Yuri ikut berbinar menatap uang koin itu. Setiap kali ahli sihir menghitung ulang dia pun menghitungnya. Zean menggeleng sabar. Menangkupkan tangan memberi salam.
"Permisi, boleh kita berkenalan?"
Mendengar sapaan Zean ahli sihir itu mendongak. Seketika berdiri dan menodongkan tongkatnya tepat di depan wajah Zean. Uangnya sampai jatuh berserakan dan Yuri membantu membereskannya meskipun sempat terkejut.
"Kau...," ahli sihir itu menggantung ucapannya. Dahinya berkerut menandakan sedang menimang sesuatu. Lebih tepatnya ekspresinya berubah agak marah. Yuri meletakkan koin-koin itu segera dan menepikan tongkat ahli sihir. Berdiri di depan Zean dengan sangat berani. "Kenapa kau marah? Kak Zean hanya bertanya," ekspresi heran.
Ahli sihir itu menatap Yuri dan Zean bergantian. "Kak Zean? Monster pohon Savara ini kau sebut Kak Zean? Kau jangan tertipu dengannya. Sini, akan kulindungi kau dari gangguan energi jahat di muka bumi! Hiyaaaaa!!!" menarik Yuri menyuruhnya berlindung di belakangnya lalu menyerang Zean. Otomatis Zean mundur.
"Hei, apa-apaan ini?" Zean masih terus berjalan mundur. Karena ahli sihir itu terus maju menantang dengan tongkatnya, Zean melompat mundur sampai berjarak lima kaki, lalu dengan sekali kibasan tangan bisa membuat gelombang udara dan mendorong ahli sihir itu sampai terhenti. Ahli sihir itu sedikit kualahan menahan kencangnya gelombang angin yang dibuat Zean.
"Eh? Bukan dari kekuatan jahat. Tapi auranya dia sangat kuat. Pohon terkutuk itu bersemayam di tubuhnya," gumam sang ahli sihir. Masih menatap Zean tajam.
Zean mengerutkan dahi bingung, "Tunggu! Kenapa kau menyerangku?" ingin mendekati ahli sihir itu, tetapi tongkat kembali menghadangnya membuat Zean tidak jadi melangkah. "Kalau kau mendekat sekali saja, maka aku akan menguburmu hidup-hidup di sini!"
Zean terperangah begitu juga Yuri yang hanya melongo jauh dari mereka.
"Kenapa jadi begini?" Yuri menggaruk kepalanya.
"Energi negatif dalam dirimu bisa merusak seluruh negeri. Tidak kusangka aku akan bertemu denganmu, Pangeran Zean Maza Lou," ujar sang ahli sihir.
Zean dan Yuri terbelalak. "Bagaimana kau bisa tau?" mereka berseru bersamaan.
Ahli sihir itu memandang mereka bergantian sampai kepalanya pusing. Dia tidak jadi memasang kuda-kuda siap bertempur. Memijit kepalanya sambil mendesis, "Aduh, kenapa kalian kompak sekali? Aku kadi iri. Gadis kecil, jangan dekat-dekat dia. Bahaya besar kalau bisa merasukimu juga. Aku tidak yakin dia bisa mengendalikan kekuatan itu dengan baik."
Yuri semakin menganga, "Ga-gadis kecil? Memangnya kau tau siapa aku? Kalau kau tau Kak Zean seharusnya juga tau aku. Kau juga tidak seharusnya menyerang dia. Apa masalahmu? Aku tidak mengerti." Yuri merajuk melipat tangan di d**a.
"Tentu saja aku tau siapa kalian. Aku sudah berkelana di seluruh penjuru negeri. Tentang kau... Ah, kau gadis terimut yang pernah aku temui! Bisa kita berkenalan? Kau mau ke mana? Aku akan mengantarmu!" Ahli sihir itu jadi bersemangat dan akan mendekati Yuri.
Yuri menepuk dahinya, "Orang macam apa kau ini? Kau sungguh tidak mengenalku?"
Ahli sihir itu menggeleng polos, "Memangnya kau siapa?"
"Karena kau tau identitas Kak Zean maka aku beritahu yang sebenarnya siapa diriku. Aku adalah Yuri Mei Fafa, pengendali kekuatan emosi. Aku tidak punya sihir sepertimu, tapi aku punya emosi yang bisa kugabungkan dengan kekuatanku. Aku salah satu murid dari padepokan perempuan. Anak dari ketua kelompok penjaga bukit Zill. Salam kenal, ya! Ngomong-ngomong permainanmu tadi sangat keren!" Yuri mengacungkan ibu jarinya. Mengedipkan sebelah matanya yang terlihat sangat manis di mata ahli sihir itu. Membuat ahli sihir itu berbinar sampai melompat-lompat senang.
"Aaaaa, aku tau aku tau! Kau yang terkenal baik dan hebat itu, 'kan?! Rambut panjang dengan akar biru dari pohon Savara! Beruntungnya bisa bertemu denganmu!!!" segera lari merentangkan tangan pada Yuri.
"Tepat sekali! Ahaha, ada yang mengenalku!" Yuri ikut berjingkrak-jingkrak.
Zean semakin mengerutkan dahi. "Rantai akar itu aku yang buat," gumamnya.
Zean menghela napas panjang, menggunakan kekuatannya sendiri yang tidak tercampur dengan kekuatan cincin biru untuk menahan ahli sihir itu agar tidak sampai pada Yuri.
"Loh, kenapa aku tidak bisa lari?" ahli sihir itu hanya berjalan cepat di tempat. Yuri meringis melambaikan tangannya. "Kak Zean, dia mengenal kita! Hebat, 'kan?!" serunya bahagia.
"Yuri...," desah Zean. Melepaskan ahli sihir itu dan seketika ahli sihir tersebut berbalik dan kembali menatapnya tajam. "Orang sepertimu tidak seharusnya ada di muka bumi ini! Musnahlah kau!" tanpa pikir panjang menyerang Zean dengan tongkatnya. Zean yang tidak ingin melukai ahli sihir itu dia hanya bisa menghindar dan menangkis serangannya.
Yuri melongo lagi, "Dia menyerang Kak Zean lagi."
Pertarungan itu nampaknya semakin serius. Zean tidak bisa jika hanya menghindar. Meskipun keahlian ahli sihir itu sederhana dan masih di tingkat rendah, tetapi cukup gesit dalam bertindak. Lapangan itu dikuasai mereka. Bola mata Yuri sampai bergerak-gerak mengikuti pergerakan mereka. Tongkat itu sering kali mengarah ke jari manis Zean. Mengincar cincin biru yang terlihat bersinar meskipun tidak memancarkan sinarnya.
"Kau salah paham. Tenanglah sebentar," kata Zean di sela-sela menghindarnya. Tongkat ahli sihir itu hampir mengenai kepalanya. Akibatnya tanah yang dipijak terdapat bekas pukulan tongkat yang meleset. "Kau ancaman, Pangeran. Aku tidak percaya padamu."
Masih terus menyerang tanpa mau tahu. Tidak tahan karena Zean terus menghindarinya, dia mengeluarkan ilusi sihir. Dinding cermin membatasi pergerakan mereka. Dengan sekali putar ahli sihir itu berhasil mengurung dirinya dan Zean di dinding cermin itu. Mereka sama-sama menjauh ke tepi dinding.
"Pantulan diri yang cukup banyak." Zean menatap dirinya sendiri yang menjadi banyak di cermin.
Ahli sihir itu menyerang Zean bertubi-tubi melalui pantulan cermin. Ternyata tidak mengenainya sama sekali, justru membuat Zean bingung. Di saat Zean tidak memiliki persiapan lantaran bingung, ahli sihir itu berhasil memukul dadanya telak.
"Aaargghh!" Zean sampai mundur beberapa langkah.
"Apa yang terjadi? Aku tidak bisa melihat apa-apa." Yuri mendekati area cermin mereka. Tidak bisa berbuat apa-apa takut menyakiti mereka di dalam. "Hei, jangan begini. Tidak seru!"
Zean bangkit dan menghembuskan napas pasrah. "Aku tidak mau menyakitimu," ujarnya.
"Maafkan aku, Pangeran. Tapi aku tau kekuatanmu bisa membahayakan semua orang." ahli sihir itu kembali menyerang Zean. Seperti sebelumnya, Zean hanya menghindar dan menangkisnya saja membuat ahli sihir itu semakin geram dan mempercepat gerakannya. Sangat brutal dari sebelumnya. Zean tidak bingung dengan banyak bayangan dirinya dan ahli sihir yang mengelilingi. Hanya bisa membiarkan ahli sihir itu berbuat sesukanya. Zean tidak akan mungkin menyerang orang yang tidak bersalah.
"Terpaksa aku melakukan ini." Yuri menggunakan ilmu pemecah perisai yang didapat saat berguru di padepokan perempuan. Dalam sekali sentuh putaran cermin itu hilang. Ahli sihir itu kebingungan, tetapi tetap menyerang Zean.
"Berhenti! Aku tidak mau kalian terluka!" Yuri mengejar mereka. Namun, gerakan mereka begitu gesit dan berpindah-pindah.
"Tuan penyihir, kau salah paham. Aku dan Kak Zean datang baik-baik tidak bermaksud menyerang. Kami ada misi. Dengarkan aku dulu!" Yuri kualahan mengejar mereka. "Hahhh, tidak ada cara lagi. Aku harus menghentikannya," gumam Yuri.
Mengambil lompatan jauh dan meringankan tubuhnya hingga terbang dan mendarat tepat di tengah-tengah mereka. Seketika ahli sihir itu berhenti. Terkejut dengan kedatangan Yuri, dia menarik tongkatnya.
"Gadis kecil, kau minggirlah. Akan kuhabisi dia! Dia itu berbahaya!" ahli sihir itu terbakar amarah.
Yuri menyilangkan tangannya, "Kau yang salah paham, aku bersamanya. Kak Zean bisa mengontrol kekuatannya jauh dari yang kau duga. Jika tidak kenapa dia tidak menyerangmu justru kau yang menyerangnya? Tolong, dengarkan aku."
Mendengar perkataan Yuri yang terlihat serius, ahli sihir itu mengatur napasnya. "Benarkah? Kalau begitu jelaskan. Kalau tidak masuk akal aku akan tetap menghabisinya," sedikit melonggarkan ototnya.
'Sudah pasti kau tidak bisa menang darinya,' kata hati Yuri.
"Iya-iya, ayo duduk di sana. Jangan menyerang Kak Zean lagi. Nanti kau bisa hilang seketika." Yuri meringis langsung menghampiri Zean dan memeluk lengan Zean.
"Wow, sampai seperti itu membela dia? Aku bahkan tidak peduli kalau dia Pangeran." ahli sihir itu melengos dan melipat tangan. Menuju tempat di mana dia membuat pertunjukan.
Yuri mendesah lega, "Brutal sekali. Kau tidak apa-apa?" mendongak menatap Zean.
"Tidak. Terima kasih sudah membantu." Zean tersenyum manis.
Yuri gemas memukul lengan Zean membuat Zean melotot, "Biasa saja! Aku tau kau tidak akan bisa menyerangnya dan hanya pasrah, haha. Ayo ke sana." Yuri berjalan terlebih dahulu.
Zean menggeleng maklum, "Apa yang terjadi?" lalu mengikuti Yuri.
Mereka duduk, saling pandang dengan ekspresi berbeda. Yuri yang tersenyum ceria, ahli sihir yang penuh waspada dan tidak suka pada Zean, kemudian Zean yang memang ekspresi datar.
'Kenapa Kak Zean menjadi diam? Tadi pagi tidak begitu,' batin Yuri.
Yuri mengambil sebuah biji di dalam tas-nya. Zean hendak menghentikannya, tetapi Yuri memberi kode agar dia percaya padanya. Ahli sihir itu memperhatikan gerak-gerik mereka.
"Tuan, ini namanya biji pohon energi positif. Aku dalam misi mengembangkannya menjadi tunas. Tunasnya akan berbentuk seperti cincin merah, kebalikan dari cincin biru. Aku bersama guru dan semua anggota pelindung di bukit Zill berhasil menemukan cara. Biji ini terbuat dari gabungan kedua kekuatan yang dimiliki Kak Zean dengan buku mantra hati suci. Butuh waktu tiga hari sampai Kak Zean sedikit membaik. Dia kini membantuku membuat biji ini berkembang. Dia juga yang akan menjagaku, dia juga harus kusembuhkan total agar cincin yang melingkar di jarinya tidak mempengaruhinya lagi. Sekarang dia sudah jauh lebih baik, jadi kau tidak perlu takut apalagi menyerangnya. Percayalah, aku ada misi penting di sini." membuka genggaman tangannya dan terlihatlah sebuah biji pohon biasa.
Ahli sihir itu terkejut, "Bi-biji pohon energi positif? Ini yang akan melawan pohon Savara?" tangannya ragu-ragu ingin menyentuh biji itu.
Yuri tersenyum, "Iya, tapi prosesnya cukup memakan waktu. Untuk membuatnya tumbuh menjadi tunas saja butuh waktu lama yang tidak bisa kutebak." memandang biji itu sayu.
"Me-memangnya bagaimana caranya?" ahli sihir itu terus menatap Yuri dan biji pohon. Akhirnya Zean bicara dan mengalihkan perhatian ahli sihir itu. "Mengisinya dengan energi positif dan kekuatan cinta tulus dari hati. Ketika semua kebaikan terkumpul maka akan terserap ke dalam biji itu. Barulah bisa terbentuk menjadi cincin merah."
Ahli sihir itu melongo, "Jadi bisa menyeimbangi kekuatan jahat cincin biru?"
"Benar, seperti itu," kata Yuri.
Ahli sihir itu menepuk tangannya sekali membuat Yuri dan Zean sedikit tersentak, "Itu bagus! Tidak kusangka ada jalan keluar untuk melawan pohon kutukan itu. Bukannya sudah dua puluh tahun lamanya sejak pohon itu merusak? Syukurlah kalau sudah ditemukan lawan yang tepat. Izinkan aku ikut dalam perjalanan kalian." menunduk berkali-kali meminta persetujuan.
Yuri segera memasukkan biji itu ke dalam tas-nya, "Jangan begini, lagipula perjalanan kami sulit. Kami bahkan diusir dari desa negeri sendiri. Kalau kau ikut kau tidak bisa hidup tenang."
"Ketenangan apa yang lebih baik daripada petualangan? Tidak peduli entah itu sakit atau senang, aku tetap menikmatinya. Pangeran, maafkan tindakanku yang bodoh tadi, ya. Tapi untuk menghormatimu sepertinya tidak bisa, haha. Karena aku memang seperti ini. Bicara sesuka hatiku tanpa peduli siapa lawanku. Pangeran, izinkan aku ikut, aku mohon. Aku juga ingin menyelamatkan dunia. Menyusuri setiap jalan dan menjadi pahlawan."
Zean dan Yuri saling pandang. "Ini bukan permainan," kata Zean.
"Aku tau. Meskipun ada bahaya dan maut di depan mata aku tidak takut. Walaupun sihir yang kupunya tidak sehebat orang-orang aku tidak masalah. Aku hanya ingin membantu dan mengikuti kalian. Kumohon ajaklah aku." menangkupkan tangannya memasang wajah selugu mungkin. Ada binar ketulusan di matanya. Yuri dan Zean bisa melihat itu.
"Kau bisa mati sungguhan," sambung Yuri.
"Maka aku akan mati bahagia." ahli sihir itu menggeleng lalu mengangguk kuat.
"Kakak, bagaimana?" bisik Yuri pada Zean. Ahli sihir itu terus memandangnya.
"Apa memang mau melibatkannya? Semua ini perjalananmu, Yuri. Kalau kau butuh orang lain tidak apa-apa," bisik Zean.
"Kau tidak suka?" bisik Yuri lagi. Matanya melebar menatap Zean. Zean langsung memalingkan wajahnya, "Aku akan menerimanya. Banyak orang makin baik. Siapa tau bisa menemukan isi biji itu dengan cepat," sambung Yuri karena Zean tidak menjawab. Zean mendelik karena Yuri benar-benar menerimanya.
"Tuan, kau boleh ikut. Tapi janji jaga dirimu baik-baik," senyum ceria Yuri hadir.
Ahli sihir itu begitu senang sampai berteriak lompat-lompat di tempat. Zean menepuk dahinya.
'Yuri, kenapa kau polos sekali? Dia bisa merusak waktu kita. Aku ingin berdua bersamamu,' batin Zean.
"Terima kasih banyak, Nona Yuri! Terima kasih, Pangeran! Aaaaa, aku senang sekali!" hendak menjabat tangan Yuri, tetapi Zean menghalangi dengan tangannya. Sorot matanya nampak tidak suka. Yuri tersenyum saja ikut senang. Akhirnya ahli sihir itu kembali melompat-lompat bahagia. Selesai dengan semangatnya dia duduk dan berdeham mengatur suaranya.
"Ehm, aku sangat gembira bisa satu kisah yang akan melegenda ini, haha. Apa aku belum memperkenalkan diri. Perkenalkan namaku Mou Lizar. Aku seorang penghibur sihir jalanan. Namaku tidak terkenal, tetapi banyak yang mengenalku di negeri Ru. Semua desa di negeri ini sudah pernah kudatangi. Hampir seluruh negeri pernah kujelajahi. Aku akan siap menghibur kalian kapan saja, di mana saja, dan membantu kalian apapun yang kubisa. Terimalah salamku, Pangeran Zean dan Nona pengendali emosi." membungkuk memberi salam.
Yuri bertepuk tangan, "Yeeeeyyy, teman baru! Lucunya!"
Zean melotot memandang Yuri, "Mou Lizar, apa kau pernah berbuat jahat?"
Mou Lizar itu menegakkan tubuhnya dan memunculkan bunga mawar di tangannya, "Untukmu, gadis kecil yang manis." memberikannya pada Yuri.
Yuri menganga dengan senang hati menerimanya, "Aaww, manisnya! Terima kasih!" menghirup aroma bunga itu lalu membuat ekspresi terlena. Zean mengerutkan dahinya.
"Lalu, ini untukmu, Pangeran." muncul lagi di tangan yang satunya.
Zean sedikit cemberut menerimanya meskipun sedikit terkejut dia juga diberi bunga, "Kenapa aku kuncup bunga?"
"Karena kau merengut sejak tadi." jawab Mou Lizar begitu spontan mmebuat Yuri terkikik dan Zean meremas bunga yang masih menguncup itu.
"Eh, jangan diremas. Buat aku saja," Yuri mengambil bunga Zean. Zean memalingkan wajahnya kesal.
"Masih ada satu lagi." Mou Lizar memberi bunga dengan warna berbeda. Yuri menerimanya dengan senang hati. "Satu lagi," Mou Lizar memberikan bunga lagi.
"Wah, bagaimana bisa bisa? Haha, dari mana munculnya?" Yuri menerimanya lagi. Zean meliriknya.
"Itu trik rahasia setiap sihir, Nona. Satu lagi untukmu." Mou Lizar terus memberikan bunga padahal dia diam di tempat dan tidak ada bunga yang dia bawa ataupun tumbuh di sekitar mereka.
"Hahaha, menyenangkan sekali! Kakak, kau tidak mau ambil satu?" tawar Yuri pada Zean. Zean melengos lagi. Yuri mengendikkan bahu membiarkannya.
"Sudah cukup. Ayo pergi." Zean berdiri dan menghampiri kudanya.
"Baiklah." Yuri mengikutinya dengan bahagia. Mou Lizar terkekeh dan membereskan barang-barangnya.
Mereka dalam perjalanan menuju tempat lebih jauh. Setidaknya meninggalkan desa yang tidak ramai itu terlebih dahulu. Yuri masih setia memegang bunga-bunga penuh warna itu membiarkan Zean menuntun kuda mereka. Mou Lizar berjalan seperti katak melompat. Dia sangat senang tidak diselimuti amarah seperti sebelumnya.
"Hei, bisa kau tunjukkan lagi sihir elemen tadi?" mata Yuri berbinar.
"Tidak bisa," jawab Mou Lizar santai.
"Kenapa? Kau minta bayaran?"
"Bukan begitu. Jujur saja, aku tidak bisa sihir sehebat itu apalagi menguasai elemen. Sebenarnya aku hanya membuat tipuan. Ada ahli sihir yang lebih hebat dariku di negeri sebelah. Aku mencuri tongkatnya yang mengendalikan elemen itu. Sebelum membuat pertunjukan dia bilang tongkat ini hanya bisa dipakai satu kali setelah dia menggunakannya. Karena tadi sudah kugunakan, jadi tidak bisa digunakan lagi. Lagipula hanya dengan mantra pemilik aslinya yang bisa menguasai tongkat ini lagi." Mou Lizar menimang tongkatnya.
"Benarkah? Lalu kenapa kau bisa melebarkan tongkat itu tadi?" Yuri masih penasaran.
"Haha, karena itu adalah trik sihirku sendiri. Tongkat ini sama seperti tongkat kayu biasa, hanya saja kuasanya sudah hilang. Mungkin kalau dia kembali ke pemiliknya bisa mengendalikan elemen lagi."
"Kalau begitu kembalikan saja," Zean menyahut. Yuri dan Mou Lizar menatapnya.
"Enak saja. Tidak mau! Ini lumayan keren!" Mou Lizar memutar-mutarkan tongkatnya.
"Hei, mencuri itu tidak baik." Yuri menyilangkan tangannya dan Zean mengangguk.
"Ayolah, aku hanya main-main. Ini cuma tongkat biasa. Dia bisa mencarinya lagi," elak Mou Lizar.
"Tetap saja namanya mencuri. Kembalikan," Yuri melengos. Menatap di samping kirinya yang sudah tidak ada lagi rumah. Hanya pepohonan besar yang tidak berbuah.
"Kalian benar-benar menyuruhku mengembalikan tongkat ini?" Mou Lizar menatap Yuri dan Zean bergantian kemudian mereka mengangguk kompak. Mou Lizar cemberut, "Tega sekali. Kenapa kalian satu pemikiran?"
"Karena tindakanmu itu memang buruk. Aku bisa membuatkanmu tongkat lain, tapi tanpa kuasa," Yuri masih memandang ke kiri.
"Apa? Tidak-tidak, itu seperti kakek-kakek." Mou Lizar segera menggeleng.
"Memangnya berapa usiamu?" Yuri terus mengajaknya bicara meskipun tidak menatapnya. Zean melirik Mou Lizar.
"Eemm, dua puluh lima tahun. Aku masih terlihat gagah berani, 'kan?" Mou Lizar berkacak pinggang menyombongkan dirinya.
Seketika Yuri menoleh memperlihatkan mata lebarnya. "Sungguh? Haha, usiamu sama dengan Kak Zean!" bertepuk tangan sekali. Zean mengalihkan pandangannya. Mou Lizar terkejut. "Wow, aku terkejut. Ah, tapi biasa saja. Lihat, apa aku lebih baik dari Pangeran? Dia tidak ada ekspresi sejak tadi. Aku sangat manis, bukan?" menunjuk dirinya dan Zean bergantian.
"Jangan menunjukku," kesah Zean pelan.
Yuri meringis, "Kalian berdua sama-sama kakakku. Mungkin Kak Zean lapar, jadi dia tidak punya ekspresi. Bagaimana kalau kita makan sebentar. Setelah itu kami akan menemanimu mengembalikan tongkat itu."
"Tidak perlu. Biar aku yang mengembalikannya." Zean meminta tongkat itu.
Mou Lizar memeluk tongkatnya erat, "Tidak mau! Bagaimana caramu mengembalikannya?"
"Kau lupa dia siapa? Pangeran Zean," bisik Yuri yang bisa didengar Zean.
Mou Lizar cemberut memandang Yuri dan Zean bergantian. Dia tidak rela menyerahkan tongkatnya. Meskipun percaya Zean bisa mengembalikan tongkat itu dalam sekejap dan tanpa berpindah tempat.