Hutan yang sangat luas. Banyak jejak kaki binatang buas, mereka lewati begitu saja. Keadaan menjadi membingungkan.
"Hahh...," Yuri menghela napas berkali-kali. Hal yang sama dilakukan Zean dan Mou Lizar. Wajah seperti awan mendung yang sedikit. Menunduk melihat telinga kuda yang panjang itu mmebuat Yuri ikut berpikir panjang. Kemudian alisnya terangkat mendapatkan ide.
"Mou Lizar, bagaimana kalau kita buat permainan?" Yuri menoleh ke Mou Lizar.
Mou Lizar bingung begitu juga dengan Zean.
"Kau cukup jawab pertanyaanku saja. Kalau kau salah berarti kau bodoh. Sebaliknya, kalau kau menjawab benar satu pertanyaanku kau boleh bertanya padaku dan jika aku tidak bisa menjawab berarti aku yang bodoh. Mau?" ekspresi ceria Yuri yang sanga khas.
Mou Lizar mendongak mengelus dagunya, "Hmm, boleh. Kau duluan. Awas kalau kalah jangan nangis."
"Baik! Siapa nama lengkap Kak Zean?" Yuri menepuk tangannya. Zean mendelik mendengar pertanyaan itu. Dia menunggu jawaban Mou Lizar. Ahli sihir itu kembali menatap langit. "Emm, siapa, ya? Ah, Pangeran Zean!" serunya keras.
"Hahaha, kau salah!" Yuri tertawa.
"Ha! Benarkah? Bukannya semua orang memanggilnya Pangeran Zean?" Mou Lizar menggaruk tengkuknya.
"Kakak, dia tidak tau namamu, haha. Bukannya sudah kuberi tahu kemarin?" Yuri menatap Zean yang tanpa ekspresi sebentar.
"Aku lupa. Memangnya siapa namamu, Pangeran?" dengan polosnya Mou Lizar bertanya.
"Zean Maza Lou." Zean memalingkan wajahnya.
"Ah, itu dia! Hehe, maaf aku tidak tau."
Yuri terkikik, "Kau mengakuinya? Sekarang pertanyaannya yang kedua."
"Jangan bertanya pertanyaan bodoh seperti itu," kata Zean membuat Yuri dan Mou Lizar menoleh. "Lihat, dia mulai lagi. Kau tidak pernah senyum padaku, Pangeran," sahut Mou Lizar.
"Tidak apa-apa. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara mematahkan mantra yang terkunci bertahun-tahun?" mata Yuri berbinar. Seketika Mou Lizar berteriak, "Aaa, sulit sekali! Aku tidak bisa menjawabnya!"
"Haha, caranya tentu saja dengan ilmu pemecah mantra. Di buku mantra juga ada," Yuri tertawa lagi.
"Astaga, aku bingung. Kenapa beri pertanyaan yang sulit?" Mou Lizar menepuk dahinya.
"Kalau begitu... Terbuat dari apa hiasan di kepalaku?" Yuri menunduk menunjukkan rantai akar birunya.
"Ha, aku tau! Dari akar biru pohon Savara!" seru Mou Lizar.
"Tepat sekali! Kau tidak lagi bodoh sekarang!" Yuri bertepuk tangan.
"Yeyy, aku berhasil menjawabnya, haha!" Mou Lizar ikut bertepuk tangan dan berkacak pinggang sedikit bangga.
"Ck, sanagt jelas terlihat," Zean masih mengalihkan perhatiannya.
"Sekarang giliranmu, tanya aku," Yuri bersemangat.
"Baiklah, Yuri... Apakah menurutmu pengendali elemen itu ada?" Moh Lizar mengerjap.
"Pertanyaan apa itu? Namanya kau bertanya pendapat padaku. Emm, sepertinya ada. Jika pengendali emosi ada pasti pengendali elemen juga ada. Sama seperti Kak Zean yang mengendalikan dua energi dalam dirinya," jawab Yuri santai.
"Wah, kalau benar ada aku sangat iri pada orang itu. Saat pertunjukan sihir elemen aku sangat menyukainya. Itu dahsyat sekali! Andai saja bisa bertemu orangnya sekali saja, pasti bisa bahagia setiap saat. Aku mau belajar darinya!" Mou Lizar berangan-angan.
"Memangnya ahli sihir saja tidak cukup?" Yuri menggeleng.
"Aku ingin punya kekuatan lebih. Sihir ini sudah seperti temanku, tapi kekuatan lain pasti bisa melindungi semua orang sama seperti yang kau lakukan." Mou Lizar memandang tangannya.
Yuri tersenyum manis, "Semua sudah pada porsinya. Suatu saat nanti pasti akan tiba waktunya di mana kita mendapat sesuatu yang lebih ataupun kurang."
"Iya, kau benar." Mou Lizar mengangguk kuat.
Zean menghela napas panjang, "Sampai kapan ini berakhir?" gumamnya.
Yuri mendengarnya. Diam-diam melirik Zean yang masih menatap ke arah yang sama. 'Wajah Kakak kembali seperti kemarin,' batin Yuri.
Mendesah kembali menatap ke depan. Tidak disangka bertemu tumbuhan beri liar. Mendadak Yuri loncat dari kuda. Zean terperangah, Mou Lizar menegurnya. Yuri langsung lari ke tumbuhan beri itu. Berbuah sangat lebat. Yuri hanya jongkok di depannya tanpa menyentuhnya sama sekali. Zean dan Mou Lizar menghentikan kudanya di belakang Yuri. Mereka turun dan ikut berjongkok.
"Ada apa?" tanya Mou Lizar.
"Ini bukan buah beri biasa. Ini adalah bahan obat yang sangat mujarab. Kalian bisa lihat warnanya? Gelapnya sangat pekat," terang Yuri.
"Benarkah? Aku baru tau. Kupikir ini banyak tumbuh liar di sini." Mou Lizar mengernyit.
"Kalian istirahat dulu di sini. Biarkan kuda makan, aku akan melihat-lihat sebentar." tanpa menunggu jawaban Yuri, Zean segera pergi ke balik tumbuhan beri.
"Kakak, kau mau ke mana?" Yuri berdiri hendak mencegahnya, tetapi Mou Lizar menahan ujung pakaiannya.
"Yuri, mungkin Pangeran sedang memeriksa apakah ada cara untuk membentuk cincin merah di sini. Kalau kau menyusulnya, siapa yang akan menemaniku? Hutan ini banyak ular berbisanya!" Mou Lizar memekik.
"Huft, baiklah aku di sini." Yuri kembali duduk. Memandang punggung Zean yang semakin menjauh.
'Kak Zean pasti berjalan tanpa henti seperti kemarin malam. Semoga mendapat sesuatu sungguhan. Aku sudah tidak sabar merasakan perubahan biji pohon ini,' batin Yuri.
Dia menceritakan bagaimana buah beri hitam pekat itu bisa dijadikan obat. Namun, Mou Lizar justru memakannya langsung.
"Jangan terlalu banyak, nanti kau mabuk sesaat. Beri ini bisa membuat pusing sampai pingsan apalagi pada orang yang tekanan darahnya rendah," Yuri mencegah Mou Lizar yang teramat banyak memakan buahnya. Namun, dalam sedetik Mou Lizar sudah pusing. "Aduh, kenapa baru bilang sekarang? Aku mau pingsan," ujarnya agak tidak jelas. Kemudian, Mou Lizar sungguhan pingsan.
Yuri menepuk dahinya. Menggoyang-goyangkan lengan Mou Lizar pelan, tetapi tidak kunjung bangun. Akhirnya Yuri tinggalkan begitu saja karena dia ingin mengejar Zean.
"Maaf, aku meninggalkanmu sebentar. Hei, kuda yang baik. Jaga ahli sihir itu, ya," kata Yuri pada kedua kudanya sebelum pergi.
Dia berlari-lari kaecil mencari Zean. Sedikit berteriak dan tidak mendapat jawaban. Yuri baru sadar jika Zean tidak akan mau menjawab teriakannya jika sedang merajuk.
'Kenapa mudah sekali tersinggung? Padahal aku sudah minta maaf kemarin. Hanya bermain dengan Mou Lizar saja tidak boleh? Maksudnya apa? Dasar anak kecil!' Yuri memaki Zean dalam hati.
Tiba di pohon-pohon tinggi dengan sedikit dahan dan daun yang sangat lebat. Di sana Yuri berhasil menemukan Zean. Dia tengah berdiri menautkan tangan di belakang sambil memandang salah satu pohon itu. Dari kejauhan terlihat seperti bingkai yang memuat Zean di dalamnya. Yuri segera mendekatinya. Tanpa bertanya dia berdiri di depan Zean dan melotot. Zean terperangah sedikit mundur.
"Kenapa tidak menjawab seruanku?" tuntut Yuri. Zean memalingakn wajahnya.
"Mau marah lagi? Marah macam apa itu?" Yuri melipat tangannya.
Zean menatapnya sambil mengenal napas sabar. Yuri terkejut Zean menarik rantai akar birunya.
"Hei, kembalikan! Kenapa kau ambil?!" Yuri berusaha merebutnya, tetapi Zean mengangkat rantai akar biru itu tinggi-tinggi. "Kau aneh sekali, Kakak. Kalau tetap memaksa aku akan melawanmu!"
"Coba saja," Zean tetap tidak mau memberikan benda itu. Yuri geram, mengambil jarak cukup jauh dan memasang posisi siap tempur.
"Aku akan melawanmu!" serius berlari memberi pukulan besar tepat mengarah di d**a Zean. Sayangnya Zean berhasil menghindar begitu tenang.
'Pukulan yang besar,' batin Zean.
Melibatkan angin kecil yang membekas setelah pukulan itu dilayangkan. Zean terus menghindar menghadapi serangan Yuri. Berpindah sana-sini dari satu pohon ke pohon lain sampai hampir saja mengenai pohon-pohon itu. Dedaunan yang bertaburan di tanah jadi berserakan karena langkah kaki Yuri yang cepat.
"Berikan rantai akar biruku, Kak Zean!" Yuri semakin menjadi. Dia sungguh-sungguh ingin bertarung dengan Zean, akan tetapi Zean tidak meladeninya.
"Balas aku, Kak Zean!" seru Yuri lagi.
Zean menyembunyikan rantai akar biru itu di balik pakaiannya. Yuri tersentak kemudian mundur. Menatap Zean nyalang. Dia tidak marah, hanya kesal dengan sikap Zean.
"Kemarin baik-baik saja, sekarang sudah berubah lagi. Emosimu buruk, Kakak. Biar aku bersihkan kecemburuanmu!" Yuri menutup mata, merentangkan tangan mengambil energi alam sehingga menimbulkan hembusan angin yang mendadak kencang membuat pusaran kecil di depan wajahnya.
Zean mendesis mulai menanggapinya serius. Yuri tak kunjung membuka mata dan terus mengumpulkan energi itu. Pusarannya semakin bertambah. Rambut Zean dan Yuri sampai berterbangan.
"Yuri, hentikan sebelum kekesalanmu bertambah," pinta Zean tenang.
"Sebelum kau menganggap Mou Lizar benar-benar bergabung dengan kita, tidak akan kubiarkan kau memasang ekspresi seperti itu lagi!" seru Yuri tanpa membuka mata.
Zean berdecak, "Apa salahnya jika aku tidak suka kau terlalu dekat dengan-nya? Lalu, rantai akar biru ini aku tahan."
Dua-duanya mempertahankan pendapatnya. Padahal masalah sepele menjadi besar. Angin yang dihasilkan dari kekuatan Yuri menyebar hingga ke tumbuhan beri tempat kuda dan Mou Lizar istirahat. Mou Lizar yang pingsan sampai sadar. Seketika wajahnya menggigil merasakan dingin agak panas sampai rambutnya juga terombang-ambing tak beraturan. Kedua kuda itu meringkik, tiba-tiba meninggalkan Mou Lizar menuju sumber datangnya angin aneh itu. Mou Lizar sangat panik, dia segera mengikuti kuda-kuda itu dengan susah payah. Terkejut ketika tiba di tujuan. Dia membawa dua kuda itu untuk berlindung di balik pohon yang lebih besar agar tidak terkena bahayanya kekuatan Yuri.
"Wah, apa yang aku lewatkan? Kenapa mereka bertengkar?" gumam Mou Lizar.
Kesusahan melihat pusaran angin yang Yuri kumpulkan sembari dia mengikat dua kuda itu di pohon besar.
"Apa yang sedang Yuri lakukan? Apa itu? Bola angin?" matanya menyipit. Beralih melihat Zean yang hanya diam menanti serangan Yuri. Terkejut Yuri membuka matanya, begitu menakutkan ketika menghunus tajam mata Zean.
"ASTAGA! DIA SERIUS!" pekik Mou Lizar.
"KAKAK... TERIMA INI!" Yuri melempar pusaran itu dan seketika muncullah pelindung cahaya yang menutupi Zean sehingga tidak bisa mengenainya. Namun, perubahan posisi mendadak Yuri berada di samping Zean dan mengambil bola angin itu dengan secepat kilat membuat Zean terperangah.
"Apa?!"
"Hiyaaa!!!" Yuri menancapkan bila anginnya pada pelindung di samping Zean dengan sangat kuat dan lebih kuat dari saat dia melemparnya. Seketika tembus perisai mengenai lengan kiri Zean hingga Zean tersungkur jauh sampai menabrak pohon.
"Aargh, sshh." Zean mendesis pelan memegang lengan kirinya.
Yuri mendekatinya sambil mengepalkan tangan. Mou Lizar bergetar, giginya saling bertautan, mencengkeram kulit luar pohon tempatnya bersembunyi sampai kukunya sendiri yang sakit. Dia tidak menduga Yuri akan menyerang Zean sungguhan.
"Dia marah, dia sudah marah. Gawat, ternyata amarahnya bisa memakan orang hidup-hidup. Itu emosi apa yang dia pakai? Huuu, badanku sampai menggigil," gumamnya menahan pekikan. Membiarkan dua kuda itu mengalir dirinya sebagai teman. "Kuda yang baik, temani aku, ya. Jangan biarkan aku jadi bahan amukan Yuri juga," cicit Mou Lizar.
Zean perlahan bangkit. Sebenarnya serangan Yuri tidak terlalu sakit apalagi serius. Dia hanya menyenggol kulit luar Zean saja. Tandanya Yuri memang tidka marah, hanya geram padanya.
"Apa sikapku sudah keterlaluan? Sungguh?" ucapan Zean mampu menghentikan langkah Yuri. Mereka hanya berjarak sepuluh kaki.
"Kau tidak bisa bergaul atau bagaimana? Kalau bersama Kak Cen pasti berkelahi, sekarang dengan Mou Lizar memasang wajah kaku. Aku tidak suka," jujur Yuri.
"Kau sudah mengatakannya kemarin malam," sahur Zean.
"Maka dari itu kau jangan seperti ini lagi atau aku akan menyerangmu sungguh-sungguh!" Yuri mulai mengangkat tangannya.
Zean juga mengangkat kedua tangannya setinggi pinggang dan mengeluarkan dua energi bisa dia kontrol.
"Mari," ujarnya.
Yuri mengernyit. Tangan yang satunya semakin terkepal kuat, "Akhirnya kau bersedia berkelahi denganku. Jangan sampai berhenti hingga ada yang kalah dari kami, Kakak."
"Sesuai keinginanmu, Yuri." Zean tersenyum kecil.
"Hiyaaaa!!!" Yuri maju terlebih dahulu.
Kali ini bertarung sungguhan tanpa mengukur waktu mengumpulkan energi alam. Dia tidak menggunakan energi alam, tetapi mengandalkan kekuatannya sendiri. Zean tidak hanya menghindar, tetapi juga memberi serangan. Gerakan mereka sangat cepat seperti kilat. Bukan Zean yang mengimbangi Yuri, melainkan Yuri yang sedang mengikuti pergerakan Zean. Seolah Zean sedang menguji Yuri sekarang.
'Bukankah sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya waktu itu? Dia melintas begitu cepat dan mencuri akar biruku. Saat ini, dia menggunakan cara yang sama,' batin Yuri.
"Luar biasa! Dia sudah menguasai ilmu larian angin dengan baik. Pasti sangat berlatih keras di padepokan perempuan,' batin Zean.
Zean memukul dengan kekuatan cincin biru. Yuri berhasil menahannya dengan ilmu pertahanan yang dia punya. Kemudian mengunci kaki Zean sehingga Zean tidak bisa bergerak sekaligus mengikat kaki Zean layaknya segel. Ternyata Zean menyadarinya.
'Mengunci kekuatan dari cincin biru. Yuri menggunakan teknik tingkat pertama ilmu dari kelompok penjaga bukit Zill,' pikir Zean.
Kini pergerakan kekuatan cincin birunya melambat. Jika Zean menerobos segel Yuri maka akan bisa membahayakan Yuri karena jarak mereka yang sangat dekat. Bahkan saling beradu tatapan tajam.
'Kalau berani menambah kekuatanmu, akan kusegel kau sungguhan ke tahap delapan!' batin Yuri.
"Kenapa, Yuri? Lanjutkan sampai tahap sembilan kalau kau bisa. Jika berhasil mungkin kau bisa menyegelku sungguhan bersama cincin biru ini." kata Zean sembari tersenyum miring.
"Kalau kau ingin aku mati maka akan kulakukan. Tahap delapan!" seru Yuri seraya menutup matanya mencoba fokus.
"Jangan!" Zean mendorong Yuri dengan tangan satunya yang berisi kekuatan murni dari dirinya sendiri. Yuri terdorong jauh otomatis kunciannya pada kaki Zean terlepas.
Yuri mengatur napasnya sebentar. Memasang posisi siap bertarung lagi tanpa melemahkan kekuatannya.
"Kau yang meminta, akan kulakukan!" seru Yuri.
"Apa kau ingin organ tubuhmu rusak? Jangan bodoh! Aku hanya bergurau!" balas Zean.
"Sudahlah, Kakak. Bilang saja kau takut kalah," lanjut Yuri.
"Aku sengaja mengalah," sahut Zean.
"Ck, kaki ini akan kubuat kau kalah sungguhan!" Yuri kembali menyerang. Gerakannya tidak hanya cepat, tapi juga lincah. Kakinya sering menendang kuat. Incarannya adalah kepala dan jari manis Zean agar membuat cincin itu marah sampai Zean kesulitan mengendalikannya. Namun, sekali saja tidak bisa mengenai Zean. Giliran Zean yang memberikan pukulan dahsyat pada Yuri, tetapi Yuri bisa menahannya hanya dengan satu jari.
"Apa? Mustahil!" bukan Zean, melainkan Mou Lizar yang masih menyaksikan di sana. Zean memindahkan pukulan itu, tetapi Yuri mengikutinya cepat dan tetap menahannya dengan satu jari.
"Sungguh, pertarungan yang dahsyat. Semua pohon sampai bergoyang karena aura mereka. Pergerakannya sulit ditebak." Mou Lizar membuat teropong daun dari sihirnya sehingga bisa melihat pertarungan Yuri dan Zean dengan jelas.
Keduanya tidak mau mengalah. Perkelahian itu membuat mereka lupa sesaat dengan masalah rantai akar biru atau Mou Lizar. Intinya hanya fokus pada siapa yang menangis. Sayangnya tiap kali berhasil mengenai salah satu dari mereka, bersamaan mundur tanpa ada yang kelelahan. Mereka seimbang. Zean menggabungkan kekuatannya, Yuri memperkuat kekuatannya dengan ambisi yang dia rasakan sekarang. Ingin sekali menjatuhkan Zean hingga tak bisa berdiri selama satu menit dan mengakuinya menang. Dua orang yang membara bersama kuasanya kembali beradu dan semakin sulit dilihat. Mou Lizar membuang teropongnya. Duduk bersandar pohon itu merengut kesal.
"Apa-apaan mereka? Asik berkelahi sampai aku dilupakan? Itupun mereka masih tau aturan, berkelahinya tidak merusak alam. Hanya daun-daun kering yang berterbangan sana-sini karena terbawa angin buatan mereka. Hahh, andai saja aku punya kekuatan sedahsyat itu. Lihat Pangeran Zean jadi iri. Dia benar-benar bisa mengendalikan kekuatan cincin birunya. Melihat Yuri juga jadi iri. Dia punya emosi yang bisa mempengaruhi kekuatannya kapan saja. Dengan cepat bisa meningkat karena gigih ingin menang. Ambisi yang cukup unik. Kalau sudah menang mau apa? Toh itu dengan kakaknya sendiri. Kalau dengan musuh baru wajar. Mereka aneh, sungguh aneh," gerutunya.
Tidak mau melihat Yuri dan Zean lagi. Mou Lizar memilih tidur saja. Dia perkirakan sampai siang mereka belum berhenti karena akan seimbang sampai mengeluarkan ilmu terhebat mereka. Ternyata itu tidak akan terjadi. Mereka harus menjaga alam tetap aman tanpa rusak. Ketika Mou Lizar tidur, Yuri dan Zean meredakan kekuatan masing-masing. Berganti bertarung fisik biasa. Yuri berusaha mengambil rantai akar biru di balik pakaian Zean. Jika berhasil maka itu adalah celah untuknya menjatuhkan Zean. Namun, sangat sulit dilakukan. Sebaliknya, Zean berusaha mencabut ikat kepang rambut Yuri. Jika rambut Yuri terurai maka dia sudah bisa dianggap menang. Peraturan mainnya berganti sekarang. Tetap saja, mereka berambisi untuk menang dan mengerahkan tenaga sekuat mungkin. Sampailah di saat Yuri berhasil memasukkan tangannya ke dalam pakaian Zean dan mengambil rantai akar birunya bersamaan dengan Zean yang berputar memudarkan ikat kepang rambut Yuri kemudian mereka saling menjauh dan menunjukkan kedua benda itu mengatakan bahkan dia lah yang menang. Napas mereka terengah. Saling tersenyum melihat dia benda itu. Masih tidak ada yang kalah ataupun menang.
"Aku yang menang," kata Yuri tanpa melunturkan senyumnya. Rantai akar biru itu masih ditunjukkan jelas.
"Kau kalah," kata Zean juga tak mau kalah.
"Hahaha, kau tidka membuat rambutku terurai. Hanya ikatannya yang terlepas," elak Yuri.
"Sama saja, aku berhasil mengambilnya," balas Zean.
Diam sesaat lalu mereka tertawa bersama. Paham atas apa yang terjadi juga taktik apa yang mereka gunakan ketika berkelahi tadi. Mereka saling menguji satu sama lain.