9. Pemulihan Energi

2536 Kata
Bercengkrama akrab sejak Yuri menemui wanita itu di dapur. Sampai sup sudah matang pun mereka tak berhenti bicara. Zean hanya diam menatap mereka walau makanan sudah tersaji di hadapan. Meja kayu berbentuk bundar sangat tua dan warnanya semakin menghitam. Bagaimana Zean bisa makan jika dua perempuan beda usia di depannya tidak berhenti saling tanya dan tertawa? Tak mengelak kalau perutnya sudah keroncongan. "Bibi, kenapa kau bisa membuat sup ini?" tanya Yuri aneh. "Apa maksudmu? Sup hanya dibuat dari air dan rempah-rempah. Sangat mudah!" jawab wanita itu. "Oh, ya? Lalu kenapa rasanya tidak enak?" Yuri menggeleng polos. Zean mengernyit mendengarnya. "Karena ini sup obat, gadis payah! Mana ada obat yang rasanya enak? Kau ini lucu sekali!" wanita itu terkekeh geli. "Hahaha, kau bercanda, ya? Sup obat itu ada warnanya. Ini bening hanya rasa dan aromanya saja yang kuat. Bibi, jangan-jangan kau mencampuri racun ke sup ini, ya?" Yuri memicing. "Sembarangan! Kau meragukan masakanku, ya?" wanita itu melotot. "Ah, tidak-tidak. Mana berani, haha!" Yuri mengibaskan tangannya. Wanita itu langsung tergelak. Dia menoleh pada Zean yang diam tak berkedip. "Anak muda, kekasihmu lucu sekali! Bisa kau tinggalkan dia untukku?" Zean mendelik saling pandang dengan Yuri. Mereka kompak menggeleng. "Bibi, dia kakakku. Kalau aku tidak pergi dengannya, bagaimana misi kami bisa berhasil? Benar tidak?" Yuri menaikkan dagunya. "Memangnya misi apa? Sebenarnya kalian dari mana?" tanya wanita itu mulai berhenti bercanda. Yuri dan Zean saling lirik. "Bibi, kami dari negeri Zilla. Aku Yuri, murid dari padepokan perempuan sekaligus anggota penjaga bukit Zill. Dia Kak Zean, Pangeran dari negeri Zilla. Di dalam tubuhnya ada energi jahat yang selalu menghantuinya setiap saat. Sakitnya sekarang juga dikarenakan oleh hal itu. Jika Bibi bisa tau derita yang dialami Kak Zean, maka Bibi pastinya bukan orang biasa. Aku sudah jujur padamu, mohon kau juga jujur pada kami," terang Yuri. Wanita itu terbelalak tak menyangka. Seketika langsung berdiri dan mengangguk memberi salam berkali-kali sambil menangkupkan tangannya, "Maafkan aku! Maafkan aku, Pangeran. Aku tidak mengenalimu, sungguh! Wanita tua payah! Dasar payah! Kau pantas dihukum!" memukul bibirnya sendiri. "Eh, tidak perlu begitu, Bibi. Kami memang datang dengan diam. Lagi pula ini di negeri yang berbeda, wajar saja jika semua orang tidak mengenali kami," sambung Yuri. Zean masih setia diam. Wanita itu menatap Yuri dan Zean bergantian dengan tatapan ragu. Perlahan duduk lalu menyerahkan semangkuk sup yang sudah tidak panas lagi pada Zean. "Pangeran, raut wajahmu terlihat gelisah. Minumlah agar sedikit bersinergi," katanya. "Memangnya kenapa? Ini hanya rempah-rempah tidak mungkin bisa mengobati tenaga Kak Zean. Lawannya bukan hanya sihir biasa, melainkan cincin biru pohon Savara," Yuri serius. Zean menunjukkan jarinya yang terlingkar cicin biru dengan sempurna. Wanita itu terkejut. "Cincin... Cincin biru! Pangeran, kau harus segera mengontrol kembali kekuatanmu. Jika tidak nyawamu dalam masalah," ujarnya sungguh-sungguh. "Sebenarnya siapa kau?" barulah Zean angkat bicara. "Aku hanya wanita tua yang sudah lama istirahat dari dunia ilmu hitam. Semua rempah-rempah yang kumiliki sudah tercampur dengan mantra hitam menolak racun tingkat tinggi. Namun, karena sakit Pangeran disebabkan oleh pohon terkutuk, maka bukan mantra ilmu hitam yang bisa menyembuhkannya, tetapi mantra hati suci. Kau tidak bisa meminum ini, Pangeran." wanita itu menarik sup-nya lagi. Dahi Yuri dan Zean berkerut. "Mantra hati suci hanya bisa menahan Kak Zean agar bisa mengontrol dirinya sendiri, bukan kekuatannya lagi. Terakhir kali dia dirasuki energi cincin biru, aku yang menahannya dengan emosiku," Yuri sungguh tidak mengerti. "Mustahil! Mantra hati suci adalah tingkatan mantra tertinggi yang pernah ada. Dibuat langsung oleh perempuan sakti berhati suci di bukit biru negeri kalian. Aku bahkan tidak bisa menandinginya." wanita itu menggeleng. "Dia adalah ibuku. Sekarang buku itu dibawa oleh guru Kahy. Dia juga tidak bisa menyembuhkan Kak Zean secara menyeluruh." Yuri semakin berkerut dahi. Wanita itu tidak menduga jika Yuri anak dari orang yang dia maksud. "Jadi, kau adalah keturunan Ramar? Ketua kelompok penjaga bukit Zill? Pengendali kekuatan emosi? Penerus semua ilmu tinggi dari ibumu?" "Benar! Kalau buku mantra hati suci bisa menyembuhkan Kak Zean, aku tidak perlu mencari sampai kemari. Cepat katakan cara lainnya!" Yuri melotot. "Yuri, tenanglah," ucap Zean sabar. "Kakak, wanita ini tau segalanya. Dia pasti tau caranya," Yuri semakin yakin. Wanita itu berpikir keras. "Sungguh, hanya kekuatan dahsyat dari mantra hati suci yang bisa menyegel kekuatan jahat pohon Savara. Jika tubuh Pangeran masih berfungsi normal, seharusnya kekuatan dasar yang dia miliki sekitar tiga puluh persen di bawah kekuasaan cincin biru itu. Kita hanya perlu membangkitkan energi murni Pangeran agar kekuatan jahatnya bisa dikendalikan kembali. Namun, memulihkan energi tidak semudah yang dibayangkan. Energi jahat di tubuhnya selalu menghalangi sehingga tidak ada celah untuk melakukan perlawanan. Satu-satunya cara adalah..." wanita itu menggantung ucapannya dan menatap Yuri. "Kau harus mengalirkan sebagian dari energi kekuatanmu untuk Pangeran. Hanya kau yang bisa mengobatinya," sambungnya. Bukan Yuri yang tersentak, melainkan Zean. "Apa setelah itu kondisi Yuri akan lemah?" tanyanya. "Tentu saja, tetapi jangan risau. Sebagian kekuatannya adalah perihal emosi. Jika dia bisa mengontrol emosinya agar stabil maka kepulihannya bisa berlaku sangat cepat. Asalkan dia berusaha keras. Ini juga membutuhkan waktu mungkin sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan." wanita itu sampai menggeleng. Zean menghela napas berat. Menatap cicin di jari manisnya, "Terlalu berat untuk melawan cincin ini, Yuri. Kau tidak mungkin mengorbankan diri." "Aku akan melakukannya!" Yuri menyela ucapan Zean membuat Zean mendongak. "Apa maksudmu?" "Kakak, kau harus melindungiku kedepannya. Seluruh negeri hanya kau yang memiliki kekuatan dahsyat pohon Savara yang kau kendalikan dalam kekuatanmu sendiri. Aku bisa pulih jika aku berlatih keras dengan emosiku. Percayalah!" Yuri mengangguk mantab. Zean sedikit gusar, "Tapi kau akan kekurangan banyak tenaga, Yuri. Bagaimana aku bisa membiarkanmu seperti itu?" "Tenang saja, pangeran. Aku punya sirup gula yang mampu menambah stamina bagi orang biasa. Nona Yuri akan baik-baik saja." Wanita itu tersenyum dan Yuri kembali mengangguk meyakinkan Zean. "Tetap saja dia akan...," Zean mengelak. Namun, Yuri menyelanya lagi. "Kakak! Kalau kau menolak lagi aku tidak akan memanggilmu Kakak!" Yuri melengos. Zean menepuk dahinya membuat wanita itu tersenyum penuh arti. "Kalian sangat akrab. Kalau boleh tau, kenapa Pangeran bisa dikalahkan energi jahat?" "Demi membuat biji yang bisa menyelamatkan semua orang dari pohon terkutuk itu, dia jadi begini. Sudahlah, Bibi. Kita mulai saja prosesnya. Kau yang mengarahkan. Aku siap!" Yuri berdiri dengan tegas. "Benar-benar cepat berubah ekspresi," desis Zean menatap Yuri sengit. "Aku tidak dengar!" Yuri melengos. Wanita itu segera menyiapkan persiapannya. Semangkuk besar sirup sangat manis sudah tersedia di meja. Nampaknya saja seperti semangkuk sirup biasa, nyatanya terdapat keajaiban luar biasa. Zean berharap dalam hati jika sirup itu tidak dicampuri ilmu hitam wanita itu. "Tenang saja, Pangeran. Tidak ada rempah-rempah yang sudah kuberi ilmu hitam di sirup ini. Percayalah!" wanita itu seolah bisa membaca kekhawatiran di raut wajah Zean. Zean mengangguk dan duduk di ranjang kayu tanpa alas berhadapan dengan Yuri. Yuri tengah mengumpulkan niat dan keikhlasannya untuk membagi separuh energi murninya agar menjadi sempurna masuk ke dalam tubuh Zean dan menekan kekuatan jahat yang bersemayam di tubuh Zean. Tangannya mulai memutar dan membentuk sebuah cakra di udara. Zean siap, menutup mata. Wanita itu berdiri di dekat Yuri sambil mengatakan apa yang harus Yuri lakukan. Setelah kekuatannya mengumpul penuh, d**a Yuri bergemuruh. 'Kak Zean, kelak kau harus berterima kasih denganku setiap hari dan setiap saat!' batin Yuri. Yuri melempar kekuatannya ke atas kepala Zean, tetapi terpental seketika karena kekuatan jahat di diri Zean menolaknya. Yuri segera mengondisikan diri sehingga dia tidak terjatuh dan tetap stabil dalam kondisi duduk. "Benar seperti ucapanku. Kalau begitu, masukkan lewat pusar!" ujar wanita itu. Yuri mengarahkannya lagi ke perut Zean membuat Zean meringis walau mata tertutup. Yuri seakan mencari celah dari sana. Namun, ternyata masih gagal. Wanita itu juga tidak bisa berpikir lagi. Kalau disalurkan lewat bagian tubuh lain pasti juga tidak akan bisa. Lalu, Yuri mendapat jawabannya. Dia memusatkan kembali kekuatannya secara menyeluruh hingga menyatu dan mendorongnya perlahan ke cincin biru Zean. Seketika Zean mengerang hebat. Menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Otot-otot mulai terlihat seakan hendak keluar dari kulit Zean. Erangan Zean semakin hebat dan Yuri semakin memaksakan kekuatannya untuk melawan cincin itu. Cincin itu bersinar biru. Sontak wanita itu langsung bersembunyi. Dia tak mampu melihat sinarnya. "Nona Yuri. Terus lakukan apa yang kau rasa benar!" seru wanita itu sambil berlari mencari tempat bersembunyi. Yuri tidak merasakan keberatan apapun kecuali energinya yang mulai terkikis. Zean tak henti-hentinya berteriak. Lama kelamaan cincin biru bersinar redup. Berkedip seolah sinarnya akan padam. d**a Yuri semakin bergemuruh. Dia terus melanjutkan aksinya hingga tuntas. Sampai Zean berhenti mengerang berganti dia yang memuntahkan darah. Zean langsung membuka mata. "Yuri!" menahan kepala Yuri agar tidak terhuyung dan jatuh. Zean menepuk-nepuk pipi Yuri. "Yuri, kau tidak apa-apa? Yuri?" Mendengar suara Zean dengan penuh kekhawatiran, wanita itu pun keluar dari persembunyian. Dia lari-lari kecil menghampiri mereka. "Astaga! Ada apa dengan dia?!" kagetnya. "Dia pingsan, tapi... Tidak parah. Hanya efek kehilangan energi kekuatannya." jawab Zean sambil memandang Yuri yang terpejam. "Pangeran, kau tau banyak hal!" wanita itu senang. "Tentu saja." raut wajah Zean tidak senang. Dia membantu Yuri untuk berbaring. Sangat hati-hati kemudian Zean membersihkan sisa darah di sekitar bibir Yuri. "Boleh kami menginap?" Zean melirik wanita itu. "Tentu boleh, Pangeran." wanita itu mengangguk kuat. "Sirup gula ini bisa diberikan ketika dia sudah sadar. Aku akan membuat makanan untuk kalian. Pangeran, sepertinya cara ini berhasil. Kau cobalah kendalikan kuasamu dulu," sambungnya. Setelah wanita itu menuju dapur, Zean menatap Yuri dan tangannya bergantian. Menggenggam tangannya sambil menutup mata, mengambil posisi duduk bersila sempurna, mulai memusatkan kedua energi yang dia miliki sejak lahir untuk bercampur dan tunduk kembali padanya. Zean mulai merasakan kekuatannya meningkat. Sudah tidak merasakan lelah, seperti hanya merasakan air dan angin yang memenuhi tubuhnya dari ujung kaki sampai kepala. Lalu, energi biru dari cincin biru membawa aura kegelapan dan ketegasan yang sangat dahsyat. Dia hendak marah dan meluap-luap, ingin kembali merasuki Zean dan mencoba memunculkan akar-akarnya, tetapi ketenangan kekuatan Zean berhasil meluluhkannya hingga akhirnya bisa takluk kembali. Perlahan matanya terbuka. Kepalan tangan itu pun ikut terbuka. Memunculkan dua sinar yang berbeda dan beradu. Cincin birunya telah dijinakkan. Senyum Zean tersungging manis. "Yuri, lihat!" seketika Zean menatap Yuri dan sinar itu padam. "Berkatmu aku kembali pulih," lirihnya. Pandangan meredup, merasa bersalah telah mengambil apa yang Yuri punya. Dia terus menunduk menunggu Yuri bangun. Beberapa saat kemudian wanita itu datang membawa dua piring makanan. Diletakkan di meja dan Zean mengawasinya sedari tadi. "Apa dia belum sadar?" tanya wanita itu basa-basi. "Seperti yang kau lihat," jawab Zean singkat. Wanita itu tersenyum kaku. Mengamati keadaan Yuri, memeriksa denyut nadi Yuri, mendadak dahinya berkerut heran. "Kenapa?" Zean sudah panik. "Tidak ada apa-apa. Sepertinya dia senang. Semuanya sudah normal dan sekarang... Mungkin sedang tidur. " jawab wanita itu sambil menoleh pada Zean. "Apa? Mana mungkin?" Zean ikut memeriksa denyut nadi Yuri. "Bagaimana Yuri bisa setenang ini? Tadi dia...," ucapan Zean menggantung. "Sudah kubilang, 'kan dia tertidur? Haha, biarkan saja. Kau makanlah dulu." wanita kembali pergi. Zean memandang kepergiannya heran. Lalu, beralih ke Yuri. "Aku bingung bagaimana emosinya bisa berubah ketika dia tak sadar dan sekarang jadi tertidur. Jadi, apapun keadaan Yuri meskipun dia lemah tetap bisa bangkit dengan sendirinya hanya dengan perubahan emosi?" Zean tidak memakan makanannya. Dia tetap diam menunggu Yuri sadar. Sangat lama sampai hari berubah sore. Wanita itu ternyata sedang membuat kue untuk dijual besok. Harumnya menyebar ke seluruh sudut rumah itu. Mungkin kudanya juga sedang tidur di luar sana. Lalu, Zean tidak tahu harus berbuat apa. "Makanannya sudah dingin. Mereka sedih karena kau tidak menyentuhnya." Zean tersentak kaget mendengar suara lirih nan serah itu terucap dari bibir Yuri. Zean memperhatikan Yuri lekat. "Yuri? Kau sudah bangun?" Perlahan Yuri membuka mata. Dia melihat raut gusar bercampur senang dari Zean membuatnya tersenyum dan senyuman itu berubah jadi tawa. "Wajahmu lucu sekali. Menjauh sedikit dariku. Aku tidak bisa bangun," ucapnya geli. Zean segera membantu Yuri duduk. Yuri memegang kepalanya pusing, "Sshh, berapa lama aku tertidur?" menatap sekeliling dan nampaklah sore hari dari pintu rumah yang tidak tertutup. "Kau tidur lama sekali. Membuatku khawatir," Zean mendesah. Tatapannya sayu. Yuri kembali memandangnya, "Bagaimana kondisimu?" "Sangat baik. Aku hanya tinggal mengasahnya menjadi lebih baik dan kembali seperti dulu. Aku rasa sudah tidak akan mudah terasuki lagi." Zean menunjukkan cincinnya. "Bagus! Coba aku lihat." Yuri menarik tangan Zean, "Hmm, cukup penurut. Kakak, kau harus menjagaku kelak. Kalau ada musuh yang lebih tangguh dariku hanya kau yang bisa melawannya." menurunkan tangan Zean. "Jangan khawatir. Aku akan menjagamu." Zean tersenyum tenang. "Haha, kau membuatku merasa aneh. Aduh, aku lapar. Apa makanannya masih mau dimakan? Mari makan!" Yuri dengan senang hati mengambil salah satu piring itu. " "Tunggu! Kau sungguh baik-baik saja?" dahi Zean berkerut tipis. "Aku sangat baik. Aku bisa melawan singa sekarang!" Yuri semangat. Ucapannya membuat Zean tertawa dan mereka memilih makan. Mereka butuh energi agar tetap sehat. Malam hari terasa begitu dingin. Yuri asik bermain dengan kudanya. Zean hanya duduk di kursi panjang teras dan menatap rembulan yang belum sempurna. Wanita itu datang memecahkan keheningan mereka. "Apa masih ada yang harus aku lakukan? Kalian diam aku jadi bingung." wanita itu nampak sungkan untuk bergabung. Yuri menoleh, "Kemarilah, Bibi." tangannya melambai. Wanita itu mendekati Yuri sedangkan Zean hanya menatapnya. "Nona, tatapan Pangeran membuatku takut. Apa ada yang kalian pikirkan? Apa kalian tidak nyaman di sini?" bisik wanita itu. Yuri terkekeh, "Bukan soal tempatmu, Bibi. Kami memang sedang memikirkan sesuatu. Kau sudah sangat baik mau membantu kami." Yuri beralih menatap bulan, "Aku rasa akan melewati banyak purnama. Apa menurutmu aku bisa?" "Bisa! Kau adalah pewaris dan ditemani orang terkuat yang pernah ada. Ilmu hitam bahkan tidak bisa melawannya jika Pangeran sudah menggunakan kekuatan cincin biru dalam kendalinya," wanita itu sangat yakin. "Kalau tidak yakin apakah ilmu hitam bisa digunakan untuk kebaikan. Mungkin iya bagi orang yang berjiwa murni dan baik seperti Kak Zean, tapi bagi mereka yang jiwanya jahat dan tidak peduli terhadap sekitar pasti akan berakibat buruk. Aku meresahkan itu semua." "Maksudmu?" wanita itu tidak mengernyit. "Bagian kecil dari pohon Savara yaitu cincin biru ada di jari Kak Zean dan itu bisa dikendalikan. Dalam artian pohon Savara pasti juga bisa dikendalikan. Kalau ada seseorang yang berkekuatan tinggi dibandingkan Kak Zean, maka dia jadi ancaman jika kepribadiannya buruk. Aku harus segera bisa melawan pohon itu. Paling tidak bisa mencegah kehancuran yang lebih besar terjadi. Entah kenapa aku merasa bisa memprediksi semua itu. Nyatanya masalah ini tidak semudah yang dibayangkan." Yuri menggeleng. "Nona, semua ada di tanganmu. Ambillah keputusanmu sendiri. Aku akan berdoa jika semua kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan. Itu pasti," ucap wanita itu tenang. "Terima kasih, Bibi." Yuri kembali mengelus kepala kudanya yang tidur. Zean mendengar pembicaraan mereka juga memikirkan hal yang sama. Lalu, dahinya berkerut mengingat sesuatu. "Dia ada di sini," gumamnya tanpa bisa didengar Yuri dan wanita itu. "Negeri yang rindang. Aku suka!" tiba-tiba Yuri berseru membuat Zean kehilangan konsentrasi. Dia ingat jika ada orang yang terkuat hampir menyamainya ada di negeri Ru. Jika bertemu dengannya maka kekhawatiran Yuri yang mulanya tanpa sebab bisa menjadi kenyataan. Bosan melihat warna biru di bukit Zill, sekarang matanya dimanjakan dengan hijau yang merata. Zean tidak pernah melunturkan senyumnya sampai wanita itu masuk ke rumah dan membiarkan Zean dan Yuri tidur di luar bersama kuda mereka. Mereka tidak mau tidur di dalam meskipun wanita itu sudah memintanya. Di saat hewan-hewan peliharaan warga sangat bising dan meminta makan, saat itulah Yuri dan Zean pergi dari rumah wanita itu. Mereka hanya menuntun kudanya dan kembali ke jalan kemarin yang membuat Zean dikerumuni banyak perempuan. Nasibnya sekarang pun sama. Yuri melongo melihatnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN