12. Hutan Cahaya

2565 Kata
Zean menggunakan ilmunya untuk melacak keberadaan pemilik tongkat itu. Setelah berjumpa dia membaca mantra yang bisa mengembalikan tongkat itu pada pemiliknya. Dalam sekejap tingkat itu menghilang di depan mata Mou Lizar. Dia terkejut, Yuri hanya mengangguk-angguk senang. Ketika Zean membuka mata, Mou Lizar tersentak. Menunjuk Zean sambil sedikit mundur. "Kau... Kau benar-benar mengembalikannya! Aaaa, bagaimana ini? Kau jahat sekali!" bersembunyi di belakang Yuri. Zean menarik Yuri membuat Mou Lizar kembali terlihat jelas, "Jangan dekat-dekat Yuri!" "Wow, kenapa? Kau cemburu?" Mou Lizar berubah jahil. Yuri mengerjap polos memandang Zean. "Cemburu? Itu bukan gayamu," bisik Yuri yang masih bisa didengar Mou Lizar. "Yuri, aku tidak cemburu. Jangan dengarkan omong kosong penyihir ini. Ayo lanjut jalan." tangan yang satu memegang Yuri dan satunya lagi menggapai tali kedua kudanya. "Hei, kenapa aku diacuhkan?" Mou Lizar segera mengikutinya. "Kakak, aku bisa jalan sendiri." Yuri melepaskan genggaman Zean. Zean merasa sedikit tidak rela karena Yuri mendekati Mou Lizar meskipun Yuri hanya ingin bercanda. "Mou Lizar, kau tau tempat makan yang enak dekat sini? Ayo kita makan bersama! Pasti menyenangkan!" senyum Yuri sangat lebar. "Yuri, kau kenapa?" Zean menarik tangan Yuri lagi. Yuri menoleh kaget, "Kau yang kenapa, Kak Zean. Aku hanya mengajaknya makan. Lagipula kau juga lapar, 'kan?" melapaskan tangannya dari genggaman Zean. Mou Lizar tersenyum penuh arti, "Huuu, naif. Pangeran, aku maafkan kau yang sudah membuang tongkatku, asal Yuri makan banyak denganku tentunya kau yang bayar. Bagaimana?" "Kau...," belum sempat Zean berbicara, Yuri sudah menyelanya. "Setuju!" Yuri mengangkat tangan semangat dan menggandeng tangan Mou Lizar berlari-lari kecil mendahului Zean. Zean melongo tanpa sengaja. Mengontrol dirinya dengan menarik napas dalam dan menghembusnya sabar. Terpaksa harus menuruti keinginan Yuri dan ahli sihir yang menurutnya menjengkelkan itu. Tidak Yuri sangka ada banyak sekali penjual makanan di hutan kecil itu. Banyak pohon rindang nan besar, tetapi banyak pula rumah-rumah kecil yang disinggahi penduduk. Mungkin mereka sedang bekerja di ladang atau dalam perjalanan kemudian singgah di rumah-rumah itu. Mereka menjual makanan dan minuman lezat. Harganya cukup murah. Namun, mereka punya makanan yang aneh. Hanya satu porsi saja sudah bisa membuat perut kenyang meskipun orang yang memakannya sangat rakus. Sekarang Yuri dan Zean merasakannya sendiri, kecuali Mou Lizar yang sudah tidak terkejut akan hal itu. "Kenapa aku kenyang secepat ini? Aku bahkan belum minum." Yuri mengelus perutnya. Mou Lizar menghabiskan minumannya dahulu sebelum bicara, "Karena orang-orang di sini punya cara khusus untuk mengolah makanan. Bumbunya khas dari negeri Ru, tidak bisa didapat dari negeri manapun. Ini sudah turun-temurun, tidak diperdagangkan. Pangeran Zean pasti tidak tau, 'kan?" Zean menggeleng kemudian menghabiskan minumannya, "Kurasa makanan sekecil apapun porsinya akan tetap kenyang dimakan satu orang. Mungkin cara pembuatan dan bahannya juga berbeda." "Itu benar! Aku juga tidak tau apa yang mereka gunakan. Dengar-dengar tekniknya memasak dengan aneka bahan yang bisa mengenyangkan perut selama sehari semalam tanpa harus makan lagi. Eemm, seperti mencampur nasi, gandum, ubi, dan bumbu lainnya. Selain itu juga ada rempah bumbu yang diolah khusus dan dicampurkan ke dalam masakan. Hmm, bisa menghangatkan tubuh. Aku beritahu, ya. Kalau malam udara di sini sangat dingin bahkan lebih dingin dari bukit yang jauh di sana." Mou Lizar menunjuk jalan ke depan yang selanjutnya akan mereka lewati. Namun, bukit itu sangat jauh, tidak mungkin mereka akan menuju bukit itu. Yuri mengikuti arah telunjuk Mou Lizar. Dia mengangguk mengerti, "Oh, ternyata begitu. Kalau bahannya banyak kenapa harganya murah? Satu porsi saja hanya satu keping koin saja. Wah!" "Hehe, aku kurang paham lah. Hahh, yang penting sekarang kenyang. Tinggal tidur siang. Ahh, nikmatnya hidup di hutan!" Mou Lizar merenggangkan otot tangannya lalu bersandar kursi menutup mata nyaman. "Apa maksudmu tidur? Kudaku saja tidak tidur setelah makan. Ayo kita lanjutkan perjalanan. Kau bisa menunggang kudaku, aku akan ikut kak Zean. Kita harus cari energi positif secepat mungkin." Yuri berdiri memakai tas-nya. Zean tersenyum semangat. Namun, Mou Lizar berdecak malas. "Ya, sudah. Apa boleh buat?" Mereka melanjutkan perjalanan. Ternyata nama hutan kecil itu adalah hutan cahaya. Karena sinar matahari menelusup ke celah-celah dauh di pohon tinggi yang sangat lebat membuat banyak cahaya yang terlihat menerangi jalan meskipun sangat redup. Mou Lizar berbicara banyak sekali. Sesekali membuat lelucon membuat Yuri tertawa. Zean hanya diam menyimak tidak mau berdebat dengan Yuri karena ketika dia menjawab pasti sebuah protesan yang keluar. Akhirnya Yuri menegurnya. Dia memilih memperhatikan persekitaran apakah ada yang bisa dia bantu nantinya. "Tidak ada hewan liar di sini? Aku tidak menjumpainya sedari tadi." Yuri ikut memperhatikan sekeliling. "Tidak ada siapapun juga," sambung Zean. "Hutan cahaya memang begini, sedikit hewan liar yang berkembang di sini. Kami biarkan saja, tidak pernah mengusiknya. Mereka suka bersembunyi," bisik Mou Lizar di akhir ucapannya. Kuda mereka berjalan teramat pelan. "Hahh, kalau begini kapan biji pohon bisa terisi?" keluh Yuri. Zean menunduk, "Jangan putus asa." menghilangkan bunga di tangan Yuri lalu menggantinya dengan sebuah cahaya biru. Yuri dan Mou Lizar terkejut. "Woaahhh, ternyata kau juga bisa sihir kecil? Apa ini dari cincinmu?" Yuri seakan memegang cahaya itu. Zen tersenyum, "Iya, aku mengontrolnya. Dia bisa memudar dan menjadi angin yang cukup kencang. Coba saja." "Benarkah?" Yuri langsung menerbangkan cahaya biru itu. Seketika menghilang seolah berpencar kemudian angin yang cukup kencang datang sampai dahan-dahan pohon sedikit bergoyang, daun-daun berjatuhan menghujani mereka. Yuri menganga takjub, merentangkan tangannya menerima hujan daun menabrak dirinya. Rambut kepangnya terombang-ambing tertepa angin. Zean mengambilnya dan menggelung kepang itu menjadi satu, tetapi kembali terurai terkena angin membuatnya terkekeh. "Wah, Kakak. Wah, ini keren! Dari mana kau belajar sihir kecil seperti ini? Guru besar?" Yuri berhasil mendapat satu daun yang menerpa wajahnya. "Bukan, aku mempelajarinya sendiri. Hanya perlu mengendalikan kekuatan cincin biruku saja," jawab Zean. "Ck, jangan pamer di depanku, Pangeran. Kau sudah membuang bungaku!" Mou Lizar merajuk. Dia memalingkan wajahnya membuat Yuri menoleh, "Hei, Mou Lizar. Kau cemburu, ya?" Mou Lizar terbelalak. "Cemburu dengan Pangeran? Ck, jangankan cemburu, aku bahkan tidak berhak kagum dengan kekuatannya. Siapakah aku? Ahli sihir jalanan yang gila koin emas," nadanya masih merajuk. "Oh, kau memang cemburu ternyata. Aku bisa mengajarimu satu hal. Kak Zean mengajariku waktu kecil dulu. Dia biasa menghiburku dengan ini. Kau mau tau tidak?" bisik Yuri meskipun Zean bisa mendengarnya. "Ha? Apa dia?" Mou Lizar semangat ikut berbisik. "Hihihi, ini ilmu rahasia. Tidak tertulis di buku manapun," sambung Yuri. Ketika ingin mengatakannya, Zean menarik ujung kepang Yuri. "Aaww, sakit!" keluh Yuri. Menatap Zean marah. "Kenapa mau membaginya pada orang lain? Aku tidak rela," kata Zean. "Ini menyenangkan. Aku hanya mau mengajarinya," elak Yuri lugu. "Tapi aku yang membuatnya, aku tidak terima," kekeh Zean. "Kakak, jangan bilang kau tidak suka Mou Lizar? Apa salah dia? Kalian seumuran, dia lucu, aku suka." Yuri menunjuk Mou Lizar yang berlagak sok manis karena dipuji. Zean mengerjap dituduh seperti itu, "Aku tidak bermaksud begitu. Hanya tidak mengizinkanmu membagi apapun yang kuberikan padamu. Itu tidak asik." "Bukan hanya sekarang, tapi sejak bertemu dengan Mou Lizar kau selalu begitu. Lihat wajahmu itu, seperti ibu-ibu kehabisan uang. Kupikir kau lapar, sekarang sudah makan masih saja cemberut. Aku tidak mau satu kuda denganmu." Yuri langsung turun tanpa menunggu kudanya berhenti. Zean segera menarik tali kudanya untuk berhenti begitupun dengan Mou Lizar. "Hahaha, ibu-ibu tidak punya uang. Baru kali ini aku melihat Pangeran dihina hanya bisa diam, haha! Yuri, kau hebat sekali! Bagaimana cara menaklukkan dia? Wibawanya berkurang seketika!" Mou Lizar tertawa terbahak-bahak, tapi Yuri tidak menjawab. Dia terus berjalan cepat seiring angin buatan Zean dan dedaunan itu berhenti menghiburnya. "Aaargghh, sakit-sakit! Aduh, aku hanya bercanda. Pangeran, kau kejam sekali! Aaaa, iya-iya aku minta maaf. Yuri, tolong aku!" Mou Lizar berteriak sampai menggema di hutan cahaya. Zean mengeluarkan akar-akar kecil yang merambat kemudian mengikat sebelah kaki Mou Lizar lalu menggantungnya di pohon. Biarkan Mou Lizar bergelantungan dengan posisi kaki di atas dan kepala dibawah. Siapa suruh dia mengejek Zean, itulah akibatnya. "Nikmatilah, selagi aku dan Yuri keluar dari hutan ini." Zean melambaikan tangan kemudian membawa kuda yang ditunggangi Mou Lizar itu pergi. "Hei.... Hei, apa-apaan ini?! Tolong turunkan aku, huhuhu! Aku tidak mau di sini! Yuri, kau tidak mau membantuku? Aku mau menangis!" Mou Lizar merengek seperti anak kecil. Telinga Yuri jadi risih, dia berputar balik membuat Zean tersenyum, tetapi Yuri melototinya dan berlari ke arah Mou Lizar. Senyum Zean luntur. Dia menghentikan kudanya lagi, melihat apa yang akan Yuri lakukan. Yuri berlari kecil sampai tiba di bawah Mou Lizar yang bergelantungan. "Wah, tinggi sekali! Kau tidak apa-apa?!" seru Yuri. "Aduhhh, kepalaku ada tiga." Mou Lizar sempoyongan. Yuri menutup mulutnya sebentar, "Astaga! Kakak, turunkan dia cepat!" menoleh kesal pada Zean. "Turunkan saja sendiri. Kau, 'kan temannya," Zean berbalik melanjutkan perjalanan lebih dulu. Yuri menganga, "Kak Zeaaaannnn, kenapa kau jadi menyebalkan begini?!" mengepalkan tangan kuat. "Aaww, teriakanmu keras sekali! Telingaku jadi sakit!" Mou Lizar menyumpali telinganya dengan jari. Yuri berdecak mendongak memikirkan cara agar Mou Lizar terlepas. Sepanjang jalan menggerutu mengejar Zean dan dua kudanya yang entah sudah pergi ke mana. Setelah berhasil melepaskan Mou Lizar, dia berjalan begitu cepat. Mou Lizar sampai bingung kenapa Yuri tidak memilih berlari saja padahal dia punya kelebihan. Alhasil mereka berjalan berdua mengitari hutan cahaya yang tidak kunjung menemukan jalan keluar. "Kenapa kau diam saja? Aku sudah lelah bicara," kata Yuri sadar diamnya Mou Lizar. "Eee, karena aku bingung mau bilang apa. Kau bicara tanpa henti." Mou Lizar menggaruk tengkuknya. "Hahaha, aku aneh, ya?" Yuri berubah berjalan santai. Mou Lizar meringis, "Tidak juga, hanya terlalu bersemangat. Yuri, kau tidak takut ditinggal Pangeran? Sepertinya dia sudah jauh di depan sana." "Ck, buat apa takut? Aku lega karena kekuatannya bisa terkontrol lagi jadi tidak khawatir akan cemas menjaganya," elak Yuri. "Tapi kau yang tidak ada penjagaan sekarang." Mou Lizar merengut. "Eh? Benar juga. Siapa tau saja ada jebakan yang tidak aku mengerti. Kak Zean tidak di sisiku sekarang." Yuri mengelus dagunya berpikir. "Aku juga tidak bisa menjagamu. Justru kau yang menjagaku. Bagaimana ini? Aku takut kalau hewan liar di sini muncul. Seperti ular mungkin." Mou Lizar bergidik mengkerut memperhatikan sekeliling. "Haha, kalau hanya ular aku juga bisa. Tenang saja." Yuri mengibaskan tangannya. "Asal kau tau saja, ular di sini sangat berbisa. Bisanya bisa dibuat sihir ilmu hitam. Tau kenapa? Karena negeri Ru negeri yang asli nan murni seperti alam lepas. Hutan dan pegunungan, tanah bebatuan serta air yang mengalir dari sumbernya. Sangat cocok untuk hewan-hewan berbisa memperkuat bisanya. Ih, aku merinding hanya membayangkannya saja," ujar Mou Lizar. Yuri sedikit mendelik, "Benarkah? Kau punya sihir gunakan saja itu kalau ada ancaman ular." "Aku ini ketakutan, kalau takut tidak bisa bermain apapun. Jangankan sihir, bergerak saja tidak bisa kalau sudah dilanda takut," jujur Mou Lizar. Ekspresinya begitu jujur nan polos. Yuri tergelak lagi mengejek Mou Lizar. "Haha, laki-laki penakut. Baru kali ini aku lihat orang sepertimu. Biasanya laki-laki pandai menyembunyikan sesuatu, tapi kau justru jujur bicara sana-sini memberitahukan semua yang kau lakukan. Apa semua laki-laki di negeri Ru sepertimu? Kalau iya harus ya negeri ini bukan hanya mendapat julukan negeri rindang, tetapi negeri para lelaki lucu," Yuri sangat senang. Mou Lizar berdecak, "Tidak semua begitu. Ada satu orang yang sangat sakti melebihi Pangeran, tapi temperamennya begitu buruk. Eee, aku lupa dia. Sudah tidak pernah diungkit lagi di sini, tapi dia tetap terkenal di kalangan sekelasnya. Mungkin Pangeran Zean tau." "Apa? Pasti dia musuh yang tangguh." Yuri mengangguk-angguk. "Iya, sangat tangguh. Kekuatannya setara dengan tiga jenderal di medan perang. Sayangnya dia tidak punya posisi. Ya, karena sifatnya tadi yang begitu buruk. Semoga tidak bertemu dia kedepannya." Mou Lizar menggeleng. "Ternyata seperti itu. Aku ingin bertemu dengannya!" seru Yuri membuat Mou Lizar terbelalak. "Hehh, jangan begitu. Aku tidak mau dimakan oleh-nya!" "Iya-iya, aku hanya asal bicara. Sekarang cepat kita keluar dari hutan ini. Kak Zean pasti menunggu di depan sana." Yuri tersenyum manis. "Hmm, baiklah. Lagi-lagi Kak Zean-mu itu. Kau sangat peduli dengannya." Mou Lizar menekuk tangannya di belakang kepala. "Tentu saja, dia orang yang sangat melekat dalam pikiranku," senyum Yuri mengatakan yang sebenarnya. "Kudengar kau berguru di padepokan perempuan. Itu berarti tidak bertemu pangeran dalam waktu lama, 'kan? Artinya... Kalian masih dalam masa pendekatan setelah rindu!" Mou Lizar menunjuk Yuri antusias. Dia terkejut hebat. Yuri justru tertawa, "Kau ini bicara apa? Tentu saja aku merindukannya, tapi masa pendekatan itu apa? Aneh sekali, haha." "Memangnya kalian berpisah berapa lama?" "Sepuluh tahun," jawab Yuri tenang. "Wow, cukup lama." Mou Lizar menerawang ke udara bagaimana Yuri menimba ilmu di padepokan perempuan. Namun, bukan itu yang dipikirkan Yuri. Dia justru teringat bagaimana pertama kalinya bertemu Zean setelah sepuluh tahun. Dahi Yuri mendadak berkerut. Tangannya terulur menyentuh rantai akar biru di kepalanya. 'Apa yang kulakukan? Mungkin ini yang membuat Kak Zean selaku cemberut. Aku terlalu mengacuhkannya saat bersama Mou Lizar. Apa dia semarah itu? Tapi tidak nampak sama sekali, hanya tidak ada senyum di wajahnya,' batin Yuri. Ternyata hanya sebentar untuk keluar dari hutan cahaya. Mereka berhasil melewati hutan itu dan nampaklah sebuah pemukiman desa dengan gerbang kayu yang besar berdiri kokoh di depan mereka. Ternyata Zean berada di dekat gerbang itu tengah memberi makan kudanya. Yuri tersenyum tenang, segera lari mendekati Zean dan meninggalkan Mou Lizar. "Yuri, tunggu aku! Ish, kenapa dia lari begitu saja?" Mou Lizar menyusulnya. Setelah tiba di dekat Zean, Yuri menyapa dengan riang. Zean hanya menoleh dan memberikan senyuman. Tangannya terus mengelus kepala kuda yang sedang makan. Yuri menjadi sedikit murung mendapatinya. Mou Lizar terengah setelah berhasil mengejar Yuri. Dia bicara sangat banyak, tetapi tidak ada balasan dari Yuri dan Zean. Akhirnya dia mengambil barangnya yang sempat di bawa kuda Yuri. Dia mengeluarkan sesuatu, berhasil menarik perhatian mereka. Ternyata satu koin emas yang sudah dia genggam. "Aku akan menyewa penginapan sebelum malam tiba. Kalian bisa mencari sasaran untuk biji pohon itu. Lalu, kita kembali berkumpul di sini. Aku akan sedikit memberi hiburan dan meminta bayaran pada semua orang, haha." menunjukkan koin emas itu. "Kau yakin? Tidak mau ikut kami? Lagipula itu uangmu, apa tidak ada masalah?" Yuri menuntut. "Ah, tenang saja. Kali ini aku serius. Pangeran, kau tidak keberatan dengan rencana kecilku ini, 'kan?" mengedipkan sebelah matanya pada Zean. Zean mengangguk lalu berdiri. "Kau ini benar-benar membuat ulah. Lakukan saja apa maumu," kata Zean. "Laksanakan, Pangeran! Kita bertemu habis senja!" Mou Lizar melambaikan tangan sembari meninggalkan mereka. Yuri menghela napas panjang menatap punggung Mou Lizar. "Aku berharap bisa membuat satu keajaiban untuk mengisi biji pohon di depannya. Aku sedikit kasihan, dia berkelana sendirian tanpa teman," gumamnya. Zean memandang Yuri, "Tidak masalah, kita lihat dulu bagaimana situasi di desa ini. Kalau memungkinkan pasti ada yang bisa kita bantu. Mungkin saja biji itu akan terisi dengan sendirinya." Ucapan Zean yang begitu tenang membuat Yuri mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan setelah dua kudanya selesai makan. Hanya menuntun karena banyak orang yang berlalu-lalang di jalanan desa. Tidak melihat Mou Lizar berarti, itu tandanya ahli sihir itu masih memesan penginapan. Tidak ada perbincangan di antara mereka. Seakan bisu hanya matanya yang melirik sana-sini memperhatikan dengan jeli permasalahan yang ada. Sayangnya desa itu terlalu harmonis. Tidak ada permasalahan sama sekali. Seolah langit dan bumi penuh energi positif. Yuri pun bisa merasakannya. "Huft, apa tidak ada yang bisa kita lakukan lagi? Ini sudah sangat jauh. Sebentar lagi juga senja," keluh Yuri tanpa berhenti berjalan. "Sepertinya kita memasuki desa yang salah dengan tujuan kita. Apa perlu kita cari desa yang penuh dengan masalah?" sambung Zean. "Kedengarannya boleh juga. Setelah itu tidak akan ada masalah lagi yang pusing-pusing dipikirkan jika kita membasmi satu desa yang bermasalah itu," sindir Yuri. Zean menoleh seketika. "Tidak seperti itu. Yang pasti aku sedikit senang karena kedamaian ini," ujarnya. "Aha, aku melihatmu tersenyum lagi." Yuri melirik Zean. Keduanya terus mendebatkan hal kecil tanpa harus berhenti berjalan. Kakinya sudah sedikit pegal, tapi tidak ada niat untuk berhenti. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN