Merentangkan tangan di sepanjang jalan. Bersenandung menghilang penat. Bekal air sudah habis. Mereka masih saja memasang wajah ceria. Kemana hilangnya lelah dan sakit selama perjalanan? Mungkin angin sudah membawanya melayang. Tanpa sadar mereka bicara tentang jarak sepuluh tahun yang merenggut kebersamaan mereka. Rindu sudah terobati sekarang.
"Hahaha, mungkin tidak ada warna lain selain hijau di sini. Lihat, semua rumahnya juga ber-cat hijau." Yuri menunjuk deretan rumah yang ada di depannya.
"Sepertinya kita sudah memasuki desa," Zean melihat dua gapura yang berdiri kokoh di hadapan.
Yuri tiba-tiba turun dari kudanya.
"Kenapa turun?" Zean hendak ikut turun.
"Eh, kau tetap di sana. Pangeran yang malang, sampai kekuatanmu pulih sepenuhnya kau tidak boleh merasakan yang berat-berat dulu termasuk jalan kaki. Aku sengaja ingin jalan-jalan, tapi jangan ikut! Mungkin kita bisa menemukan penginapan. Aku akan mencarinya!" seru Yuri semangat langsung pergi dengan riang mencari penginapan. Rambutnya terombang-ambing karena larinya sambil melompat ringan.
Zean terkekeh, "Bagaimana caraku membawa dua kuda kalau tidak turun?" bingung menatap kuda Yuri dan kudanya.
Akhirnya Zean turun dan memegang kedua tali kuda itu. Baru sadar jika sedari tadi dia dipandangi orang-orang yang merasa heran dan tatapan penuh binar para gadis yang sangat mengagumi parasnya. Zean menjadi salah tingkah, tetapi diam dan tersenyum pada mereka.
"Aaaaa, manisnya! Anak muda, kau dari jauh, ya? Apa kau sedang berkelana?"
Mendadak semua orang mengerumuninya membuat Zean sedikit kaget dalam hati. Salah satu seorang pedagang wanita yang memakai topi berbentuk gunung dari bambu bertanya padanya, yang lain antusias menunggu jawaban Zean. Zean tersenyum kaku memandang mereka.
"Aku sedang melakukan perjalanan jauh," jawab Zean ramah.
"Aaaa, suaranya menggetarkan jiwa sekali!"
"Dia sangat tampan!"
"Apa aku bermimpi? Dia seperti pangeran dengan dua kuda!"
Seru gadis-gadis yang terang-terangan kagum padanya. Zean sedikit tak enak hati. Dia terus memaksakan senyum. Ingin lepas dari mereka, tetapi mereka justru mengepungnya membentuk lingkaran.
'Bagaimana aku bisa kabur?' batin Zean.
"Ah, ternyata benar dari jauh. Pasti lelah, 'kan? Sudah berapa lama berpergian? Aku menjual banyak kue kering dan juga sirup gula untuk menambah stamina. Kau mau coba? Kalau orang lain yang beli kujual dengan harga mahal, tapi kalau kau tidak perlu membayar juga tidak apa-apa, haha. Ayo, cobalah!" pedagang wanita itu menyodorkan panci bambu yang berisi banyak kue.
"Eee, terima kasih. Aku tidak lapar." Zean menolaknya halus.
"Tidak lapar juga harus makan. Kalau tidak mau makan kue, makan saja di rumahku. Aku sangat handal dalam urusan memasak!" salah satu gadis tepat di samping wanita itu mengedipkan sebelah matanya sambil menjauhkan panci bambu milik wanita itu.
Zean terus tersenyum kaku. 'Astaga, apa ini?' keluhnya dalam hati.
"Sungguh, aku tidak lapar." Zean menggeleng. "Izinkan aku pergi," sambungnya.
"Eh, mau ke mana?" cegah mereka serentak ketika Zean melangkahkan kakinya. Zean terbelalak, "Maaf, aku harus pergi." mencoba menyibak mereka, tetapi mereka mencegahnya lagi.
'Apa yang harus kulakukan? Yuri, cepat datang!' batin Zean.
"Baru datang sudah mau pergi. Tidak sopan sekali! Tuan, kalau kau mau pergi, pergi saja ke rumahku. Sekalian berkenalan dengan orang tuaku." ujar salah satu gadis malu-malu. Zean meringis dalam hati.
Zen mendelik, "Tidak, terima kasih. Mohon biarkan aku pergi, temanku sudah menanti di sana." menjual ke depan. Mereka kompak mengikuti arah telunjuk Zean.
"Teman? Apa dia juga tampan sepertimu?" tanya gadis lainnya antusias.
Senyum Zean merekah kali ini, "Dia sangat cantik. Lebih cantik dari teratai dingin di malam hari."
Jawaban Zean mampu membuat mereka mendesah kecewa. Zean semakin tersenyum puas.
"Ternyata sudah punya pasangan. Sayang sekali!"
"Siapa temannya? Aku tidak melihat gadis manapun yang lebih cantik dari aku!"
"Anak muda, kau tidak bilang kalau datang bersama teman. Kalian sedang mencari apa? Mungkin kami bisa bantu," tawar wanita tadi dengan sepenuh hati.
Zean memandang mereka dengan perasaan lucu. Lalu, berhenti pada wanita penjual kue itu. "Bibi, perjalanan kami sangat penting. Kami tidak ingin merepotkanmu, tapi jika berkenan bisakah antar kami ke sebuah penginapan? Kami ingin istirahat," kata Zean sangat halus. Sebagian dari mereka sudah pergi karena tahu Zean datang dengan seorang perempuan.
"Ah, penginapan? Tinggal saja di rumahku. Aku hidup sendirian. Rumahku cukup luas walau sederhana. Aku akan sangat senang dapat tamu seperti kalian. Ayo-ayo, ikut ke rumahku!" wanita itu amat gembira mempersilahkan Zean.
"Terima kasih banyak, Bibi. Tapi temanku masih di depan sana. Bisakah kita menunggu sebentar lagi?" senyum manis Zean membuat wanita itu memperhatikan Zean dari wajah sampai kakinya. "Kenapa kulihat kau sangat letih, anak muda? Apa kau sakit? Kenapa tidak mencari bersama temanmu?"
Zean meraba pipinya. "Bukan apa-apa. Hanya sedikit lelah," elaknya.
"Kau jangan berbohong padaku. Aku bisa tahu jelas dari raut wajahmu. Senyummu itu manis, tetapi pahit. Ayo, lekas ikut aku. Akan kubuatkan sup gula dengan kadar rempah-rempah tinggi yang sudah kukeringkan. Itu akan membantu melancarkan peredaran darah dan mengembalikan staminamu." wanita itu menarik tangan Zean tanpa permisi.
"Bibi, temanku masih...," sebenarnya Zean curiga, tetapi tidak bisa mengatakannya.
"Tidak masalah, biarkan saja. Rumahku tidak jauh dari sini. Nanti ikat saja kudamu di teras rumah. Biarkan mereka makan rumput. Kalau temanmu melihatnya, pasti langsung tau. Ayo, jangan membuang waktu lagi. Sakitmu sudah kau tahan berapa lama? Anak jaman sekarang ceroboh sekali!" Wanita itu mengomel sambil menarik Zean.
Zean menurut begitu saja. Dahinya berkerut memandang wanita itu dari belakang. 'Bambu yang dibuat dengan kualitas tinggi berbentuk membukit hanya dia gunakan sebagai pelindung kepala? Sangat sederhana. Hanya melihatku saja sudah tahu jika aku mengalami sakit di tenaga dalam. Siapa wanita ini? Apa dia tabib?' pikir Zean.
Hanya berjarak beberapa rumah yang juga melintasi banyak pohon besar, akhirnya Zean tuba di rumah wanita itu. Wanita itu mendesah sembari melepaskan topi bambunya.
"Ikat saja di tiang itu. Akan kuambilkan air untuk kudamu." Wanita itu sangat ramah. Selalu tersenyum lebar walau setelah memunggungi Zean dan masuk kerumahnya.
"Terima kasih, Bibi. Maaf, merepotkanmu," jawab Zean.
"Wanita itu sungguh tidak terduga. Rumahnya penuh aroma kue dan tanaman herbal. Banyak pohon mangga dan rumput. Sepertinya dia sengaja membiarkan rumput-rumput ini tumbuh. Sangat hijau!" gumam Zean menatap sekeliling.
Dia mengikat kudanya di dua tiang teras yang berbeda. Menepuk pakaiannya yang sedikit kotor. Lalu, wanita itu muncul dengan membawa seember air yang sangat banyak.
"Nah, ayo minum! Kudamu sangat bagus, pakaianmu juga bagus, pasti bukan orang sembarangan." kata wanita itu tak luput melunturkan senyumnya. Sibuk memberi minum kuda.
"Bibi, biar aku saja." Zean ingin merebutnya.
"Kau duduk saja di sana. Aku hanya ingin memberinya minum. Aku sudah biasa bekerja seperti ini." wanita itu menolak.
Zean hanya mengangguk dan berdiri di sampingnya. "Biasa? Kau juga punya punya kuda?"
"Haha, tidak-tidak. Maksudnya, para tetangga biasa menaruh ternak mereka di rumahku saat mereka sibuk entah kemana. Aku yang memberi mereka makan dan minum. Sudah terbiasa," jawab wanita itu.
Setelah kuda Zean selesai minum, wanita itu berganti memberikan airnya pada kudanya Yuri. Zean mengikutinya.
"Bibi sangat baik. Aku senang bertemu denganmu," kata Zean.
Wanita itu menoleh sebentar. "Apa maksudmu? Aku yang senang dapat tamu sepertimu," balasnya.
Zean menunduk sebenar, "Kenapa kau sendirian? Di mana keluargamu?"
Pertanyaan Zean membuat wanita itu berdiri tegak dan menatapnya. "Jangan hiraukan anak-anakku yang pergi tak pulang-pulang. Entah ke mana mereka pergi. Mungkin sudah punya kehidupan lebih baik jadi meninggalkanku seorang diri. Ada bagusnya tidak ada mereka, aku bisa hidup bebas di masa tuaku. Anak muda, kuharap kau tidka seperti anak-anakku yang tidak tahu terima kasih. Orang tua adalah tempat untuk pulang. Bukannya ditinggalkan. Kau mengerti?" tutur wanita itu walau sedikit kesal sebelumnya.
Zean tertawa ringan, "Baik, Bibi. Maaf, sudah mengingatkanmu pada anak-anakmu." sedikit menundukkan kepala.
"Ah, sudahlah. Kau belum makan, 'kan? Aku masih ada sedikit nasi dan udang yang baru kugoreng tadi fajar. Kau makan saja dulu smabil tunggu aku membuat sup-nya." wanita itu mengibaskan tangannya menyuruh Zen masuk rumah.
"Aku akan menunggu temanku di sini. Dia pasti kesulitan mencariku," Zean masih diam di tempat.
"Kau sangat mengkhawatirkan temanmu, ya? Hanya berjarak beberapa rumah saja, tidak perlu cemas. Apa jangan-jangan dia memang kekasihmu?" goda wanita itu.
Zean menggeleng salah tingkah, "Tidak, Bibi. Kami teman sejak kecil. Aku akan menunggu di sini saja."
"Baiklah, terserah. Setelah temanmu itu datang, kalian cepat makan. Perutku kurus sekali. Aku tidak tahan melihatnya." wanita itu menggeleng menatap perut Zean yang terbungkus rapi oleh pakaian. Kemudian pergi memasuki rumah untuk membuat sup yang dijanjikan. Meninggalkan ember air itu untuk Zean memberikan dua kudanya minum. Zean ikut menatap perutnya yang memang lapar. "Yuri pasti juga kelaparan. Anak itu ke mana sekarang?" desah Zean.
Lain dengan Zean yang asik bert duh di rumah sederhana nan luas milik wanita penjual kue itu, Yuri justru menikmati pemandangan pemukiman yang sangat asri. Udaranya segar seperti kayu yang terkena angin dan hujan. Ramai di sepanjang jalan para pedagang dan orang-orang yang sedang melakukan aktivitas kesehariannya. Tak banyak dari mereka yang memperhatikan Yuri karena penampilan Yuri yang sangat khas bagi seorang anggota kelompok. Sayangnya mereka tidak tahu Yuri dari kelompok mana.
Salah satu penghuni rumah yang sedang memegang kapak untuk memotong kayu bakar menghampiri Yuri sambil membawa kapaknya. Seketika Yuri terbelalak dan berhenti melangkah.
"Wah-wah, kapak yang tajam! Paman, kau mau apa?" tanya Yuri. Matanya melebar menatap orang itu dan kapaknya.
"Harusnya aku yang tanya, kau siapa? Orang baru atau pelancong? Kenapa tidak membawa barang? Jangan-jangan kau aliansi pengemis baru, ya? Wajahmu kotor sekali, tapi pakaianmu bagus!" tak tanggung-tanggung orang itu berkata jujur. Wajah Yuri memang sedikit kotor karena tidak mandi dari kemarin sore. Sisa debu perjalanan mungkin menempel kuat di wajahnya
Yuri langsung mengendus baunya dan meraba wajahnya. Menatap kesal pada orang itu, "Paman, aku tidak mandi dari kemarin, hehe. Lupakan saja, walaupun sedikit kotor aku tetap cantik, 'kan?" mengibaskan rambut kepangnya.
Orang itu terbelalak. "Wah! Kau punya rambut panjang sekali! Indah dan... dan apa yang ada di kepalamu itu? Akar? Kenapa bentuknya seperti..." orang itu hendak menyentuh hiasan kepala Yuri. Namun, Yuri mundur satu langkah. "Seperti rantai? Haha, ini namanya rantai akar biru. Lihat, warnanya sangat biru, 'kan? Ini biru alami, paman. Dari bukit negeri sebelah. Tidak percaya? Lihat betul-betul, asal jangan kau pegang, ya." Yuri mengarahkan kepalanya dan orang itu melihat rantai akar biru dengan sangat kagum.
"Woaahh, benar-benar akar asli dan biru! Bagaimana cara membentuknya? Itu unik!" orang itu seakan mendapat hal baru.
Yuri menarik kepalanya lagi sambil meringis berbangga diri. "Ini kakakku yang membuatnya. Aku juga tidak tau kenapa dia bisa membuatnya. Hebat, 'kan?"
"Anak kecil, kau dari mana? Siapa dan sedang mencari apa? Aku lihat dari tadi kau seperti ikan dari desa ini. Apa dari desa lain?" orang itu kembali bertanya.
"Paman, aku ini pengembara. Aku sedang mencari penginapan dan meninggalkan kakakku di sana. Dia sedang sakit, jadi tidak bisa berjalan jauh sekarang. Apa kau tau penginapan di desa ini?" jujur Yuri.
Orang itu mengibaskan tangannya, "Tidak ada yang namanya penginapan. Kalau mau menginap, tinggal di salah satu rumah warga saja. Itu pun kalau orangnya mau membantumu."
"Hah? Kenapa begitu?" Yuri tak percaya.
"Raja melarang desa ini untuk membuka penginapan. Karena desa ini berhadapan langsung dengan perbatasan. Kalau para pelancong atau pengembara sepertimu menginap lebih lama di sini, dikhawatirkan bisa merusak alam yang subur. Entah kenapa raja berpikir seperti itu. Apa dia mengir orang luar akan membawa wabah seperti hama lalu menyerang semua lingkungan? Hahaha, kami juga tidak tau tentang pikiran Raja." orang itu justru tergelak.
Yuri mengangguk-angguk berusaha paham. "Kalau begitu, aku akan kembali. Terima kasih, Paman. Itu kapak yang bagus! Pilihan yang tepat! Oh, pohon manggamu juga bagus! Aku permisi dulu!" melambaikan tangan lalu lari kembali di mana tempat dia meninggalkan Zean.
"Gadis yang lucu! Rantai apa tadi? Unik sekali!" heran orang itu.
Setibanya di sana Yuri tidak menemukan Zean. Dia panik, celingukan dan mengitari jalanan itu. Bahkan kudanya juga tidak ada.
"Sudah kubilang jangan pergi, kenapa dia hilang? Kak Zean, kau di mana?!" teriak Yuri.
"Kakak Zean, kau hilang ke mana?! Jangan membuatku cemas!" berjalan di sepanjang jalan sambil berteriak.
"Bibi, apa kau melihat laki-laki tampan dengan dua kuda? Dia tadi diam di sana," tanya Yuri pada salah satu warga yang sedang berdagang.
"Ah, tidak lihat! Jangan ganggu aku jualan!" usir wanita itu. Yuri tak ambil pusing, langsung berganti bertanya pada yang lain.
"Nona, kau lihat dua ekor kuda yang sangat kelelahan dan seorang laki-laki tidak? Dia asing sepertiku." mengangguk sambil menunjuk dirinya.
"Tidak lihat!" jawab gadis yang Yuri tanyai ketus.
"Kenapa marah? Aku hanya tanya!" balas Yuri tak kalah ketus.
Dia beralih ke tempat lain dan menanyakan hal yang sama. Jawaban mereka juga sama yaitu tidak tahu ke mana perginya Zean.
"Aneh sekali! Kak Zean sejak tadi ada di sana dan orang-orang tidak melihatnya? Apa mereka semua berbohong? Tapi kenapa?" heran Yuri.
Melipat tangan di d**a, menghembuskan napas gusar dan lanjut melakukan pencarian. Dia menyusuri jalan yang berbeda dari sebelumnya. Jalan yang bercabang-cabang membuatnya bingung. Dia tidak menyerah untuk bertanya pada orang lain. Hingga akhirnya menemukan orang yang jujur dan mengatakan di mana Zean berada.
"Terima kasih, Paman. Tidak tau mengapa semua perempuan yang kutanya tidak menjawabnya. Aku permisi!" Yuri menangkupkan tangan dan langsung berlari ke arah yang sudah ditunjukkan orang itu. Dia bertanya pada seorang laki-laki paruh baya yang sedang menyusun batu di rumahnya untuk dijadikan pagar.
Tidak butuh waktu lama untuk tiba di rumah sederhana yang ada dua kuda miliknya. Yuri tersenggal-senggal sambil memasuki halaman rumah itu.
"Akhirnya... Sampai juga. Hahhh...," berjalan sempoyongan karena kakinya lemas.
Zean yang mulanya memejamkan mata sebentar menjadi terjingkat karena mendengar suara Yuri. Segera menghampiri Yuri dan memapahnya.
"Astaga, Yuri! Kau kenapa?" Zean memegang kedua lengan Yuri. Yuri menepis tangan Zean membuat Zean mengerutkan dahi. "Kau yang kenapa?! Kenapa meninggalkanku, ha? Taunya ada di sini. Aku kesulitan mencarimu. Minggir, aku mau duduk!" Yuri menepikan Zean dan berjalan lunglai menuju kursi panjang yang ditempati Zean sebelumnya.
Zean menatap Yuri bingung. Yuri mengipasi wajahnya dengan tangan. Menyeka sedikit keringat di pelipisnya. Melirik Zean yang berdiri sambil bersendekap di depannya. Yuri langsung memalingkan pandangan.
"Sudah dapat penginapan?"
Yuri melotot pada Zean yang bukannya bertanya apakah dia lelah justru bertanya soal penginapan. "Apa?! Tidak ada!" melengos lagi lantaran kesal.
Zean menahan kekehannya. Dia berdeham dan pelan-pelan menggeser Yuri dari duduknya, "Ahh, nikmat sekali duduk sambil memandang hijaunya pepohonan di depan mata. Wah, ada buah mangga yang sudah matang. Pasti rasanya manis!" berceloteh sambil menatap buah mangga yang masih berwarna hijau.
Yuri ikut memperhatikan buah mangga itu karena penasaran. Dia mendelik, "Itu masih hijau belum matang, Kakak. Matamu kabur, ya?!"
"Apa? Coba katakan sekali lagi." perlahan Zean melirik Yuri membuat nyali Yuri sedikit menciut. "Kau... Kau jangan menatapku seperti itu. Aku kesal padamu!" memalingkan wajahnya lagi.
Zean menghela napas berat, "Ada tawaran baik dari bibi penjual kue, tidak mungkin aku menolaknya. Lagi pula kuda kita sangat lelah. Lihat betapa rakusnya dia makan rumput." menunjuk kudanya.
"Ini rumah orang itu? Baik sekali!" Yuri menoleh.
Zean mengangguk setelah itu mengerutkan dahi, "Bibi itu agak misterius walau sangat ramah. Dia sepertimu, suka bicara." menunjuk Yuri di akhir ucapannya.
"Sepertiku? Wah!" Yuri mengerjap senang. "Misterius bagaimana?" sambungnya berbisik.
"Dia tau kalau aku sakit dalam. Sekarang sedang membuat sup yang bisa mengobatiku. Itu yang dia bilang," Zean juga berbisik.
Kedua alis Yuri terangkat. "Baik! Sungguh bibi yang baik! Apa aku boleh numpang mandi? Kakak, jangan terlalu curiga pada orang. Mungkin saja dia memang ingin membantu. Aku baru tau setelah melihat orangnya," Sungguh-sungguh.
Menepuk pundak Sean dua kali, mengerlingkan mata lalu berdiri. "Bibi, permisi! Apa kau yang membawa kakak dan kudaku? Boleh aku masuk? Boleh aku numpang mandi?" Yuri masuk rumah begitu saja. Zean menepuk dahinya. "Itu yang dimiliki sifat asli perempuan? Cerewetnya minta ampun!" gumam Zean pasrah.