Ramainya desa ini seperti kota hidup. Mereka berdagang, bermain, bercanda, bekerja dengan suka ria. Yuri tidak bisa untuk tidak tersenyum. Dia biarkan saja Zean yang kembali dikerumuni gadis-gadis cantik sampai para ibu yang masih penasaran padanya. Berkali-kali Zean memanggil meminta bantuan karena dia tidak bisa keluar dari kerumunan itu, tetapi Yuri malah asik loncat kesana-kemari melihat-lihat semua benda yang dijual.
"Waahhh! Kakak, ada kelinci! Kelinci kayu!" seru Yuri di salah satu tempat penjualan pernak-pernik.
"Ck, Yuri, bantu aku! Ah, jangan sentuh kudaku, ya. Dia bisa marah," teriak Zean lalu tersenyum sopan pada semua perempuan yang mencoba menjahili kudanya. Dia berdecak tidak nyaman.
Yuri kembali loncat ke lain tempat, "Woaahh! Ada kue batu! Tuan, berikan aku satu!" Yuri berbinar melihat jajaran kue yang bentuknya menyerupai batu.
"Baiklah," penjual itu menjualnya dengan senang hati.
"Terima kasih!" Yuri begitu riang. Melompat-lompat lagi sambil menuju Zean dan memakan kue itu. "Hei, minggir-minggir! Aku tau Kakakku tampan, tapi jangan direbutkan. Beri jalan!" Yuri menyingkirkan mereka semua.
"Yuri!" Zean mencoba menggapai tangan Yuri.
"Minggir, minggir semuanya. Kami mau melanjutkan perjalanan. Memangnya tidak ada laki-laki tampan lagi di sini? Cari yang lain saja. Itu paman di sana sangat tampan. Coba lihat!" di tengah-tengah mereka Yuri menunjuk sebuah rumah yang terdapat laki-laki paruh baya sedang memotong kayu. Mereka semua menoleh mengikuti telunjuk Yuri. Seketika Yuri cepat-cepat menarik Zean dan Zean membawa dua kudanya lari dari sana. "Cepat, Kakak!" Yuri tertawa para perempuan itu mengejarnya.
Zean buru-buru naik kuda sambil lari kemudian mengulurkan tangannya pada Yuri memburam Yuri langsung menangkapnya dan mereka berkuda dengan satu kuda.
"Hei, kudaku! Cepat lari ayo!" Yuri melambaikan tangannya pada kudanya yang mengejar.
"Kenapa kau senang sekali?" heran Zean.
"Hahaha, mereka masih mengejar. Kakak, lebih cepat lagi!" Yuri justru semangat.
"Yuri, kita naik kuda, mereka tidak akan mengejar sampai jauh. Sudah, kau diam saja jangan menoleh ke belakang." Zean kesulitan mengendalikan kudanya karena Yuri terus menoleh kesana-kemari menghadapnya.
Yuri menatap Zean polos, "Yasudah, turun saja di sini. Aku mau naik kudaku sendiri."
Belum juga Zean bicara, Yuri sudah menarik tali kuda dan membuat kuda itu berhenti. Segera menaiki kudanya yang tidak berhenti tanpa takut jatuh.
"Yuri! Astaga!" Zean sampai memekik ngeri.
"Hahaha, senangnya!" Yuri justru menunggang kuda lebih kencang dan meninggalkan Zean.
"Ck, aku bisa kerasukan lagi kalau begini." kesah Zean lalu mengejar Yuri. Hingga mereka keluar dari desa itu.
Jalanan lumayan sepi tidak seramai tadi membuat Zean mendesah lega. Kini mereka berjalan santai menuntun kuda.
"Kenapa lebih sepi? Tidak banyak yang bicara, tidak banyak juga yang berlalu-lalang." Yuri perhatikan semua orang memperhatikannya tanpa bicara.
"Mungkin ini lain dari desa sebelumnya," Zean juga heran kenapa begitu senyap.
"Tunggu, Kak Zean!" seketika Yuri melebarkan matanya.
"Kenapa?" Zean mengerutkan dahi.
Yuri berjongkok memasang ekspresi sedih, "Ada ular mati terlindas kereta kuda! Kasihan sekali, badannya hampir terputus jadi dua!" tak tanggung-tanggung Yuri menggendong ular mati sebesar yang tidak terlalu besar itu sambil menangis.
Zean sedikit menganga lalu mengusap matanya, "Yuri, kenapa kau ambil? Darahnya bisa mengenai pakaianmu."
"Lihat-lihat, bekas rodanya besar sekali! Siapa yang tega melindas ular begini? Tidak punya belas kasihan!" Yuri marah sendiri setelah menunjuk bekas roda yang membuat ular itu mati.
Zean semakin tidak mengerti. Kemudian Yuri menepi dan melubangi tanah tanpa tahu siapa pemiliknya. Zean mendekatinya berjongkok mengikuti Yuri.
"Kau sedang apa?" tanya Zean halus.
"Mengubur ular ini. Jiwanya akan tenang di nirwana nanti. Kenapa orang-orang di sini tidak menguburkan ular ini padahal mereka melewatinya?" gerutu Yuri sambil terus membuat lubang. Tangannya menjadi kotor dan dia tidak peduli.
"Tidak semua orang sepertimu yang peduli dengan hewan liar apalagi yang sudah mati," jawab Zean sabar.
"Setidaknya bisa menepikan dia dari jalanan. Bisa-bisa tubuhnya remuk dilindas beberapa kereta kuda lainnya," Yuri masih kekeh.
Zean tersenyum tenang. Menoleh ke belakang tidak ada orang yang memperhatikannya. Menghela napas panjang berpikir ucapan Yuri ada benarnya jika orang-orang di sana tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi disekitarnya. Zean sedikit mengerutkan dahi melihat Yuri membacakan sesuatu tanpa suara dan tangannya mengambang dibatas kuburan ular itu.
"Apa yang kau lakukan sekarang?"
Yuri membuka matanya, "Membacakan doa agar dia bisa tenang. Kau terlalu banyak tanya. Sudah, ayo pergi." berdiri menatap sekeliling. "Sepertinya tidak ada yang bisa kita bantu di sini. Mereka semua acuh," sambungnya.
Zean ikut berdiri, "Sepertinya memang begitu."
Lagi dan lagi ada yang bisa Yuri temukan di jalanan. Perjalanan mereka kembali terhenti. Segerombol semut berjalan menghalangi mereka dan Yuri tidak mau menginjaknya. Yuri mengarahkan kaki kudanya satu per-satu untuk melewati barisan hewan bergotong-royong itu tanpa menginjaknya.
"Ayo, hati-hati. Awas, ada satu yang melenceng dari barisan. Kaki satu dulu, baru kaki lainnya. Kalau kau tidak menurut aku pukul kau!"
Zean menganga lalu menepuk dahinya, "Yuri, biarkan kudanya lewat sendiri. Kau mengangkat kakinya buat apa?" pertanyaan yang jelas tahu jawabannya.
Yuri senang membantu kudanya melangkah. Dia tersenyum sejak tadi. Anehnya kuda-kuda itu menurut padanya. "Kakak, kau juga jangan menginjak satu semut pun, ya," kita Yuri.
Zean semakin menghela napas sabar. Dia memilih jalan terlebih dahulu. Terlalu lama menunggu Yuri membantu kuda berjalan. Tidak disangka ada lapangan luas di depan sana. Zean terus melangkah maju dan melihat ada beberapa orang sedang bergerumul dan bersorak. Kali ini cukup ramai sama seperti tempat sebelumnya. Senyum Zean kembali terulas.
"Yuri, lihat di sana!" serunya keras sambil menunjuk kerumunan itu.
Yuri segera datang menuntun dua kudanya. "Apa?" keningnya sedikit mengkerut karena panas terik matahari. Daun-daun pepohonan tak cukup menghalangi sinar itu.
"Lihatlah!"
Yuri mengarahkan pandangannya mengikuti telunjuk Zean. Seketika dia menganga ikut menunjuk-nunjuk. "Wah, apa itu? Kenapa ramai orang?"
"Tidak terlalu ramai. Ayo kita lihat." Zean kembali melangkah.
"Tunggu aku!" Yuri kesulitan membawa kudanya. "Ayo jalan!" menarik tali kuda yang bergerak sedikit demi sedikit.
Setibanya di sana ternyata ada pertunjukan sihir kecil dari seorang laki-laki yang berpenampilan unik. Rambutnya hitam terikat dan terselip lingkaran cincin kecil. Tangannya mengeluarkan benda-benda ajaib yang tidak tahu datangnya dari mana. Yuri menganga kagum.
"Wah-wah! Luar biasa! Hebat!"
Seruan orang-orang memuji. Ahli sihir penghibur jalanan itu mengeluarkan kerlipan bunga api yang berjatuhan di atas mereka lalu menghilang seketika. Yuri ikut bertepuk tangan dan bersorak.
"Wah, hebat-hebat! Lagi-lagi!" sampai melompat-lompat kecil.
"Kenapa ada ahli sihir di lapangan ini? Jika bermain di desa sebelumnya pasti ramai peminat," ujar Zean tetapi tidak dipedulikan Yuri.
Sorakan demi sorakan terus terdengar. Walau menonton di barisan paling belakang rasanya tetap menyenangkan. Ahli sihir itu memunculkan tongkat yang dipegang sebelah tangan.
"Perhatikan semuanya! Aku akan menunjukkan keajaiban spektakuler yang belum pernah aku tunjukkan pada siapapun! Pertama kalinya khusus di lapangan ini. Kalian lihat sekeliling, setiap tepian lapangan akan memunculkan berbagai macam elemen yang membuat kalian bergemuruh takjub tak terkira. Sebelum itu mari buat perjanjian. Jika aku berhasil membuat kalian terpukau maka bayar aku lebih dari dua puluh koin emas. Bagaimana?" seru ahli sihir itu.
"Wah, pemerasan! Ini pemerasan namanya!"
"Tidak adil! Satu koin emas saja aku tidak punya!"
"Koin biasa tidak boleh, ya?"
Berbagai macam jenis protesan mereka. Yuri juga protes setelah menggaruk rambutnya. "Dua puluh koin emas itu setara dengan apa? Bisa kubayar pakai pertunjukanku, tidak?"
Zean langsung membekap mulut Yuri. "Yuri, ala yang kau lakukan?"
Yuri meronta melepaskan bekapan Zean, "Kakak, dia mau uji kebolehan. Aku juga mau ikut! Sayang sekali dia minta harga mahal. Dua puluh koin emas? Dia langsung bisa beli kuda dan menyewa rumah makan."
"Kalau kau tunjukkan kekuatanmu maka semua orang tau kalau kau pengendali emosi," jelas Zean sabar dan berbisik.
Yuri langsung membekap mulutnya sendiri. Matanya melebar membuat Zean mengangguk-angguk meyakinkan. "Ha! Kau benar! Aku tidka bisa melakukannya!" menahan pekikan.
"Hmm, itu baru bagus." Zean menimpali.
"Tapi kau bisa ikut!" sambung Yuri berubah jadi semangat lagi.
Zean terbelalak, "Kalau aku suka pamer sudah kulakukan sejak dulu, Yuri." gemasnya sabar.
Yuri membungkam mulutnya lagi, "Hahh, iya, benar juga. Apalagi kalau sinar biru dari cincinmu muncul pasti semua orang curiga."
Yuri jadi sedikit sedih dan kembali menatap ahli sihir itu.
"Baiklah-baiklah, kalau begitu aku turunkan jadi sepuluh koin emas. Bagaimana? Ayolah, ini sungguh spektakuler! Siang bisa jadi malam dalam sekejap mata. Kalian akan merasakan dampak dari berbagai elemen yang keluar. Siapapun tidak bisa melakukan ini kecuali aku. Penyihir hebat sekalipun akan takjub denganku. Ayo-ayo, silahkan bayar!" ahli sihir itu membuat tongkatnya menjadi lebar sehingga bisa menompang uang.
"Woah! Kakak, lihat itu! Dia hebat sekali!" Yuri menarik-narik lengan baju Zean. Menunjuk tingkat itu yang melebar dengan semangat.
"Tidak lebih hebat dari kakak-kakak anggota di bukit Zill yang bisa menyegel kutukan," gumam Zean.
"Heh, jangan menggerutu. Dia sungguh hebat! Aku tidak pernah melihat ada ahli sihir selucu itu. Cara dia bicara sangat menggemaskan!" Yuri masih menarik-narik lengan baju Zean.
Zean berdecak, "Menurutku dia bodoh."
Yuri langsung menoleh, "Apa? Wah, baru kali ini aku mendengarmu memaki orang!"
Zean kalang kabut, "Bukan begitu maksudku. Cara bicaranya meminta imbalan yang bodoh, bukan orangnya. Artinya tidak lucu, Yuri."
Yuri melengos, "Huh! Bagiku tetap lucu. Bilang saja kau tidak bisa seperti dia."
"Oh, kau mengujiku?" Zean tidak mau menatap Yuri. Yuri meliriknya, "Memangnya kau bisa?"
"Aku bisa menghancurkan seluruh negeri jika aku mau," jawab Zean tanpa tenaga.
"Wow, aku baru tau," Yuri cuek membuat Zean berdecak.
Orang-orang mulai mengumpulkan uangnya. Mereka penasaran sihir apa yanga akan laki-laki muda itu tunjukkan. Biasanya penyihir hanya menggunakan kuasanya untuk dirinya sendiri, tetapi dia justru mempergunakannya untuk menghibur meskipun mendapatkan beberapa uang dari hasilnya. Yuri mencoba masuk menyibak orang-orang itu. Dia ingin membayar dengan satu koin emas. Setidaknya ikut menyumbang.
"Minggir-minggir, aku ingin bayar! Kakak, bantu aku masuk!" Yuri kesulitan. Zean justru melengos tidak mau tahu. Setelah berhasil masuk walau setengah, Yuri melempar koinnya dan tepat sasaran. "Yeyy, kena!" kembali ke barisan belakang bersama Zean yang malas menggenggam erat tali dua kuda.
"Kenapa dengan wajahmu?" Yuri meneleng meneliti Zean.
Zean semakin membuang pandangan, "Tidak ada. Lihat saja ahli sihir itu."
"Tentu saja! Dia hebat!" Yuri antusias sampai mengepalkan tangannya. Zean mengerutkan dahi memandang Yuri yang kembali menyaksikan betapa ramainya ahli sihir itu dikerumuni banyak orang dan sedang menerima uang. Senyumnya begitu lebar nan ceria. Zean dibuat keheranan.
'Sungguh Yuri sebahagia itu? Dia tidak mengenali raut wajahku? Aku mulai curiga jiwa emosionalnya sudah tidak sebaik dulu,' batin Zean. Kemudian, kembali melihat pertunjukan.
Ternyata ahli sihir itu memilih berada di lapangan karena ada alasannya. Jika di jalanan mana bisa dia melakukan aksi hebatnya. Tongkat itu berubah panjang lagi dan menelan semua uang koin itu.
"Wah, bagaimana kau melakukannya?!"
"Uangnya hilang! Uang kita hilang!"
"Hei, Tuan... Ini sudah jadi uangku, bukan uang kalian. Tidak hilang, tapi sedang aku simpan, haha. Sekarang saksikanlah! Fenomena sihir yang terbuat dari elemen alami. Harap saling berpegangan, siapa tau kalian bisa pingsan, haha! Mari kita mulai!" ahli sihir itu berseru. Merentangkan tangannya menutup mata menghadap ke langit membuat orang-orang penasaran dan ikut melihat langit.
Jedderrr!!
Aaaaaa!!!
Seketika petir menyambar dan awan hitam berkumpul menutupi lapangan. Euforia mendadak gelap dalam sekejap. Angin datang berhembus pelan bersamaan awan hitam. Mereka yang perempuan berteriak ketakutan dan saling berpegangan tangan satu sama lain. Yuri mendongak kagum tidak percaya penyihir itu bisa mendatangkan petir dan awan padahal hari sedang cerah. .
"Woaahhh, hebatnya." gumam Yuri. Zean juga mengaguminya dalam hati. Tidak mengelak jika ilmu sihir orang itu lumayan tinggi.
"Kejutan yang luar biasa!"
"Mendung! Aku kaget sekali tadi ada petir."
"Aku sedikit ketakutan. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya?"
Seruan orang-orang terdengar jelas. Mereka menanti dan ahli sihir itu tetap diam tidak bergerak. Matanya masih tertutup membuat dirinya semakin misterius.
"Ck, aku bertanya-tanya," gumam Yuri lagi.
"Sepertinya dia akan menggunakan semua elemen sungguhan," Zean menimpali.
"Sihir macam apa yang dia punya? Kakak, aku jadi terkejut di sini." Yuri menunjuk d**a kirinya.
"Pegang tanganku." Zean memberikan lengannya. Yuri langsung memegangnya. Mereka kembali melihat langit mendung dengan gelagar petir yang menyambar pelan.
Tidak lama kemudian, setiap tepi lapangan muncullah dinding yang terbuat dari tanah. Membuat getaran seperti gempa bumi kecil sampai dinding tanah itu menjulang setinggi lima kaki.
"Wwooaaahh! Apa itu?!"
"Gempa bumi!"
"Tanahnya bergetar! Pegangan-pegangan!"
Mereka saling bergandengan satu sama lain. Mata Yuri dan Zean melebar sempurna.
"Sempurna! Sihir kecil yang luar biasa," gumam Zean memandang takjub dinding itu.
"Kakak, dia menggunakan elemen tanah. Menciptakan efek tanah bergetar dan terpecah memunculkan dinding yang mengurung kita. Bagaimana cara dia melakukannya?" Yuri memegang lengan Zean erat.
Kini lapangan seperti dikepung kegelapan. Muncul retakan-retakan kecil yang semakin membesar mengarah pada semua orang. Seketika mereka berkumpul lebih dekat sampai hampir menabrak ahli sihir yang tetap diam melancarkan aksinya.
"Tanahnya retak! Hei, apa ini bencana? Hentikan sihirmu!"
Berbagai seruan panik melanda. Namun, ketika retakan itu hampir menghampiri mereka, tiba-tiba menghilang dan berkumpul jadi satu di tengah-tengah lapangan. Kemudian air keluar dari retakan itu menyembur di udara, berputar-putar mencipratkan airnya menghujani orang-orang. Wajah ketakutan mereka berubah jadi senyum tak menduga.
"Wah-wah, hujan buatan! Asli dari tanah! Hebat!"
"Ini air sungguhan! Aku bisa meminumnya, haha!"
"Mandi hujan! Lihat-lihat, cantik sekali seperti kembang api dari air!"
Basah kuyup melanda, hujan dari sumber yang nyata menggemparkan lapangan. Mungkin orang-orang yang berada di luar lapangan heran karena ada dinding tanah tiba-tiba, tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalamnya. Yuri merentangkan tangan merasakan air itu menerpa wajahnya. Zean juga terpana, mengulurkan tangannya merasakan air itu membasahinya.
Tanpa diduga air itu kembali ke asalnya dan lubang retakan di tanah menghilang. Semua orang keheranan. Yuri celingukan sama seperti orang-orang.
"Kenapa mendadak berhenti? Aku belum puas main." kata Yuri.
Petir kembali menggelegar, Yuri sampai menunduk memegangi kepalanya. Zean menariknya lebih dekat seolah melindunginya.
"Kenapa ada petir lagi? Kalau menyambar kita bagaimana?" protes Yuri.
Zean tidak menjawab. Dia menutupi Yuri dengan badannya. Awan mendung itu masih memunculkan kilatan kecil yang menakutkan. Kemudian, angin berhembus kencang membuat pusaran di tengah-tengah awan mendung itu.
"Lihat, ada pusaran angin!" salah satu dari mereka berseru menunjuk langit.
Kesegaran yang teramat besar sampai sedikit kesulitan menatap langit. Perlahan-lahan pusaran angin itu melebar dan mengusir awan mendung serta petirnya sampai menghilang. Angin itu pun reda. Semua terheran-heran, rambut mereka yang berterbangan berhenti seketika. Sudah tidak lagi dingin, tetapi mereka tetap diam. Mungkin sangat terkejut atau takjub yang berlebihan. Hanya mata mereka yang saling pandang, ternyata dinding tanah itu juga turun kembali ke asalnya. Getaran kembali terjadi, tetapi begitu singkat. Ketakutan mereka perlahan mereda. Sudah tidak ada kuasa elemen yang dimunculkan. Mereka kebingungan.
"Tanah, air, angin, semuanya menyatu dengan alam. Jika berlebihan bisa menjadi bahaya yang teramat dahsyat. Jadi...," ahli sihir itu menghentikan ucapannya.
Yuri, Zean, dan semua orang menoleh padanya sedikit kaget. Menunggu ahli sihir itu melanjutkan ucapannya terlalu lama. Dia menurunkan tangannya dan mulai membuka mata.
"Jangan berlebihan menggunakan apa yang ada, haha. Syukurlah angin yang terkadang sumilir sampai membuat heboh menumbangkan pohon-pohon tempo hari. Gunakanlah air secukupnya, jangan mubazir, jangan juga berebut. Rawat tanah kita sebaik mungkin, jangan sampai disakiti. Kalau tidak dia akan marah dan tidak mau menumbuhkan buah serta sayuran lezat untuk kita. Hahah, bagaimana wahai jawabku semua? Menakjubkan bukan? Setara dengan dua puluh koin emas seharusnya!" ahli sihir itu menyambung ucapannya dengan bicara sangat cepat.
Semua orang tertawa begitu juga Yuri. Mereka mencaci ahli sihir itu yang terdengar lucu, tetapi mereka hanya bercanda dan setuju jika persembahannya setara dengan dua puluh koin emas. Jantung mereka dibuat berpacu cepat. Sempat merasakan kaku gemetar akan bahaya.
"Masih ada elemen lain sebenarnya yaitu api. Hanya saja tidak aku munculkan karena kalian tidak membayarku lebih, haha. Baiklah, hiburannya sudah selesai. Bubar-bubar, aku mau istirahat." dengan santainya mengusir mereka, tetapi mereka justru terhibur dengan candaan itu.
"Kakak, dia lucu, 'kan?" bisik Yuri yang tidak mau berpindah tempat padahal semua orang sudah mulai meninggalkan tempat itu.
"Emm, lumayan. Ayo kita tanya dia." Zean menarik Rien mendekat ke orang itu.
Sedang menghitung perolehan koin dengan senyum mengembang sempurna. Duduk di tanah membiarkan tongkatnya tergelatak di sebelahnya. Juga ada beberapa barang yang dia bawa. Terbungkus rapi seperti milik Yuri dan Zean. Itu artinya ahli sihir tersebut tidak menginap di suatu tempat. Dia pengembara.