13. Hangatnya Penginapan

2628 Kata
Matahari sudah berada di langit barat. Awan jingga mulai menghiasi, redup menghampiri. Saatnya mereka berputar arah kembali ke gerbang desa. Pasti Mou Lizar sudah menanti di sana. Kuda berlari cukup kencang. Mereka tiba di gerbang itu lebih cepat dari waktu berangkat. Namun, Mou Lizar tidak ada di sana. "Ke mana ahli sihir konyol itu?" gumam Zean. "Entahlah, seharusnya sudah di sini, 'kan? Lihat, sebentar lagi matahari terbenam." Yuri menunjuk barat. Mereka celingukan mencari Mou Lizar di antara orang-orang yang masih berlalu-lalang meskipun sudah senja. Mungkin mereka hendak pulang. Seketika mendapati Mou Lizar sedang duduk di sebuah toko kue beras dan asik makan di sana. Yuri dan Zean mendekatinya. Melihat dua orang berpenampilan rapi dan membawa kuda membuat penjual kue beras itu memberi salam. Mou Lizar mendengarnya segera menoleh menampakkan mulutnya yang penuh. Matanya terbelalak mengetahui Yuri dan Zean menghela napas bersamaan. Mereka cukup lelah. Kemudian Mou Lizar meringis, menghabiskan makanan di mulutnya secepat mungkin. "Ehm, biarkan aku minum sebentar. Ahh, rasanya nikmat sekali!" Mou Lizar meneguk air seperti tidak pernah minum satu hari. Yuri biarkan saja sampai Mou Lizar tenang. "Bos, besok lagi, ya! Tapi gratis." kata Mou Lizar sambil beranjak dari duduknya. "Enak saja! Tidak ada kata gratis untukmu! Sana pergi, aku mau tutup!" kata penjual kue beras itu. Mou Lizar melambaikan tangan seraya berbalik, "Ayo, kita ke penginapan. Aku pesan dua kamar. Aku baik, 'kan?" Yuri dan Zean saling pandang kemudian mengikuti Mou Lizar. Tidak jauh dari toko kue beras penginapan itu sudah terlihat. Ternyata juga ada tempat makan yang sederhana di sana. Banyak minuman penghangat yang biasa disebut arak berjajar rapi di setiap meja. Yuri tidak bereskpresi untuk ini. Mou Lizar menyuruh salah satu pelayan untuk menyiapkan tempat bagi kuda Yuri dan Zean. Yuri terkejut ternyata terdapat tempat istirahat untuk hewan peliharaan juga. Kuda yang lain juga sedang istirahat di sana. "Wah, pasti biayanya sangat mahal. Apa kuda kita juga akan diberi makan?" gumam Yuri secara tidak langsung. Mereka sedang menaiki tangga menuju kamar yang Mou Lizar pesan. "Tentu saja, semua fasilitas di sini lengkap. Biasanya para pengembara juga singgah di sini sementara waktu. Biasanya orang-orang hanya memesan kamar untuk satu malam saja karena jika lebih pasti biayanya lebih mahal. Jadi, besok pagi kita harus sudah pergi dari sini," jelas Mou Lizar. "Apa uangmu tak habis?" Zean bersuara. "Iya, kau tadi membuat pertunjukan, 'kan? Dapat penghasilan?" sambung Yuri. Mereka telah tiba di depan pintu kamar. "Ah, tenang saja. Satu koin emas tadi sudah termasuk biasa makan kuda dan penjamuan makan malam, haha. Nanti akan ada orang datang memberikan kita makanan mewah. Waahh, aku tidak sabar ingin memakannya." Mou Lizar menggosok kedua telapak tangannya. "Apa? Mewah sekali!" Yuri mendelik. "Kau sudah makan kue beras, masih mau makan lagi?" heran Zean. "Haha, Pangeran ini lucu sekali. Kue beras mana bisa mengganjal perutku? Aku mau makan daging ayam yang lembut dengan saus kecap di atasnya. Aku sudah memesannya tadi. Sshh, pasti sangat lezat. Ayo masuk! Yuri, kamarmu ada di sebelah. Jika makanannya sudah datang nanti akan kupanggil. Mari, Pangeran!" Mou Lizar terlihat gembira membuka pintu mempersilahkan Zean masuk terlebih dahulu. Zean menggeleng maklum melihat tingkah Mou Lizar. Dia rasa terlalu berlebihan Mou Lizar memanjakan diri hanya untuk penginapan. Jika tahu akhirnya akan seperti ini dia memilih tidur di bawah pohon saja. Sekarang Zean baru merindukan pohon Savara. Dia biasa tidur di sana sambil membawa catatan riwayat pohon Savara dan berpikir dari mana asalnya. "Terima kasih banyak, Mou Lizar. Wah, kau baik sekali! Aku pergi dulu!" Yuri memasang raut gembira memasuki kamarnya. Mou Lizar hanya melambaikan tangan. "Hahh, ini terlalu berlebihan. Aku bahkan tidak berselera makan apalagi Kak Zean masih memasang ekspresi yang... Menyebalkan," gumam Yuri setelah menutup pintu kamarnya. Membersihkan diri dan berganti pakaian adalah hal yang menyenangkan. Rasanya sangat sejuk dan segar. Hilang semua penat setelah berjalan seharian. Yuri menatap cermin sambil menyisir rambutnya. Bergelombang karena terus dia kepang dan sekarang pun dia kepang kembali. 'Cincin merah? Apa yang harus kulakukan demi mendapatkan cincin merah? Ayolah, setidaknya satu kali setelah hari ini saja biji pohon itu bisa terisi agar seterusnya aku tau apa yang harus aku lakukan,' pikir Yuri. Rantai akar biru kembali tersemat di kepalanya. Itu sudah seperti mahkota baginya. Yuri tidak memakai pakaian dari kelompok penjaga bukit Zill, itu sudah kotor dan sedang dia jemur sekarang. Dia hanya mengenakan pakaian seperti penduduk desa dan membuat rantai akar birunya terlalu mencolok. Tidak lama kemudian Zean mengetuk pintu memanggil Yuri untuk bergabung dengannya. Makanan yang dipesan Mou Lizar sudah datang. Ketika Yuri ikut duduk bersama mereka, matanya ingin lepas dari asalnya. Ada begitu banyak makanan dan minuman serta sebotol arak di meja persegi itu. Yuri tidak yakin jika satu keping emas masih memiliki kembalian yang cukup banyak. Sepertinya Mou Lizar sudah benar-benar keterlaluan. "Bagaimana cara menghabiskannya? Satu piring saja aku tidak akan habis," kata Yuri tanpa berkedip. "Tenang, perutku pasti muat. Kalau tidak kita bungkus saja buat besok pagi. Kalau kalian tidak mau, biar aku saja yang makan. Yang oebging sekarang waktunya makan malam. Selamat makan!" Mou Lizar makan terlebih dahulu. Memang sangat lahap seperti perutnya kosong dari pagi, padahal sudah terisi. Yuri hanya tersenyum melihatnya. "Dia terlihat seperti anak kecil. Usianya bahkan lima tahun lebih tua dariku," gumam Yuri. Kemudian dia memandang Zean yang diam, "Kakak, kau tidak makan?" Zean menoleh tenang, "Aku tidak lapar. Kau makan saja." "Aku tidak mau makan kalau kau tidak makan." Yuri menggeleng pelan. Zean tersenyum tenang, "Yuri, isi tenagamu. Aku mau istirahat sebentar." Zean berdiri hendak ke ranjang. Namun, Yuri memegang ujung pakaiannya membuat pergerakan Zean terhenti. Mou Lizar melihatnya bingung, tetapi dia tetap saja makan. "Sebentar? Setelah tidur kau mau apa? Menunggu fajar dengan perut kosong?" "Yuri, lepaskan aku. Aku lelah," pinta Zean masih dengan nada yang sama. "Makanlah sedikit saja. Semua ini akan sia-sia kalau tidak dimakan," masih membujuk. "Kau makan saja dengan Mou Lizar. Sungguh, aku lelah, Yuri." Zean mendesah sabar. "Kalau begitu biar kubantu pulihkan tenagamu." Yuri hendak berdiri, tetapi Zean menahannya. "Tidak usah. Aku hanya perlu tidur. Jangan berdebat lagi dan cepat makan atau kalau tidak aku akan marah," Zean menaikkan nada bicaranya. Alis Yuri terangkat, "Marah? Jadi kau mengakuinya kalau sedang kesal terhadapku. Baiklah, aku diam. Aku tidak bisa membaca pikiranmu saat ini. Mou Lizar, ayo kita makan saja. Biarkan Pangeran Zean beristirahat dengan tenang." Yuri melepaskan ujung pakaian Zean dan memutar posisi menjadi menghadap meja hidangan lagi. Dia mulai mengambil makanan yang ada. Zean menghela napas panjang. Tanpa berpikir lagi dia berjalan menuju ranjang. Bersandar tembok karena ranjang itu sangat dekat dengan tembok. Lalu, melipat tangan dan menutup matanya seolah berkonsentrasi akan sesuatu yang sangat tenang. Mou Lizar sedikit melambat saat makan karena memperhatikan Zean. "Yuri, apa Pangeran benar-benar tidur dengan cara seperti itu?" bisik Mou Lizar. Yuri makan dengan malas, "Hmm, sepertinya." "Sungguh? Wah, hebat!" Mou Lizar menggeleng takjub. "Apanya yang hebat? Dia sedang merajuk. Aku bisa merasakannya. Hanya tidak tahu apa yang dia pikirkan saja," Yuri cemberut. Makanan yang lezat itu menjadi hambar di lidahnya. Mou Lizar menaruh piring yang dia bawa sehingga sedikit menimbulkan suara, "Apa? Kau bisa merasakannya? Aku pikir Pangeran memang kelelahan, aku tidak berpikir kalau dia sedang kesal. Lagipula hal apa yang bisa membuatnya kesal? Bukankah dia mengontrol segala sesuatu dengan baik?" "Tentu saja aku tau. Aku ini pengendali emosi, 'kan? Apa yang dirasakan manusia aku mengerti, sama seperti aku merasakan emosiku sendiri. Meskipun Kak Zean pandai menguasai segala sesuatu, dia tetap manusia yang berhati murni. Emosinya terkadang stabil dan terkadang rumit karena pikirannya sendiri. Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan itu. Kurasa setelah bertemu denganmu dia jadi seperti itu." jelas Yuri sambil mencoba beberapa makanan tersebut. "Ha? Aku terkejut sekali! Karenaku? Memangnya apa salahku?" Mou Lizar menunjuk dirinya sendiri. "Emm, kau tidak salah. Hanya sedikit mengganggunya." Yuri berpikir sebentar. "Begitu, ya? Baiklah, setelah ini akan kuhibur dia. Kau bisa tidur dengan tenang, Yuri. Serahkan hati Pangeran padaku, haha. Dengan cepat dia akan membaik sebelum lagi tiba." Mata Mou Lizar berbinar membuat Yuri tak bisa menahan senyum. "Bagus! Sekarang ayo makan dulu!" balas Yuri semangat. Sesekali Mou Lizar membuat lelucon yang sebenarnya tidak lucu, tetapi bisa membuat Yuri tertawa. Mou Lizar begitu cerewet sampai tidak sadar beberapa makanan habis dia makan sendiri. Kemudian, menyuruh pelayan membungkus makanan yang tersisa untuk bekal besok pagi. Sebenarnya Zean tidak tidur, hanya matanya yang tertutup. Dia begitu tenang, tetapi tidak bisa tenang karena mendengar semua pembicaraan Yuri dan Mou Lizar. Apalagi candaan yang mereka lontarkan dan tawa Yuri yang begitu lepas seolah sungguh melupakan dirinya yang baru saja dia tahan. Zean semakin tidak terima. Ketika Yuri pindah ke kamarnya, dia segera membuka mata. Mou Lizar terkejut. Zean memandangnya begitu tajam. Ketika Zean bangun, Mou Lizar ketakutan. Ternyata Zean ingin keluar dari kamar. Mou Lizar pikir Zean akan memarahinya padahal sudah berniat ingin menghibur Zean. Tidak tahu Zean pergi ke mana, larinya begitu cepat seperti bukan lari, tetapi menghilang. Akhirnya Mou Lizar mengadukannya pada Yuri membuat Yuri sedikit terkejut. Yuri langsung tahu jika Zean ingin menyendiri. Yuri hanya mengangguk dan menyuruh Mou Lizar istirahat, sedangkan dia akan menyusul Zean. Untungnya Mou Lizar menurut karena memang sudah kekenyangan dan mengantuk. Yuri melompat dari lantai dua penginapan itu menuju halaman belakang. Di sana ada sebuah jalan yang penuh pepohonan. Ada obor yang sengaja dinyalakan di dekat pohon-pohon untuk penerangan. Mungkin masih ada rumah-rumah di sana. Yuri celingukan mencari Zean. Instingnya mengatakan Zean berada di sana tidak akan jauh dari penginapan. "Kakak, kau di mana?!" Yuri menahan teriakannya takut membangunkan orang-orang. Sedikit resah tidak menemukan keberadaan kakaknya. Berlari mendekati salah satu obor agar bisa melihat jalan yang terang lebih jelas. "Kakak, jangan marah lagi. Aku minta maaf. Kau kesal padaku, 'kan? Karena merasa aku mengacuhkanmu? Ini bahkan belum ada satu hari, biarkan Mou Lizar ikut dengan kita. Dia mungkin bisa membantu kita. Dia teman yang baik," ujar Yuri lagi. Masih tidak ada jawaban. Entah ke mana Zean pergi. Yuri mengambil obor itu dan berlarian mengitari halaman belakang. Hampir frustasi membuatnya akan berputar ke jalan lain, akan tetapi sebuah langkah kaki yang teramat pelan mengganggu pendengarannya mampu menghentikan langkah Yuri. Seketika Yuri berbalik dan mendapati Zean yang sedang berjalan ke arahnya. "Kakak, akhirnya kau muncul juga. Aku lelah berteriak dari tadi. Kalau orang-orang bangun bagaimana?" Yuri tersenyum lebar menerangi wajahnya dengan wajah Zean. Zean masih tidak menjawab. Senyum Yuri menjadi sedikit terkorban. "Kenapa diam saja? Apa kau marah sungguhan?" dahinya sedikit berkerut. Zean menggeleng kemudian berbalik arah dan melangkahkan kakinya. Yuri segera mengikutinya masih membawa obor itu. "Kau mau ke mana? Kalau tidak bicara tandanya marah padaku. Aku salah apa? Jangan membuatku takut, Kak Zean," Yuri menjadi sedih. "Tidak, aku tidak bisa marah padamu," jawab Zean singkat. "Tapi wajahmu terlihat kesal. Mana mungkin tidak marah?" Yuri menunjuk pipi Zean. "Apa orang marah bisa setenang diriku?" Zean menoleh sebentar. Yuri berganti menunjuk pipinya sendiri, "Oh, benar juga." "Gadis bodoh," maki Zean tanpa berniat memaki. "Kalau tidak marah dan juga kesal, lalu apa?" lanjut Yuri. "Hanya tidak mau bicara padamu. Selalu tak dihiraukan, jadi untuk apa bicara?" Zean mengendikkan bahu. Yuri menganga, "Ah, aku tau. Ternyata benar kau cemburu pada Mou Lizar, ya? Haha, jangan begitu." mengibaskan tangannya. "Tetap saja," Zean mengaku. Yuri mengelus dagunya, "Mana bisa Kak Zean seperti ini dibilang marah? Kau sangat lucu!" "Bukannya Mou Lizar yang lucu?" Zean mengangkat sebelah alisnya. "Haha, jangan bicara begitu. Aku ingin tertawa. Kau dan dia berbeda. Walaupun usia kalian sama, tapi sikap dan kepribadian kalian jauh berbeda. Lihat Mou Lizar, dia seperti adik yang sangat ceria. Sihirnya bisa menghibur semua orang. Aku suka berteman dengannya," terang Yuri. "Dan mengabaikan kakakmu sendiri," sambung Zean. "Hei, jangan bicara sembarangan. Dulu bertengkar kecil dengan Kak Cen Dama. Sekarang jauh dari Kak Cen, malah cemburu sama Mou Lizar. Kau ini kenapa?" Yuri menyenggol lengan Zean. "Ck, jangan dekat-dekat denganku. Ini sudah malam, sebaiknya kau kembali. Aku ingin mencari udara segar," Zean kembali merajuk. Yuri ikut berdecak, "Sekarang siapa yang terlihat seperti anak kecil? Kau!" "Kalau kau suka berada di dekatnya lebih baik aku tidak pergi sejak awal," gumam Zean yang jelas bisa didengar Yuri. "Kalau kau tidak pergi bagaimana aku bisa menyembuhkanmu? Aku justru berharap akan dapat teman baru yang ikut bersama kita. Pasti lebih menyenangkan!" seru Yuri gembira. Zean menghela napas panjang, "Sudahlah, kembali saja." "Tidak mau, aku mau ikut denganmu," Yuri bahagia. "Kenapa ekspresimu mudah sekali berubah?" Zean menoleh lagi. "Karena aku suka. Ketika aku senang maka kekuatanku akan stabil. Jika bahagiaku meningkat maka kekuatanku juga meningkat," terang Yuri. "Aku sudah tau," acuh Zean. "Mau berlatih denganku?" tawar Yuri tiba-tiba. "Apa?" Zean mengerutkan dahi sepenuhnya. "Sejak awal datang aku ingin bertarung denganmu, tetapi keadaan tidak memungkinkan jadi tertunda sampai sekarang. Aku ingin bermain adu fisik denganmu." Yuri meringis. "Tidak mau." Zean melengos. Yuri merengek, "Kakak, ayolah!" "Sudah malam, sebelum larut kembalilah," suruh Zean lagi. "Kau mengusirku. Kenapa? Takut kalah? Dasar penakut!" Yuri menjulurkan lidahnya. "Kalau penakut kenapa aku ada di sini bersamamu sekarang?" elak Zean. "Masuk akal juga. Kau mana pernah takut mati? Hahh, bicara soal mati aku jadi berambisi untuk segera mendapatkan cincin merah," Yuri mendadak mengeluh. "Karena itu jangan asik bercanda dengan Mou Lizar. Fokus pada misi dan ingat keselamatan senua orang," tutur Zean. "Siap, Kakak," jawab Yuri lemas. Kemanapun Zean berjalan Yuri selalu mengikutinya. Hingga tengah malam mereka tetap tidak lelah apalagi Zean yang tidak mengisi perutnya malam ini. Lalu, Zean berputar arah kembali ke penginapan. Yuri sudah sedikit mengantuk membuat Zean yang memegang obornya. Langkah kaki mereka semakin melemah, Zean mengangkat Yuri hingga melayang dan membawanya ke penginapan lebih cepat dengan lompatan jauh ilmu meringankan tubuh. Sesampainya di sana Mou Lizar sudah tidur begitu nyenyak di ranjang. Zean tidak mendapat sedikit tempat di sana. Yuri menyarankan agar Zean tidur bersamanya, tetapi Zean menolak. Dia ingin Yuri istirahat dengan nyaman. Tidak masalah jika tidur di lantai atau duduk di kursi panjang hingga pagi. Itu sudah cukup baginya. "Mou Lizar berbohong. Katanya udara malam hari di siji begitu dingin, tapi aku tidak merasakan dingin sama sekali. Ini hangat," gumam Yuri ketika mau tidur. "Apa mungkin karena aku jalan-jalan sebentar dengan Kak Zean, ya? Dingin berubah hangat karena kakiku lelah," sambungnya. Keesokan harinya setelah selesai berbenah mereka berangkat lagi demi misi. Menaiki kuda yang hanya berjalan karena masih berada di jalanan desa. Pemandangan yang sama yaitu tidak ada masalah atau pertikaian yang terlihat. Tidak mau mengikuti petunjuk Mou Lizar, Yuri memilih menggunakan instingnya itu pun suruhan dari Zean. Jika Yuri tidak menurut pasti Zean akan kembali acuh padanya. Sebelum siang mereka berhasil keluar dari desa dan bertemu hutan lagi. Bedanya hutan itu lebat bukan seperti hutan cahaya. "Kita berada di sini lagi," gumam Yuri. Dia ada di depan Zean sedang menunggang kuda bersama. Semua barang-barang dibawa Mou Lizar dan kuda Yuri yang sedang ditungganginya. "Tidak masalah, mungkin memang ada yang harus diselesaikan di sini," kata Zean. "Misalnya? Aduh, kalian ini tidak percaya padaku. Kita sudah tersesat. Hutan ini sangat panjang. Coba saja melewati jalan yang bercabang tadi, pasti sudah sampai di desa lainnya. Ck, bagaimana sekarang?" keluh Mou Lizar. Dia cemberut karena Yuri tidak mendengarnya. "Oh, iyakah? Haha, tidak apa-apa. Maaf, kalau membuatmu kesal." Yuri meringis sembari menggaruk tengkuknya. "Iya-iya. Eemm, kalian begitu berbeda hari ini. Kenapa terlihat seperti warga biasa?" Mou Lizar baru memperhatikan Yuri dan Zean dengan jeli. "Kalau dilihat-lihat gaya kalian agak sama. Pemikiran kalian juga selalu sama. Apa jangan-jangan kian saudara kandung?" sambungnya. "Jangan asal bicara. Aku putri tunggal dari ayah dan ibuku," balas Yuri. "Mau begitu ikatan kalian sangat kuat." Mou Lizar mengangguk-angguk. "Karena kami sejak kecil bersama...," ingin melanjutkan ucapannya lagi, tetapi Zean memutusnya. "Jangan bicara yang bukan-bukan. Lebih baik fokusnya semua indera dan temukan apa yang bisa kita lakukan," kata Zean. Yuri dan Mou Lizar menurut meskipun Mou Lizar agak jengkel dengan perintah Zean. Bukan hanya pohon besar dan tinggi di hutan itu, tetapi banyak tumbuhan bunga dan rumput liar yang cantik serta pohon buah yang sangat asing tidak pernah dijumpai Yuri. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN