6. Kerasukan Kekuatan Jahat

2621 Kata
Segala macam makanan lezat tersaji di meja. Kedua pemilik rumah terus memohon agar masalahnya terpecahkan. Karena begitu kuatnya ingin memiliki keturunan, Yuri jadi tidak tega untuk menolak membantu mereka. 'Baru mulai sudah dapat masalah seperti ini. Memangnya kalau berhasil bisa mengisi biji pohon begitu?' batin Yuri. Satu pun dari sajian itu tidak ada yang disentuh baik Yuri maupun Zean. Bosan sudah terus dipandang dengan tatapan permohonan, akhirnya Yuri berdiri dengan sedikit menekan meja membuat kedua orang itu ikut berdiri kaget. "Iya-iya! Kalian membuatku pusing. Kalau ingin punya anak, ya, silahkan buat anak. Apa susahnya?" kata Yuri terlalu spontan. Zean melotot dan tersedak tanpa alasan. "Kau kenapa, Kak Zean?" Yuri heran. Zean mengatur suaranya yang masih tersentak, "Emm, kata-katamu terlalu kejam." memberi tatapan polos. "Kejam bagaimana? Aku benar, 'kan?" Yuri mengendikkan bahu santai. "Masalahnya, Nona. Kami memang tidak bisa memiliki keturunan. Tapi kami ingin punya keturunan," kata pejabat tanah memelas. Yuri menepuk dahinya, "Kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Aku sarankan kalian mengadopsi anak saja." "Apa? Mengadopsi anak?" bukan hanya dua orang itu yang kaget, tetapi Zean juga kaget. "Iya. Pasti ada seorang anak yang sangat ingin kalian adopsi. Kak Zean juga anak asing dari pohon Savara yang diadopsi Raja. Dia bukannya memberi dampak buruk, justru menjadi kebanggaan kalian. Semua orang di seluruh penjuru negeri mengagumi kebaikan dan kehebatannya. Semua mengakuinya sebagai Pangeran. Lalu, kenapa tidak dengan mengadopsi anak untuk kalian? Masalah bisa terpecahkan dengan mudah," jelas Yuri baik-baik. Pejabat tanah dan istrinya saling pandang. "Demi melanjutkan usaha pejabat tanah, aku ingin dari keluarga sensiri yang melanjutkannya. Kalau mengadopsi anak, itu... Aku tidak bisa menerimanya." pejabat tanah menggeleng. "Kenapa tidak? Itu ide bagus! Nona, kau sangat bijak! Kenapa tidak terpikirkan olehku? Dari mana kita menemukan anak itu? Aku mau anak yang masih bayi biar bisa kurawat sendiri." istri pejabat tanah justru berbeda pendapat. Dia tersenyum senang. "Apa maksudmu? Aku mau anak kita sendiri! Bukan dari orang lain!" pejabat tanah mulai protes. "Mau apa lagi? Saat ini hanya itu cara yang ada. Pangeran saja bukan darah daging dari Yang Mulia Raja. Dia bersikap baik, 'kan? Dia justru seperti Pangeran sejati! Anak kita nanti pasti bisa seperti dia." wanita itu menunjuk Zean bangga. Zean dan Yuri hanya saling lirik dan mendengarkan mereka saja. "Itu karena Pangeran masih belum menemukan asal-usulnya. Dia dari pohon Savara, bahkan punya kekuatan dari pohon Savara. Bisa saja dia jadi ancaman bagi kita semua. Sebagai contoh, bagaimana kalau anak angkat kita nanti juga jadi ancaman bagi keluarga ini? Bagaimana? Itu bukan pilihan yang tepat!" Bosan sudah mendengar pertikaian mereka. Yuri menutup telinga dan berbisik pada Zean, "Kakak, aku mau keluar sebentar. Hanya cari udara segar saja. Kau tunggu di sini sampai mereka lelah beradu pendapat. Setuju?" Zean mengangguk membuatnya ikut mengangguk. Kemudian, keluar dari rumah itu membiarkan Zean duduk menjadi pendengar setia di sana. Namun, sesuatu yang buruk terjadi. Tidak tahu kenapa raga Zean seakan ingin terpecah jadi dua. Bukan raga, melainkan kedua sisi dalam tubuhnya yaitu baik dan buruk yang kembali membuncah. Sangat menggebu-gebu ingin keluar dan saling melawan. Mendengar pertengkaran yang begitu keras dan sama-sama tidak mau mengalah membuat cicin biru Zean seakan senang. Sangat senang dan ingin mempengaruhi persekitaran lewat dirinya lagi. 'Kerasukan... Gawat! Yuri, kau di mana? Cincin biru... Ingin merenggut kesadaranku lagi!' batin Zean menjerit. Memegang kepala dan menutup cincin biru bergantian. Bingung bagaimana caranya mengendalikan diri sendiri, Zean berdiri sempoyongan menabrak kursi dan meja. Semua makanannya hampir jatuh. Dua orang di depannya terkejut. "Pangeran... Dia kenapa?" istri pejabat tanah ketakutan. "Sepertinya dia dikuasai sisi jahat lagi. Ayo lari panggil seseorang!" kata pejabat tanah panik membawa istrinya keluar rumah dan membuat kehebohan. "Tolong! Tolong, Pangeran Zean akan mengamuk!" teriak pejabat tanah di depan rumahnya. "Tidak! Seketika ramai orang berkumpul dan di dalam sana Zean sedang kesulitan mengontrol dirinya. "Di mana... Yuri?" gumam Zean sekuat tenaga masih sedikit sadar. Kepalanya terasa amat sakit. Jarinya seperti mati rasa nan sakit di bagian lingkaran cincin. Zean mencari pintu keluar untuk mencari Yuri agar menahannya dipengaruhi cincin biru. Sedangkan di jalan yang cukup jauh dari rumah pejabat tanah, Yuri hanya berjalan-jalan sambil terus menghela napas panjang. Dia tidak memikirkan apapun. Baginya, mengisi biji pohon sangatlah sulit. Apakah mungkin jika bisa menyelesaikan masalah pejabat tanah itu biji pohon akan terisi? Padahal dia sendiri yang ingin membantunya. Namun, keluarga itu terus bertengkar, membuatnya sulit berpikir. Mendadak instingnya bereaksi. Telinga Yuri tergerak seolah mendengar jauh di belakang sana. Yuri segera berbalik. "Apa yang terjadi?" gumam Yuri. Namun, tidak ada hal aneh yang terjadi. Yuri mengendikkan bahu, "Mungkin hanya perasaanku saja." Lanjut menyusuri jalan sambil melihat bagaimana orang-orang bekerja seperti biasanya. "Aaargghh!!!" Zean semakin memberontak. Sekujur tubuhnya hampir bercahaya biru. Semua orang di dekat rumah pejabat tanah keluar melihat Zean mengamuk. Teriakannya lebih keras dan bertambah keras. Cincin biru itu bergetar membuat otot Zean tercetak jelas di kulitnya. Dia akan merambatkan sebuah akar. Zean terhuyung kesana-kemari membuat semua orang memekik takut. Sepertinya Zean akan berhasil dirasuki kekuatan jahat sepenuhnya. "Bagaimana ini? Pangeran tidak terkendali! Apa yang harus kita lakukan?" seru pejabat tanah. "Tuan... Panggil gadis yang bersamanya tadi. Mungkin dia tau caranya!" ujar tetangga yang rumahnya bersebalahan dengan pejabat tanah. Mereka panik. Zean memegang kepala dan jari manisnya kakinya pun mulai tak terkendali. Menghampiri orang-orang tanpa sadar membuat mereka berteriak takut. "Aaaa, awas! Pangeran mengamuk!" seru mereka. Tak butuh waktu lama sampai raga Zean benar-benar diambil alih dan energi positifnya telah kalah, maka cincin biru bersinar lebih terang. "Aaargghh! Silau!" Banyak warga yang mengeluh dan menutupi matanya. Namun, hanya sesaat kemudian sinar di cincin itu sedikit padam. Mereka bingung karena Zean tidak berteriak lagi. Setelah membuka matanya, mereka terkejut ketakutan. Ternyata Zean diam, mengeluarkan aura jahat nan kelam. Matanya menghitam berkabut biru. Semua orang takut-takut lalu lari sekencang mungkin. "Hiyyaaaaaa!!!" Zean melempar tiang teras rumah pejabat tanah pada mereka. Alhasil rumahnya ambruk sebelah dan banyak kaki mereka tertimpa tiang. Mereka menjerit kesakitan Kesulitan melepaskan diri walau dibantu yang lain. Zen mendekati mereka, membuat mereka berhamburan melarikan diri. "Rumahkuuuu!!!" pejabat tanah dan istrinya lari sambil menangisi rumahnya. "Kalian tidak bisa lari dariku. Hahahaha!" suara Zean bahkan berubah. Dia menjadi jahat dan senang menghancurkan segalanya. Tiap rumah yang dia lihat dia hancurkan begitu kuatnya. Pondasi sampai runtuh. Orang-orang menjerit, menangis, dan mengalamatkan diri. Menyayangkan harta dan rumah mereka. "Berapa banyak lagi yang harus terkorban? Selamatkan keluarga kalian!" seseorang berseru karena runtuhnya rumah-rumah itu melukai beberapa orang. Bahkan ada yang sampai tidak sadarkan diri. "Zean melihat bara api yang masih menyala di sekitar rumah pandai besi. Dia mengerang menghampirinya. Menyerap api-api itu dan membakar tangannya sendiri. "Aarrrhh! Panas!" Zean tak merasa kepanasan sama sekali. Kulitnya juga tidak terbakar. Semua orang merasa seram. Zean seperti monster mematikan. Tanpa bisa berpikir, Zean melempar api di tangannya pada orang-orang dan membakar pohon di sepanjang jalan. Rumput yang kering menyebarkan api dengan begitu cepat. Hasilnya kebakaran besar terjadi. "Hahaha!" Zean justru tergelak menatap sekitar. Mendadak berubah menyeramkan lagi. "Kebaikan di muka bumi ini akan lenyap tergantikan dengan benih-benih kejahatan hingga meraja lela tanpa celah. Hilangkan semua sisi baik lemah yang kalian punya. Rasakan kedahsyatan kekuatanku yang akan mengubah segalanya!" Zean lari sambil menyalurkan api ke sepanjang jalan membuat semuanya terbakar. Orang-orang tidak bisa kabur dengan cepat. Setelah api Zean sedikit padam di tangannya. Dia tiba di jalan di mana dilalui oleh Yuri. Di sana masih tenang walau tiba-tiba angin kecil berubah menjadi panas karena pengaruh api. "Kebakaran! Di sebelah sana ada kebakaran! Semuanya hancur total! Cepat selamatkan diri? Pangeran Zean telah mengamuk! Auranya begitu mematikan. Tubuhnya bersinar kegelapan dari cincinnya! Selamatkan diri!!!" Teriakan itu datang dari belakang Yuri. Mulanya Yuri tersenyum menikmati jalan-jalannya dan hanya satu orang itu yang lari menuju kearahnya membuat kehebohan dan menyita perhatian orang-orang. Lalu, berbondong-bondong orang datang dari arah yang sama dengan keluhan dan ketakutan yang sama membuat orang-orang di sekitar Yuri percaya dan ikut melarikan diri. Yuri terbelalak langsung berbalik badan kan lari ke arah yang berlawanan. 'Apa yang terjadi? Kak Zean... Dirasuki kekuatan jahat lagi?!' batin Yuri. Sekuat tenaga dia lari sampai kepangnya terombang-ambing tak karuan. Akhirnya dia menemukan sumber angin panas itu. Kebakaran semakin besar. Yuri terkejut sampai menutup mulutnya. "Astaga!!! Apa yang terjadi di sini?! Kakak... Kakak Zean! Kau di mana?!" teriak Yuri menyusuri tempat itu yang sudah sepi orang. Tak perlu mencari lebih lama, Zean sudah datang dengan wajah penuh amarah menghampiri Yuri. Yuri terpaku, matanya melebar, mulutnya ternganga. "Kak Zean...," panggilnya lirih. Zean justru mendengkus penuh aura kegelapan. Dia tidak sadar jika di depannya adalah Yuri. Di tengah-tengah kebakaran dan kehancuran yang melanda, Yuri tidak yakin jika itu benar-benar perbuatan Zean. "Kakak, berhenti! Jangan mau dikuasai kekuatan jahat! Ayo lawanlah! Sadarlah!" seru Yuri. Bukannya mendengarkan Yuri, Zean justru mendorong Yuri sampai terpental ke sebuah bangunan yang runtuh. "Arghh! Kakak, sudah berhenti! Kendalikan dirimu!" teriak Yuri sambil berusaha bangkit dari jatuhnya. Zean tak menghiraukan Yuri. Dia melihat kondisi yang maish baik dan sedap dipandang membuatnya muak. Dia memporak-porandakan semuanya. Yuri mengejar Zean dan mencoba menghentikannya. Namun, dia selalu dihalangi oleh reruntuhan rumah dan pohon-pohon kecil. Alhasil dia hanya selalu menghindar sambil mengejar Zean. "Kak Zean, aku bilang cukup! Berhentiiiii! Jangan sampai menyakiti diri sendiri!" Yuri terus berusaha. Zean tak menghiraukan semuanya. Mereka kejar-kejaran dengan orang-orang. Hingga Yuri tak tahan sudah. Dia menutup matanya rapat-rapat dan mencoba memfokuskan diri. Demi menyelamatkan semua orang dan Zean, dia harus bisa menggunakan kekuatan emosi untuk mengontrol Zean lagi dan lagi. Ketika matanya terbuka, Yuri segera menahan punggung Zean dari kejauhan. Dia kesulitan menahan Zean yang meronta ingin bebas darinya. Walau sulit, Yuri perlahan melewati reruntuhan kayu dan melompat sampai tiba di hadapan Zean. Bertatapan dengan mata Zean yang benar-benar dibutakan arah. Yuri membuka telapak tangannya. Tiba-tiba tangannya bersinar dan perlahan memegang d**a Zean. Seketika Zean berteriak. "Aaargghh!!!" Yuri tak peduli. Dia terus menekan tangannya pada d**a Zean yang hangat. Sontak cincin biru kembali bersinar biru sampai sekeliling tempat itu tidak terlihat. Layaknya masuk ke sebuah perisai dua sinar itu beradu. Tubuh Zean menggelinjang, dia kesakitan. Yuri tak berkedip atau merasa kesulitan menghadapi Zean. "Kakak Zean, sadarlah," gumam Yuri menambah ketulusan emosionalnya. Dari kepala merambat luruh menuju cincin itu tersemat. Cahaya biru perlahan menghilang. Pandangan Zean tidak ada kegelapan lagi, kecuali dia yang tidak bisa melihat kerusakan di sekitarnya karena langsung ambruk di pelukan Yuri. Yuri tersentak, memandang Zean dan sekeliling. "Astaga... Semua ini hancur. Dahsyatnya cincin biru di jari Kak Zean di desa ini. Apa penyebabnya?" gumam Yuri. Semuanya hancur luluh lantak, hanya beberapa yang tersisa. Api masih berkobar di depan sana. Di dekatnya tanah, pohon, kayu bangunan, serta harta benda berceceran. Yuri prihatin memandangnya. Orang-orang yang tidak lagi mendengar kebisingan mulai muncul dari tempat persembunyian. Mereka langsung memadamkan api dan bergotong royong membangun desa. Isak tangis mereka terdengar jelas di telinga Yuri. Dia menahan pedih. Segera berbalik dan membawa Zean ke tempat yang aman. Mereka yang sempat melihat Yuri pun mengikuti Yuri. Agak takut dengan Zean yang lemas di rangkulan Yuri. Tempat pengobatan tabib desa yang masih mau menerima Zean untuk singgah sementara dalam masa Yuri mengobatinya. Bahkan tabib pun tidak mampu mengobati Zean. Hanya Yuri dan dengan ketulusan Yuri sehingga mampu membuat Zean kembali ke sisi normalnya. Sayangnya sakit Zean semakin parah. Dia kekurangan tenaga. Walau bisa dipastikan kekuatannya tak mungkin berkurang. Terbaring di ranjang kayu, Yuri duduk di tepi ranjang itu mengamati Zean sembari mendesah panjang berkali-kali. Orang-orang menyaksikannya heran, sampai tempat itu tak muat orang. "Kondisinya sudah stabil, tapi dia lemah. Terima kasih sudah memberiku obat mempercepat pemulihan." Yuri menangkupkan tangan pada tabib itu. "Tidak masalah, Nona. Asalkan Pangeran baik-baik saja, aku akan dengan senang hati membantu. Jujur saja, aku risau dengan Pangeran yang tiba-tiba kambuh oleh cincin di jarinya," ujar sang tabib. Yuri menatap cincin di jari manis Zean. Saat ini Zean masih belum sadar. Wajahnya sangat sayu, terlihat lelah dan tidak bertenaga. "Andaikan cincinnya bisa terlepas, pasti sudah dari duku dia akan bebas," gumamnya. "Apa yang sudah Pangeran lakukan pada kami? Tabib, bantu para korban! Di sini ramai yang terluka!" seseorang berteriak dari depan pintu. Ternyata ada banyak orang membawa mereka yang terluka entah tertimpa pohon atau tiang, ataupun yang terkena luka bakar. "Astaga! Cepat baringkan di dekat tungku!" ujar sang tabib. Di dekat tungku terdapat tikar yang lebar. Kurang lebih sepuluh orang yang terbaring di sana. Semuanya mengerang kesakitan, ada juga yang tidak sadarkan diri. Yuri terkejut hebat. "Separah ini?" gumamnya. "Semua ini gara-gara Pangeran Zean! Desa kami rusak, warganya pun diserang! Sekarang kita tidak punya apa-apa. Ganti rugi sebesar apa yang akan kami dapatkan? Lebih baik jika kita bisa jauh dari Pangeran Zean. Dia ancaman, benar atau tidak saudara-saudara?!" seru salah satu orang yang berdiri tepat di depan Yuri. Dia terlihat sangat tegas dan berwibawa. "Tuan, apa yang kau bicarakan? Aku minta maaf atas nama Kak Zean. Lagipula bukanlah dia yang melakukannya, tetapi energi jahat dalam dirinya," kata Yuri sabar. "Jangan mengelak, Nona. Tetap saja itu perbuatan Pangeran Zean. Bertahun-tahun sudah tidak kerasukan lagi, lalu kenapa hari ini tiba-tiba? Kami yang harus menanggung akibatnya, Nona! Pikirkanlah kami!" orang itu bersikeras. "Benar juga. Kami kehilangan rumah, desa sudah hancur, ladang pun tidak menentu bentuknya. Bagaimana Pangeran mengganti semua ini?" ujar salah satu dari mereka membuat orang itu menoleh. "Keselamatan orang-orang lebih penting. Anakku terbaring di sana. Dia terkena luka bakar saat masih di dalam rumah. Kasihanilah dia!" seorang ibu yang sudah renta menunjuk salah satu orang yang meringis kesakitan di dekat tungku. Tabib sedang mengobati mereka satu per-satu. "Desa masih bisa dibenahi, tapi bagaimana dengan nyawa? Apa Pangeran bersedia mengganti dengan nyawanya?" orang lain berbicara. Yuri menatap mereka semua kacau. Dia juga merasakan hal yang sama. Namun, tidak tahu harus berbuat apa. Tidka menyangkal juga jika itu datang dari Zean. "Tidak ada jalan lain lagi, Nona. Bawa pergi Pangeran dari desa ini atau dari negeri ini. Kami hanya ingin selamat," ujar orang yang bicara pertama kali. Yuri menggeleng kuat, "Tidak bisa! Aku dan kak Zean sedang dalam misi perjalanan. Itu pun untuk kalian rakyat negeri Zilla. Tunas pohon Savara sudah terbentuk di sana. Kami mencoba untuk menghalaunya seperti dua puluh tahun yang lalu. Jika ini berhasil, maka kita semua selamat dari ancaman pohon itu selamanya." "Apapun alasanmu, Nona, kami tetap tidak ingin Pangeran berada di dekat kami lagi. Sekarang desa kami yang hancur, mungkin besok di desa lain atau bahkan istananya sendiri. Selama penyakit Pangeran Zean belum sembuh, kami belum bisa menerima Pangeran. Maaf jika aku lancang, Nona." tabib itu ikut bicara seiring dia mengobati pasiennya. Yuri menatapnya sendu, "Bagaimana aku bisa menyembuhkannya, Tabib?" "Itu tergantung dirimu, Nona. Hanya kau yang mampu mengontrol dua kekuatan dalam diri Pangeran Zean. Aku tidak bisa berbuat apa-apa." tabib itu menggeleng. Yuri menunduk dan mendesah, "Aku akan menyembuhkanmu secepat mungkin, Kakak. Apa pun yang terjadi." memandang Zean sendu. "Sudahi drama ini, Nona. Cepat pergi dengan Pangeran Zean sekarang juga!" orang yang ngotot mengusir Zean kembali berulah. Yuri sedikit tersentak karena bentakannya. "Atas dasar apa kau bicara sembarangan, hah?!" Yuri membalas membentak. "Tapi Pangeran melukai kami," jawab orang di samping orang tadi. "Pangeran juga ancaman bagi kami," sebelahnya lagi berbicara. "Kau dengar? Kami semua ingin Pangeran meninggalkan desa ini dan jauh dari negeri ini!" orang itu kembali membentak. "Beraninya kalian mengusir Pangeran! Dia bahkan sedang sekarat. Apa kalian tidak tahu belas kasihan atau malu?!" Rien melototi mereka. Dia sudah geram dan kepalanya memanas. "Apanya yang Pangeran? Dia keturunan pohon Savara! Kekuatan jahat mengalir dalam darahnya. Usir dia dari sini!" seru orang itu menggebu-gebu. "Bagaimana mungkin manusia dikatakan keturunan pohon terkutuk itu? Manusia tidak terlahir dari pohon! Dasar tidak punya hati! Yang Mulia Raja tidak akan mengampuni kalian!" sontak Yuri berdiri mengibaskan tangannya layaknya pedang untuk menolak ucapan mereka. "Kami tidak mau tau! Pangeran harus keluar dari negeri ini! Kami sudah dihantui rasa takut tunas pohon Savara yang sudah tumbuh. Sekarang Pangeran Zean menjadi ancaman mematikan sebelum pohon Savara melenyapkan kita? Jangan bodoh, saudara-saudara! Usir Pangeran Zean dari sini!" orang lain juga berpendapat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN