurna. Ular itu tidak mengetahuinya lagi. Dia berhenti sebentar dan pergi begitu saja. Mou Lizar, Zean dan Yuri menatap kepergian ular itu yang pergi cukup misterius. "Dia tidak bermaksud menyakiti kita dan juga tidak terganggu. Hanya menyapa dan berlalu begitu saja," ujar Yuri. Mou Lizar segera turun dan Zean mendekati Yuri lagi. "Kau tidak apa-apa?" pertanyaan singkat dari Zean yang sudah ditebak Yuri. "Tidak apa-apa, hanya bermain sebentar." Yuri tersenyum. "Gadis aneh! Bermain dengan ular berbisa? Kalau bisanya mengenaimu pasti kau akan tewas!" Mou Lizar memperagakan gerakan memotong leher. "Hahh, lebay. Dia jinak," kata Yuri. "Apa katamu? Ular itu hanya pergi mungkin menemukan mangsa yang lebih menarik darimu. Bukan berarti jinak. Nyatanya dari menyemburkan bisa byuuurrr begitu." Mou Lizar heboh mengikuti ular itu yang sedang menyemburkan bisanya tadi. "Kau sangat takut ular, ya?" goda Yuri. Mou Lizar terbelalak, "Tidak! Tentu saja tidak! Aku ini sangat berani!" "Bermulut besar," kata Zean sebelum Yuri membuka suara. Mou Lizar menatap Zean nyalang, "Apa katamu, Pangeran?! Teganya kau mengejekku juga!" "Sudah-sudah, ayo kembali jalan. Sebentar lagi sore, kalau tidak mau bermalam di sini ayo cari jalan keluar." Yuri membelakangi mereka. "Naiklah." Zean memberikan kuda Yuri pada Mou Lizar. "Baiklah, daripada sepi biarkan aku menghibur kalian. Sedikit musik alami kecapi dauh dan ranting mungkin bisa jadi teman." Mou Lizar menaiki kuda dan menjentikkan jari. Namun, tidak disangka sekerumunan lebah datang mengitarinya. Yuri dan Zean segera menjauh. Mou Lizar melotot, tangannya kaku tidak bisa diturunkan lantaran terlalu kaget. Dia menoleh kaku. "Ha-hai para lebah... Apa kabar?" sapanya sedikit merengek. "Seseorang tolong aku," sambungnya. "Kakak, kenapa tiba-tiba ada banyak lebah?" Yuri berjaga-jaga. "Tidak ada sarang lebah di sini. Mungkin tersembunyi di balik pepohonan yang lebat. Sepertinya mereka terganggu dengan jentikan jari Mou Lizar yang sedang mengumpulkan ranting dan daun untuk dijadikan kecapi," jawab Zean. Dia juga sedang berhati-hati. "Apa hubungannya? Lebah hewan yang bersahabat," Yuri bingung. "Mereka tak suka musik kurasa. Dugaan yang lain mereka tidak suka barang mereka diambil Mou Lizar menggunakan sihirnya." Zean melindungi Yuri dengan sebelah tangannya. "Barang apa? Ranting dan daun-daun itu?" Yuri menebak. "Iya. Hati-hati, mereka akan menyengat," Zean was-was. "Hei, kenapa kalian berdebat? Cepat tolong aku, huaaaa! Mereka akan menyengatku! Lakukan sesuatu!" Mou Lizar memekik. Tangannya masih belum diturunkan, badannya kaku begitu juga sang kuda yang tidak bergerak. "Yuri, menepilah." Zean mendorong Yuri. Mengeluarkan kekuatannya untuk memindahkan para lebah itu tanpa harus menyakiti mereka. Seolah para lebah terperangkap dalam kekuatan Zean, mereka tak bisa terbang. Suara mereka begitu bising seolah melawan. Perlahan-lahan Zean memindahkannya ke sarang mereka. Dia telah mencari tahu lewat ketajaman indera penglihatannya. Ternyata sarangnya sangat besar berada di balik pohon besar dan berdaun lebat. Jelas tak nampak dari kejauhan. "Huft, hampir saja aku mati tersengat lebah." Mou Lizar menurunkan tangannya. Seketika terjatuh kaku dari kuda membuat kuda itu sedikit meringkik. "Mou Lizar, kau tidak apa-apa?" Yuri membantunya berdiri. "Aduh, aku takut sekali. Kenapa mereka mendadak datang padaku?" Mou Lizar memijit pelan pinggangnya. "Sepertinya hutan di daerah ini mulai banyak hewan yang bisa menyerang kapan saja. Jangan sampai kita mengganggu mereka," kata Zean. "Kakak, kau tidak apa-apa?" Yuri beralih ke Zean. "Tidak, ayo cepat pergi." Zean menarik tali dua kuda itu lagi. "Kita tidak jadi naik kuda?" Mou Lizar mengingatkan. "Tidak, siapa tau bisa menggangu hewan yang lain. Nyatanya kau hanya menjentikkan jari saja sudah membuat sekumpulan lebah datang." Yuri mengikuti Zean. Mou Lizar tertunduk lemas, "Baiklah." Mereka berjalan begitu cepat. Untung saja kuda mereka sangat penurut. Tidak mengeluh dan makan ketika berhenti. Buah jeruk merah muda itu hanya berkurang sedikit. Mereka lebih waspada akan hewan lain yang menyerang. Ternyata itu sungguh terjadi. Sekarang burung-burung berwarna putih nan cantik memiliki ekor sepanjang satu jengkal itu berterbangan di atas mereka. Otomatis perjalanan kembali terhenti. Burung itu tidak diketahui jenisnya. Sangat cantik, tetapi menakutkan karena paruh mereka begitu tajam. Yuri terpesona sampai mulutnya terbuka. "Benar, 'kan sekarang ada lagi. Kenapa burung-burung aneh ini bukannya burung hantu?" Mou Lizar menekuk dahinya. "Iya, kenapa tidak burung hantu?" Yuri masih terpesona. "Astaga, air liurmu jangan sampai menetes. Kalau burung hantu bukannya lebih menakutkan?" sahut Mou Lizar. Dia mendongak seketika menjerit, "AAAAA, MENAKUTKAN!!!" "Apa?!" Zean membawa Yuri untuk berlindung di belakangnya lagi, tetapi tidak melakukan sesuatu. Semua burung itu menyerbu mereka dengan paruh terbuka. Mengeluarkan suara yang sangat nyaring seperti akan makan. Mata Yuri melebar, terlalu cepat sehingga tidak bisa bergerak. Namun, burung-burung itu tidak bisa menyentuh mereka. "Eh?" bingung Zean yang sadar terlebih dahulu. Mou Lizar membuat perlindungan dengan sihirnya. Permisi tembus pandang itu melingkari mereka beserta kudanya. Meskipun burung-burung itu menyerang dengan paruh dan kakinya tetap tidak bisa menembus perisai. Mou Lizar meringis mengangkat kedua tangan menahan perisai itu. "Yuri, Pangeran, lakukan sesuatu! Aku tidak mungkin menahannya terus!" Mou Lizar menyadarkan Yuri. Yuri mengerjap, "Wah, burung yang sangat cantik! Aku sukaaaaa!" mata Yuri berbinar. "DIA MENGERIKAN, PAYAH!" teriak Mou Lizar marah. "Apa salahnya mengerikan? Mereka tetap cantik. Jangan-jangan kau tak suka binatang, ya? Sejak tadi berteriak karena binatang." Yuri melipat tangan mengejek Mou Lizar. "Apa katamu?!" gigi Mou Lizar bertautan. Yuri tergelak dan Zean melerainya. "Kita harus menenangkan mereka," kata Zean. "Iya-iya, tenangkan mereka!" Mou Lizar mengangguk kuat. "Hahh, dasar penakut! Tapi kau lucu, aku suka!" Yuri bertepuk tangan. Mou Lizar kembali mengomel sedangkan Zean melotot mendekat kata suka dari Yuri. Seketika dia melengos. "Nah, sekarang giliran aku. Apa perisai mu masih bisa mendengarkan sesuatu dari luar dan sebaliknya?" tanya Yuri. "Tentu saja. Tunggu, jangan bilang kau mau bicara dengan mereka," Mou Lizar terus bertahan. Yuri tersenyum lebar menghadapi burung-burung itu, "Haha, memang itu yang akan kulakukan!" "APA?!" Mou Lizar lebih terkejut berpikir Yuri sudah gila. Perubahan raut wajah yang begitu jelas. Ceria yang berlebihan berubah menjadi tenang dan manis. Menatap salah satu burung yang tepat berada di depannya dengan paruh tajam terbuka terlihat lidah yang kecil itu. "Hai, burung-burung yang manis. Apa kabar? Semoga hari kalian menyenangkan!" Yuri melambai ceria sampai matanya menyipit. Sudut mata Mou Lizar berkedut melihatnya. "Apa kalian ada urusan? Kami hanya lewat, tidak bermaksud mengganggu. Sungguh, hanya lewat. Justru ingin cepat keluar sebelum gelap. Apa kalian tau jalannya? Bisa tunjukkan pada kami? Oh, ayolah, bekerjasama sebentar. Apa kalian tidak kasihan melihat kami menderita berjalan seharian menyusuri hutan ini? Hutan yang sangat luas dan terdapat hewan cantik seperti kalian. Aaaa, ini rasanya bagaikan anugerah. Aku belum pernah melihat burung cantik nan unik seperti kalian!" matanya kembali berbunga-bunga. "A-apa yang dia lakukan?" gumam Mou Lizar gemas. Kedua kuda itu meringkik bersamaan. Sebelumnya tidak pernah dan Mou Lizar baru melihat itu. "Wah, kenapa mereka bersuara? Jangan katakan juga sedang bicara dengan para burung itu! Astaga, ternyata dua kuda itu juga gila!" pekiknya. "Kau yang gila! Lihat, mereka sudah tenang!" Zean menunjuk semua burung itu dengan matanya. "Ha? Apa?" Mou Lizar bingung. Langsung terbelalak karena semua burung itu menutup paruhnya. Sudut bibir Mou Lizar kembali berkedut tak percaya. Yuri tersenyum semakin manis, "Kalian mau membantuku, 'kan? Mau, 'kan?" memasang raut wajah yang sangat manis sampai mampu membuat Zean tersenyum lebar dan Mou Lizar semakin menganga. Sontak burung-burung itu terbang dan berpencar. "Hati-hati, para burung yang cantik! Sampai bertemu lagi! Terima kasih sudah menyambut kami!" teriak Yuri melambaikan tangan perpisahan. Senyum khas-nya masih tercetak jelas. Burung-burung itu pun pergi hingga tak terlihat. Mou Lizar menghentikan sihir perisainya. "Yahh, sayang sekali mereka memilih tidak membantu kita. Andai saja mereka setuju pasti kita akan keluar dari hutan secepatnya." Yuri berbalik memandang Zean dan Mou Lizar. "Kerja bagus, Yuri," kata Zean. "Haha, terima kasih," Yuri sedikit malu. "Astaga-astaga, apa yang aku lihat barusan? Apa yang aku dengar tadi? Tolong katakan kalau ini tidak nyata. Awww, sakit! Berarti ini bukan mimpi!" Mou Lizar memukul pipinya sendiri. "Jangan pukul diri sendiri! Aku tidak ada obat untuk luka memar. Kau sudah hilang akal?" Yuri memarahi Mou Lizar begitu saja. Mou Lizar mengerjap bodoh, "Yuri, kau bisa bahasa binatang?" "Tidak, itu namanya bahasa cinta antar makhluk hidup. Itu mudah, Mou Lizar. Aku, 'kan pengendali emosi. Sejak kecil sudah ada bakat yang bisa membuatku menaklukkan makhluk hidup dengan mudah. Entah itu manusia, hewan, bahkan tumbuhan. Karena itu burung-burung tadi mengerti apa yang aku ucapkan karena dalam hati dan pikiranku aku juga mengatakan hal yang sama dengan tulus. Itu membuat para hewan mengerti jika niat kita adalah baik. Mereka tidak akan menyakiti kita kalau kita juga tidka mengganggunya. Kau mengerti?" Yuri mengedipkan sebelah matanya. Mou Lizar menggeleng, "Aku tidak mengerti." "Sudah, ayo lanjutkan. Mou Lizar, perisai yang cukup bagus." Zean memuji dengan senyumannya. Seketika Mou Lizar berbunga-bunga. Ketika Zean berjalan Mou Lizar mengikuti dan terus merecokinya. Sekarang Yuri yang diacuhkan dan berjaga memperhatikan sekeliling. Zean hanya menjawab sekadarnya semua pertanyaan Mou Lizar. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN