7. Perbatasan Negeri

2541 Kata
Kemarahan saling mempertahankan keinginan semakin mencuat. Tabib sampai kehilangan fokus untuk mengobati mereka yang terluka. "Tidak akan!" Yuri menutup matanya rapat-rapat untuk sekejap. Mereka tersentak. "Kami tidak akan pergi sebelum tugas kami selesai! Beraninya kalian menghina Pangeran kalian sendiri! Aku salah satu dari anggota kelompok penjaga bukit Zill. Demi menyelamatkan negeri ini dari serangan pohon Savara, rela mengorbankan nyawaku sepenuh hati untuk melakukan uji coba kemurnian hati. Aku tidak akan meminta kalian untuk mengasihani kami, tapi biarkan kami melindungi kalian dengan melakukan tugas kami. Bisa-bisanya kalian menghina Pangeran dan mengusirnya dari negeri sendiri? Kalian manusia atau apa? Apa jiwa kalian sudah dirasuki cincin biru? Sikap kalian lebih buruk dari sekadar kerasukan energi jahat!" Mendengar kata-kata Yuri mereka saling pandang. Beberapa dari mereka berbisik setuju dengan ucapan Yuri. Sayangnya dia yang menjadi provokator memiliki lidah yang tajam. Dia terus menghasut warga untuk membuat Zen dan Yuri keluar dari negeri Zilla. "Ahh, itu semua tidak penting! Yang terpenting sekarang adalah keselamatan kita semua. Kau selalu membela Pangeran Zean. Kau juga yang bisa mengontrol sisi jahatnya. Kenapa? Itu karena kau dan hanya kau yang memilih kekuatan sepadan dengan dirinya. Kami hanya rakyat biasa, Nona Yuri. Kami tidak ingin mati. Lihatlah desa kami... Semuanya hancur dalam sekejap. Itu semua karena perbuatan Pangeran Zean." Yuri memalingkan pandangan, "Hanya karena dia dirasuki, kalian langsung membencinya. Jika terjadi sesuatu di negeri Zilla karena ulah cincin biru di bukit Zill, jangan harap bisa mendapat perlindungan dari kelompok penjaga bukit Zill!" Yuri berbalik menatap Zean yang ternyata sudah sadarkan diri. Dia terkejut. Orang-orang pun juga terkejut. "Kakak? Kau sadar? Syukurlah, sudah melewati masa kritis. Bagaimana keadaanmu? Masih ada yang sakit? Apa cincinnya memberontak lagi? Aku di sini, tidak akan pergi meninggalkanmu sendirian lagi bersama orang-orang payah ini." Yuri menggenggam tangan Zean erat dan memeriksa seluruh tubuh Zean. Zean tersenyum sayu. "Aku tidak apa-apa. Mereka benar, semua salahku. Ayo kita pergi dari sini," ucapnya lemas. Yuri menggeleng ingin membantah, tetapi orang lain sudah bicara terlebih dahulu. "Pangeran, kami senang kau sadar dan selamat. Tapi kami juga mengalami kerugian besar. Bukan hanya desa, banyak orang yang kau lukai tanpa sengaja. Jika mengusirmu dari negeri ini adalah pilihan yang tepat, kami mohon perlindunganmu dengan meninggalkan negeri ini, Pangeran!" menangkupkan tangan seraya menunduk. "Kami mohon , Pangeran! Selamatkan kami! Kekuatanmu tidak bisa kami terima lagi!" Mereka satu per-satu menyatakan pendapat yang sama. "Kalian..." Yuri menunjuk mereka sengit. Karena Zean mendesis membuatnya menahan ucapannya. "Baiklah. Selama kalian aman, aku akan tenang. Maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan sihir kecil pohon Savara." Zean tersenyum pad mereka dan memperlihatkan cincinnya. "Kak Zean, apa yang kau bicarakan?" Yuri gundah. "Tak apa, Yuri. Kita bisa mengisi biji pohon di tempat lain. Kali ini kau tidak boleh lari dariku, ya. Atau aku akan jadi pohon Savara sungguhan," ucap Zean sembari meringis. "Kau keterlaluan!" Yuri menghempaskan tangan Zean dan memalingkan pandangan. "Sshh, aw! Sakit!" desis Zean tak dihiraukan Yuri. Api yang sudah padam, jalanan basah lantaran air tak mau meresap ke tanah dengan cepat. Asap juga sudah hilang. Semua orang bergotong-royong membersihkan desa. Membangun rumah mereka. Tidka bisa dipungkiri kalau Yuri kasihan pada mereka. Namun, teganya mereka yang mengusir dan menghina Zean tidak bisa Yuri terima. Apa yang bisa dia lakukan saat ini? Hanya berdiri di samping kudanya yang membawa barang bawaannya. Zean yang ada di sampingnya juga menatap nanar pemandangan di depan sana. "Kenapa emosimu stabil saat kau marah tadi?" tanya Zean tanpa mengalihkan pandangan. "Karena aku sedih akan dirimu. Bagaimana bisa marah kalau aku sedih? Walaupun begitu, aku tidak sembarangan menggunakan kekuatan emosi," jawab Yuri juga tanpa menoleh pada Zean. "Hmm, baguslah. Setidaknya tidak menyakiti mereka seperti aku menyakitinya," pandangan Zean meredup. Yuri berdecak menatap Zean, "Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Kak Zean. Salahkan pohon Savara yang meninggalkan cincin biru dan kekuatannya padamu. Kalau cincin merah sudah terbentuk. Aku sendiri yang akan memusnahkan pohon itu!" "Hahaha. Sudahlah, ayo kita pergi. Tidak ada yang bisa kita lakukan di sini. Jika kita membantu, mereka justru takut dan menolak," ajak Zean. "Benar juga. Tapi tidak bisa dibiarkan seperti ini." Yuri kembali menatap hadapan. "Aku akan mengirim surat pada perdana menteri untuk mengurus semua ini. Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja ketika kita pergi. Selain itu ada untungnya juga jika aku meninggalkan negeri ini sejenak. Setidaknya tidak membiarkan mereka melihat keburukan ku yang tiba-tiba kambuh." Zen memegang tali kuda kuat. Yuri memandang Zean lagi, "Apa kau kuat berkuda sendirian? Kalau tidak kita bisa menyewa kereta kuda sampai ke perbatasan." Zean menggeleng dan tersenyum lemah, "Aku bahkan kuat berjalan sampai ke perbatasan." Yuri terkekeh, "Benarkah? Kupukul sekali kalau jatuh berarti kau harus mengaku kalah dariku!" Yuri benar-benar memukul perut Zean sekali walau tidak begitu keras. "Aww, sshhh! Kenapa memukulmu sungguhan? Sejak kecil sudah mengalah darimu, apa itu tidak cukup?" Zean mendesis memegangi perutnya. Yuri panik, ikut memegangi perut Zean. "Maaf-maaf, aku hanya bergurau. Sakit, ya?" "Kau rasakan sendiri," Zean merengut. "Ck, semua ini karenamu. Kenapa kau kambuh tiba-tiba? Aku masih belum mengerti." Yuri melipat tangan membuat Zean berhenti meringis. Zean memukul dahi Yuri pelan membuat Yuri mengeluh. "Masih tidak paham juga? Mendengar pertengkaran pejabat tanah dengan istrinya membuat aura negatif di diriku bangkit. Tanpa kukendalikan dia semakin berani dan cincin ini mulai bereaksi. Untung saja ada kau yang datang tepat waktu. Kalau tidak... Entah apa jadinya denganku. Mungkin sakitku akan semakin parah. Tenagaku sudah berkurang. Apa pantas disebut Pangeran?" melihat cincin biru yang tersemat di jari manisnya. "Kalau begitu, kau tidak bisa melihat hal-hal buruk selama belum mendapatkan kembali energimu sepenuhnya dan bisa mengontrol sendiri kekuatanmu. Jika aku terus membantu mengontrolmu, jangan salahkan aku kalau lain kali kupukul dadamu! Menyentuh dadamu saja tidak cukup!" canda Yuri. "Jahat sekali!" Zean meringis. Yuri terkekeh, "Kalau bukan karena membantu pembentukan biji pohon, kau tidak akan seperti ini, Kak Zean. Aku akan membantumu memulihkan tenagamu." mengelus cincin di jari Zean. Dua orang itu tersenyum, kembali kalut dengan pemikiran yang sama setelah melihat indahnya kerusakan desa di depan mata. ~~~ Surat sudah dikirimkan. Sebentar lagi aparat kerajaan akan menangani desa tersebut. Namun, Yuri dan Zean segera pergi sebelum mereka tiba. Itu pun tanpa izin pada penduduk desa. Biarkan gagal membantu pejabat tanah, masih ada jalan lain untuk mengisi biji pohon. Mereka berkuda dengan sangat pelan. Sedikit berlari, lalu berjalan jika Zean sudah merasakan pusing yang berlebihan. Meskipun sudah menahan sakitnya, tetapi itu alami karena bukan sakit fisik yang dia derita. Jadi, Yuri tidak bisa membiarkan Zean menderita hanya karena berkuda. Dia memutuskan untuk kuda mereka berjalan saja sampai ke perbatasan meskipun jarak ya masih lumayan jauh. "Kakak, sepertinya sudah mau sore," kata Yuri. Mereka bergerak ke arah matahari terbenam. Zean tersenyum manis, "Indahnya! Sayang sekali kita harus menginap di jalan malam ini." Mereka berada di sebuah jalanan tanpa ada rumah satu pun. Hanya pohon dan semak-semak, lalu padang tanpa isi. Hanya rumput liar yang sedikit mengering. "Tidak masalah. Kurasa kita akan tiba di perbatasan pukul delapan malam. Itu kalau kuda kita tidak lelah," ucap Yuri lagi. "Kasihan mereka belum makan. Biarkan saat matahari sudah terbenam kita istirahat agar mereka juga bisa istirahat," kata Zean. Yuri mengangguk. Hari sudah berganti malam. Mereka berteduh di bahan pohon besar yang tidak memiliki buah dan bunga. Di sana banyak rumput yang masih segar. Kuda mereka bisa makan dengan puas. Sayangnya tidak menemukan sumber mata air. Bagaimana kuda mereka bisa minum? Untung saja persediaan air Yuri dan Zean masih utuh. Mereka bisa minum sejenak. "Kakak, kau tunggu di sini. Aku akan cari air untuk mereka." Yuri menunjuk dua kuda itu yang sedang makan. Zean yang duduk bersandar di pohon itu pun mengangguk. "Hati-hati. Biasanya banyak hewan malam yang berkeliaran. Jika tidak menemukan sumber air, tidak apa-apa. Berikan saja minuman kita, walaupun tidak cukup setidaknya meeka bisa minum," kata Zean mirip berbisik. "Tenang saja. Aku pasti menemukannya." Yuri mengangguk pasti dan pergi mencari air. Zean menatap kepergian Yuri. Benar-benar sunyi dan sepi. Sudah hampir dekat dengan perbatasan. Yuri terus mencari, yang ditemukannya justru buah-buahan kecil. Dia memetik beberapa. "Di mana ada air? Kasihan kedua kuda itu. Pasti ada sumber air, tidak mungkin tidak ada." gumam Yuri seiring berjalan. Sudah lelah berjalan cukup jauh, akhirnya Yuri menemukan sebuah parit yang berisi sedikit air. Parit itu terhubung dengan ladang kering yang ditumbuhi rumput liar. "Sepertinya ladang ini milik orang. Hanya saja belum digunakan. Aku masih bisa mengambil sedikit airnya. Lumayan bersih walau banyak rumput yang menghalangi." Yuri segera mengambil air itu. Embernya tidak penuh, tetapi cukup untuk kudanya berbagi. Sesampainya di tempat peristirahatan, Zean membantu Yuri membawa ember itu. "Apa berat?" Zean memberikan ember itu pada kuda mereka. Dua hewan berjasa itu langsung berebutan minum. Yuri tersenyum lega melihatnya. "Aduh, punggungku lelah sekali. Aku dapat parit di dekat ladang sana. Ladangnya kering sampai air paritnya hampir hilang. Kalau ada hujan, 'kan sedikit enak," keluh Yuri. Dia langsung bersandar di bawah pohon dan mengipasi wajahnya. "Sudah larut. Tidur saja, aku yang akan menjaga kuda," ujar Zean. Yuri terkekeh, "Untuk apa menjaga kuda? Mereka juga akan tidur sendiri." "Tidurlah, Yuri. Besok perjalan panjang menanti." Zean menasehati Yuri. "Lalu kau tidak tidur, Pangeran? Kau yang terluka, jadi cepatlah istirahat!" perintah Yuri. Zean hanya tersenyum menjawabnya. Dia menunggu sampai kudanya selesai minum. Setelah itu ikut bersandar pohon menatap hamparan luas jalanan di depannya. "Langit begitu luas. Malam yang cerah, bintang bertaburan indah. Sayang sekali jika harus tidur dengan cepat." Zean sedikit merenggangkan tangannya. Yuri menoleh, "Eh, kau tidak sakit? Pegal atau apa begitu?" "Tidak. Hanya lemas seperti orang tidak bertenaga. Tapi aku cukup kuat." Zean masih memandang langit. Yuri ikut menatap langit, "Ingat tidak waktu kita sering tidur di luar padepokan dan kabur ke atas bukit malam-malam? Saat itu kak Cen selalu saja ikut dan mengganggu. Dia membuat lelucon sampai aku tidak bisa tidur." sedikit mengukir senyum. "Kisah masa lalu memang menyenangkan. Sekarang sudah berbeda, beban berat ada di tangan kita. Jika ingin kembali ke masa lalu, maka selesaikanlah dulu beban itu," jawab Zean. "Kalau kau menangis, selalu tidur di pangkuanku. Kalau aku lapar, kak Cen selalu memasak untukku. Kalau kak Cen sedih atau dimarahi ayah karena gagal naik tingkat mempelajari ilmu, pasti akan mengadu padaku. Setelah pergi dari kalian demi berguru pada guru Kahy, aku merindukan semua itu. Semua perempuan di sana dilatih kuat dan penuh perhatian. Sayangnya kami tidak saling mengasihi seperti aku, kau, dan kak Cen. Rasanya aku ingin segera tumbuh dan pulang. Tapi setelah hati itu tiba, justru aku kembali dipisahkan dari kalian. Kak Cen sedang bertugas di bukit Zill. Kau mengalami perselisihan antar kekuatan yang kau miliki, aku sendiri tidak tahu harus bagaimana menyelesaikan semuanya. Kenapa setiap orang yang sudah tumbuh dewasa harus mengemban beban yang berat sampai dipisahkan oleh masa kecilnya yang bahagia? Bukankah ini terdengar kejam?" Yuri menimang seraya memandang langit penuh bintang. "Terkadang itu semua perlu dilakukan untuk membuat dunia lebih baik. Siklus alami dari kehidupan setiap orang. Masa kecil hingga remaja dan dari senang menjadi duka, lalu banyak hal lagi yang berputar dan kita hanya menunggu masa itu tiba. Aku juga merindukan hal yang sama," Zean pun demikian. "Kuharap perjuangan itu tidak akan sia-sia. Aku harus melanjutkannya. Kakak, kau harus sembuh total agar bisa membantuku," pinta Yuri. "Pasti! Setelah ini kita akan memasuki negeri Ru. Di sana kita bisa singgah dan mencari tabib untuk membuat ramuan mempercepat pemulihan yang lebih mujarab." "Negeri Ru? Kudengar negeri itu sangat rindang," ujar Yuri. 'Juga sangat menyebalkan. Setidaknya salah satu rakyatnya,' sambung Zean dalam hati. Karena tidak mendengar Zean membalas ucapannya, Yuri memilih tidur. Dia cukup lelah dan tak lama kemudian Zean juga terlelap. Matahari terbit sinarnya menyilaukan dua orang yang masih tidur berdampingan. Tanpa merubah posisi, tidur dengan duduk membuat tubuh mereka sedikit pegal. Makanan dan air yang mereka bawa masih cukup, tetapi mereka langsung melanjutkan perjalanan. 'Ini saatnya mengobati kak Zean lagi. Pasti ada sihir yang kuat di negeri Ru yang bisa mengembalikan energi kak Zean,' batin Yuri. Yuri memeriksa denyut nadi dan sisa energi Zean, semuanya normal kecuali energi kekuatannya. Masih lebih banyak dikuasai oleh kekuatan pohon Savara. 'Gawat! Kalau aku salah bertindak kak Zean bisa kembali kerasukan. Jika itu terjadi, sakitnya akan semakin parah. Nyawanya bisa terancam,' batin Yuri. Melihat Yuri yang mengerutkan dahi membuat Zean penasaran, "Kenapa, Yuri?" Yuri mengerjap, "Ah, bukan apa-apa. Ayo, kita berangkat." tersenyum menghilangkan penasaran Zean. "Jika menyembunyikan sesuatu katakan saja." Yuri tersentak Zean mengetahuinya. Akhirnya dia pasrah, "Kakak, kalau kau dikalahkan energi jahat milikmu maka kau sepenuhnya dikuasai cincin birumu itu. Lalu, kau akan tiada dengan cepat. Kalau saja ada cara yang bisa benar-benar memulihkanmu, pasti itu adalah sihir yang sangat dahsyat. Sedahsyat mantra hati suci misalnya." "Hmm, apa di negeri Ru akan ada sihir seperti itu?" bukannya takut Zean justru merasa biasa saja. "Mana aku tau? Ayo, cepat kita pergi dan sembuhkan lukamu!" Yuri mendorong Zean untuk menunggang kuda. Zean paham kenapa Yuri diam walaupun bicara dengannya. 'Dia bahkan tidak meluapkan emosinya,' batin Zean. "Yuri, apa aku merepotkanmu?" Zean mengerutkan dahi. Yuri yang hendak naik kuda menjadi terhenti, "Apa maksudmu? Jelas tidak, lah!" "Harusnya aku di sini menjagamu, bukannya kau yang menjagaku. Aneh, 'kan?" Zean menggaruk kepalanya. Yuri mendesah, "Hahh, kukira apa. Jangan bicara begitu. Aku sedang tidak ingin bercanda." naik kuda. Memang ekspresi Yuri tidak menunjukkan semangat apapun kecuali semangat untuk segera tiba di negeri tetangga. Kuda benar-benar berlari cepat kali ini. Zean juga tidak mengeluh. Meskipun Yuri mengerti raut wajah Zean sudah berubah. Mungkin sakitnya tidak dirasakan sekarang, tetapi dalam dirinya sungguh sangat terasa. "Hiyaaa!!!" Yuri menarik tali kudanya agar kuda itu berlari lebih cepat. Sangat cepat bahkan Zean sedikit tertinggal. Sampai siang merek baru tiba di perbatasan. Kedua kuda itu kelelahan. Mereka berhenti sebelum menyeberangi perbatasan walau hanya satu langkah. Yuri memandang luas ke depan. Meramal apa yang ada di depan sana, sepertinya akan baik-baik saja. "Ada pos penjaga di sana. Kita bisa istirahat sebentar jika kau mau." Yuri menunjuk pos yang di jaga ketat itu. Zean mengikuti arah telunjuk Yuri. Dia pun tersenyum. "Mereka akan membiarkan kita pergi karena tau tujuan kita. Kita istirahat di depan saja," ujarnya. "Kau yakin?" raut wajah Yuri sedikit gelisah. "Aku tidak selemah itu, Yuri. Bahkan maish bisa mengalahkanmu dalam satu putaran. Ayo!" Zean berjalan lebih dulu mengarahkan kudanya membuat Yuri berdecih sambil tersenyum. "Tidak lucu! Kalau kau sembuh nanti aku ingin bertarung denganmu. Kali ini sungguh-sungguh, ya!" seru Yuri menyusul Zean. "Kita lihat saja!" jawab Zean di depan sana. Hamparan Padang rumput yang luas, lalu mereka dihadapkan dengan sebuah hutan kecil yang memiliki banyak pohon buah. Dengan mudahnya keluar dari hutan kecil itu dan bertemu dengan banyak orang sedang bercocok tanam. Sebagian dari mereka juga berdagang di tepi jalan. Jalanan pun sudah bercabang-cabang menjadi akses jalan sehari-hari mereka. Begitu rindang, semuanya hijau. Matahari yang terik rasanya tak terasa panas. Justru sejuk yang mereka dapat. Yuri tak henti-hentinya ternganga kagum. "Woaahh!!! Indahnya! Semua hijau!" pekik Rien di atas kuda. "Benar-benar mengagumkan. Di sisi lain bukit Zill di negeri Zilla berwarna biru, lain di negeri Ru yang berwarna hijau. Rindang sekali!" balas Zean tersenyum. Kuda mereka masih berjalan pelan. Orang-orang yang melintas terlihat ramai. Ladang subur itu juga ramai orang yang tengah merawatnya. Pemandangan ini tidak Yuri dapatkan di negeri Zilla. "Sungguh rasanya aku ingin bertani sekarang juga! Hahaha, aku ingin menghirup udara banyak-banyak!" Yuri menghirup udara rakus membuat Zean terkekeh. "Hentikan tanganmu yang mendayung-dayung. Nanti orang berpikir buruk tentangmu," kata Zean. Yuri langsung menurunkan tangannya, "Hahhh, segarnya!!!" menutup mata rapat dan merasakan angin berhembus pelan menerpa wajahnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN